Home » » Beberapa Catatan Tentang Permasalahan Haji

Beberapa Catatan Tentang Permasalahan Haji


Berikut beberapa catatan penting seputar manasik haji yang disampaikan oleh KH. Syafiq, Kudus:

A. Tentang Rukun Haji
Setiap rukun haji tidak bisa digantikan oleh siapapun dan tidak bisa digantikan dengan dam.
B. Pulang Haji Dengan Rukun Yang Tertinggal
Jemaah haji yang pulang ke tanah air dalan keadaan masih ada rukun haji yang belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka ia masih dihukumi sedang berihram sehingga ia masih terkena larangan-larangan ihram.
C. Belum Thawaf Ifadlah Karena Haidl
Seorang jemaah haji perempuan dikarenakan mengalami haid dia tidak dapat melakukan thawaf ifadlah yang merupakan rukun haji. Bila sampai dengan masa pemulangan dia masih haid maka ia bisa melakukan thawaf ifadlah dalam keadaan tidak suci dengan resiko mendapatkan dosa karena ia masuk masjid dalam keadaan tidak suci dan harus membayar dam berupa seeokar unta, menurut madzhab Hanafi.
Bila sampai dengan pulang ia masih haid dan tidak melakukan thawaf ifadlah maka ia terus berstatus sedang ihram. Resikonya, bila sebelumnya ia telah melakukan tahallul awal maka selamanya ia tidak diperbolehkan melakukan hubungan badan dengan suaminya. Namun bila ia belum melakukan tahallul awal maka selamanya ia diharamkan melakukan hal-hal yang diharamkan bagi orang yang berihram termasuk memakai wangi-wangian, membuka aurat, memotong kuku dan sebagaianya.
Bila yang meninggalkan thawaf ifadlah itu adalah seorang laki-laki maka selamanya ia tidak diperbolehkan menikah, menikahkan, atau meminang.
Status masih ihram itu akan hilang bila ia melakukan thawaf—untuk melengkapi thawaf ifadhah yang ditinggalkan tersebut—baik perginya ke tanah suci untuk umrah, haji, atau lainnya.
Begitu besarnya resiko yang diakibatkan bila terjadi kesalahan dalam pelaksanaan ibadah haji, maka semestinya setiap jemaah haji benar-benar tahu tentang ilmu manasik haji.
Begitu besarnya pula konsekuensi akibat kesalahan dalam berhaji, hingga ada seorang yang tidak mau menikahi atau menikahkan anaknya dengan anak perempuan yang orang tuanya telah berhaji namun hajinya tidak didasari dengan ilmu alias haji bodoh.
D. Meninggalkan Wukuf
Pada saat masa wukuf di arofah orang yang sakit akan disafari wukufkan oleh petugas haji. Namun bila sakitnya itu sampai menghilangkan akalnya seperti gila dan koma yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka pemerintah akan mengambil kebijakan untuk membadalkan hajinya orang tersebut pada orang lain. Bila sampai dengan pulang dia tidak dibadalkan dan akalnya kembali sehat, padahal sebelum masanya wukuf dia sudah berihram, maka ia dihukumi sebagai orang yang masih berihram dengan segala resikonya.
KH. Syafiq (tengah)

E. Hukum Dengan 2 (dua) Sebab
Sesuatu yang dihukumi karena adanya 2 (dua) sebab, maka dengan terwujudnya salah satu dari dua sebab itu, maka sesuatu itu diperbolehkan untuk mempercepat pelaksanaannya.
Seseorang wajib membayar zakat fitrah bila ia menangi bulan Ramadhan dan tenggelamnya matahari pada awal bulan syawal. Maka asal telah masuk bulan Ramadhan zakat fitrah bisa segera dibayarkan tanpa harus menunggu tenggelamnya matahari awal bulan syawal.
Zakat maal itu wajib dibayarkan bila telah memenuhi nishab dan telah mencapai satu tahun (haul). Maka bila telah memenuhi nishab zakat maal bisa dibayarkan tanpa harus menunggu haul.
Orang yang melakukan ibadah haji secara tamattu’ dikenakan dam nusuk karena dua hal; ia melakukan umroh di masa haji dan ia mau melakukan ibadah haji. Maka begitu ia melakukan umroh dam tersebut bisa segera dibayarkan tanpa harus menunggu ibadah hajinya selesai.

Disampaikan oleh KH. Syafiq (Ketua MUI Kab. Kudus, Santri Sayid Muhammad Al-Malikiy Al-Makky, Pembimbing KBIH Arwaniyah Kudus) dalam diskusi tentang Manasik Haji pada acara Sosialisasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Bagi Ormas Tahun 2013, di Griptha Hotel, Kudus, 30 Mei – 2 Juni 2013.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu