Home » » Gerbang Pengadilan

Gerbang Pengadilan


“Selamat tinggal, Suamiku.”
“Selamat tinggal, Ayah.”
“Selamat tinggal, Tuan.”
“Selamat tinggal, Kawan.”
Satu persatu dari mereka mulai meninggalkannya. Kini tinggal tubuh kerempang itu saja yang ada. Terbujur tak berdaya.
“Hai, mau ke mana kalian? Tegakah kalian meninggalkanku sendiri di tempat yang tak pernah aku duga?! Mengapa kalian dengan entengnya meletakkanku di sini lalu pulang dengan tanpa kesedihan?!”
Sunyi….
Tiada yang mampu dan mau mendengarnya.
“Isteriku! Anak-anakku! Kemarilah kalian!”
Ia terus memanggil-manggil tanpa henti, siapa dan apa saja yang pernah ia kenali.
Namun suasana makin sepi,
Sunyi…sunyi….begitu sunyi.
Tubuh kerempeng itu mulai meratapi, betapa sia-sianya hidup ini. Sekian tahun lamanya ia berusaha membahagiakan anak dan isteri. Ia jadikan malam untuk siang. Ia kucurkan keringat tubuhnya setiap saat. Ia kerahkan segala tenaga. Apapun yang mereka pinta, ia penuhi dengan segera. Demi nafsu mereka ia tak ingat lagi kata dosa. Demi syahwat mereka ia acuhkan segala larangan. Demi membahagiakan mereka apapun ia lakukan tanpa mengenal batasan.
Kini ia terbujur tak berdaya, sendiri tanpa anak dan isteri yang mendampingi.
“Kawanku! Di mana kalian?! Tidak ingatkah kalian akan jasa-jasaku kepadamu dahulu?!”
Ia terus memanggil tanpa henti, siapa dan apa saja yang pernah ia kenali.
Namun suasana makin sepi.
Sunyi…sunyi…begitu sunyi.
Tubuh kerempeng itu mulai meratapi, betapa busuknya persahabatan selama ini. Demi kawan-kawan ia perkosa jabatan sebagai kesempatan. Demi mereka ia relakan surat-surat dipalsukan. Demi mereka ia carikan jalan keluar dari hukuman. Demi mereka yang salah ia benarkan, yang benar ia salahkan Demi mereka pula ia rela korbankan kehormatan.
Kini ia terbujur tak berdaya, sendiri tanpa kawan yang mau menemani.
“Pangkatku, jabatanku! Di mana kalian?! Tidakkah kau bisa menolongku?”
Ia terus berteriak, mengaduh, merintih, memanggil siapa dan apa saja yang pernah ia kenali.
Namun, tiada yang mampu dan mau mendengarnya.
Tubuh kerempeng itu mulai meratapi, betapa rendahnya pangkat dan jabatan yang ia sandang selama ini. Ia korbankan kehormatan demi pangkat keluhuran. Ia sembah aturan setan demi jabatan tetap di tangan. Ia pertahankan kedudukan demi tetap menyandang semunya kehormatan. Dengan jabatan itu pula kecurangan-kecurangan ia lakukan. Dengan pangkat itu pula ia paksakan kehendak pada setiap bawahan.
Kini ia terbujur tak berdaya, sendiri tanpa ada yang mau mengakui dan menghargai.
“Hartaku! Di mana kamu?! Tidakkah kau bisa menebus kesengsaraanku?!”
Ia terus berteriak, mengaduh, merintih, memanggil siapa dan apa saja yang pernah ia kenali.
Namun, tiada yang mampu dan mau mendengarnya.
Tubuh kerempeng itu mulai meratapi, betapa harta tak punya arti di saat ini. Demi kekayaan ia korbankan famili sebagai tumbal para iblis. Ia tumpuk segala barang kebutuhan, tak peduli orang lain begitu sangat memerlukan. Ia usir para peminta demi tak berkurangnya harta di genggamannya. Ia lupakan ajaran suci demi kenikmatan sesaat yang ia cari. Ia sangka hartanya akan selalu ia bawa, padahal usia semakin tua. Ia anggap harta segala-galanya, ia lupakan bahwa mati pasti tiba.
Rumahnya yang bak istana membuatnya lupa akan tempat tinggal abadi. Mobilnya yang begitu mewah membuatnya lupa akan kendaraan beroda manusia. Bajunya yang dari luar negeri membuatnya lupa akan baju yang paling utama, takwa.
Kini ia diusung dalam keranda mati.
Kini ia terbujur tak berdaya, tanpa pakaian selain kafan dari mori.
Kini ia meratapi, dalam ruangan yang hanya cukup untuk seorang diri.
Sunyi….
Sepi….
Tiada yang ada kecuali diri sendiri. Namun entah dari mana setitik cahaya yang tak begitu terang mencoba menerobos kegelapan ruang jembatan menuju alam abadi.
“Siapa kau?”
“Ijinkan aku menemanimu.”
“Siapa kau? Malikat kah? Iblis kah?”
“Aku adalah seruan Tuhanmu untuk mendatangi rumah-Nya, lalu kau sambut aku meski dengan setengah hati. Aku adalah sedekah yang pernah kau berikan, meski dengan niat mencari pujian. Aku adalah pengajian mingguan yang pernah sekali kau kunjungi, itupun karena kau terpepet kondisi. Aku adalah amal sosial yang pernah kau lakukan, meski waktu itu hanya karena tuntutan jabatan. Aku adalah segelintir amalan yang sering tak kau hiraukan. Kau tak pernah melayaniku sebagaimana kau layani isteri, anak, kawan, dan hartamu.”
“Mereka kini telah pergi. Mereka hanya sanggup mengantarmu hingga pintu gerbang rumah barumu ini. Dan akan kuantar dirimu, hingga pintu gerbang pengadilan sejati.”
Solo, Agustus 2000

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu