Home » » Maria

Maria



“Gila!”
Suara Ustadz Dakir meninggi, merobek telinga, mengoyak suasana. Semua pengurus pondok yang hadir dalam rapat malam itu terdiam. Mereka maklum, kalau Ustadz Dakir yang lurah pondok itu sudah angkat bicara dan berpendapat, sulit menentangnya. Kecuali penentangan itu datang dari orang yang diseganinya, atau memiliki ilmu lebih tinggi darinya. Apalagi kali ini ia sampaikan dengan suara keras dan muka terbakar. Rapat yang semula berjalan tenang kini agak tegang.
Tapi semua memahami mengapa Ustad Dakir berlaku demikian. Apa yang disampaikan oleh kang Rahmat, sekretaris pondok, di forum memang membuat orang geleng-geleng kepala, bertanya-tanya. Tapi aku tahu bagaimana ceritanya sampai kang Rahmat melontarkan gagasan yang menurut tradisi pesantren kontroversial.
“Apa kita sudah kehabisan orang baik,” sambung Ustadz Dakir masih dengan suara tinggi, “sampai kita mau mengangkat Maria yang penyanyi diskotek itu sebagai ustadzah di pesantren kita?! Apa kata orang nanti, pesantren kita yang didirikan oleh para kyai besar dan terkenal dengan pendidikan budi pekertinya, mengangkat seorang wanita malam sebagai ustadzah!”
“Saya tak percaya kalau itu gagasan dari rama kyai. Pasti ada orang yang main di belakangnya!”
“Benar, Ustadz, itu memang gagasan dari rama kyai,” kang Rahmat meyakinkan. “Kemarin waktu saya sowan meminta tanda tangan beliau menitip ide itu untuk disampaikan dalam rapat penentuan calon ustadz baru malam ini. Kita, pengurus pondok, diminta untuk membahas usulan itu, lalu mengambil suatu keputusan.”
“Jadi itu hanya sekedar usulan rama kyai, bukan kebijakan yang harus kita jalankan, kan?” ustad Dakir seperti mendapat celah.
“Ya.”
“Kalau begitu, aku tidak setuju!”
Begitulah. Pesantren kami memang beda dengan yang lain. Kyai Nawawi, pengasuh kami, memberikan kebebasan kepada para pengurus untuk mengambil kebijakan dalam menjalankan tugasnya. Beliau tidak seperti lazimnya para kyai, yang membuat keputusan kemudian harus dijalankan oleh para pengurusnya, meski sebenarnya keputusan itu tidak realistis dan tidak pula sejalan dengan keinginan pengurus yang tahu betul keadaan pesantren yang sebenarnya. Setiap ada permasalahan beliau selalu mengajak teman-teman pengurus untuk memusyawarahkannya. “Karena mereka orang lapangan, mereka lebih banyak tahu tentang kondisi pesantren yang sebenarnya,” begitu kata beliau suatu ketika.
Karena sikap kyai yang demokratis itu, maka tak jarang usulan-usulan beliau dalam rapat sering kali tidak bisa dijalankan karena ada usulan yang lebih bagus dan realistis dari peserta rapat lainnya. Pernah suatu ketika, dalam rapat evaluasi kurikulum beliau mengusulkan agar mata pelajaran di madrasah diniyah ditambah dengan mata pelajaran yang belum ada. Beliau mengemukakan argumen bahwa para santri perlu mendapat ilmu sebanyak-banyaknya, agar pengetahuan agama mereka cukup luas. Namun usulan itu tidak bisa menjadi keputusan rapat. Seorang pengurus pondok yang baru setahun mengabdi justru memberikan usulan sebaliknya. Mata pelajaran di madrasah diniyah dikurangi atau dibagi sedemikian rupa, mengingat para santri sekarang tidak memiliki kemampuan yang cukup besar dalam memahami ilmu agama. Tidak seperti santri jaman dahulu yang serba bisa dan menguasai setiap bidang ilmu agama. Usulan pengurus ini dinilai oleh sebagian besar anggota rapat lebih relistis dan dapat dijadikan sebagai keputusan rapat.
Itulah rama kyai kami. Beliau memberikan kesempatan kepada para anak didiknya untuk mengembangkan pemikiran mereka, tidak hanya terfokus pada sebuah doktrin yang—dalam tradisi kebanyakan pesantren—tidak bisa tidak harus dilaksanakan. Hanya satu pesan rama kyai kepada kami dalam mengemukakan pendapat dan pemikiran yang terkadang saling berseberangan, “Berikan pendapat kalian dengan argumen yang benar dan jelas, dan sampaikanlah dengan santun.” Ini selalu kami pegang. Namun demikian, untuk beberapa hal yang bersifat sangat prinsip beliau tak mau ada tawar menawar. Dan semua memakluminya.
Maka tak heran bila dalam rapat malam ini ustadz Dakir berani menolak usulan kyai yang disampaikan oleh kang Rahmat.
“Terus terang,” ustadz Dakir melanjutkan, “saya heran. Bagaimana rama kyai bisa mengajukan usulan seperti itu. Apa sebenarnya pertimbangan beliau?”
Semua terdiam, saling berpandangan. Tak mengerti. Sementara kang Rahmat mengangguk-anggukan kepalanya, seperti ada yang sedang dipikirkannya.
“Mungkin kang Dalhar tahu soal itu,” kang Rahmat menyebut namaku tiba-tiba.
“Bagaimana kang Dalhar?” ustadz Dakir menanyaiku, kali ini suaranya tak lagi menggelegar.
Aku mencoba menenangkan diri, menyusun kata-kata, agar sebisa mungkin keteranganku dapat dimengerti oleh semua yang ada.
“Memang benar ustadz. Rama kyai punya gagasan begitu karena cerita tentang Maria yang saya sampaikan dua hari lalu.”
Kulihat semua kepala dikosentrasikan ke arahku.
“Seminggu yang lalu saya pulang kampung. Di sana saya bertemu dengan Maria, santriwati kita yang lulus setahun yang lalu. Dia banyak bercerita tentang keluarganya dan keadaan dirinya selepas belajar di pesantren ini. Tragis memang. Seorang alumni pesantren menjadi penyanyi diskotik yang kerja di malam hari dan pulang menjelang pagi.”
“Tapi itulah satu-satunya jalan yang harus kulalui, Mas,” katanya.
“Salahkah aku, bila untuk membiayai sekolah adik-adikku yang perempuan semua dan mengobati penyakit ibuku yang tak kunjung sembuh aku bekerja sebagai penyanyi di diskotik? Lebih baik mana, dibanding bila aku bekerja serabutan dengan hasil hanya cukup untuk makan, sementara tiga orang adikku tak mengenyam pendidikan dan ibuku dibiarkan begitu saja dengan penyakitnya sampai ajal menjemputnya? Akankah Tuhan mengutukiku? Benarkah adikku tak akan jadi orang berguna dan ibuku tak akan sembuh, karena uang yang dipakai berasal dari tempat yang kotor?”
“Kalau memang Mas Dalhar menghendaki aku keluar dari diskotik itu, jalan keluar apa yang Mas Dalhar berikan untuk mengatasi semua ini, semua kebutuhan hidupku dan keluargaku?”
Aku kira Mas Dalhar cukup paham dengan keadaanku. Kita hidup bertetangga sejak lama. Mas Dalhar tahu persis, kan. Aku berangkat dari keluarga tak mampu. Bapakku cuma seorang petani bayaran, ibuku pedagang sayuran. Hasil kerja keduanya tak cukup untuk menghidupi enam orang secara layak. Semua adikku masuk sekolah pada usia yang terlambat. Aku sendiri belajar di pesantren tanpa dipungut biaya pendidikan, bahkan makan dan segala keperluan hidupku ditanggung keluarga rama kyai. Mas Dalhar tahu itu.
Sebulan selepas dari pesantren bapak meninggal karena kecelakaan. Dua bulan setelahnya ibu terkena stroke dan diistirahatkan oleh dokter, tak boleh bekerja apapun. Sejak saat itu semua biaya hidup aku yang menanggung. Sekian lamanya aku mencari pekerjaan halal untuk menghidupi semuanya. Tapi apalah artinya orang sepertiku. Orang desa yang hanya tamatan Aliyah, di pesantren lagi. Tak ada lowongan kerja yang mensyaratkan lulusan pesantren. Semuanya mengharuskan para pelamar dengan ijazah duniawi, Sarjana Ekonomi, Hukum, Sosial, Tehnik dan gelar-gelar lain yang aku sendiri sulit meski hanya untuk memimpikannya.
Hingga pada akhirnya datang temanku yang selama ini kerja di kota. Ia menawariku untuk menjadi penyanyi di diskotik yang ia kelola dengan gaji yang bila kuhitung cukup untuk menutup semua kebutuhanku dan keluargaku. Ia tawarkan pekerjaan itu karena ia tahu kalau aku punya suara merdu, dan kecantikan wajahku cukup bersyarat untuk memikat pengunjung, katanya. Ia tak memaksaku memang. Tapi aku sendiri yang kemudian menerima tawaran itu. Dalam bingung aku menimbang. Aku berpikir bahwa tempat itu lebih banyak bergelimang dosa. Aku juga berpikir berkahkah penghasilanku? Apa nanti kata orang, seorang alumni pesantren kerja di malam hari, di tonton ratusan pasang mata lelaki yang suatu ketika bisa menerkamku bak serigala lapar? Bahkan aku berpikir jauh. Betapa aku akan mengotori kemuliaan rama kyai yang telah mendidikku. Betapa pekerjaanku akan mencoreng moreng wajah pesantren yang telah mendewasakanku. Betaapa aku tak memiliki rasa terima kasih pada orang-orang dan pensantren yang telah mencerdaskan aku. Tapi bila tak kuterima tawaran itu?! Sama saja aku dengan perlahan mengantarkan ibuku ke liang kubur. Sama saja aku mengantarkan adikku ke masa depan gelap yang bisa jadi lebih parah dari diskotik itu. Karena desakan ekonomi, untuk menghidupi dirinya bisa jadi mereka……. Ah, tidak!
Aku bingung menimbang. Aku putus asa. Aku terima tawaran itu. Aku jalani profesiku. Dan karirku melambung. Diskotik itu semakin maju karena kehadiranku. Suaraku. Kecantikanku. Aku dapatkan hasilnya. Aku kasih adik-adikku sandang dan pangan kebutuhannya. Aku biayai sekolahnya. Aku cerdaskan mereka. Aku pandaikan mereka. Aku motivasi mereka. Aku segarkan hati mereka bila gundah melanda, bila di sekolah teman-teman mengoloknya. Katanya hidup mereka dari uang kotor. Aku obati ibuku. Aku bangga, untuk semua itu aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Tak pernah aku merengek, mengemis belas kasih orang lain.
Meski di sana. Di relung hatiku yang paling dalam. Aku menangis, Aku merintih. Aku menjerit.
“Dosakah aku, bila aku terlahir di tengah keluarga tak mampu tanpa pernah aku diberi pilihan sebelumnya? Dosakah aku, bila aku ditinggalkan ayahku dengan tiba-tiba tanpa pernah aku dimintai pertimbangan sebelumnya? Dosakah aku, bila setelah ibuku terkena stroke aku memikul semua beban keluarga tanpa pernah aku dimintai persetujuan sebelumnya? Dosakah aku, bila kemudian jalan yang kutempuh adalah jalan curam menikung karena selalu saja aku ditolak untuk ikut menempuh jalan lurus yang layak di mata orang banyak? Dosakah aku, bila semua itu harus kulakukan di luar rencana impian, asa, dan cita-citaku? Dan bila memang aku telah kotor, dosakah aku bila aku masih tetap mengharap manisnya madu Ilahi, meski hanya sekecap?”
Sebagian yang hadir dalam rapat malam itu mengangguk-anggukkan kepala. Sebagian lagi menggeleng-gelengkannya. Ustadz Dakir sendiri kulihat menarik napas dalam-dalam.
“Sekembalinya saya dari kampung, saya sowan kepada rama kyai. Saya ceritakan semuanya. Saya lihat rama kyai tidak tega mengetahui anak didiknya menjalani hidup seperti itu. Lalu keluarlah usulan itu. Agar Maria diangkat sebagai ustadzah di pesantren ini. Ia cukup memenuhi syarat pokok sebagai ustadzah. Kita semua tahu, selama tiga tahun nyantri Maria selalu mendapat peringkat satu dengan nilai rata-rata selalu sembilan. Kecerdasan dan kepiawaiannya dalam berdiskusi juga tak diragukan. Kita juga bisa memberinya kepercayaan untuk mengurusi program tilawah, dia ahli membaca Al-Qur’an. Kalau perlu, kata rama kyai, adik-adiknya kita ambil dan kita didik di sekolah kita dengan gratis. Ibunya kita obati sampai sembuh. Kita masih punya cukup dana untuk pos pengabdian masyarakat.”
“Tapi kita tidak bisa hanya dengan mempertimbangkan kebaikan bagi Maria dan keluarganya saja!” Ustadz Dakir masih belum bisa menerima. “Kita juga harus mempertimbangkan nama besar dan martabat pesantren. Ini lebih penting, menyangkut kehormatan orang banyak.”
“Tadinya saya juga sudah berbicara begitu sama rama kyai,” aku melanjutkan, masih dengan hati-hati, “tapi sepertinya beliau punya banyak pertimbangan.”
“Apa pertimbangannya?”
“Di antaranya kata beliau, Maria adalah anak didik kita, santri kita. Bagaimana pun kita masih punya kewajiban untuk mendidik dan mengayominya meskipun ia telah lulus. Itulah bedanya pesantren dengan lembaga pendidikan lain. Bila ia tetap di diskotik itu maka suara miring tentang dirinya akan tetap ada. Pesantren kita juga akan kena getahnya lebih lama. Kalau kita menganggap diskotik sebagai tempat kotor dan uang hasil kerja Maria juga kotor, maka tentunya tak akan membawa keberkahan baginya dan keluarganya. Pendidikan adik-adiknya tak akan membuahkan hasil yang manfaat dan barokah, ibunya tak akan kunjung sehat. Dan yang pasti Maria tetap sebagai perempuan jelek di mata masyarakat. Tapi bila kita entaskan dia dari tempat itu, kita menyelematkannya, ibunya dan adik-adiknya dari kehidupan yang jauh dari barokah. Biarlah untuk sementara keluarga besar pesantren kita dicemooh banyak orang. Akan kita jelaskan duduk perkaranya. Bukankah agama kita mengajarkan, bahwa setiap manusia terlahir dalam kesucian? Termasuk Maria, santri kita yang cerdas itu? Perkara sekarang ia berada di dunia yang banyak bersimbah kotoran, bukankah bapak moyang kita juga pernah melanggar larangan-Nya sewaktu hidup di surga? Terlalu sempurna bila makhluk yang bernama manusia tak pernah memiliki catatan hitam dalam hidupnya, meski hanya satu kata. Apalagi kita tahu, Maria melakukan semua itu karena terpaksa. Dan keterpaksaannya tak pernah ia kehendaki sebelumnya. Saya yakin, Tuhan saja tersenyum kepadanya. Bukankah rahmat-Nya lebih luas dari dosa-dosa kita?”
Aku akhiri cerita pendapat rama kyai sampai di sini. Meski masih banyak pendapat dan argumen beliau yang diutarakan kepadaku. “Begitu pendapat rama kyai kemarin, sewaktu aku menghadap beliau,” kataku kemudian.
“Baiklah, saya sebagai lurah pondok dan pimpinan rapat memutuskan agar masalah Maria ini kita pending. Besok pagi saya akan sowan sendiri ke rama kyai,” ustad Dakir masih belum menerima.


                                                                                             Solo, 13 Maulid 1424 H

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu