Jam'iyahan: Barzakh Mall



Mas Muhadi menyambut kedatangan Kang Basyir. Ia mempersilakan tamuya untuk mengambil tempat duduk di dalam rumah. Namun, seperti biasanya, Kang Basyir dengan halus selalu menolak bila disuruh duduk di dalam. Ia lebih suka duduk di luar rumah bersama sebagian besar masyarakat yang hadir dalam acara kenduri. Di samping karena udara di dalam rumah begitu gerah, juga karena duduk di luar lebih santai dan lebih memungkinkan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.
Ini adalah malam kelima acara tahlilan atas meninggalnya Ibu Samroh, orang tuanya Mas Muhadi. Menjelang maghrib sore tadi Mas Muhadi datang ke rumah Kang Basyir untuk memintanya berkenan memberi mau’idhah pada tahlilan malam kelima ini. Kang Basyir memenuhi permintaan itu. Maka malam ini selepas shalat isya ia segera datang ke rumah Mas Muhadi. Meski saat sampai di sana baru satu dua orang yang hadir, namun tak selang lama masyarakat berdatangan hingga memenuhi bagian dalam dan pekarangan rumah Mas Muhadi yang cukup luas.
Tak menunggu lama pembawa acara membuka rangkaian acara malam itu dengan mengajak para hadirin membaca surat Al-Fatihah. Pembacaan surat Yasin dan dzikir tahlil dimintakan kepada Ustad Karim untuk memimpin. Beliau ini salah satu ustad yang ada di kampung sebelah yang menjadi favorit warga untuk dimintai memimpin tahlil. Ini karena pandainya Ustad Karim dalam membawakan bacaan-bacaan tahlil dengan alunan yang membawa jamaah hanyut dalam dzikir. Warga kampung ini membahasakannya dengan kalimat, “tahlilannya di hati mak nyess…”
Sebagaimana umumnya acara kenduri usai dzikir dan doa bersama tuan rumah menghidangkan banyak makanan. Malam itu dihidangkan beberapa buah-buahan yang lagi musim, jajanan kering, dan beberapa jenis gorengan. Kang Basyir tertawa kecil ketika seorang pemuda menyuguhkan di depannya sebuah piring berisi penuh pisang goreng seraya berkata pelan, “Kang Basyir, kesukaanmu, Kang, pisang goreng, masih anget.”
Kang Basyir tertawa kecil lalu berkata, “jangan lupa teh pahitnya juga lho, ya?”
“Beres, Kang. Aku sudah siapkan. Aku tahu betul kesukaanmu, Kang.” Sahut pemuda itu dengan ulasan senyum.
Para hadirin menikmati apa yang disuguhkan tuan rumah, sambil bercakap ringan dengan orang yang ada di sebelah kanan kirinya. Hingga dirasa cukup pembawa acara kembali meraih mikrofon dan menyampaikan acara berikutnya yakni mau’idhah hasanah yang disampaikan oleh Kang Basyir. Sebagian besar hadirin menghentikan obrolannya, meski di beberapa sudut ada beberapa orang yang masih terdengar pelan suaranya.
Kang Basyir memulai membuka kalimatnya dengan salam dan sedikit mukadimah dalam bahasa Arab. Katanya kemudian, “Para hadirin yang saya hormati, sudah empat malam yang lalu panjenengan mendengarkan mauidhah dari para ustad secara bergantian. Saya rasa itu sudah cukup. Maka tak perlulah saya memberi mauidhah malam ini. Saya ingin malam ini kita gendhu-gendhu rasa saja. Lagi pula tak pantas kalau saya menyampaikan mauidhah di hadapan banyak ustad. Begitu nggeh?”
Nggeh!” serempak para hadirin menjawab.
 Kang Basyir sedikit memperbaiki letak duduknya, sebelum kemudian ia memulai perkataannya.
“Begini para sedulur. Saya ingin bertanya kepada panjenengan semua. Coba bayangkan, dan bayangkan ini benar-benar terjadi. Bila di depan rumah Anda terbentang tanah kosong yang cukup luas, lalu sang pemilik tanah itu datang ke rumah Anda untuk memberi tahu dan meminta ijin bahwa tanahnya yang ada di depan rumah Anda itu akan diwakafkan dan dijadikan sebagai komplek pemakaman atau kuburan. Apakah Anda akan memberikan ijin?”
Para hadir terdiam. Sejenak suasana sepi, hingga akhirnya terdengar tertawa kecil dari beberapa sudut dan di antaranya disusuli dengan kalimat, “Ya nggak tak ijinkan lah…hehe…”
Suasana sedikit riuh. Dari sisi kanan Kang Basyir terdengar ada yang menyeletuk ringan, “Sampeyan kok ada-ada saja to, Kang?”
Kang Basyir tersenyum mendengarnya.
“Lha, ini kan acara tahlil kematian, ya bahasannya soal kuburan juga to?” timpalnya diikuti dengan kekehan kecil para hadirin.
Sejenak semua terdiam sebelum selanjutnya Kang Basyir meneruskan kalimatnya.
“Ya sudah kalau panjenengan tidak mengijinkan dibukanya komplek pemakaman baru. Sekarang begini saja. Seandainya, tetangga Anda ada yang meninggal, lalu oleh keluarganya dikuburkan di pekarangan rumahnya sendiri yang kebetulan posisinya berhapadan dengan rumah Anda, akankah Anda melarangnya?”
Suasana kembali hening. Tak ada suara sedikitpun yang disampaikan, dalam waktu yang cukup lama, hingga Kang Basyir mengulangi pertanyaannya, “Akankah Anda melarang tetangga Anda membuat kuburan di tanahnya sendiri?”
Sejenak tak ada suara. Kekehan kecil yang serempak terdengar bersamaan. Kang Basyir hanya tersenyum-senyum saja. Diraihnya gelas berisi air teh pahit hangat di depannya. Ia reguk secukupnya.
Suasana kembali mereda. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kang Basyir menarik perhatian para hadirin. Mereka menujukan pandangannya ke arah Kang Basyir, menunggu kalimat berikutnya yang akan disampaikan.
“Begini para rawuh sekalian. Dalam beberapa bulan ini saya beberapa kali ikut mengantar jenazah ke pemakaman. Yang saya temui di semua pemakaman adalah bahwa sebagian besar, atau bahkan semua, pemakaman yang ada di daerah kita ini sudah penuh sesak. Untuk menuju sebuah kubur seseorang kita mesti melangkahi, melompati, menginjak kuburan-kuburan yang lain karena nyaris tak ada jalan di sana. Juga pada saat kita menunggu proses pemakaman seseorang, mau tak mau kita pasti akan berdiri, duduk, atau jongkok di atas sebuah kuburan. Padahal menurut para guru itu semua perilaku yang tidak diperbolehkan.
Saya jadi berpikir, bila saat ini saja setiap komplek pemakaman sudah penuh sesak, bagaimana nanti ketika saya dan Anda semua mendapat giliran mati, masih adakah tanah yang tersisa untuk kuburan kita?”
Sampai di sini Kang Basyir sejenak menghentikan kalimatnya. Pandangannya ia kelilingkan ke para hadirin yang tertuju ke arahnya.
“Jadi menurut saya perlu segera diambil langkah konkrit, solusi untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya dengan membuka komplek pemakaman baru. Namun saya sadar betul, pengadaan komplek pemakaman baru akan terkendala dengan sulitnya meminta ijin pada masyarakat sekitar yang tempat tinggalnya bersinggungan langsung dengan tanah pemakaman itu.
Dan malam ini, kendala itu memang nyata. Panjenengan semua sudah menyatakan keberatan seandainya dibangun komplek pemakaman di dekat rumah panjenengan. Begitu, kan?”
Beberapa orang tersenyum. Yang lainnya tetap berdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari arah Kang Basyir.
“Padahal para hadirin sekalian,” lanjut Kang Basyir, “kita semua akan mati dan membutuhkan tanah untuk kuburan. Dan saat ini kuburan itu telah penuh sesak. Akankah, ketika kita masih hidup kita sering merepoti tetangga, lalu ketika mati kita masih saja merepotinya dengan mendesak-desak, ngesol-ngesol, mereka yang sudah lebih dahulu tidur di sana?”
“Ya sudah. Kalau memang membuka komplek pemakaman baru tidak Anda ijinkan, mengubur di pemakaman yang sudah ada juga sudah sangat penuh sesak, maka pilihan berikutnya adalah mengubur di tanah milik sendiri, baik itu di depan, belakang atau samping rumah. Tapi, nyatanya tadi Panjenegan sebagai tetangga juga merasa keberatan bukan? Terus mau bagaimana lagi?”
Semuanya terdiam. Sebagian terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Sebagian lagi menarik dan membuang nafasnya kuat-kuat.
Orang yang duduk dua meteran di sebelah kanan Kang Basyir berbicara, “Bukankah mengubur jenazah itu bisa ditumpuk, Kang?”
Kang Basyir tak segera menjawab. Ia mengambil nafas agak dalam, lalu membuangnya.
“Mau sampai berapa tumpukan?” jawab Kang Basyir kemudian dalam nada tanya.
“Dan ini sangat riskan terjadi pertengkaran antar ahli waris si mayit. Mereka merasa memiliki kuburan tersebut, merasa berhak untuk merawatnya dan menziarahinya kapanpun mereka mau. Ibarat sebuah rumah, maka rumah yang telah ditempati seseorang maka pemiliknya tidak akan rela bila ada yang ingin mengambil alih rumah tersebut.”
Kembali semua terdiam.
“Saya masih punya pilihan yang ketiga,” lanjut Kang Basyir. “Kebetulan di sini banyak ustad yang hadir, maka saya sampaikan pilihan ketiga ini kepada mereka untuk dimintakan fatwa boleh tidaknya pilihan ketiga ini dilakukan.”
“Begini. Kalau sudah tidak ada jalan lagi soal pemakaman ini, maka bagaimana hukumnya bila komplek pemakaman yang sudah ada kita bangun bertingkat.”
Kalimat ini membuat beberapa orang tertegun, tak tahu apa maksud pemikiran Kang Basyir.
“Gambaran sederhananya, di atas tanah pemakaman yang sekarang ada kita bangun beberapa lantai beton, disekelilingnya dibuat tembok keliling yang kemudian kita isi dengan tanah. Di tanah pada beberapa lantai atas itulah jenazah akan dikuburkan.”
Kang Basyir mengurungkan untuk melanjutkan kalimatnya, ketika dari para hadirin terdengar tawa kecil yang berbarengan. Dalam benak mereka terbayangkan sudah bagaimana wujud sebuah komplek pemakaman bertingkat yang digagas Kang Basyir itu.
“Ini baru gambaran sederhananya, lho ya.” Kang Basyir mengingatkan.
“Lha gambaran tak sederhananya bagaimana, Kang?” seseorang menimpali.
“Gambaran finalnya adalah Anda semua bisa membayangkan sebuah mall berlantai lima misalnya. Sebuah gedung megah yang mewah, berlantai lima, komplit dengan lift atau escalator. Hanya saja ketika Anda keluar lift di sebuah supermarket Anda akan menjumpai berbagai barang dagangan yang dipamerkan, maka ini ketika Anda keluar dari lift Anda akan melihat sebuah komplek pemakaman yang diatur rapi sedemikian rupa.”
Tawa hadirin kembali terdengar, kini lebih keras. Di ujung sana ada yang nyeletuk, “Terus mau dinamakan apa, Kang?”
Kang Basyir tangkas menjawab, “Barzakh Mall!
Kembali terdengar tawa keras para hadirin. Kang Basyir ikut tertawa.
“Ya, di Barzakh Mall ini juga nantinya akan diberi area untuk kios-kios yang menjual berbagai hal yang berhubungan dengan kuburan; batu nisan, kain mori, papan, sampai bunga tujuh rupa pun ada.” Tambah Kang Basyir yang lagi-lagi disambut tawa.
Untuk beberapa saat suasana dibiarkan lepas. Hingga saat semuanya kembali terdiam Kang Basyir melanjutkan ucapannya.
“Ini semua hanyalah gagasan, pemikiran saya setelah beberapa kali melihat secara nyata kondisi komplek pemakaman yang ada di daerah kita. Ini perlu saya sampaikan mengingat ini adalah kebutuhan nyata kita semua. Dan untungnya malam ini hadir Pak Heru sekretaris lurah kita. Lewat Pak Heru semoga hal ini bisa jadi bahan kebijakan pemerintah di tahun berikutnya.”
Mendengar demikian Pak Heru yang duduk tak jauh di depan Kang Basyir segera menanggapi, “Siap, Kang Basyir. Insya Allah gagasan ini akan saya sampaikan ke Pak Lurah untuk kemudian diteruskan ke tingkat berikutnya. Semoga saja tahun besok di kelurahan kita sudah bisa dibangun Barzakh Mall.”
Sekali lagi para hadirin tertawa.
Kang Basyir mengakhiri gendhu-gendhu rasanya. Pembawa acara menutup acara tahlilan malam kelima itu dengan memberi komando untuk membaca shalawat; shalluu ‘alan Nabi Muhammad!

                                                                   Tegal,  3 April 2016

Cerita Guruku: Ilmuku Bersamaku, Bukan di Laptop



Di tengah-tengah rapat Pengurus Besar Nauhdlatul Ulama yang dihadiri banyak kyai, Kang Said—begitu biasa aku memanggil KH. Said Aqil Siraj, sang ketua PBNU—menerima telepon. Entah dari siapa dan tentang apa isi pembicaraannya.
Usai perbincangan via telepon itu Kang Said menyampaikan kepada forum, bahwa baru saja dia ditelepon oleh Kemnterian Hukum dan HAM. Kemenkumham ingin meminta fatwa tentang boleh tidaknya wakaf berupa uang. Jawaban atas pertanyaan itu ditungggu sekarang juga karena pada saat itu juga Kemenkumham akan memutuskan menetapkan aatau tidak menetapkan aturan tentang wakaf uang, tergantung apa fatwa dari PBNU.
Maka seketika itu juga satu persatu para kyai yang hadir menyampaikan pendapatnya, kecuali aku yang hanya diam saja mendengarkan diskusi mereka. Pada umumnya mereka menolak wakaf uang. Hingga setelah semuanya berpendapat Kang Said memintaku untuk berpendapat. Maka kujelaskan bagaimana itu wakaf, kusampaikan pula dari kitab apa saja aku merujukkan pendapatku itu. Dan pada akhirnya aku menyatakan, “maka bila uang yang diwakafkan itu dijamin oleh pemerintah untuk tidak habis atau berkurang, wakaf uang itu sah, bisa diterima.”
Mendengar penjelasanku itu beberapa kyai yang membawa laptop segera membuka laptopnya. Melalui aplikasi Maktabah Syamilah mereka mengkroscek rujukan-rujukan yang aku sebutkan, dan semuanya ditemukan. Maka semua yang hadir menerima pendapatku. Saat itu pula Kang Said menelepon Kemenkumham dan meyampaikan bahwa PBNU menyatakan wakaf uang itu sah.
Maka atas dasar fatwa ini terbitlah peraturan yang mengatur tentang wakaf uang.
Di lain kesempatan kami, para kyai di PBNU, juga pernah mendapatkan pertanyaan dadakan yang harus segera di jawab. Saai itu kami diminta fatwanya tentang pemimpin daerah yang bukan orang muslim. Semua berpendapat dan terjadi perbedaan.
Seperti biasa aku diberi kesempatan paling akhir untuk menyampaikan pendapat. Maka kusampaikan pendapatku. Kusebutkan berbagai kitab rujukannya. Di antaranya kusebutkan fatwa Imam Ghazali yang mengatakan bahwa, “sebuah negara dapat langgeng meskipun beserta kekufuran, dan tak dapat langgeng bila dengan kedhaliman.”
Kulihat beberapa kyai membuka laptopnya dan mengkroscek rujukan-rujukan yang tadi kusebutkan. Semuanya menemukan, semuanya ditemukan. Dan diskusi saat itu menyatakan boleh pemimpin daerah yang bukan orang muslim.
Atas peristiwa-peristiwa itu aku hanya berpikir. Di mana ilmunya orang-orang jaman sekarang? Mengapa mereka harus membuka laptop untuk melihat fatwa para ulama terdahulu? Mengapa tidak ada dalam otak ilmu yang mereka kuasai?
Benar kata Imam Syafi’i; ketika aku di pasar ilmuku ada bersamaku, ketika aku ada di jalanan ilmuku juga ada bersamaku.
Ya, ilmu itu harus dihafal. Karena ilmu harus selalu ada bersama pemiliknya, bukan di laptopnya.
(KH. Subhan Makmun, dalam acara Haul KH. Sulaiman, Desa Keturen Kota Tegal, 20 Maret 2016)

Cerita Guruku: Tak Disuruh Pintar

Dahulu di kampungku ada seorang warga bernama Turkan. Sejak masih mudanya hingga berusia tua ia sangat rajin mengaji; mengikuti kajian-kajian kitab kuning.
Atas kebiasaannya itu seseorang, yang juga pamanku, seringkali meledeknya dengan mengatakan, “Turkan, Turkan…..kamu ini setiap hari kerjanya ngaji terus. Kapan pinternya? Kapan mengajarnya?”
Dikata demikian Turkan membalas dengan datar, “Dulu aku ini disuruh oleh Kyai Makmun untuk mengaji, bukan untuk menjadi pintar. Jadi biar saja aku terus mengaji, kalau aku tak juga memahami apa yang aku kaji, semoga kelak anak-anakku yang akan memiliki ilmunya.”
Kini, setelah sekian tahun lamanya dan ia telah meninggal, anak-anak Turkan menjadi anak-anak sukses berpendidikan. Salah satunya bernama Abdul Halim yang nyantri di Pesantren Babakan, Tegal. Ia sangat menguasai kitab Alfiyah Ibnu Malik. Dan karena kealimannya ia diambil menantu oleh keluarga pesantren itu.


(KH. Subhan Makmun, dalam kajian kitab Tafsir Munir, Islamic Center Brebes, Ahad, 13 Maret 2016)

Cemburu

Kyai Arwani, Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya  tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kyai Arwani sakit beliau tak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kyai Arwani sakit keadaan berbalik begitu drastis.
Karena kebingungan para putra Kyai Arwani sowan kepada Maulana Habib Lutfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk. “Ini bagaimana, Habib?” Keluh mereka.
Mendengar penuturan keluarga Kyai Arwani ini Habib Lutfi tak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum.
“Ngga apa-apa.” Kata beliau kemudian. “Ibu kalian itu uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.”
“Cemburu bagaimana, Habib?” mereka tak memahami.
“Allah memberi kasyaf kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, bapak kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Lutfi.
Ketika para putra Kyai Arwani sampai kembali di rumah mereka menyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat bapakmu dipeluk perempuan cantik-cantik!”
Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadadri, bagaimana nanti setelah meninggal?

(KH. Subhan Makmun, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad, 7 Februari 2016)


Jam'iyahan

Malam ini adalah jadwal jami’yahan pertama setelah satu setangah bulan yang lalu libur karena bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sudah menjadi kesepakatan anggota jam’iyah bahwa setelah libur Ramadhan kegiatan jam’iyahan akan dimulai kembali dua minggu setelah lebaran. Dan mengawali dimulainya kegiatan rutin mingguan ini Lek Kirman ketiban jadwal untuk ketempatan.
Tak seperti adatnya dimana para anggota seringkali datang sedikit lebih malam, kali ini saat jam menunjukkan pukul delapan lebih dari dua pertiga dari mereka telah hadir duduk bersila di rumah Lek Kirman. Mungkin karena ini yang pertama dan libur yang cukup lama membuat mereka kangen dengan kegiatan ini.
Di antara mereka juga terlihat beberapa wajah baru yang sebelumnya belum pernah ikut jam’iyahan. Di antaranya ada Mas Kusno yang katanya kini tak lagi berangkat ke Jakarta untuk jualan warteg. Mau buka warung di desa saja, katanya. Juga ada Kang Dukri, pedagang siomay keliling. Mestinya ia sudah sejak lama ingin mengikuti jam’iyahan, namun anak kecilnya yang saat itu belum berumur tiga tahun masih rewel-rewelnya hingga membuat Kang Dukri tak tega membiarkan istrinya sendirian kewalahan mengurusnya. Duduk di pojok sana, di sebelah kanan Pakde Harto, ada Mas Ruslan, pemuda dari Pemalang yang baru seminggu lalu sah menjadi menantu Lek Kapali dan kini menjadi warga kampung Kang Basyir.
Jam di dinding ruang tamu Lek Kirman menunjukkan pukul delapan seperempat malam. Jamaah yang hadir makin banyak. Mas Zaenul, sang pembawa acara, mengedarkan pandangannya. Ia seperti ingin menghitung atau memastikan sudah sebagian besar anggota hadir. Terakhir pandangannya berhenti pada Kang Basyir. Kang Basyir paham arti pandangan itu. Kepada Mas Zaenul ia anggukkan kepala, tanda jam’iyahan bisa dimulai.
Maka… “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…..” dan bla bla bla… Mas Zaenul membuka dan memulai kegiatan malam itu. Didahului dengan pembacaan surat al-fatihah sebagai pembuka, dzikir tahlil dengan bacaan shalawat sebanyak tiga ratus kali[1] yang kali ini dipimpin oleh Mbah Kasanun, lalu makan ketupat bersama dan wedangan sejenak sebelum akhirnya ditutup dengan uraian hikmah oleh Kang Basyir.
“Saya ucapkan selamat datang kepada para sedulur yang baru bergabung di jam’iyah ini.” Kang Basyir menyampaikan setelah sebelumnya menuturkan kalimat-kalimat pembuka.
Dengan kalimat yang runtut dan diucapkan dengan tenang, sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke semua yang hadir, ia melanjutkan bicaranya, “Ber-jam’iyahan itu penting. Tidak hanya memberi manfaat ruhaniyah kepada diri kita masing-masing, bersilaturahmi dengan sesama warga, tapi juga berjam’iyahan memberi manfaat mengokohkan negara kita, negara Indonesia, dan juga menjadikan Islam tetap tegak di dunia.”
Sampai di sini beberapa jamaah nampak mengarahkan pandangannya kepada Kang Basyir. Mimik muka mereka menunjukkan ada ketertarikan pada kalimat yang baru saja diucapkan pembina jam’iyah itu.
“Mengaapa saya katakan demikian?” lanjut Kang Basyir dengan nada tanya yang kemudian ia jawab sendiri. “saya teringat sebuah wejangan dari guru saya yang disampaikan sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Saat di pesantren, pada malam Selasa ba’da maghrib setelah kegiatan mujahadah pembacaan shalawat Nariyah, Kyai Rozaq, guru saya itu, memberikan informasi begini; bahwa kekuatan Islam di dunia ini ada di Indonesia. Maka bagi mereka yang tak menyukai Islam, untuk menghancurkan Islam di dunia ini bukan dengan menghancurkan negara-negara Arab yang nota bene menjadi basis dan awal mula tumbuhnya Islam, tetapi dengan menghancurkan Indonesia. Negara-negara Timur Tengah boleh saja terjadi banyak konflik, pecah, terjadi perang sesama umat muslim. Tetapi Islam akan tetap berjaya bila Indonesia masih berdiri tegak.
Nah, untuk menghancurkan Indonesia bukan dengan mengirim pasukan perang sebagaimana masa penjajahan dahulu. Tetapi dengan melemahkan dan menghancurkan sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama, NU. Mengapa demikian? Ya, sebab NU adalah kekuatan besar yang membentengi Indonesia. Dalam sejarah telah terbukti bahwa lapisan masyarakat yang gigih melawan penjajah di Indonesia adalah kaum santri yang digerakkan oleh para kyai pengasuh pesantren yang nota bene bersatu dalam organisasi NU.”
Sampai di sini Kang Basyir sejenak berhenti. Ia mengambil gelas berisi air teh yang ada di depannya untuk kemudian sedikit meminumnya. Sementara jamaah yang ada masih menujukkan perhatiannya pada Kang Basyir.
“Lalu bagaimana untuk melemahkan dan menghancurkan NU?” lanjut Kang Basyir, masih dengan kalimat yang tenang dan intonasi yang mantab. “Dengan membubarkannya? Menjadikannya sebagai organisasi terlarang? Tidak. NU bisa saja dan boleh saja dilarang dan dibubarkan. Tetapi selama ruhnya masih hidup jiwa NU tak akan pernah mati. Lalu apa ruhnya NU? Ruhnya NU ada di kegiatan jam’iyahan-jam’iyahan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah-daerah. Jam’iyahan rutinan tiap hari tertentu, tahlilan, tebus weteng, barzanji-nan, diba’-an, haul, manaqiban, dan kegiatan semisal lainnya di situlah ruhnya NU. Selama itu semua masih dilestarikan di Indonesia maka NU akan tetap hidup. Dan selama NU tetap hidup Negara Indonesia akan tetap berdiri dengan kokoh.”
“Itulah sebabnya di awal saya katakan bahwa mengikuti jam’iyahan bukan saja memenuhi kebutuhan ruhaniyah kita tetapi juga ikut dalam usaha tetap kokohnya Negara Indonesia.”
Sebagian jamaah terlihat ada yang menganggukkan kepalanya, mungkin dapat memahami penjelasan Kang Basyir. Sebagian lagi masih pada posisinya. Kang Basyir tak segera melanjutkan kalimatnya. Apa yang barusan disampaikan ia biarkan mengendap lebih dahulu di hati para jamaah untuk dapat dipahami dengan baik.
“Lalu,” lanjutnya, ”apa yang akan dilakukan oleh mereka untuk menghancurkan Islam?”
Lagi-lagi Kang Basyir berhenti sejenak sebelum kemudian menjawab sendiri pertanyaannya.
“Yang akan dilakukan oleh mereka untuk menghancurkan Islam adalah dengan perang akidah. Mereka akan menggunakan sesama umat Islam yang berseberangan pemahaman agamanya dengan umat Islam yang ada di Indonesia sebagai alat untuk memecah belah umat Islam. Melalui akidah umat Islam yang dijadikan alat itu akan menebarkan isu dengan mengatakan bahwa ritual yang selama ini kaprah berjalan di Indonesia adalah amalan-amalan bid’ah yang sama sekali tak ada dasarnya baik dari al-Qur’an maupun hadis. Efek yang akan terjadi dari isu ini adalah terjadinya gesekan di antara umat Islam Indonesia yang tidak dipungkiri pada saatnya nanti akan terjadi bentrok fisik. Bila ini benar-benar terjadi maka goyahlah stabilitas nasional negeri ini, rapuh keamanannya, dan pada akhirnya akan dengan mudah bangsa ini dirobohkan. Dan, bila bangsa Indonesia yang besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini roboh, roboh pula Islam di dunia ini.”
“Bagaimana tidak? Negeri-negeri muslim di Timur Tengah telah dan sedang dilemahkan dengan banyak konflik dan kekacauan. Bila Indonesia yang besar ini juga telah dibuat demikian, di negeri yang mana lagi Islam berdiri kuat?”
Kang Basyir menghentikan kalimatnya. Ia mengambil nafas kuat-kuat untuk kemudian perlahan ia hembuskan. Sejenak suasana hening. Terlihat Pakde Harto mengambil gelas di depannya dan meminumnya beberapa teguk.
“Boleh menyela, Kang?” suara Mas Dayat meminta ijin untuk bicara.
Monggo, silakan,” jawab Kang Basyir.
“Begini, Kang. Bila benar apa yang sampeyan jelaskan itu dari guru sampeyan dua puluh lima tahun yang lalu, maka rasa-rasanya hal itu sedang terjadi sekarang ini.”
“Ya, kurasa demikian.” Kang Basyir menimpali cepat. “Saat ini bisa kita lihat sendiri betapa sebagian saudara kita dengan mudahnya menuduh dan menuding-nuding bahwa tahlilan, ratiban, manaqiban, maulidan dan lainnya adalah perbuatan bid’ah, khurafat, syirik, bahkan pelakunya dikafirkan. Ini untuk amalannya. Sedangkan untuk organisasinya bisa kita saksikan betapa NU saat ini sering dikuya-kuya karena ia-lah satu-satunya organisasi keagamaan di Indonesia yang melestarikan amalan-amalan itu. Sikap NU yang menjunjung prinsip tawasuth, tawazun, dan tasamuh dalam banyak hal juga menjadikannya dipandang sebelah mata dan dicemooh mereka yang berseberangan. Bila ini terus terjadi maka bukannya tak mungkin akan terjadi konflik horizontal sesama umat Islam di Indonesia. Dan, terjadilah apa yang sekarang menimpa Timur Tengah.”
“Kang Basyir,” Pakde Harto menyela. “Saya bisa memahami apa yang sampeyan sampaikan itu. Tapi satu hal yang ingin saya tanyakan, apa kaitannya jam’iyahan dengan kuatnya Negara Indonesia?”
Kang Basyir tak lekas menjawab. Sejenak ia berdiam kemudian berkata, “Saya sendiri belum pernah menanyakan hal itu kepada guru saya. Namun bila kita mengkaji banyak keterangan dari banyak kitab kurasa akan ada kesimpulan yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan Pakde Harto.”
“Begini. Dalam kegiatan jam’iyahan pada umumnya yang dilakukan oleh jamaahnya adalah berdzikir dengan membaca berbagai kalimat thayibah. Saya ambil contoh shalawat dan istighfar. Dalam banyak kitab dapat kita peroleh keterangan bahwa barang siapa yang membaca shalawat kepada nabi satu kali maka Allah akan memberinya sepuluh rahmat.[2] Bila dalam satu jam’iyahan ada tiga puluh jamaah saja yang masing-masing membaca shalawat seratus kali, itu artinya akan ada tiga puluh ribu rahmat yang diturunkan Allah pada saat itu di daerah itu. Lah, bila pada saat yang bersamaan dalam satu desa ada sekian jam’iyahan, maka berapa ratus ribu atau bahkan berapa juta rahmat yang Allah curahkan di desa itu? Satu rahmat Allah saja sudah sedemikian agung, lah ini ribuan bahkan jutaan? Bila pada saat yang bersamaan pula hal itu terjadi di desa yang lain, di kecamatan, kabupaten, provinsi, dan seluruh Indonesia? Ini baru dalam satu hari atau satu malam. Bila di hari dan malam yang lain juga ada jam’iyahan yang melakukan demikian? Ini juga baru yang dilakukan oleh sekolompok orang yang tergabung dalam jam’iyah, belum bacaan shalawat yang diwiridkan secara rutin oleh orang-orang secara pribadi setiap hari dalam jumlah yang banyak. Belum juga yang diwiridkan oleh para kyai dengan para santrinya di pesantren-pesantren.
Bila setiap hari bangsa ini dicurahi berjuta rahmat Allah, dapat kita bayangkan laksana hujan yang membawa keberkahan, maka suburlah tanahnya, aman tentram kehidupannya, makmur dan sejahtera masyarakatnya. Dan bila kemudian semua itu berhenti karena amalannya dianggap bid’ah yang tak berdasar, keringlah negeri ini, karena sepi dari curahan rahmat kasih sayang Allah.
Ini baru dari satu sisi manfaat shalawat, belum manfaat yang lainnya. Lalu bagaimana dengan istighfar?
Untuk istighfar kurasa cukuplah apa yang dikatakan Allah dalam dua ayat-Nya. Yang pertama, Allah menyatakan bahwa Dia tak akan menurunkan azabnya kepada sebuah kaum selama kaum itu selalu beristghfar meminta ampun kepada Allah.[3] Seperti shalawat yang tadi saya jelaskan, bila setiap hari istighfar ini dibaca ribuan bahkan jutaan kali oleh masyarakat Indonesia secara bergantian, baik dalam jam’iyahan ataupun secara pribadi, bukankah ini akan mencegah datangnya siksa Allah? Bukankah ini berarti menenteramkan hidup dan kehidupan bangsa ini?
Yang kedua, dalam al-Qur’an Allah juga mengajarkan bahwa dengan membaca istighfar maka Allah akan mengirimkan rahmat-Nya dari langit berupa air hujan yang menjadikan bumi ini subur, memberikan limpahan rizki dan generasi, serta menjadikan kebun-kebun dengan banyak buahnya dan sungai yang mengalir untuk memenuhi banyak kebutuhan.[4] Maka, bukankah itu semua yang membuat negeri ini dikenal dengan kalimat gemah ripah loh jenawi tata tentrem karta raharja?”
Ini baru sebagian manfaat dari dua bacaan yang biasa diwiridkan dalam jam’iyahan dan oleh orang per orang secara pribadi. Belum manfaat lain dari kalimat-kalimat lainnya.
Lah, bila semua itu dihentikan? Bila tak ada lagi jam’iyahan? Bila tak ada lagi orang per orang yang merutinkan berwirid di siang dan malam hari karena dianggap bid’ah dan bahkan pelakunya dikafirkan? Sungguh, tak dapat kita bayangkan bila semua manfaat itu dihentikan oleh Allah untuk negeri Indonesia ini.
Maka sekali lagi saya sampaikan, selamat datang kepada para sedulur yang baru saja bergabung di jam’iyahan ini. Selamat bergabung untuk membangun dan mengukuh-kokohkan negeri ini dengan amalan jam’iyahan. Sungguh, ini langkah nyata yang bisa kita berikan untuk negeri dan bangsa kita sendiri, yang juga demi tegaknya agama Islam di dunia ini. Dari pada hanya sekedar membully, mencaci, dan memfitnah para pemimpin negeri, tanpa memberi solusi.”
Kang Basyir mengakhiri uraiannya malam ini. Namun sebelum ia menutupnya dengan salam satu hal lagi yang ia sampaiakan kepada jamaah, “Menurut guru saya, masih ada satu lagi cara mereka merubuhkan Islam di dunia ini. Akan saya sampaikan itu pada kesempatan yang lain. Insya Allah. Wassalaamu ‘alaikum….”
Mas Zaenul mengambil microphone dari tangan Kang Basyir, lalu menutup jam’iyahan malam itu dengan bacaan shalawat; sholluu ‘alan nabi Muhammad!


                                                                   Keturen, 6 Oktober 2015



[1] Menurut Abu Thalib al-Makky paling sedikitnya memperbanyak bacaan shalawat adalah tiga ratus kali. Sedangkan menurut Imam As-Sya’rony tujuh ratus kali pada siang hari dan tujuh ratus kali pada malam hari. Sedangkan ulama lainnya mengatakan tiga ratus lima puluh kali setiap hari dan tiga ratus lima puluh kali setiap malam. (Sa’aadatud Daaroin, Yusuf an-Nabhany, hal. 62.)
[2] Al-Adzkaar, Yahya bin Syaraf an-Nawawy, hal. 128
[3] QS. Al-Anfal: 33
[4] QS. Nuh: 11-12. Tafsir Al-Muniir, Dr. Wahbah Zuhaili, jil. 15, juz. 29, hal. 154

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu