Home » » Tanaman Untuk Anakku

Tanaman Untuk Anakku


Aku menerima banyak ijazah dari orang tuaku. Entah sudah berapa puluh yang aku terima dan amalkan, dari yang ringan hingga yang berat. Satu hal yang mesti menjadi sikapku tiap kali menerima ijazah adalah aku tak pernah bertanya untuk apa dan mengapa amalan itu dilakukan. Aku terima saja apa adanya dan kulakukan sesuai petunjuk dari orang tuaku.

Namun satu hal yang mengusik hatiku. Yang kutahu ijazah-ijazah besar yang kaprahnya diberikan seorang guru selalu disyaratkan berpuasa dalam pengamalannya. Namun orang tuaku tak pernah menyuruhku melakukan puasa dalam setiap ijazahnya, kecuali satu amalan, ijazah Dalail

Satu saat aku beranikan diri untuk menanyakan rahasia ini kepada ibuku. Oleh ibuku aku diberi penjelasan, "Itu karena bapakmu sudah melakukan puasa untukmu. Sekarang kamu tinggal memetik hasilnya."

Aku terperangah mendengar kalimat ibuku. Aku merasa beruntung bahwa sebagai anak aku telah disiapkan tanaman yang baik oleh orang tuaku dan kini aku tinggal memetik hasilnya. Namun aku berpikir, bila aku hanya memetik apa yang telah ditanam oleh orang tuaku, lalu bagaimana dengan anak-anakku. Akankah aku biarkan menanam sendiri tanamannya?

Maka kuputuskan, aku petik apa yang telah ditanam orang tuaku untukku. Namun aku akan tetap berpuasa, bermujahadah, bertaqarrub pada Tuhanku, agar kelak tanaman ini bisa dipetik anak-anakku.

(KH. Subhan Ma'mun)

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu