Home » » Pailit

Pailit

Hari itu semuanya hadir di tengah-tengah tanah lapang alun-alun kerajaan. Meski setiap mereka datang dengan  keluarga, kerabat, dan kawan-kawannya, toh di antara mereka tampak saling acuh satu sama lain. Seseorang tak kenal lagi akan sahabatnya, suami tak mau urusan lagi dengan isterinya, orang tua masa bodoh dengan anak-anaknya, dan seterusnya. Semua nampak tertunduk. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hari itu matahari begitu panas membakar mereka. Seakan keakraban yang selama ini selalu dipancarkan berubah menjadi kebencian yang teramat sangat. Jaraknya yang teramat dekat membuat siapa saja rela tenggelam dalam keringat yang mengucur dari tubuhnya. Sementara di sekitar mereka berdiri para pengawal kerajaan yang setiap saat siap bertindak sesuai dengan perintah Sang Raja. Wajah bengis mereka begitu tampak mengerikan, ditambah lagi dengan cemeti berbagai macam rupa dan ukuran yang siap dicambukkan. Keadaan hari itu membuat semua yang hadir tak mampu berbuat apa-apa, kecuali pasrah.
“Kamu, maju!”
Teriakan pengawal yang memekakkan telinga itu begitu mengerikan. Dengan tubuh gemetar, yang dipanggil maju menghadap Sang Raja. Entah urusan apa yang hendak diselesaikan, yang jelas setelah itu di antara mereka ada yang menuju ke arah kanan dan ada yang ke arah kiri, lalu raib entah ke mana.
Semua tertunduk pasrah, menunggu giliran untuk dipanggil menghadap Sang Raja. Mereka tak tahu apa keputusan Sang Raja bagi dirinya. Akankah ia diputuskan berjalan ke arah kanan, ataukah ke arah kiri. Entahlah, semua tertunduk pasrah.
Namun, di tengah kepasrahan, kegelisahan, kegalauan, dan ketidakpastian itu, nampak seseorang dengan wajah berseri-seri menghadap Sang Raja. Dengan keceriaannya ia melenggang menghadap Sang Penguasa, seakan tanpa beban dosa dalam hatinya. Seolah ia kenal baik dengan Sang Raja. Seolah ia lah orang yang paling dekat dengan Sang Raja. Seolah ia tahu akan keputusan Sang Raja bagi dirinya.
“Wahai rakyatku,” teriak Sang Raja dari singgasananya dengan gagah dan penuh wibawa, “aku perlihatkan kepada kalian seorang hambaku yang paling taat menjalankan perintahku, yang paling taat menjauhi laranganku, dan tentunya yang paling aku cintai.”
Betapa bangganya Sang Raja dengan orang tersebut. “Demi kehormatan dan kemuliaanku, tiada yang pantas aku berikan kepadanya kecuali hadiah termulia yang selama ini aku punya dan belum pernah kuberikan kepada siapapun.”
Semua yang hadir hanya terdiam. Sebagian dari mereka tahu persis siapa hamba yang disebut oleh Sang Raja itu. Mereka kenal betul bagaimana kehidupan dan tingkah lakunya. Namun, mereka hanya bisa membatin, mengapa Sang Raja begitu semangat membanggakannya. Entah! Raut wajah mereka begitu tampak memendam kebencian yang tak terkirakan. Dari wajah-wajah itu menggambarkan betapa dalam hati mereka tersimpan dendam yang tak termaafkan. Andai saja Sang Raja memberikan kesempatan untuk berbicara, barangkali mereka akan angkat suara.
Kemudian….
“Sebelum aku berikan hadiah termulia itu pada hambaku ini, adakah di antara kalian yang ingin menyampaikan sesuatu?”
“Hamba, Paduka,” kata seorang yang ada di bagian paling depan. Suaranya lirih, namun siapapun dapat menangkapnya dengan jelas. Di hari itu segalanya memang terbuka begitu saja untuk diketahui oleh siapapun.
“Apa?”
“Hamba mohon keadilan dari Paduka.”
“Keadilan apa?”
“Tiada yang mampu berbuat adil di alam ini kecuali Paduka. Bila karena ketaatannya Paduka akan memberikan hadiah terbesar kepadanya, itu adalah hak Paduka. Namun, bukankah Paduka sendiri mengajarkan kepada kami, bahwa siapapun berhak menuntut hak-haknya?”
“Benar!”
“Bila demikian, sebelum ia pergi dengan membawa hadiah itu, ijinkan hamba menuntut hak hamba dari dirinya.”
“Apa hakmu?”
“Beberapa tahun yang lalu ia telah mengambil harta hamba tanpa hak. Hamba minta untuk diganti.”
“Adakah penuntut yang lain?”
“Ada, Paduka,” sahut seseorang dari kejauhan. “Ia telah menganiaya hamba tanpa hak dan hamba tak akan pernah memaafkannya.”
“Paduka, ia pernah memaki hamba tanpa sebab,” sahut lainnya dengan keras.
“Paduka, ia pernah menculik dan membunuh anggota keluarga hamba,” sambung yang lainnya berteriak.
“Paduka, ia pernah memfitnah hamba. Ia beberkan aib hamba di depan khalayak.”
“Paduka, ia gunakan kekayaan dan jabatannya sebagai kesempatan untuk menimbun dan menguasai segala barang kebutuhan, sehingga harga barang naik dan masyarakat tak mampu membelinya.”
Satu persatu dari mereka angkat suara, menuntut haknya.
Kemudian suasana kembali sepi, semua tertunduk, pasrah terhadap keputusan Sang Raja. Hening….
“Hambaku, benarkah kata mereka?” tanya Sang Raja datar.
“Benar, Paduka.”
“Bayar semua hak mereka!” bentak Sang Raja tiba-tiba dengan penuh murka.
“Tapi Paduka, dengan apa hamba harus membayarnya?”
“Bayar dengan hadiah-hadiah yang dahulu aku berikan atas segala ketaatanmu kepadaku!”
Dengan wajah penuh duka hamba itu membagi-bagikan segala hadiah yang pernah ia terima dari Sang Raja atas segala ketaatannya. Wajahnya yang berseri-seri menjadi pucat pasi. Hatinya yang begitu bahagia kini penuh dengan kegalauan dan kerisauan. Harapan untuk mendapatkan hadiah termulia mulai sirna dari benaknya. Sia-sia selama ini ia sendhika dhawuh pada Sang Raja, di hari yang ia harapkan mendapat balasan setimpal atas segala ketaatannya justru  orang lain yang memetik buahnya. Ia putus asa.
“Semua telah hamba bayar, Paduka.”
“Adakah di antara kalian yang belum terbayar haknya?”
“Hamba, Paduka,” dari pojok tanah lapang terdengar jawaban lirih memelas namun terdengar begitu jelas.
“Siapa kau? Apa hakmu?”
“Hamba adalah pembantunya. Hamba menuntut perlakuannya yang semena-mena terhadap hamba. Sering hamba tak diberi makan olehnya, tak jarang pula hamba dipukuli tanpa alasan yang nyata.”
“Bayar haknya!”
“Dengan apa hamba harus membayarnya, Paduka?! Hadiah-hadiah itu sudah habis semuanya,” ujarnya memelas.
“Kalau begitu, pikul dosa-dosa pembantumu!”
Ia tergetar. Wajahnya begitu pucat. Akalnya serasa hilang entah ke mana. Ia roboh, tersungkur di hadapan Sang Raja. Ia ratapi betapa sia-sia hidupnya selama ini. Ia kelilingi rumah suci Sang Raja tujuh kali putaran dengan  menendang dan menjatuhkan semua orang di sekitarnya. Ia bangunkan rumah peribadatan megah bagi Sang Raja dengan memeras pajak dan menggusur tanah rakyat tanpa hak. Ia sandang pakaian mewah demi mengkhusyukkan ruku dan sujud, tak peduli orang-orang di sekitar telanjang. Ia basuh anggota badan dengan lebih dari tiga kali basuhan, tak peduli orang lain sedang kehausan. Ia timbun segala barang dengan alasan untuk persembahan bagi Sang Raja, tak peduli orang banyak sangat membutuhkan. Pendek kata, demi ketaatannya pada Sang Raja, ia acuhkan kepentingan dan kewajiban sesama hamba.
Kini ia tersungkur tak berdaya. Ia hanya bisa berpikir, begitu besarnya kasih sayang Sang Raja pada rakyatnya. Meski hak pribadinya telah terpenuhi, namun tetap saja tak rela bila hak-hak rakyatnya diusili.
Kini ia tersungkur tak berdaya. Ia lakukan ketaatan, orang lain yang merasakan buahnya. Orang lain lakukan kemaksiatan, ia yang menanggung panas siksanya. Pailit….
Solo, September 2000

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu