Home » » Posisi

Posisi


Satu ketika, beberapa tahun yang lampau, aku melakukan ibadah umroh di tanah suci. Selain melakukan manasik yang menjadi kewajiban ibadah itu aku juga menyempatkan diri mengikuti pengajian yang digelar di Masjidil Haram. Salah satu pengajian yang aku ikuti disampaikan oleh seorang ulama yang cukup dikenal di Arab Saudi dan belakangan ini fatwanya menjadi "idola" bagi sebagian umat Islam di Indonesia.

Dalam pengajian itu beliau menyampaikan materi di antaranya; bahwa di hari kiamat kelak seseorang tak akan bisa memberikan pertolongan kepada orang lain, berdasarkan ayat Al Qur'an dalam Surat Al-Baqarah wattaquu yauman laa tajzii nafsun 'an nafsin syaiaa (takutlah kalian kepada hari (kiamat) dimana seseorang tak akan bisa memberikan pertolongan pada yang lainnya."

Mendengar penjelasannya itu aku ingin sekali menyampaikan satu pertanyaan. Namun demi menjaga kehormatan sang ulama maka pertanyaan itu aku tulis pada secarik kertas; pada ayat yang Anda baca apa makna kata NAFS yang pertama dan apa makna kata NAFS yang kedua? Saat menerima kertas itu beliau bertanya, "Siapa yang menyampaikan pertanyaan dalam kertas ini?" Tak ada yang menjawab. Aku juga diam.

Setelah pengajian itu usai aku menemuinya. Kepadanya aku sampaikan bahwa akulah yang menulis pertanyaan itu. Maka terjadilah perdebatan antara aku dan ulama itu seputra makna ayat di atas. Beliau bersikukuh pada pendapat bahwa tak ada yang bisa memberi pertolongan pada hari kiamat; berpegang pak teks ayat tersebut. Namun kepadanya aku sampaikan beberapa dalil pendukung dan kaidah bahasa yang akhirnya mencapai satu kesimpulan; kedua kata NAFS pada ayat tersebut memiliki makna yang berbeda karena keduanya menggunakan isim nakiroh. NAFS pertama bermakna NAFS MUKMINAH dan NAFS kedua bermakna NAFS KAFIROH. Artinya, di hari kiamat kelak seorang yang mukmin tak bisa memberikan pertolongan pada orang yang kafir.

Mendengar penjelasanku itu sang ulama terdiam, lalu mengalungkang sorbannya ke kepalaku (sebagai tanda pengakuan dan penghormatan). Beliau mendekat kepadaku, lalu berbisik, "Saudaraku, sesungguhnya aku juga mengakui kebenaran apa yang engkau katakan itu. Namun hal itu jelas bertentangan dengan paham yang dianut di negara ini. Saudaraku, kini engkau telah mengetahuinya, kini aku meminta janganlah engkau terlalu keras menyampaikan apa yang aku katakan ini. Sebab ini akan mengancam posisiku di Masjidil Haram."

(KH. Subhan Makmun) 

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu