Home » » Biarlah Hati Kami Yang Bicara

Biarlah Hati Kami Yang Bicara


Rabb, maafkan aku bila aku tak mampu berkata-kata untuk mengungkapkan rasa syukurku atas keagungan nikmat yang Engkau curahkan kepadaku. Maafkan aku bila untuk memuji-Mu hanya bisa aku lakukan dengan diam. Maha benar Engkau, bahwa nikmat-Mu memang tak terbilang tak terlukiskan. Tak mungkin memang mulut kecil yang kotor ini mengungkapkan kasih sayang yang Engkau…

Tak mampu lagi meneruskan munajatku. Suaraku terbenam dalam isak. Lelehan air mata ini tak dapat lagi dibendung. Tak ada keinginan aku mengusapnya. Biarlah. Biarlah terus mengalir deras membasahi apapun yang dilewatinya. Biarlah dengan air mata ini aku merasa cukup membuktikan betapa aku mengakui keagungan Tuhan yang pernah aku lupakan, namun tak pernah melupakanku. Biarlah mulutku terbungkam dari berucap, asal hatiku tetap memuji-Nya.

            Wahai Penyempurna kenikmatan
Wahai Penghalau siksaan
Wahai Yang menerangi para hamba yang tenggelam dalam kegelapan……

Aku angkat tubuhku dari sujud yang entah telah berapa lama aku tenggelam di dalamnya. Air mataku mulai mereda. Meski isakku masih terus terdengar hingga ke langit tujuh tempat para malaikat bertasbih-tahmid memuji-Nya. Tak pernah aku rasakan betapa damainya hati sedamai malam ini.

Aku berterima kasih kepada kepala sipir yang sore tadi mengijinkanku menghabiskan malam terakhirku di dalam masjid, bukan di dalam ruangan sempit yang dikelilingi dinding-dinding kumuh dan terali besi yang angkuh membatasi pergaulanku selama tujuh tahun lebih. Sejak awal telah aku niatkan, malam ini seutuhnya akan aku persembahkan bagi Tuhan.

Akan aku akhiri malam terakhirku di lembaga pemasyarakatan ini dengan berjaga di dalam masjid At-Taubah yang telah mengantarku ke dunia lain dari dunia hitamku.

Sajadah pemberian isteriku empat tahun lalu masih terbentang, sebagai alas aku berdekat-dekat dengan Maula-ku.. Akan terus aku bentang dan duduk di atasnya hingga fajar menghantarkan kebebasan dan kefitrahanku kembali. Entah sudah berapa puluh kali butiran-butiran tasbih berputar pelan berkeliling di ujung jari-jariku. Berapa ribu kali pula bibirku melafalkan nyanyian surga, memuji kesucian pemilik bidadari yang tak ternoda. Aku tak tahu lagi berapa kali tubuhku aku sungkurkan, bersujud meratakan muka dengan tanah. Muka yang dahulu selalu membuat siapapun ketakutan, kini dengan penuh kepasrahan aku kembalikan ke tempat terendah asal ia diciptakan. Kusadari, aku hanyalah lempung yang akan kembali dan tetap menjadi lempung.

Dalam isakku, teringat kembali masa laluku. Ketika hatiku memar tertampar omelan Idah, isteriku tercinta.

“Jadi laki-laki jangan malas! Laki-laki bisanya cuma kawin. Modal dengkul saja! Percuma saja aku bersuami kalau tidak bisa memberi nafkah. Masak memberi makan sehari sekali saja kau tidak bisa. Ceraikan saja aku! Nyesal dulu aku menerima lamaranmu!”

Begitu ia membentak-bentakku. Karena pertengkaran dan omelan ini bukan kali yang pertama dan kedua, aku tak tahan menahan emosi. Aku kalap.

Plak, plok!

Bertubi-tubi aku tampar mukanya. Ketika dia meringkuk di sudut ruangan berteriak-teriak minta ampun, aku semakin kesetanan. Kupukul dan tendang tubuhnya sepuas-puasku. Lalu dengan kasar aku jambak rambutnya hingga kepalanya terdongak.

“Ingat, Idah!” Aku membentak, “Kalau kau minta harta, aku turuti. Akan aku tebarkan kekayaan di rumah ini! Tapi awas, jangan sekali-kali kau mengkhianati aku. Ingat itu!”

Dari arah pintu rumah kudengar tangisan keras anakku yang baru berumur dua tahun. Rupanya ia melihat pertengkaran orang tuanya sepulang bermain di rumah tetangga. Aku tak peduli. Bergegas aku pergi tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhku. Hatiku benar-benar sakit. Apa yang diucapkan Idah adalah pukulan telak bagiku. Tapi aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak mau berpisah dengannya. Semuanya memang salahku yang tak mau bekerja lebih dahulu sebelum menikahinya, seperti pernah ia sarankan padaku.

Setelah pertengkaran itu aku tekadkan untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, demi tetap hidup berdampingan dengan Idah isteriku. Kubulatkan langkahku menuju satu tujuan, Jakarta!

Tapi bukankah aku tak memiliki apa-apa? Bukankah aku tak memiliki sepeser uangpun untuk ongkos ke sana?

Aku kalap. Seorang lelaki yang sedang mengendarai sepeda motor di tempat sepi dengan kekerasan aku paksa turun. Aku rampas sepeda motornya, juga STNK-nya. Uang hasil penjualan sepeda motor rampasan itulah modal awalku mencari kerja di ibu kota.

Tapi uang haram tetap uang haram. Sekian minggu di Jakarta tak satupun pekerjaan halal kudapatkan. Aku putus asa. Hingga aku berkenalan dengan seseorang. Dengan komplotannya aku tenggelam dalam dunia hitam. Minuman keras dan obat-obatan terlarang adalah teman hidupku. Berjudi, mencuri, menodong dan merampok adalah kehidupanku.

Betapa masih gamblang dalam ingatanku. Ketika aku merampas dompet seorang ibu yang sedang menawar barang di pinggir jalan di depan pasar Tanah Abang. Karena ia berontak dan memegang kuat-kuat dompet itu, tanpa segan-segan aku membacok lengannya dengan golok hingga hampir terputus.

Tak lupa pula ingatanku akan nasib tragis seorang janda kaya pengusaha garmen. Komplotanku menculik anak gadisnya yang saat itu sedang menunggu sopir yang biasa menjemputnya di depan sekolah. Pada janda itu kami meminta uang tebusan sebesar seratus lima puluh juta.

“Apa, seratus lima puluh juta?” terdengar janda itu berteriak kaget atas tebusan yang aku minta. Saat itu aku yang bertugas menghubunginya lewat telepon.

“Ya, seratus lima puluh juta! Kalau anda tidak bisa memberikan uang itu, maka kami akan….”

Aku tak melanjutkan kata-kata ancamanku karena ia memotongnya.

“Jangan, jangan kau bunuh anakku. Kumohon,” suaranya mengiba. Aku dengar pula isak tangisnya.

“Hahaha….” Aku tertawa keras

“Ok, ok. Aku tak akan membunuh anak anda. Tapi ingat, besok pagi sebelum jam enam serahkan uang seratus lima puluh juta, dan jangan coba-coba menghubungi polisi. Mata-mata kami akan selalu mengawasi anda. Hahaha…”

Aku kembali tertawa. Kemudian tanpa permisi dengan setengah membanting aku letakkan gagang telepon umum itu.

Ternyata ibu janda itu memang lebih sayang anak dari pada uangnya. Sebelum jam enam pagi ia menyerahkan uang tebusan yang kami minta di suatu tempat yang kami tentukan. Sesuai janji kami pun menyerahkan anak gadisnya. Namun ia sangat shoc ketika melihat anak gadisnya lemah lunglai tak berdaya. Semalaman kami telah menggilirnya hingga subuh tiba.

Selang beberapa hari aku mendengar berita kematian ibu janda itu. Serangan jantung, katanya. Kurasa ia tak bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa anak gadisnya. Sedangkan gadis itu sendiri aku tak tahu nasib selanjutnya.

Begitulah kehidupanku sehari-hari. Dari pencurian, penodongan, penjambretan, perampokan, hingga pembunuhan. Tapi dari hasil pekerjaan itu pula cita-citaku untuk menebarkan kekayaan di rumahku tercapai. Setiap bulan aku kirimkan uang tidak kurang dari satu juta untuk isteri dan anakku. Untuk menutupi kejahatanku, kepadanya aku katakan kalau aku bekerja di sebuah perusahaan asing.

Ini semua aku jalani selama tak kurang dari dua tahun. Andai saja waktu itu aku mengerti tentang syukur sebagaimana sekarang, mungkin aku akan bersujud syukur sesering mungkin. Bagaimana tidak, selama lebih dua tahun aku hidup malang melintang di dunia hitam, tak pernah satu kalipun komplotan kami ditangkap polisi. Memang benar namaku dan kawan-kawan telah masuk dalam daftar hitam mereka, tapi mereka selalu saja gagal meringkus kami.

Hingga pada akhirnya Tuhan menetapkan suatu episode lain bagi perjalanan hidupku. Suatu malam komplotanku bermaksud merampok harta milik seorang bandar narkoba kelas kakap. Seperti biasanya kami tak segan-segan menganiaya korban bila melawan aksi kami. Dan karena bandar narkoba dan keluarganya itu banyak bertingkah sehingga menyulitkan kami mengambil kekayaannya, kami pun menganiaya mereka hingga tak kami duga mereka mati satu persatu. Semestinya ini kesempatan emas bagi komplotanku untuk menguras seisi rumah.

Namun di luar dugaan dari arah luar terdengar suara mobil polisi yang berhenti di depan rumah yang kami rampok. Ternyata pada malam itu polisi juga telah merencanakan meringkus sang bandar narkoba. Aku melihat banyak polisi yang mengepung rumah itu. Aku dan kawan-kawan berusaha melarikan diri. Semuanya hanya berpikir menyelamatkan diri sendiri.

Dor..dor..dor..!

Polisi memuntahkan peluru ke atas sebagai tembakan peringatan. Namun kami tetap berlari ke segala arah yang dapat menyelamatkan kami.

Lalu sesaat kemudian.

Dor..!

Aaaa….

Aku dengar satu persatu kawanku berteriak keras tertembak timah panas polisi. Saat itu juga dalam benakku melintas bayang isteri dan anakku. Tidak. Aku tak boleh mati. Aku tak mau berpisah dengan mereka. Aku masih ingin tetap hidup dengan mereka. Aku tak boleh mati.

Kuhentikan langkahku. Aku angkat kedua tanganku. Aku menyerah. Dari arah belakang kudengar suara sepatu beberapa polisi berlari mendekatiku. Dengan menodongkan pistolnya tiga polisi berdiri di depanku. Sedangkan di belakang aku tak tahu berapa polisi yang sedang mengarahkan senjatanya ke batok kepalaku.

“Lapor pak!”

Seorang polisi datang memberi hormat kepada seorang polisi yang ada tepat di depanku. Dari ucapan polisi tadi aku tahu kalau yang dipanggil orang di depanku adalah pimpinan mereka.

“Semuanya mati, Pak.”

“Panggil ambulan dan bawa ke rumah sakit!”

“Siap, Pak!”

Mati?! Kawan-kawanku mati? Sesaat pikiranku kacau.

Terbongkarlah semua kejahatanku. Aku tak dapat membayangkan bagaimana isteri dan anakku melihat dalam tayangan televisi seorang bandit kelas kakap diinterogasi dan digelandang masuk ke dalam tahanan. Tak dapat pula aku bayangkan bagaimana malunya isteriku ketika mengetahui bahwa bandit itu adalah aku, suaminya.

***

Setahun di penjara tak ada perubahan apapun yang terjadi dalam diriku. Aku masih saja mengenang nasib tragis yang menimpa kawan-kawan komplotanku dalam peristiwa malam itu. Aku belum bisa menerima semua itu. Hatiku masih saja keras seperti dahulu.

Tak dapat kubayangkan bagaimana membosankannya hidup di balik terali besi selama sembilan tahun, sesuai keputusan pengadilan. Setiap hari yang aku lakukan itu-itu saja. Ngobrol dengan teman-teman sesama napi di sel, bersih-bersih lingkungan bila pas kebagian jadwal piket, atau duduk-duduk di taman ketika jam bebas. Itu-itu saja, tak ada yang berubah.

Bukannya tidak ada kegiatan di lingkungan LP. Beberapa kali para sipir menyarankanku untuk ikut menyibukkan diri dengan ketrampilan yang dikelola di sana. Oleh pengurus LP disediakan sebuah ruangan besar untuk para napi yang mau menekuni ketrampilan. Disediakan pula berbagai alat ketrampilan yang dapat digunakan para napi untuk berlatih. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi modal bagi mereka selepas dari penjara kelak. Tapi aku tak tertarik sedikitpun dengan saran itu.

Beberapa teman napi satu sel juga sering mengajak aku ikut ke masjid bertadarus dan mengikuti pengajian mingguan yang mengundang penceramah dari luar. Tapi aku malah merasa aneh dengan ajakan itu. Ke masjid? Perampok dan pembunuh kelas kakap seperti aku pergi ke masjid? Tempat macam apakah itu? Bukankah tempat itu hanya didatangi orang-orang suci atau setidaknya sok suci? Berapa banyak orang aku kenal begitu khusyuk bila di masjid, tapi di luar tak ada bedanya dengan orang seperti aku. Mereka saja yang pandai-pandai menutupi kebusukannya. Percuma saja aku ke masjid bila hanya untuk membungkus borokku, hanya untuk formalitas agama, tidak membekaskan apa-apa dalam hidupku. Kurasa orang seperti itu lebih bobrok dari pada aku. Mereka mengatasnamakan agama untuk kepentingan nafsunya. Aku mengolok temanku.

Hingga suatu ketika di pagi hari seorang sipir memanggilku di sel.

“Taibin, ada yang mau ketemu kamu.”

“Aku?”

“Iya, kamu.”

Aku tak percaya. Siapa yang mau bertemu denganku. Ada urusan apa ia denganku. Setahun lebih aku di sini, baru kali ini aku dikunjungi orang.

Aku ikuti langkah sipir itu menuju ruang tamu, tempat bertemu para napi dengan orang-orang yang mau menemuinya. Kulihat ruangan itu masih sepi. Tak ada orang selain seorang perempuan berjilbab biru yang duduk membelakangi diriku. Ketika aku telah berhadapan dengannya, betapa aku terkejut melihat orang yang datang mau menemuiku. Dadaku berdegup kencang. Berkali-kali kukedipkan mataku untuk meyakinkan bahwa aku tak salah lihat. Aku tak percaya, benar-benar tak percaya. Sementara perempuan itu juga memandangku dengan tegang. Kulihat dadanya bergetar, matanya nanar.

Cukup lama kami saling pandang dalam diam. Bibirku bergerak pelan untuk menyebut nama perempuan itu. Namun tak ada satu katapun yang dapat terdengar meski oleh telingaku sendiri.

“Benar, Kang.”  Ia berkata lirih melihat aku tak kuasa berkata-kata menyebut namanya. “Aku Mufidah. Aku Idah, isterimu, Kang.”

Dadaku semakin cepat berdegup dan keras bergetar. Melimpah ruah air mataku bercucuran. Ingin sekali rasanya aku memeluk isteriku. Ingin sekali aku menumpahkan kerinduanku kepadanya. Tapi aku tak mampu. Benar-benar tak mampu. Tubuhku serasa berat digerakkan. Hatiku ragu. Akankah ia menerimaku?

“Kang, maafkan aku, Kang.” Lirih suaranya.

Apa, dia meminta maaf? Ah, alangkah tajamnya sindiran itu ia tancapkan dalam hatiku. Mestinya aku yang meminta maaf kepadanya. Aku semakin tak bisa berbuat apa-apa.

“Maafkan aku, Kang. Aku lah yang menyebabkan kakang seperti ini.”

“Tidak, Idah.” Aku mencoba menjawabnya.

“Kau tak bersalah. Aku lah yang bersalah. Aku lah yang mesti meminta maaf kepadamu.”

Kami terdiam. Isak kami masih menghias keharuan hati kami yang telah sekian tahun tak pernah bertemu.

“Sudahlah, Idah. Semuanya telah terjadi, tak perlu kita sesali. Kau sendirian datang ke sini?”

“Iya, Kang. Aku datang sengaja untuk menemui kakang. Untuk menengok kakang.”

Oh, alangkah indahnya kalimat itu. Perempuan yang paling kucinta yang pernah kecewa terhadapku dengan sepenuh hati bersusah payah mau menengok suaminya yang menjadi pesakitan karena tindak kriminalnya.
Aku pegang jemarinya. Aku remas lembut, selembut angin surga yang bertiup sejuk dalam hatiku. Betapa bahagianya hati ini. Betapa kejenuhan penjara ini tak lagi aku ingat dan rasakan. Tak ada lagi keraguan dan kecanggungan dalam diriku. Kami berbincang dengan penuh kegembiraan. Tak bosan pula aku memandang wajahnya, yang sejak dulu aku jatuh cinta karena kecantikannya. Ada kesejukan setiap kali aku menatapnya. Kesejukan yang dulu tak pernah aku dapatkan di sana.

Ada yang lain memang dalam wajah itu. Ada yang membuat ia tidak saja terlihat cantik, tapi juga menyejukkan mata menenteramkan jiwa. Jilbabnya. Jilbabnya yang membuat ia lebih dari sebelumnya. Sungguh, tak bosan aku memandangnya. Hingga ia merasa grogi aku pandangi sedemikian rupa.

“Mengapa, Kang? Kok memandang terus begitu?”

Aku remas jemarinya lebih erat. Seulas senyum terkembang di bibirku. Juga bibir tipisnya.

“Kau berjilbab, Dah?”

Ia tersenyum lagi. Senyum yang pernah membuat aku dan teman sedesaku, Kahar, berkelahi mati-matian memperebutkannya.

“Seperti yang kakang lihat. Kakang nggak suka aku berjilbab?”

“Oh, aku sangat suka, Idah. Kau tampak lebih cantik dengan jilbab itu.”

Ia tersipu malu.

Sejak kunjungan itu Idah sering mengunjungiku tiap tiga bulan sekali. Kadang ia datang sendiri, kadang dengan Farhan anak kami, pernah pula ia datang dengan orang tuaku dan orang tuanya. Namun aku merasa kasihan bila ia harus selalu datang dari Jawa Tengah ke Jakarta. Maka ketika telah empat tahun aku tinggal di penjara aku sarankan ia agar tidak lagi menengokku. Cukuplah kunjungannya selama ini membuat hatiku tenteram. Cukuplah kesediaannya menengokku sebagai bukti kesetiaannya kepadaku. Kurasa biarlah ia tinggal di rumah saja, merawat anakku yang kini semakin tumbuh besar dan perlu mendapat perhatian lebih. Biarlah uang ongkos perjalanan ke Jakarta ia simpan untuk masa depan buah hati kami.

Dan selama ia tak mengunjungiku, kami selalu berkomunikasi lewat surat. Sebulan sekali surat-surat kami saling berbalasan. Selalu saja ia yang mengirim terlebih dahulu, kemudian aku membalasnya. Dari surat-suratnya aku tahu tentang perkembangan Farhan anak kami. Begitu bangganya aku ketika membaca bahwa anak yang sekian tahun hidup tanpa kasih sayangku sebagai bapaknya itu selalu mendapat juara di kelasnya. 

Dari suratnya pula aku merasa bahagia sekaligus terenyuh dan malu pada diriku sendiri, ketika Idah menceritakan bahwa untuk menutup kebutuhan harian dan pendidikan Farhan ia diberi kelapangan rizki oleh Allah dengan berjualan nasi di depan rumah di pagi hari. Meski keuntungannya tak seberapa, tapi al-hamdulillah saya merasa cukup, Kang. Bahkan sedikit-sedikit aku bisa menabung, untuk masa depan keluarga kita, Kang. Begitu ia tulis dalam suratnya. Aku terenyuh membacanya. Tak jarang air mataku meleleh setiap kali membaca surat-surat itu.

Ya Allah, suami macam apakah aku ini. Kutelantarkan keluargaku. Kuberi mereka nafkah haram. Kini aku tinggalkan mereka tanpa sedikit nafkah pun. Bahkan mereka sendiri yang bersusah payah mencarinya, bahkan untuk mengirimiku di sini, di balik terali besi.

Setelah komunikasiku dengan Idah kembali terjalin dengan baik banyak perubahan pada diriku. Berawal dari ketika Idah masih sering menengokku.

Suatu kali aku bertanya kepadanya. “Dah, aku ini bajingan, perampok, pembunuh, dan suami yang tak bertanggungjawab. Mengapa kau masih mau menerimaku, susah payah mengunjungiku yang narapidana ini?”
Hhh… Ia membuang napasnya jauh-jauh. Matanya menatap tajam ke arahku. Tegas sekali ia menjawab.
“Kang, bila Allah yang Tuhan saja menerima taubat seorang pendosa yang paling berdosa, bagaimana aku akan menolak kakang yang sesama hamba, bila kakang benar-benar mau bertaubat?”

Allah yang Tuhan saja menerima taubat seorang pendosa yang paling berdosa?

Benarkah, benarkah seorang pendosa yang paling berdosa tetap terampuni? Bila pendosanya adalah seorang perampok, pembunuh, penipu, pemeras, pemerkosa dan pelaku segala kejahatan seperti aku, benarkah Allah tetap membuka pintu taubat-Nya? Bila aku benar-benar mau bertaubat?

Bila benar demikian. Ooh, alangkah mulianya aku bertuhankan Dia. Alangkah bangga dan bahagianya aku menjadi hamba-Nya. Betapa sabar dan pemurahnya Tuhanku. Betapa lapang dada Tuhanku memberi harapan masa depan gemilang bagi para pendosa sepertiku. Betapa kerikil dan berlian mendapat tempat yang sama dalam lautan rahmat-Nya.

Kalimat isteriku itu terus saja mengiang di telingaku. Bak tetes air dalam dahaga gersang padang pasir, kalimat itu telah merubah drastis kehidupanku. Ajakan temanku untuk aktif di masjid yang dulu pernah aku tolak dan lecehkan kini kuikuti. Setiap kali ada jadwal bebas selalu saja aku gunakan untuk berlama-lama di sana. Di malam hari ketika semua harus berada di sel aku gunakan pula untuk berlama-lama duduk di atas sajadah sambil pelan-pelan memutar biji-biji tasbih sembari menggerakkan bibir melafalkan tahmid, memuji keagungan-Nya. Di tengah malam saat semuanya pulas tertidur aku adukan dan bisikkan segala rasa dan asa.

Rabb…
yang selalu memberikan keridloan
yang kasih-Nya mengalahkan amarah-Nya
ampuni hamba yang tak memiliki apa-apa selain doa
kasihi hamba yang hanya bermodalkan harapan
mengandalkan rengek tangisan
akankah Engkau menolak hamba
hingga selain-Mu kujadikan tumpuan
tidak, ya Rabb
jangan putusasakan hamba…

***

Subuh yang membawa pagi tersenyum diambang cakrawala. Fajar yang kunantikan menganugerahkan kebebasan dan kefitrahanku kembali telah menyapa. Kuucapkan sayonara kepada masa laluku. Akan aku tapaki episode baru kehidupanku.

Dari atas becak kulihat banyak perubahan di desaku yang telah kutinggalkan lebih sepuluh tahun lamanya. Sawah yang menghijau membentang luas di kanan dan kiri jalan desa kini banyak ditumbuhi rumah-rumah penduduk dan bangunan perkantoran serta pabrik-pabrik. Udara yang dulu selalu segar dihirup kini terasa kotor membawa asap yang terus mengepul dari banyak cerobong. Jalan berlumpur yang melewati jarak beberapa puluh meter depan rumahku telah mengeras beraspal, meski lubang-lubang kecil berserakan di sana-sini.

Kuhentikan tukang becak mengayuh becaknya tepat di depan mulut jalan kecil beberapa puluh meter menuju rumahku. Belum juga aku turun dari becak kulihat seorang lelaki agak tua keluar dari rumahku yang terlihat dari mulut jalan kecil itu. Sepintas ia juga melihat ke arahku dan buru-buru pergi lewat jalan kecil di samping kanan rumah. Aku tak mengenal betul siapa laki-laki itu.

Segera kulangkahkan kakiku menuju pintu rumah. Tak kulihat ada perubahan di rumah itu, kecuali setelah aku masuk nanti aku tahu kalau ruang yang dulu dipakai untuk gudang kini telah berubah menjadi musalla.

“Assalamu’alaikum,” sambil mengetuk kuucapkan salam.

“Wa’alaikum salam.”

Kudengar jawaban itu. Telingaku hafal betul, itu suara Mufidah, isteriku. Hatiku berdebar. Ingin rasanya segera bertemu dengan isteri dan anakku. Sesaat pintu rumah dibuka. Betapa aku tak dapat berbuat apa-apa melihat isteriku berdiri tepat di depanku. Kebahagiaan yang meliputi hatiku menjadikan aku tak mampu berkata-kata. Idah pun kulihat mengalami hal yang sama. Sejenak kami hanya bisa saling berpandangan. Menahan kerinduan yang saat ini terlunaskan.

“Aku pulang, Idah,” bibirku lirih berucap.

“Kakang,”

Aku raih dan peluk tubuhnya yang terbungkus rapat busana muslimahnya. Kami masih saja tak dapat berkata-kata. Hanya air mata kami yang berbicara, meleleh menumpahkan kerinduan, keharuan, dan kebahagiaan yang menggumpal dalam hati kami.

“Aku pulang, Idah. Al-hamdulillah, aku pulang. Aku bebas.”

“Al-hamdulillah, al-hamdulillah….”

Hanya itu yang bisa kami ucapkan. Selanjutnya kami kembali terdiam dalam pelukan. Isak tangis kebahagiaan masih terdengar pelan. Hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangisan dari dalam rumah.
Bayi? Tangisan bayi? Hatiku bertanya-tanya. Benarkah itu tangisan bayi? Bayi siapa? Bagaimana isteriku bisa memiliki bayi? Ah, tak mungkin itu bayi isteriku. Tak mungkin. Aku berkeras tak mempercayainya. Tapi mengapa ada di dalam rumahku? Tangisan itu semakin mengeras. Ada perasaan tak enak yang mengusik hatiku.

Perlahan kulepas pelukanku. Hanya pundak kanan dan kirinya yang aku pegang kuat-kuat. Aku pandang wajahnya dalam-dalam. Ia menunduk. Aku angkat lagi wajahnya hingga mata kami saling berpandang.

“Kau kawin lagi, Idah?”

Ia tak menjawab. Wajahnya ia tundukkan kembali. Hanya isaknya yang berbicara. Hatiku bergetar dibuatnya. Penasaran aku dengan sikapnya.

“Benar kau kawin lagi, Idah?”

Ia tetap diam. Isaknya mengeras.

“Jawab, Idah!”

Suaraku agak meninggi. Hampir saja aku melupakan kebahagiaan dan kedamaian yang sejak di rutan tumbuh bersemi di hatiku.

“Tidak, Kang.”

Ia tetap menunduk, terisak.

“Lalu suara bayi siapa itu?”

“Bayiku, Kang.”

“Kalau kau tidak kawin lagi tapi kau punya bayi, berarti kau, kau telah…”

“Tidak, Kang. Tidak!”

Suaranya keras. Ia tatap wajahku, memohon pengertianku.
“Jangan kakang katakan aku berkhianat. Jangan katakan aku telah melakukan perbuatan menjijikan itu. Aku tidak kawin lagi. Tapi aku juga tidak mengkhianati kakang.”

Isaknya kembali terdengar keras.

“Lalu…lalu bagaimana bayi itu ada di sini dan kau yang melahirkannya, Idah?” Aku tak mengerti.

Tiba-tiba Idah melepaskan tubuhnya dari pegangan tanganku. Secepat kilat ia masuk ke dalam rumah. Sementara aku tetap mematung di luar di depan pintu. Sungguh aku tak mengerti akan semua ini. Pun aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat.

Tak lama kemudian ia keluar membawa kantong kain besar yang terlihat berisi penuh. Dihadapanku ia muntahkan isi kantong itu. Bukan main aku terperanjat. Dari dalam kantong itu berjatuhan bergepok-gepok uang.

Aku tambah tak mengerti. Kupandangi wajah Idah. Ia balas memandangku, masih dengan isaknya.

“Ini, ini Kang bukti bahwa aku tetap setia dengan kakang. Kuharap ini cukup sebagai bukti bahwa aku bukan pengkhianat.”

Isaknya terus saja meneteskan buliran-buliran jernih air matanya. Aku semakin kebingungan.

“Apa maksud semua ini, Dah?”

“Aku diperkosa, Kang. Aku diancam.”

Kurasakan kepalaku tersambar petir, hatiku remuk mendengar pengakuan isteriku. Belum sempat aku bicara Idah sudah berkata lagi.

“Aku diperkosa dan hamil, hingga lahirlah anak itu. Keluarga pemerkosa itu keluarga terpandang. Takut namanya menjadi jelek akibat ulah anaknya, mereka menyarankan aku menggugurkan kandunganku. Aku menolak. Aku takut dosa. Aku bersikeras untuk tetap mengandung dan melahirkan anak itu. Mereka mengancamku agar tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Aku disuruh mengatakan bahwa yang memperkosaku adalah teman kakang sesama penjahat di Jakarta. Sebagai pertanggungjawaban mereka dan agar aku mau tutup mulut, setiap bulan mereka berikan uang satu setengah juta untuk biaya hidup bayi itu, juga aku dan anak kita Farhan. Tapi aku tak sudi. Biarlah aku hidup dari berjualan nasi. Aku kumpulkan saja uang pemberian mereka. Tak pernah satu persenpun aku memakannya. Sebab memakannya berarti aku menerima perbuatan mereka. Kini kakang lihat sendiri uang itu masih utuh. Bahkan baru saja bapak pemerkosa itu pergi dari sini menyerahkan uang untuk bulan ini….”

Baru saja pergi? Orang yang tadi kulihat tergesa-gesa meninggalkan rumahku itukah? Aku berdiri bergetar mendengar cerita isteriku. Hatiku berdegup kencang. Beberapa saat kami terdiam. Hanya tangis Idah yang terdengar.

“Siapa yang memperkosamu, Idah?” tanyaku lirih.

“Kakang masih ingat teman kakang yang pernah berkelahi memperebutkan aku dulu?”

Apa? Jadi, jadi pemerkosa isteriku adalah Kahar anak paling mursal Haji Kadir yang renternir itu? Teman satu desaku yang aku kenal betul di Jakarta menjadi saingan komplotanku menjarah harta haram?

Hampir saja aku limbung. Cahaya keimanan yang mulai benderang dalam hatiku hampir saja padam mengingat bajingan itu yang telah memperkosa isteriku. Bila saja aku tak teringat ratapanku kepada Tuhan semalaman di masjid At-Taubah di rutan menjelang kekebebasanku. Jiwa beringasku hampir saja menguasaiku kembali.

“Kang. Kakang sudah tahu semuanya. Kalau kakang menganggap aku perempuan yang tak suci lagi, yang mengkhianati kakang, dan kakang tak bisa menerimaku lagi, aku ikhlas, Kang.”

Suara isteriku mengiba. Aku tak menjawabnya. Aku pandangi wajahnya. Kupegang kedua lengannya erat-erat. Terlintas dalam pikiranku, terngiang di gendang telingaku, kalimat yang pernah diucapkannya waktu bertemu di penjara.

“Kang, bila Allah yang Tuhan saja menerima taubat seorang pendosa yang paling berdosa, bagaimana aku akan menolak kakang yang sesama hamba, bila kakang benar-benar mau bertaubat?”

Astaghfirullah. Aku peluk erat tubuh isteriku. Kusandarkan kepalanya di dadaku. Aku curahkan kasih sayangku kepadanya. Tak sepatahpun kata terucap dari dalam mulutku. Biarlah dekapanku menjadi jawaban pasti bagi Mufidah, isteriku tercinta. Biarlah hati, rasa dan asa kami yang bicara.

Dalam kegelapan malam, dalam kedamaian musalla kecil rumahku, aku bisikkan dan adukan kembali masalahku kepada-Nya. Aku tak akan pernah meminta untuk Kau-hindarkan dari cobaan. Tapi aku memohon, jadikan aku sebagai hamba yang selalu lulus dalam ujian. Rabb, yang nama-Nya pelipur lara, mengingat-Nya penawar duka, jangan Kau kembalikan hamba pada kelam masa silam. Lakukan pada hamba apa pun yang pantas Kau lakukan. Wahai Pemurah, Pengasih, dan Penyayang!

Rutan Solo, Desember 2003

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu