Home » » Recehan

Recehan


Melihat kakaknya bersama sang bunda sedang menghitung dan memasukkan ke amplop uang lembaran sepuluhan ribu si kecil Kafa bertanya, “Itu uangnya siapa? Mau buat apa?”
“Ini uangnya Mbak Farah. Mbak kan setiap hari puasa, jadi dikasih hadiah bapak sama bunda setiap hari sepuluh ribu. Sekarang uang Mbak sudah banyak, sebagian mau disumbangkan Mbak buat anak-anak yatim,” sang bunda menjelaskan.
Tanpa menanggapi sepatah katapun si kecil Kafa yang baru tiga setengah tahun langsung berlari menuju kamarnya. Tak lama kemudian kembali bergabung dengan membawa celengan kecilnya.
“Bunda, ini celengannya dede dibuka saja. Nanti uangnya juga dimasukkan amplop buat anak-anak yatim,” katanya.
Demi membahagiakan dan mewujudkan keinginannya sang bunda mengambil celengan itu dan membukanya. Isinya uang recehan semua. Ya, si Kafa paling suka diberi dan menabung uang recehan. Setelah dihitung dan dibagi jumlah anak yatim yang bakal menerima ternyata tiap amplop hanya bisa diisi seribu empat ratus rupiah saja, receh semua.
Maka malam yang ditunggu datang. Tiga hari sebelum lebaran anak-anak yatim di kampung itu diundang. Kakak beradik yang masih kecil-kecil itu bergantian membagikan amplopnya. Lalu foto bersama. Ada rasa bangga di wajah kedua anak itu.
Esok harinya, saat si Kafa bermain di rumah Bude Karpi—orang yang suka menggendongnya sejak masih bayi—perempuan itu paroh baya itu berkata, “Dede, katanya semalam bagi-bagi uang ya? Kok aku ngga dikasih?”
“Iya, Bude. Sebentar ya..” jawab Kafa, lalu segera pulang.
Tak lama kemudian...
“Ini Bude amplopnya,” si Kafa menjulurkan tangannya, memberikan amplop tertutup berlem isi uang recehan.
Bude Karpi tertegun. Ia terima dan pandangi amplop itu. Tak lama ia bergumam, “Ya Allah, masih kecil saja sudah mau ngasih orang lain. Kemarin aku minta uang ke anakku sendiri buat lebaran ditolak..” Matanya sedikit meleleh.

Ini anakku, apa kabar anakmu?

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu