Home » » Tuhan, Kumohon Kematian

Tuhan, Kumohon Kematian


Seorang yang kaya raya datang ke sebuah tempat penjualan budak. Setelah sekian lama memilih akhirnya ia tertarik untuk membeli seorang budak belia. Ia bawa budak itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah sang budak berkata, “Tuanku, ijinkanlah hamba mengajukan permohonan kepada Tuan.”

“Apa yang kau minta, budak?” tanya sang tuan.

“Ada tiga hal yang ingin hamba pinta dari tuan.”

“Apa tiga hal itu?”

Pertama, hamba mohon Tuan tidak melarang hamba melakukan shalat fardhu. Kedua, silahkan Tuan memerintah hamba pada waktu siang hari semau Tuan. Namun hamba mohon janganlah Tuan memerintah hamba pada waktu malam hari. Ketiga, berilah hamba satu tempat yang tidak dimasuki selain oleh hamba sendiri.”

Setelah berpikir sejenak sang tuan berkata, “Baiklah,” katanya menyanggupi, “aku turuti kemauanmu. Sekarang silakan kau pilih sendiri ruangan dalam rumah ini yang cocok bagimu.”

Dengan di dampingi tuannya sang budak mengelilingi seisi rumah. Sampai pada suatu ruangan yang telah kelihatan kumuh dan sepi sang budak berkata, “Aku memilih ruangan ini, Tuan.”

“Mengapa kau pilih ruangan yang kumuh dan sepi sementara masih banyak ruangan kosong yang lebih layak kau tempati?” tanya sang tuan.

 “Tidakkah Tuan mengerti, bahwa kesunyian bersama Allah adalah sebuah taman yang indah?” jawab sang budak.

Sejak saat itu sang budak mulai bekerja pada siang hari melayani kebutuhan tuannya dan masuk ke dalam kamarnya bila malam mulai tiba. Hingga suatu ketika tuannya berkeliling rumah pada tengah malam. Ia menyempatkan diri untuk menghampiri kamar budaknya. Ia begitu terkejut manakala ia lihat kamar budaknya bersinar terang benderang. Atap kamar itu terbuka lebar. Di atasnya tergantung sebuah sinar yang begitu terang antara langit dan sang budak. Sementara ia melihat budaknya sedang bersujud ke hadirat Allah subhânahu wa Ta’âla. Ia bermunajat dan bertadharu’ seraya berdoa, “Ya Tuhanku, di siang hari aku berkewajiban memenuhi hak-hak tuanku dan melayani segala kebutuhannya, hanya pada malam hari aku dapat menghadap-Mu, beribadah kepada-Mu. Andai saja aku tak menanggung kewajiban itu, sungguh tak akan aku biarkan siang dan malam berlalu kecuali kuhabiskan untuk beribadah kepada-Mu. Tuhanku, ampunilah hamba-Mu.”

Menyaksikan hal itu sang tuan menangis tersedu-sedu. Ia terus memperhatikan budaknya hingga fajar tiba dan lenyaplah sinar yang menggantung, kemudian atap kamar itu tertutup kembali sebagaimana semula. Keesokan harinya ia ceritakan pada istrinya segala yang ia saksikan tadi malam.

Pada malam berikutnya ia gandeng istrinya menjumpai kamar sang budak. Pemandangan yang kemarin ia saksikan terlihat kembali. Atap kamar itu terbuka lebar dan di atasnya menggantung sebuah sinar yang menjadikan kamar itu terang benderang. Sementara sang budak masih saja dalam sujudnya, bermunajat dan bertadharu’ pada Allah ‘Azza wa Jalla. Suami istri itu menangis tak henti-hentinya hingga fajar kembali terbit.

Pada esok hari sang tuan berkata kepada budaknya, “Budakku, mulai hari ini engkau kubebaskan karena Allah, agar engkau dapat lebih puas dan bebas beribadah kepada-Nya.”

Mendengar pernyataaan tuannya sang budak segera mengangkat kedua tangannya seraya berseru:

Wahai Pemilik rahasiaRahasia kita telah terbuka
Setelah tersiarnya rahasia
Aku tak lagi mengharap kehidupan dunia

Kemudian ia berdoa, “Tuhanku, kumohon kematian dari-Mu.”

Seketika itu juga sang budak terjatuh dan meninggal dunia, karena rasa takut dan cintanya kepada Allah Ta’ala.

Sumber: Hadiiqah al-Auliyaa', Tajudin Naufal

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu