Home » » Budaya Ngrasani, Budaya Drakula

Budaya Ngrasani, Budaya Drakula



Seorang guru masuk ke dalam kelas. Setelah memberikan beberapa patah kata sebagai pembuka, tiba-tiba ia membagi-bagikan potongan kertas kecil-kecil kepada semua anak didiknya. Anak-anak itu maklum, guru yang satu ini memang suka sekali membuat permainan dengan potongan kertas kecil. Kali ini, mereka pun bisa menebak bahwa gurunya akan memerintahkan menuliskan sesuatu di kertas kecil itu. Mereka sangat menyukai permainan semacam ini. Di samping asik, juga memberi pelajaran yang cukup mengena.
Selanjutnya guru itu bercerita, dan semua anak mendengarkan dengan seksama cerita gurunya. Dulu, kata guru itu, seorang raja Yunani bernama Raja Vlad memiliki perilaku aneh. Dengan alasan ingin menghilangkan kemiskinan di negerinya, ia kumpulkan semua pengemis di negeri itu. Diberinya mereka hidangan yang sangat lezat, yang tentunya tak pernah dinikmati oleh para pengemis.
Setelah para pengemis itu kekenyangan, sang raja menitahkan para pengawal untuk membunuh satu persatu mereka di hadapannya dengan cara yang keji dan berbeda-beda. Ada yang dibunuh dengan cara disembelih, digergaji, dipotong-potong bagian tubuhnya, dan yang paling disuka raja dibunuh dengan cara dimasuki tombak besi panas dari lubang duburnya hingga tembus ke atas kepalanya.
Yang lebih keji lagi, darah para pengemis itu dikumpulkan dan sebagiannya diminum oleh sang raja. Kebiasaan ini sering dilakukan di istana Yunani kala itu. Karena itulah Raja Vlad dijuluki sebagai “Dracul” yang artinya “peminum darah”. Dari sinilah kemudian melegenda cerita tentang drakula, manusia peminum darah.
Setelah bercerita demikian guru itu memerintahkan anak didiknya untuk menuliskan satu kata dengan huruf capital tentang pendapat mereka terhadap kelakuan sang raja. Setelah itu para murid diminta untuk mengucapkan keras-keras tulisan pendapat mereka itu. Ada yang menulis GILA, EDAN, RAKUS, KEJAM, KEJI, BEJAD dan julukan-julukan buruk lainnya. Bahkan ada murid yang mengatakan raja itu “lebih menjijikkan dari seekor anjing dan babi”.
Setelah semua murid mengucapkan pendapatnya, sang guru meneruskan ceritanya lagi. Bahwa setelah Raja Vlad mati, ternyata tradisi itu diteruskan lagi oleh banyak orang. Bahkan mereka tidak saja meminum darah manusia yang dibunuhnya, tapi juga memakan daging bangkainya. Yang lebih menjijikkan lagi, bangkai yang telah busuk dan dimakan cacing pun ikut dimakan.
Sekali lagi, setelah bercerta demikian, sang guru meminta para muridnya untuk menuliskan pendapat mereka tentang pemakan bangkai ini. Dan dengan sangat antusias mereka menuliskannya. Banyak komentar di antara mereka. Yang jelas semuanya menunjukkan sifat-sifat yang lebih buruk dari komentar sebelumnya. Ada yang mengatakan IBLIS, MBAHNYA SETAN, SRIGALA RAKUS dan sebagainya.
Selesai para murid berkomentar, sang guru kembali melanjutkan ceritanya. Dia katakan bahwa para pemakan bangkai itu ternyata tidak saja hidup di jaman dahulu, tapi juga di jaman sekarang dan banyak berkeliaran di sekitar kita.
Sampai di sini para murid terpancing penasaran, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh sang guru?
Melihat rasa penasaran anak didiknya yang mulai menguat, sang guru tersenyum. Diambilnya sepotong kapur dan menuliskan sebuah ayat quran di papan tulis yang artinya kurang lebih demikian ‘apakah salah seorang di antara kalian senang bila memakan bangkai saudaranya sendiri? Pastilah kalian tak menyukainya’. Dia jelaskan pula bahwa ayat ini berkenaan dengan orang yang suka menggunjing, ngerasani, ghibah, terhadap sesama. Orang yang suka membicarakan aib orang lain oleh ayat ini diserupakan sebagai orang yang suka memakan daging bangkai saudaranya sendiri yang telah membusuk. Subhanallah!
Mendengar penjelasan sang guru ini para murid yang semuanya perempuan banyak yang berteriak histeris. Di antara mereka juga ada yang terdiam seribu bahasa, namun air matanya meleleh dengan derasnya. Mereka merasa bahwa merekalah para pemakan bangkai yang digambarkan oleh kitab suci Al-Quran. Mereka sadar dan menyadari, bahwa dalam sehari tak bisa dihitung berapa jam merumpikan orang lain; teman, tetangga, bahkan gurunya sendiri. Mereka merasa kalimat-kalimat buruk yang baru saja mereka tulis lebih pantas ditujukan bagi diri mereka sendiri.
Ya, sangat jelas dan telah kita pahami dengan sepaham-pahamnya, bahwa ghibah, membicarakan aib orang lain, sangat dicela oleh agama. Ajaran ini begitu seringnya diajarkan dan dipelajari. Betapa sering para guru kita mengajarkan keharaman ghibah kepada para muridnya. Dan para murid kita sudah cukup mengerti akan dilarangnya perilaku ini oleh agama. Namun, diakui atau tidak, untuk menghindarkan diri dari perbuatan ghibah ini bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih bila dilakukan bersama-sama orang yang sepaham untuk membicarakan orang lain yang sama tak disukainya, rasanya ghibah menjadi satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan dari membaca kitab suci, lebih memberi semangat dari pada membicarakan ilmu-ilmu Allah yang memang selayaknya diperbincangkan di sebuah lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini.

Ghibah dan Buhtan
Sekedar mengingatkan, Rasulullah memberikan devinis ghibah sebagai suatu perilaku membicarakan orang lain dengan cara atau sesuatu yang tak disenanginya. Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Apa yang disebut ngrasani?” Rasulullah menjawab, “Ngrasani (ghibah) adalah engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia senangi.” Sahabat tadi bertanya kenbali, “Apakah bila yang aku perbincangkan benar-benar ada pada dirinya juga termasuk ngrasani?” Rasul mejawab, “Bila yang kau katakana itu benar-benar ada pada dirinya, maka engkau telah me-ngrasani-nya (ghibah). Namun bila apa yang kau katakan tak ada pada dirinya, maka engkau telah berdusta (buhtan).”
Dengan demikian, jelas lah kiranya, apapun yang kita bicarakan dari seseorang dengan cara yang tidak disenangi oleh orang yang kita bicarakan, dengan materi pembicaraan yang benar-benar ada pada dirinya, maka kita telah melakukan perbuatan menggunjing, ngrasani, ghibah.
Bila yang demikian saja sudah dianggap ngrasani yang pelakunya oleh Allah disamakan dengan “pemakan bangkai”, lalu bagaimanakah bila materi yang kita bicarakan tidak benar-benar ada pada diri orang yang kita gunjing? Kita telah melakukan sebuah kedustaan, atau bahkan fitnah. Maka sebutan apakah yang paling bagi pelakunya?
Bila kita melihat lebih jauh, banyak akibat buruk yang ditimbulkan oleh ghibah, sehingga dengan tegas agama Islam melarangnya dengan menganggap pelakunya sebagai “Pemakan Bangkai”.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu