Home » » Mengisi Dompet Dengan Corat Coret

Mengisi Dompet Dengan Corat Coret

Sebuah tulisan  lama, pernah disampaikan sebagai materi dalam Masa Orientasi Sekolah (MOS) Madrasah Aliyah Al-Muayyad Surakarta, 22 Juli 2003

Ambillah empat lembar kertas HVS ukuran kwarto. Isi dengan “corat-coret”, kirimkan ke salah satu redaksi media massa. Dan, jangan kaget bila beberapa waktu kemudian seorang tukang pos mengantarkan kepada anda selembar surat wesel senilai Rp 100.000,00 dengan catatan berita : Honorarium Anda Untuk Artikel Berjudul “Mengisi Dompet Dengan Corat-Coret”. Mudah, bukan?!
Barangkali, itulah salah satu cara untuk menjadi “kaya”. Ya. Dengan empat ratus rupiah untuk beli kertas, dua ribu rupiah untuk sewa komputer, seratus rupiah untuk amplop, dan seribu lima ratus rupiah untuk prangko, kita akan mendapat ganti sampai dengan seratus ribu rupiah, atau bahkan lebih. Hanya dengan menulis.
Hanya dengan menulis, banyak orang di sekeliling kita dapat hidup dengan banyak uang, tanpa banyak mengeluarkan biaya. Dunia tulis menulis memang bisa kita jadikan satu sarana kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, diakui, di saat usia seseorang telah senja, mencari uang lewat tulisan adalah satu hal yang paling mudah. Karena dunia tulis menulis tidak mengenal usia. Siapa pun bisa melakukannya.
Meski kelihatan menyenangkan dan sangat menjanjikan, namun menulis bukan hal mudah bagi para pemula. Satu judul tulisan dengan satu rem kertas yang telah kita habiskan belum tentu dapat mengembalikan semua biaya yang telah dikeluarkan oleh para pemula. Namun, satu judul tulisan dengan hanya satu lembar kertas, bagi yang telah mahir atau bahkan terkenal, dapat memberikan biaya hidup satu bulan lamanya bersama keluarga.
Ini dikarenakan menulis merupakan satu pekerjaan yang gampang-gampang susah. Akan sangat terasa susah bila kita masih dalam tarap coba-coba. Dan akan begitu gampangnya bila sudah terbiasa. Bila kita melihat bagaimana proses awal-awal para penulis terkenal Indonesia (dapat dibaca pada Majalah Horison pada bagian Proses Kreatif), kita ketahui bahwa mereka begitu lamanya mencoba untuk bisa menjadi seorang penulis yang dapat diterima tulisannya oleh media massa.
Emha Ainun Najib, misalnya, pertama kali tulisannya dimuat media massa adalah setelah yang ke seratus sekian kalinya. Ahmad Tohari, seorang kyai pengasuh pesantren sekaligus novelis dari Banyumas, baru diterima tulisannya setelah yang ke dua puluh kalinya. Masih banyak lagi. Namun, setelah itu karya mereka selalu menjadi rebutan berbagai penerbitan. Sebuah tulisan untuk buku karya Emha yang hanya setebal 100 halaman saja, pernah dilelang seharga Rp 25 juta. Menggiurkan memang.
Karena sedemikian peliknya, untuk mencoba menggeluti dunia ini ada bebarapa hal yang perlu diketahui—sekaligus sebagai bekal—bagi para peminat bidang tulis menulis, baik cerpen, biografi, feature, resensi, novel, artikel maupun lainnya. Antara lain:
1. Mengauasai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Hal ini adalah satu syarat yang tak bisa ditawar. Penulisan karya tulis tak akan bisa lepas dari EYD.
2. Memperbanyak membaca
Yang dapat kita baca adalah segala hal yang berkaitan dengan apa yang akan kita tulis, sebagai bahan bagi tulisan kita. Seorang penulis juga harus banyak membaca tulisan karya orang lain. Dengan membaca karya orang lain, kita akan mengetahui berbagai gaya menulis yang sering digunakan dan timbullah interes untuk bisa menulis.
3. Membiasakan menulis
Kegiatan tulis menulis bukanlah masalah punya bakat atau tidak. Namun lebih cenderung pada terbiasa atau tidak, demikian kata Musthafa Helmi dan Syaifullah Ma’sum pada satu acara pelatihan menulis. Dengan kita terus membiasakan menulis, kualitas tulisan kita akan semakin berbobot. Prof. Dr. HAMKA, misalnya, setiap hari di pagi hari beliau “mewajibkan” dirinya untuk menulis tak kurang dari 10 halaman.
Membiasakan menulis ini juga menjadi begitu berarti bila kita lakukan segera setelah kita mendapatkan satu pemikiran yang menarik untuk ditulis.
4. Memunculkan ide tulisan
Richard Setrn, cerpenis profesional Amerika yang menggantungkan hidupnya semata-mata dari menulis cerpen dan novel, pernah ditanya: dari mana datangnya cerita yang ditulisnya? Ia menjawab “Hidup akan lebih sederhana dan gampang seandainya aku tahu jawabannya”
Memang tak mudah untuk mendapatkan ide sebuah tulisan. Ide itu akan muncul dengan sendirinya di benak pikiran kita. Dan, hal itu terjadi bila kita punya banyak pengalaman dengan lingkungan. Ide tulisan juga akan muncul dengan sendirinya dan sangat mudahnya bila kita telah terbiasa menulis.
Mohammad Diponegoro, Wapamred Suara Muhammadiyah di tahun 1965, tentang dari mana munculnya sebuah ide, pernah pula mengatakan: saya kira jawabnya tidak perlu dirumuskan, sebab rasanya ini mengandung misteri.
5. Memahami redaksi yang akan dituju
Untuk dapat diterima sebuah tulisan kita juga harus memahami karakter redaksi yang menjadi tujuan kita. Antara lain tentang misi, isi, bahasa, dan  aturan-aturan tulisan yang berlaku pada media tersebut. Kita tidak mungkin mengirim cerpen romantis, misalnya, ke sebuah tabloid yang berisi berita olah raga.
6. Bila tulisan dikembalikan
Bila ternyata tulisan kita dikembalikan oleh redaktur (bila kita mengirimnya disertai prangko pengembalian), biasanya naskah kita telah penuh dengan coretan-coretan tentang “kesalahan-kesalahan” tulisan kita. Pahamilah coretan-coretan tersebut untuk kemudian direvisi dan kita coba kita kirimkan kembali. Ingat! “Haram” hukumnya bagi penulis berputus asa.
7. Bila tulisan dimuat
Bila tulisan kita dimuat, jangan terlalu bangga karena sebentar lagi kita dapat wesel sebagai imbalannya. Bacalah tulisan yang dimuat tersebut. Bisa jadi banyak sekali perubahan yang ada, karena editor “menjahili” naskah kita. Namun, kita juga akan sadar, bahwa setelah dijahili ternyata tulisan kita menjadi lebih asyik untuk dibaca.
Masih banyak hal yang perlu kita ketahui untuk mengisi dompet kita dengan corat-coret. Tapi hal-hal tersebut bukanlah satu kaidah yang pasti. Banyak penulis menyimpulkan, bahwa untuk mahir menulis bukan dari memahami teori, tapi memperbanyak pengalaman. Bukan karena bakat, tapi kemauan. Dan, di saat para manula tak sanggup lagi melaksanakan pekerjaan beratnya di masa muda, para penulis tua  masih enjoy mendulang emas dengan keterampilan jarinya.
Kesimpulannya?
Anda berminat? Ambil kertas dan alat tulis, lalu mulailah menulis.

Selamat mencoba dan perlebar kantong anda.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu