Home » » Darah Biru

Darah Biru


Cerpen ini pernah dimuat di Majalah ANNIDA tahun 2001

Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Badai penentangan keluargaku atas apa yang aku putuskan benar-benar bertiup kencang. Tak jarang pula badai itu disertai dengan gelombang umpatan dari keluarga pihak ibu yang selama ini sangat berkeinginan menjadikanku sebagai menantu. Tapi, atas badai dan gelombang yang mereka halau kepadaku aku tetap berdiri tegak dengan keputusan itu. Aku gunakan betul prinsip yang oleh orang jawa dikatakan; kuping budek mripat picek. Aku tak mau tahu. Aku mantapkan hatiku. Jodohku di tangan Tuhan, ikhtiar ke arah itu akulah yang melakukan. Perkara orang lain mau memberi masukan, itu hanyalah sekedar usulan yang aku bisa terima dan bisa pula menolaknya.

Namun sekuat-kuatnya kakiku berdiri menghadapi badai itu pada akhirnya aku harus mengakui bahwa hatiku sempat sedikit goyah ketika ibu yang selama ini tutup mulut, kini mulai angkat bicara. Sebelumnya aku tak tahu mengapa ibu diam saja ketika aku sampaikan niatku itu. Padahal beliaulah yang lebih berkepentingan dengan aku sebagai anaknya dan dengan calon isteriku sebagai menantunya. Beliaulah yang melahirkan, menyusui, membesarkan dan mendidikku. Atas diriku beliau punya hak, bahkan prerogatif dan veto sekalipun. Aku hanya menyangka sikap diam ibu adalah tanda persetujuannya. Bukankah diamnya perempuan ungkapan dari kata “ya”-nya?

Ternyata dugaanku meleset. Kini beliau mulai bicara menyampaikan pendapatnya, atau lebih tepatnya menggunakan hak vetonya. Setelah sekian lama aku dan beliau saling diam duduk di ruang keluarga, dengan lirih beliau berkata, “Bila memang niatmu menikahi Safitri sudah bulat, teruskanlah. Nikahilah dia sebagaimana yang kamu inginkan,” Ibu terdiam. Sampai di sini hatiku berbunga, senyumku mengembang, anganku melayang. Restu ibu telah aku dapatkan. Namun, belum juga bunga di hatiku menebarkan keharumannya, mendadak angin panas bertiup menggersangkannya. Belum juga sempurna senyuman mengembang menghiasi wajahku, tiba-tiba kilatan petir meluncur dari celah kedua bibir perempuan mulia di hadapanku memuramkannya. “Setelah kau menikah nanti, ungsikanlah ibu dari sini. Tempatkan ibu di tempat yang siapapun tak akan pernah mengunjunginya. Jauhkan ibu dari keluarga dan siapapun yang pernah mengenali ibu.”

Hatiku tergetar. Pikiranku mendadak kacau. Kalimat itu begitu lirih dan lembut diucapkan, tapi sangat keras menghujam di relung hatiku yang paling dalam. Dingin malam itu seakan tak bisa menenangkan hati dan pikiranku, darahku serasa mengalir cepat. Aku tak kuasa menggerakkan kedua bibirku, meski untuk sepatah kata. “Maksud ibu?” kataku lirih. Bahkan telingaku sekalipun tak menangkap suara itu. Hanya batinku yang bicara.

Kulihat wajah ibu setengah menengadah. Pandangannya ia taburkan ke langit-langit rumah, kosong. Kuamati pula matanya sedikit nanar. Berulang kali ia tarik napas dalam-dalam, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. “Tidakkah kamu pikir matang-matang, Hamam. Apa kata orang nanti, satu-satunya anak laki-laki almarhum KH. Nawawi menyunting seorang gadis yang tak dikenal siapa orang tuanya? Gus Hamam, seorang santri yang terkenal dengan kecerdasan dan keluasan ilmunya, anak seorang kiai besar yang disegani banyak orang, beristerikan seorang perempuan yang dikatakan banyak orang lahir dari hasil perzinahan kemudian dibuang ibunya di selokan sesaat setelah dilahirkan? Tidakkah kamu pikir, bila kelak kamu  benar-benar menikah dengan gadis itu, betapa malunya ibumu ini di hadapan keluarga besar ayah dan ibumu yang semuanya mendapat tempat terhormat di mata masyarakat?” Ibu memandangku. Wajahnya penuh harap akan pengertianku.

Aku tertunduk, terdiam. Dari arahnya lamat-lamat kudengar isak tangis merasuki ruang keluarga tempat aku dan ibu berbincang. Ibu menunduk. Tangan kirinya tetap dibiarkan tergeletak di atas pegangan kursi. Sedang tangan kanannya ditutupkan di depan bibir sucinya dengan pinggiran jari telunjuk menutupi lubang hidung, sedikit mengurangi suara isak tangis yang dibarengi jatuhnya embun surgawi dari pelupuk matanya. Sebelum beliau tenang aku belum berani segera menimpali ucapannya, khawatir kalau-kalau beliau tersinggung dan tak bisa menerima argumen atas keputusanku.

Kusadari memang, jalan yang aku pilih adalah jalan menikung yang tidak seharusnya aku lewati. Aku sadar betul bahwa apa yang aku pegangi menentang arus yang telah lama mengalir di masyarakat, terlebih di kalangan keluargaku yang berlatang belakang pesantren tulen dan termasuk “darah biru” di kalangan dunia pesantren. Almarhum bapakku seorang kiai terpandang dan disegani, tidak saja di masyarakat daerahku namun sampai di kabupaten-kabupaten lain. Selama dua puluh lima tahun beliau mengasuh pesantren dan telah meluluskan ratusan santri yang benar-benar mumpuni di bidangnya masing-masing. Pamanku, KH. Mughni, adik kandung ayahku yang sekarang memimpin pesantren setelah bapak wafat, juga tak kalah alim dengan kakaknya. Ibuku sendiri, Nyai Hj. Mutmainah, seorang perempuan yang menguasai banyak ilmu agama dengan penguasaan kitab kuning yang cukup mengagumkan. Tak heran, bila setiap kali santriwati yang mengaji dengan ibu mengkhatamkan kitabnya ibu selalu menawarkan kitab apa lagi yang ingin dipelajari. Kitab apapun yang diminta oleh santriwati akan ibu layani. Kakak ibu, KH. Abdullah, seorang pengasuh pesantren di Jawa Timur. Setiap tahun tak kurang dari seribu lima ratus santri berdatangan dari penjuru Indonesia untuk nyantri kepadanya. Sedangkan adiknya, KH. Abdurrahman, juga mengasuh pesantren di Jawa Timur menggantikan mertuanya, KH. Abdul Ghafar, yang wafat setahun lalu.

Aku paham betul, sudah menjadi adat keluarga “darah biru” pesantren menjalin hubungan kekeluargaan dengan keluarga pesantren lain dengan cara menikahkan anak-anak para kiai di antara mereka. Tak jauh-jauh aku memberi contoh. Keluargaku sendiri. Kakakku yang sulung, Mas Muhammad Mufti, menikah dengan Mbak Zakiyah putri KH. Marwan Trenggalek. Sedangkan dua kakak perempuanku, Mbak Arina dan Mbak Naila dinikahkan dengan putra kiai asal Demak dan Kudus. Demikian juga dengan putra-putri paman dan pakdeku, semua menikah dengan sesama keturunan “ningrat” pesantren. Maka tidak aneh bila terjalin hubungan yang erat antara satu pesantren dengan pesantren yang lain. Bahkan mungkin kita juga bisa memastikan bahwa setiap pesantren yang ada di Jawa, khususnya, terjalin hubungan kekeluargaan yang saling berkaitan satu sama lain seperti mata rantai. Itulah adat perkawinan di kalangan “ningrat” pesantren yang aku ketahui.

Aku sendiri sejatinya akan dijodohkan oleh ibuku dengan putri KH. Abdul Malik, salah seorang saudara sepupu ibu yang tinggal satu kota denganku. Aku memanggilnya paman. Aku tahu betul siapa putri pamanku itu. Ia bernama Atikah Qudsiyah. Ia anak tunggal paman Malik. Seorang perempuan berparas cantik, sarjana psikologi dengan nilai cumlaude, sudah hafal Al-Qur’an di luar kepala ketika masih duduk di kelas 2 Madrasah Aliyah, dan punya banyak prestasi. Namun aku menolaknya. “Jujur saja, aku ingin menikah dengan gadis dari keluarga biasa, dari kaum awam.” Begitu aku menjawab ketika ibu mempertanyakan penolakanku. Secara umum bodoh memang diriku. Gadis secantik dan sepandai Atikah aku tolak, sedang banyak lelaki yang mengejar-ngejarnya tak pernah mendapat perhatian sedikitpun. Kurang apa dia, bibit, bebet, bobot? Tapi bagiku memiliki seorang isteri bukanlah hanya sekedar urusan cantik tidak cantik. Bagiku, seorang anak laki-laki, ada hal yang lebih penting dari itu.

Ternyata penolakanku atas perjodohanku dengan Atikah berbuntut panjang, ketika paman Malik mengetahui keinginanku meminang Safitri. Beliau merasa tersinggung. Ia katakan bahwa aku telah menginjak-injak harga dirinya. “Kau tolak anakku Atikah tanpa alasan yang jelas, tapi kau pinang perempuan yang asal usulnya tak jelas. Lebih mulia mana puteriku dengan perempuan temuan itu, hah!” Begitu aku dibentak-bentaknya. Paman Malik tak mau tanggung-tanggung rupanya memarahiku. Ibuku juga kena getahnya. Sudah hampir satu bulan ini keluarga beliau tak berkunjung ke rumahku. Padahal sebelumnya, setiap hari Jum’at selalu saja beliau mengunjungi ibu di rumah dengan isteri dan Atikah putrinya. Benar-benar marah dari ujung hati yang paling jauh.

Lain lagi dengan keluargaku yang lain. Mereka menentang keputusanku bukan karena sakit hati, namun lebih karena asal-asul Safitri yang tak jelas serta demi menjaga kehormatan keluarga. “Tidakkah kita lebih baik mencari gadis yang benar-benar jelas siapa keluarganya, Mam?! Apa nanti kata orang?!” kata mereka suatu ketika.

Aku acuh saja. Pikirku, yang akan menikah aku, bukan mereka. Bagiku apa bedanya Safitri dengan perempuan lain, Atikah misalnya. Aku rasa apa yang dimiliki Atikah ada juga pada diri Safitri. Ia cerdas, cekatan, sedang menghafal Qur’an juga meski belum khatam, dan punya banyak prestasi. Bahkan suaranya selalu saja diperdengarkan untuk melantunkan kalam Ilahi dan mendendangkan salawat manakala pesantren kami mengadakan acara tertentu. Untuk masalah wajah aku berani mengatakan, hanya lelaki goblok dan ideot yang tak mengakui kecantikannya. Bahkan aku menyangka, bila bukan karena perintah Tuhan bulan pun akan enggan menampakkan diri sebab kalah mempesona dibanding wajah cantik nan sejuk pujaan hatiku, Safitri. Dan, di hari kiamat kelak para bidadari akan berputus asa, tak akan bangga dengan kecantikannya, karena di tengah-tengah surga akan hadir seorang hamba yang lebih pantas disebut maha bidadari dari segenap maha bidadari. Ah, siapa lagi kalau bukan mawar penghias taman hatiku, Safitri. Bila ada kekurangan dalam diri Safitri itu cuma satu, asal usul yang tak jelas. Dan bagiku itu bukan masalah besar.

Yang aku dengar dari desusan ghibah ada tiga versi siapa sebenarnya Safitri. Ada yang mengatakan dia adalah anak dari hubungan zinah seorang laki-laki dan perempuan yang tak dikenal yang dibuang diselokan kemudian ditemukan oleh seorang penjual nasi bungkus bernama Mbok Mar. Versi kedua mengatakan, Safitri dahulu ditemukan Mbok Mar di tempat pembuangan sampah tanpa diketahui apakah dia anak hasil zinah atau hubungan sah suami isteri yang tak mampu membesarkannya. Sedangkan versi ketiga mengatakan bahwa Safitri dulunya diasuh di panti asuhan. Kemudian diangkat sebagai anak oleh anak laki-laki Mbok Mar yang telah lima tahun tidak dikarunia anak. Namun belum lama anak laki-laki Mbok Mar hidup dengan anak angkatnya ajal telah menjemputnya dan isterinya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Selanjutnya Safitri diasuh oleh Mbok Mar.

Entah versi mana yang benar, namun yang aku tahu adalah ketiga versi itu semuanya mengarah pada satu kata, bahwa setelah Safitri lulus SLTP Mbok Mar menyekolahkannya di pesantren bapak beberapa hari sebelum kematiannya, tepatnya lima tahun yang lalu. Karena sudah tidak ada orang tua yang mengasuhnya maka bapak mengambil inisiatif untuk mencarikan orang tua asuh bagi Safitri. Usaha bapak tak percuma. Seorang teman akrab beliau yang memiliki perusahaan garmen menyanggupi untuk menjadi orang tua asuh Safitri. Satu tahun lalu Safitri tamat Madrasah Aliyah. Ia tidak melanjutkan studinya di bangku kuliah. Ia lebih memilih menghafal Al-Qur’an di sebuah pesantren di Jombang Jawa Timur. Kabar-kabar dalam satu tahun ia menghafal Al-Qur’an telah mencapai juz dua puluh lima. Prestisius, bukan?

Aku sendiri mengenal Safitri baru satu setengah tahun yang lalu. Tepat di hari ketika aku boyongan dari mondok di berbagai pesantren, di pesantren keluargaku diselenggarakan acara khataman Al-Qur’an. Ketika itu aku terpesona dengan alunan ayat Al-Qur’an yang mampu menggetarkan jiwaku. Dari teman-teman pengurus pondok aku tahu pembacanya bernama Safitri. Dari mereka pula pada akhirnya aku tahu asal-usulnya. Aku tertarik. Dan semakin tertarik ketika pertama kali aku secara tidak sengaja bertatap muka dengannya. Ketika ia hendak keluar dari kantor madrasah dan aku baru mau masuk. Sungguh! Sorot matanya membuat aku mabuk. Ada yang terpancar dari sana. Cantik wajahnya, jelas! Tapi bukan itu. Bukan itu yang membuat hatiku tergetar hebat. Ada sesuatu yang sulit aku gambarkan, yang membuat ia terasa berbeda dengan gadis-gadis cantik lainnya, Atikah sekalipun. Mulai saat itulah aku sering memperhatikannya, mencari-cari informasi tentang dirinya. Bahkan mencoba mengajaknya berbicara empat mata. Jujur kuakui, aku jatuh cinta! Dan hatiku berbunga. Karena pucuk dicinta ulam pun tiba. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Meski aku sadar, badai akan menghalang. Karena apalagi kalau bukan urusan bibit, bebet, dan bobot? Setengah tahun yang lalu aku mulai mengungkapkan isi hatiku ke ibu, tidak ke yang lainnya. Namun tak lama kemudian semua keluarga dan kerabat tahu. Dan suara badai itu pun mulai menggema menggemuruh.

Kulihat ibuku mulai tenang. Isak tangisnya tak lagi terdengar. Kukumpulkan semua keberanian. Kepadanya aku akan bicara panjang lebar.

“Bu, saya tahu perasaan ibu. Tapi bukan maksud saya mau menurunkan derajat keluarga besar kita,”

“Ibu paham, Hamam. Tapi toh akibatnya seperti itu juga.”

“Mungkin, Bu.”

“Nah, kau juga tahu kan?”

“Tapi mungkin juga sebaliknya.”

“Maksud kamu?”

“Justru dengan saya menikahi Safitri derajat kita di hadapan Allah akan lebih terangkat.”

Ibuku hanya terdiam. Aku tahu beliau belum paham dengan pikiranku.

“Kita ini orang-orang beragama. Tak ada seorangpun di keluarga kita yang tak mengenyam pendidikan pesantren. Kita juga mengelola pesantren. Setiap hari kita mengajarkan agama dan moral kepada para santri. Termasuk tentang pernikahan. Memang benar agama kita mengajarkan untuk mengawini perempuan yang cantik, bernasab baik, berharta, dan beragama.”

“Lho kamu tahu itu, kan?” ibu memotong pembicaraanku. “Kurang apa Atikah Qudsiyah, anak KH. Abdul Malik, sepupu ibu, pamanmu sendiri. Dia cantik, nasabnya jelas baik, ia sudah bekerja dan jelas ia punya harta milik sendiri, penguasaan pengetahuan agama juga kamu tahu sendiri. Tapi Safitri? Anak siapa dia, Hamam?”

“Benar, Bu. Tapi tidak semata-mata karena empat hal itu kita membangun rumah tangga. Bagiku ada faktor lain yang juga penting untuk diperhatikan bagi kita, orang-orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat, keluarga “ningrat” di kalangan pesantren. Faktor dakwah dan sosial, Bu. Dengan menikahi Safitri orang-orang akan tahu bahwa ajaran-ajaran yang selama ini kita berikan kepada para santri dan masyarakat tidak hanya sebatas teori, tapi kita juga mengamalkannya. Kepada mereka kita ajarkan bahwa semua manusia sama derajatnya di hadapan Allah. Tak ada yang membedakan selain ketakwaan. Kita tak bisa mengatakan seseorang buruk hanya karena penampilan lahirnya saja. Pun kita tak bisa bangga dikatakan sebagai orang baik karena orang lain melihat lahir kita, keluarga kiai misalnya. Karena ketakwaan yang menjadi ukuran ada dalam hati. Dan hanya Allah yang paham isi hati setiap manusia.

Kepada mereka kita juga mengajarkan perlunya kepedulian sosial. Berapa banyak hadis nabi yang secara tersurat dan tersirat mengajarkan akan pentingnya kepedulian sosial beserta segenap pahalanya. Hingga sorga pun merindukan orang yang senang memberi makan kepada sesama. Kita ajarkan kepada para santri untuk selalu berbagi di antara mereka. Karena banyak di antara mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Dalam realita kita juga melihat, bahwa perilaku masyarakat yang cenderung kriminal akhir-akhir ini dinilai banyak pakar disebabkan faktor kesenjangan dan kecemburuan sosial.

Saya berpikir kalau saya menikah dengan Safitri, kita sebagai guru akan memberikan contoh bagi masyarakat. Bahwa status sosial bukanlah pemisah antara kiai dan santri, murid dan guru, kaya dan miskin, atas dan bawah. Bahwa bukan suatu keharusan yang kaya harus hidup berdampingan dengan yang kaya, miskin dengan miskin, ningrat dengan ningrat, awam dengan awam, dan seterusnya. Bagaimana jadinya bila setiap kita hanya mau berteman, bersahabat dan berkeluarga dengan orang yang sederajat dan punya status sosial yang sama. Mungkin akan terjadi apa yang dikatakan banyak orang, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang ningrat tetap ningrat, yang awam semakin awam. Yang kuat semakin kuasa, yang rakyat semakin jelata, hina dan nista. Dan tidak menutup kemungkinan suatu ketika ini akan menjadi tembok raksasa yang memisahkan sesama. Contoh semacam ini perlu diberikan oleh keluarga kita. Karena keluarga kita adalah keluarga tokoh agama dan masyarakat yang selama ini dijadikan panutan oleh mereka. Kita tahu persis kan, bahwa sebagian isteri Rasul adalah para janda dengan status sosial yang jauh berbeda dengan beliau? Bahkan di antaranya ada yang berasal dari agama berbeda.

Saya juga melihat kehidupan masa lalu Safitri sebagai suatu kelebihan dan hikmah. Ia yang hidup tanpa mengenal orang tua kandungnya, menjalani kehidupan ini dengan penuh keprihatinan dan susah payah bersama keluarga Mbok Mar yang hanya seorang penjual nasi bungkus di dekat stasiun kereta. Suka dan duka ia jalani bersama ibu angkatnya. Bila Safitri ada di tengah-tengah keluarga kita, saya berharap ia dapat membantu menjalankan kegiatan sosial yang selama ini dijalankan oleh almarhum bapak. Dengan pengalaman hidupnya ia dapat lebih dekat dengan saudara-saudara kita yang hidup dalam kesusahan dan serba kekurangan yang selama ini kita bantu. Ia dapat memberikan kasih sayangnya pada mereka lebih sempurna, karena ia telah menjalani dan merasakan sendiri betapa beratnya hidup dalam kemiskinan. Tidak seperti kita dan keluarga besar kita, yang hidup serba kecukupan. Selama ini kita hanya membantu mereka yang susah secara materi, tanpa pernah kita merasakan sebenarnya susah yang mereka alami.”

“Itu pertimbangan saya, Bu. Kalau soal asal usul tak perlu lah kita terlalu mempermasalahkannya. Safitri tak pernah meminta hidup yang demikian. Ia lahir begitu saja tanpa pernah dimintai persetujuan. Semua telah diatur oleh Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak kita pun bisa diperbuat oleh-Nya sebagaimana Safitri. Dan Safitri ditakdirkan demikian bukan untuk dihindari dan dipinggirkan dalam kehidupan. Kita juga tak punya hak untuk menilai derajat sosialnya hanya karena asal usul yang disembunyikan oleh Tuhan. Saya pikir, kalau kita mempermasalahkan hal itu sama saja kita mempermasalahkan kebijakan Tuhan. Semua pasti ada hikmahnya. Saya harap ibu memahami dan menerima apa yang saya katakan.”

Kulihat ibu terdiam, termenung. Sinar matanya menerobos hatiku. Kurasakan ada perubahan pada dirinya. “Kamu sungguh-sungguh, Mam?” tanyanya lirih. Matanya tetap tertuju padaku.

“Iya, Bu.”

“Mantap dengan segala resiko?”

“Selama ibu di sisiku, tak perlu ada yang ditakuti. Selama ibu merestui, tak perlu kuminta doa seribu wali.”

Beberapa saat kami terdiam.

“Bu, ada satu lagi alasan mengapa aku memilih Safitri.”

“Apa, Mam?”

“Saya ingin berbakti kepada ibu. Sebagai anak laki-laki saya berkewajiban berbakti kepada ibu seumur hidup. Tak ada alasan bagi saya untuk tidak berbakti kepada ibu, meski satu detik pun. Setelah Mas Mufti, Mbak Arina dan Mbak Naila menikah dan hidup dengan keluarganya masing-masing saya tahu ibu kesepian dan butuh seorang teman. Saya ingin Safitri menjadi menantu sekaligus teman yang baik bagi ibu. Pengalaman hidupnya dengan Mbok Mar telah mendidiknya menjadi perempuan yang tak manja. Bila selama ini ibu selalu dibantu para santriwati menyelesaikan pekerjaan rumah, kelak Safitri lah yang akan membantu ibu. Ia bisa melakukan apa saja yang semestinya bisa dikerjakan sendiri tanpa merepotkan orang lain. Biarlah para santri itu belajar dengan tenang, karena itu memang hak mereka. Ibu juga bisa mengajaknya berdiskusi tentang banyak hal. Ibu tahu ia gadis yang cerdas, kan? Pendek kata, saya ingin berbakti kepada ibu dengan menghadirkan Safitri di tengah-tengah keluarga kita, sebagai seorang isteri. Pengalaman hidup yang dijalaninya telah memberinya banyak kelebihan yang tak dimiliki gadis lain.”

Tak ada kata yang keluar dari bibir ibuku. Dari wajahnya yang setengah menunduk aku melihat embun surgawi menggenang di pelupuk matanya, lalu mengalir membasahi pipinya. Aku tak tahu apa yang ada dalam hatinya. Aku hanya melihat wajahnya. Ada kerelaan di sana. Ada kedamaian yang memancar. Aku rasakan pula, bunga-bunga bermekaran di taman hatiku jauh di sana.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu