Home » » Mbah Kyai, Rama Kyai

Mbah Kyai, Rama Kyai


Arman baru saja meletakkan punggung melepas lelah, setelah semenjak pagi hingga menjelang luhur bekerja membenahi pekarangan rumah rama kiai. Ketika tiba-tiba seorang lelaki paro baya tergopoh-gopoh memasuki pelataran pesantren yang terlihat jelas dari balik kaca riben kamarnya. Wajahnya kelihatan pucat, penuh peluh. Jelas sekali lelaki itu keletihan menempuh perjalanan jauh. Dari kakinya yang penuh lumpur Arman bisa menebak, ia pasti jalan kaki.
Seorang santri terlihat menyapa dan sedikit bercakap dengannya. Lalu ia menunjuk ke arah kamar Arman, kamar pengurus pondok dan para abdi dalem keluarga kiai. Segera saja lelaki itu menuju ke arah yang ditunjukkan sang santri.
Nuwun, Mas, nuwun…” suaranya terdengar parau bergetar.
Arman yang saat itu hanya sendirian di dalam kamar bergegas menghampirinya. “Wonten napa, Pak,” sambutnya ramah.
“Tolong aku, mas santri, tolong aku…”
“Ada apa dengan Bapak? Apa yang bisa saya lakukan untuk Bapak?” Arman kebingungan.
Lelaki itu tak segera menjawab pertanyaan Arman. Dia malah menangis sejadi-jadinya, lalu tersungkur di hadapan Arman seakan ingin bersujud. Dari sela-sela isak tangisnya yang mengiris Arman masih bisa mendengar permintaan tolongnya.
“Tolong aku, mas santri, tolong aku…beri aku ampunan…”
Arman semakin tak mengerti. Sejenak ia meninggalkannya masuk ke kamar lalu keluar lagi dengan membawa segelas air putih. Kepadanya ia sodorkan air itu. Dengan gemetar tangan lelaki itu meraih gelas yang  ia berikan dan meminumnya. Ada sedikit ketenangan dalam wajahnya. Dibimbingnya tubuh lelaki itu memasuki kamar. Sementara ia baru bisa menduga-duga, “Pastilah ia dirundung masalah besar,” batinnya. Didudukannya lelaki paro baya itu di lantai kamarnya yang dingin. Dibiarkannya ia menenangkan diri, hingga memungkinkan dikorek masalahnya.
“Ada apa dengan Bapak?” tanya Arman, hati-hati.
“Tolong aku, mas…tolong aku.”
“Apa yang bisa saya lakukan untuk menolong Bapak?”
Ia tak menjawab, malah menangis. Berkali-kali Arman bertanya perihalnya, namun selalu saja kalimat itu yang jadi jawabnya. Arman bingung, tak tahu bagaimana mesti berbuat. Teman-temannya yang datang kemudian juga tak mampu mengatasi. Akhirnya mereka sepakat untuk menghadapkan lelaki paro baya itu kepada rama kiai atau mbah kiai selepas shalat dhuhur nanti.
Di pesantren ini memang ada dua kiai yang mereka panggil dengan sebutan berbeda; rama kiai dan mbah kiai. Rama Kiai adalah KH. Muhammad Nashir, pengasuh pesantren. Beliau masih muda, 38 tahun kira-kira usianya. Beliau menggantikan ayahandanya mengasuh pesantren Babul Jannah ini sejak dua tahun lalu. Sedangkan Mbah Kiai adalah ayahanda rama kiai. Beliau bernama KH. Abdurrahman. Terkenal dengan kesabarannya, kasih sayangnya pada santri, dan pergaulannya dengan setiap orang tidak memilah-milah. Mengingat usianya yang sudah sangat tua beliau melimpahkan tugas pengasuhan pesantren ini kepada putra tertuanya, KH. Muhammad Nashir.
Meski rumahnya masih dalam satu komplek pesantren, setelah mbah kiai menyerahkan sepenuhnya tugas pengasuhan pesantren hampir semua kebijakan yang berkaitan dengan hal ihwal pesantren ditangani oleh Rama Kiai Nashir. Mbah kiai sendiri sekarang lebih banyak ‘uzlah di sebuah ruangan khusus peribadatannya di dalam rumah. Kecuali ada permasalahan yang sangat darurat, Mbah Kiai Rahman tak pernah lagi ikut campur menentukan kebijakan.
Usai jamaah shalat dhuhur, Arman me-nyowan­-kan lelaki itu pada rama kiai. Ia terlihat tenang, meski isak tangisnya masih terdengar pelan. “Assalamu’alaikum,” salam rama kiai menyapa.
“Wa’alaikum salam,” lirih ia menjawab.
Pinarak, Pak.”
Nuwun, Kiai.”
“Sepertinya Bapak datang dari jauh. Ada masalah apa Bapak datang kemari?”
Lelaki separo baya itu tak menjawab. Kepalanya tertunduk. Isaknya mulai terdengar lagi. Semakin lama semakin jelas terdengar. Rama kiai cukup bijak, beliau tak melanjutkan pertanyaannya.
“Siapkan makan siang, Man. Sekalian temani bapak ini makan dulu.”
Segera Arman masuk ke ndalem mengambil makan siang dari dapur untuk lelaki itu. Lalu  ia persiapkan semuanya di ruang tamu. Dipersilakannya tamu itu menyantapnya. Meski mulanya ia hendak menolak, akhirnya ia makan juga hidangan yang disajikan. Ia kelihatan canggung, tak berselera. Sekedar basa-basi Arman menemaninya makan siang.
Usai makan abdi dalem itu mengemasi dan mengembalikan semuanya ke dapur, kecuali dua gelas penuh air putih bagi rama kiai dan lelaki itu. Terlihat wajahnya penuh ketenangan, tak lagi tegang seperti sebelumnya. Tak lama Rama Kiai Nashir masuk ke ruang tamu.
“Bapak dari mana?” tanyanya bijak.
“Saya dari desa Sambireja, Kiai.”
“Oh, jauh benar. Bapak jalan kaki dari sana?”
“Betul, Kiai,” jawabnya pelan. Kepalanya masih saja menunduk takzim.
Cukup lama rama kiai berbasa-basi dengan berbagai pertanyaan ringan. Hingga ketika beliau merasa mantap dengan kekuatan hati lelaki itu, beliau mulai masuk pada permasalahan. “Kalau boleh saya tahu, ada masalah apa hingga Bapak jauh-jauh datang kemari?”
“Tolong saya, Pak Kiai. Tolong saya,” ia menunduk lagi.
“Bagaimana saya bisa menolong Bapak?”
“Saya punya masalah besar. Saya berdosa besar, Kiai.”
Hhh…. Rama Kiai Nashir menghela nafas kuat-kuat. “Pak,” lanjutnya berbicara, “semua orang punya dosa. Tak ada orang yang tak berdosa. Saya saja, yang oleh orang disebut sebagai kiai, saya akui memiliki dosa. Bahkan bisa jadi dosa saya lebih banyak dari dosa Bapak.”
“Tapi, Kiai, saya merasa dosa saya begitu besar dan tak akan bisa diampuni oleh Allah.”
“Ah, masak iya?”
“Benar, Kiai. Dosa saya sangat besar.”
“Kalau boleh tahu, apa dosa Bapak yang besar itu?”
Lelaki itu menunduk, cukup lama. “Saya malu, Kiai.”
“Mengapa harus malu?”
“Karena dosa itu sangat besar dan menjijikkan.”
“Oh, begitu ya,”  rama kiai menimpali sambil menyandarkan punggungnya ke tembok. “Pak, menurut Bapak lebih besar mana dosa Bapak dengan gunung-gunung?”
“Besar dosa saya, Kiai.”
“Lebih banyak mana dibanding buih di laut?”
“Banyak dosa saya, Kiai.”
“Lebih tinggi mana dibanding langit?”
“Tinggi dosa saya, Kiai.”
“Dengan alam semesta lebih besar mana?”
Sejenak lelaki itu terdiam. Lalu, “Besar dosa saya.”
“Sedemikian besar Bapak merasa berdosa. Tapi Allah tetap Maha Pengampun, Maha Pemberi taubat, Maha…”
“Kecuali dosa saya, Kiai,” dengan cepat lelaki itu menyela, “kecuali dosa saya, tak akan pernah terampuni.” Kembali ia terisak.
“Kalau begitu, apa mau Bapak datang kemari?”
“Saya ingin Pak Kiai yang mendoakan saya, agar dosa saya bisa terampuni.”
“Lho, katanya dosa njenengan tak terampuni.”
“Iya, itu kalau yang meminta ampun saya sendiri. Tapi kalau Pak Kiai yang memintakan ampun kepada Allah saya berharap Allah masih mau mengampuninya. Pak Kiai kan lebih dekat dengan Allah,” polos ia berkata. Arman yang duduk di samping lelaki itu hampir saja menebar senyuman geli mendengarnya.
“Baiklah, saya mau memintakan taubat dan ampunan bagi Bapak. Tapi tolong ceritakan, apa yang telah Bapak lakukan sehingga merasa berdosa besar?”
“Saya malu, Kiai.”
“Mengapa Bapak malu dengan sesama manusia, tapi tidak malu melakukan dosa pada Allah?”
Lelaki itu terdiam, menarik nafas dalam-dalam seakan mengumpulkan kekuatan untuk menghilangkan rasa malunya. Katanya kemudian, “Kiai, tiga puluh tahun yang lalu, ketika usia saya masih 18 tahun, saya menikah dengan seorang gadis satu desa. Ia bernama Naila. Ia sangat rajin beribadah. Setahu saya ia lulusan pesantren ini.”
“Sebetulnya Naila tidak mencintai saya karena saya memiliki perangai yang buruk. Saya tidak mau shalat, suka mabuk, berjudi, dan malas bekerja. Tapi saya sangat menyukai kecantikannya dan meminta orang tua saya untuk melamarkannya dengan jaminan hutang-hutang ayahnya pada ayah saya dianggap lunas. Karena ayahnya benar-benar tak mampu melunasi hutangnya maka ia terima lamaran itu. Jadilah Naila sebagai isteri saya.”
Selama menjadi isteri saya Naila tak pernah bisa menerima dan mencintai saya. Tapi saya sadari karena memang saya tidak pernah mau merubah perilaku saya. Tak jarang saya menyiksanya dengan pukulan bila ia tak memenuhi kemauan saya, kapanpun dan di manapun. Hingga akhirnya lahir anak perempuan kami yang pertama. Setahun kemudian lahir anak perempuan kami yang kedua. Dan setahun lagi lahir anak kami yang ketiga, juga perempuan. Semuanya diasuh oleh isteri saya dengan baik dan tumbuh menjadi gadis cantik yang disenangi banyak lelaki. Saya sendiri terpesona dengan mereka yang menginjak dewasa. Hingga saya terjebak lebih jauh dalam perangkap setan. Saya berpikir, dari pada anak-anak saya diambil orang lain alangkah baiknya bila saya sendiri yang mencicipi kemolekan dan kecantikan tubuhnya. Dengan paksaan dan ancaman saya setubuhi satu persatu anak-anak gadis saya itu. Ini saya lakukan setiap kali Naila tidak ada di rumah. Saya beruntung, sekian kali saya cumbui anak-anak saya tak ada satu pun yang hamil, kecuali anak saya yang kedua yang setengah tahun kemudian hamil dan diketahui Naila, isteri saya. Tapi anak saya yang hamil dan kedua saudaranya telah saya ancam. Saya suruh mereka mengatakan bahwa ia hamil diperkosa oleh teman desa sebelah yang kini melarikan diri ke kota tak mau bertanggungjawab. Naila percaya, meski ia sempat shock berat sekian lama menerima kenyataan yang menimpa anak-anaknya.
Anak sekaligus cucu dari anak kandung saya lahir. Tumbuh menjadi besar dan meski baru menginjak usia sepuluh tahun tubuhnya berkembang subur dengan kecantikannya yang tak terkalahkan oleh gadis manapun. Saya tergoda. Saya gauli pula anak gadis yang masih kecil hasil pergumulan saya dengan anak saya sendiri itu, sementara saya masih juga menggauli ketiga anak gadis saya. Hingga akhirnya Naila tahu, bahwa semua itu terjadi karena kebejadan moral saaya. Ia tak kuat menanggung beban, ia tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia meninggal dunia.
Kematian Naila tak membuat saya tersadar. Kegilaan saya semakin menjadi. Pergumulan saya dengan anak-anak dan cucu saya semakin sering terjadi. Bahkan, ketika anak saya yang ketiga, yang paling cantik, meninggal dunia karena keguguran, saya sempat menyetubuhi mayatnya berkali-kali beberapa jam sebelum dikuburkan.
Hingga pada suatu malam, sehari setelah mayatnya dikuburkan. Ketika saya tertidur setelah pulang dari berjudi dalam keadaan mabuk, dalam tidur saya bermimpi ditemui oleh Naila dan anak saya yang telah mati. Keduanya mengenakan gaun putih bersih ditemani oleh banyak orang yang tak saya kenal. Mereka semua meneriaki saya, mengutuki saya. “Wahai, iblis!” gertak mereka. “Terkutuk kau! Tak henti-hentinya kau melampaui batas Tuhanmu. Tak henti-hentinya kau menantang api neraka. Sungguh! Serigala paling buas pun tak cukup untuk menjulukimu!”
Saya terjaga dari tidur. Tapi setan masih mencengkeram. Saya anggap semua hanya mimpi belaka, tak bermakna. Semua tetap berjalan seperti apa adanya. Namun mimpi itu, mimpi yang sama,  datang lagi. Mimpi itu datang lagi, setiap kali datang hari kematian isteri dan anak saya. Hingga tadi malam, mereka mengunjungi saya lagi, dalam mimpi. Mereka meneriaki saya, mengutuki saya. “Wahai, iblis!” gertak mereka. “Terkutuk kau! Tak henti-hentinya kau melampaui batas Tuhanmu. Tak henti-hentinya kau menantang api neraka. Sungguh! Serigala paling buas pun tak cukup untuk menjulukimu!”
“Terkutuk, kau!”
“Terkutuk, kau!”
“Celaka…laknat…terkutuk…!!!”
Saya terbangun. Saya edarkan pandangan ke sekeliling. Saya tergetar. Saya dengarkan semua yang ada di dalam rumah mengutuki diri saya, seperti mereka mengutuki saya dalam mimpi. Tempat tidur, bantal, sprei, almari, dinding kamar, bahkan baju yang saya pakai, semuanya berseru, serempak mengutuki. Saya berlari meninggalkan rumah, mencari tempat yang aman. Namun kutukan itu tetap saja melekat kuat di telinga. Setiap yang saya lalui berubah menyeramkan. Pepohonan, daun-daun, ranting-ranting, sawah-sawah, rumah penduduk, semua berteriak mengutuki, mengumbarkan sumpah serapah kepada saya.
Saya terus berlari. Saya putuskan untuk mendatangi pesantren ini, untuk memohon ampunan lewat tangan kiai. Karena saya merasa tak ada lagi jalan menuju pintu taubat secara langsung.
“Saya mohon, Kiai. Angkatlah tangan Kiai ke langit. Pintakan taubat untuk saya,” lelaki itu menangis, keras memecah ketenangan yang meliputi pesantren.
Rama kiai terdiam, menahan nafasnya. Ekor mata Arman menangkap dada rama kiai berguncang hebat. Roman muka yang tadinya teduh berubah drastis. Tak pernah Arman melihat wajah rama kiainya seperti saat ini.
“Demi Allah!” katanya kemudian, keras suaranya. “Aku tak mau mengangkat kedua tanganku kepada Allah untuk memohon ampunan-Nya bagimu!”
Tangisan lelaki itu semakin membahana, seketika mendengar jawaban keras rama kiai.
“Bagaimana aku bisa mengangkat tanganku, padahal Allah sendiri telah memerintahkan semua isi bumi untuk melaknatimu?!”
Rama kiai bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Arman dan lelaki paro baya itu, tanpa sepatah kata.
Arman tertegun. Belum lagi ia bisa berbuat apa-apa, lelaki itu bangkit dan berlari meninggalkan pesantren. Tangisnya tetap terdengar keras di telinga Arman. Mengiris hatinya. Para santri yang kebetulan melihat kejadian itu hanya terdiam tak mengerti. Arman sendiri masih terbengong. Ingin dikejarnya lelaki itu, namun berat kakinya dilangkahkan.
***
Entah dari mana dan oleh siapa, berita tentang peristiwa itu tersebar ke seluruh penjuru pesantren dalam sehari saja. Semua santri tahu. Mbah kiai yang sehari-hari berada di tempat‘uzlah-nya juga tahu. Arman tak mengerti mengapa angin begitu cepat menebarkan benihghibah ini.
Semalam ia dipanggil mbah kiai di ruang ‘uzlah-nya. Sudah menjadi kebiasan, ia lah abdi dalem yang selalu dipanggil bila salah satu anggota keluarga ndalem menghendaki dilakukannya suatu pekerjaan.
“Sampaikan suratku ini pada anakku, rama kiai-mu, si Nashir, besok pagi selepas subuh,” mbah kiai ndawuh. Dan itu saja yang disampaikan kepada Arman.
Diterimanya surat beramplop bersih tanpa tulisan apapun. Ada perasaan tak enak dalam hatinya. Entah mengapa. Mengapa mbah kiai tidak memanggil rama kiai saja bila ada perlu, toh dia putranya sendiri? Mengapa harus melalui surat? Adakah isi surat ini berhubungan dengan kejadian sehari yang lalu? Angan Arman bertanya-tanya, mencoba meraba.
Selepas subuh, setelah rama kiai selesai dari aurad-nya Arman sampaikan surat itu di ruang keluarga. Dilihatnya rama kiai heran menerimanya.
“Ada apa dengan bapak?” tanya rama kiai tak mengerti.
Kirangan, Kiai,” jawab Arman pelan lalu mohon undur diri. Tapi rama kiai mencegah. Arman duduk di depannya, penuh takzim.
Perlahan rama kiai membuka surat itu. Ada kesan hati-hati. Dikeluarkan isi amplop itu dan dibuka. Dibacanya surat itu. Gerakan kepalanya seperti mengikuti alur goresan pena yang menorehkan kalimat demi kalimat.
Tak lama kemudian…
Rama kiai tertunduk, isak tangisnya tak dapat ditahan, air matanya tak terbendungkan.
Arman bingung, tak tahu apa yang harus diperbuat.
“Man, kau santri dan abdi dalem yang paling dekat dan dipercaya oleh keluarga. Mungkin ada baiknya bila kau baca surat ini,” rama kiai menyodorkan surat itu kepada Arman. Isak tangisnya belum juga reda.
Arman ragu. Arman tetap diam.
“Baca saja, Man. Semoga menjadi pelajaran baik bagimu kelak, bila kamu mengasuh pesantren.”
Dengan ragu Arman terima surat itu, hatinya berdebar. Ia mantap-mantapkan dirinya. Akankah aku membacanya? Tambah kencang getaran di dadanya, ketika ia mulai membaca isi surat itu:
Muhammad Nashir, putraku.
Kabar tentang tamu itu telah sampai kepadaku. Aku bangga punya anak sepertimu. Tegas, berpendirian. Namun, sudahkah engkau tanyakan sebelumnya. Pada Sang Pengampun dosa. Bahwa Ia memang tak akan pernah mengampuninya? Yang kutahu, anakku, akan berlari Tuhan menyambut hamba, yang berjalan pelan menggapai senyum-Nya.
Rama-mu
Tak kuasa Arman menahan rasa. Jiwanya tergetar, matanya nanar.
***
Arman terperanjat. Ketika ia buka lembaran koran hari ini. Dilihatnya gambar mayat mulai membusuk di pinggiran kali. Ia amati wajahnya. Nafasnya tersengal sesak. Ia tahu betul mayat itu adalah lelaki paro baya yang tiga hari lalu datang ke pesantren Babul Jannah mengharap pertaubatan.
Simpang siur berita tersebar seputar penyebab kematiannya. Bunuh diri, katanya. Dibunuh orang, kabarnya. Tergelincir di kali itu, wa qîla. Entah.
Jam tiga dini hari. Arman biasa melakukan pekerjaannya bagi keluarga ndalem, mengisi bak mandi untuk keperluan pagi nanti. Saat ia melewati mushalla keluarga dilihatnya rama kiai sedang bersujud, lama sekali. Disela lipatan tubuhnya yang bersujud terdengar jelas isak tangisnya. Sayup-sayup terdengar pula beliau bermunajat, “Ya Rabb, dosakah ia karena mengakhiri hidupnya, atau dosakah hamba karena menjadi penyebab semuanya.”
***
Pantes.., ayu tenancah.”
“Badalah…, kuwi widodari opo peri..”
Suara-suara nakal berluncuran dari mulut para santri. Mata-mata mereka berebut menyelusup celah-celah dinding bilik yang separo tembok separo kayu. Arman sendiri tak kuasa untuk tidak ikut bersama mereka.
Sementara di luar sana tiga perempuan muda dengan paras purnama satu persatu turun dari mobil tua rama kiai. Kemarin siang mbah kiai memerintahkan rama kiai untuk menghidupi dan mengayomi ketiga anak perempuan lelaki paro baya itu.
Solo, 14 Maulid 1424 H

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu