Home » » Belajar dari Manajemen Tuhan

Belajar dari Manajemen Tuhan

Suatu ketika seorang pimpinan sebuah lembaga pendidikan Islam datang menemui Kiai Salman Dahlawi di pesantrennya di Desa Popongan, Klaten. Kepada Kiai Salman tamu itu mengutarakan niatnya. Ia bermaksud meminta beberapa orang guru agama untuk mengajar di lembaga yang ia kelola. Permintaan ini ia ajukan mengingat beberapa guru bidang studi agama yang selama ini mengajar banyak yang berhenti dan bekerja di di tempat lain.
Mendengar penjelasan sang tamu, Kiai Salman menuturkan, bahwa banyaknya guru yang keluar dan pindah bekerja di tempat lain adalah kesalahan sang tamu sebagai pengelola lembaga. Sang tamu kebingungan dengan penuturan Kiai Salman. “Mengapa demikian?” ia bertanya.
Maka Kiai Salman yang juga mursyid tarekat Syadziliyah itu menjelaskan, kalau saja ia sebagai pimpinan lembaga mengusahakan mencukupi kebutuhan para stafnya, semestinya para guru agama itu tak perlu keluar dan bekerja di tempat lain. Dengan tercukupinya kebutuhan hidup mereka bisa berkonsentrasi pada pendidikan dan pengabdiannya pada lembaga, tanpa harus terganggu dengan permasalahan kebutuhan rumah tangga. Dengan demikian kegiatan lembaga dapat berjalan dengan baik tanpa harus terpengaruh oleh kesibukan para gurunya mencari penghidupan di tempat lain.
Kejadian di atas beserta apa yang disampaikan Kiai Salman menunjukkan betapa erat kaitannya antara hak dan kewajiban, antara kewajiban ukhrawi dan kebutuhan duniawi. Kewajiban ukhrawi yang bersifat penghambaan dan pengabdian (ibadah) akan terlaksana dengan baik bila kebutuhan duniawi mendukungnya.
Seseorang yang berkehendak salat tahajud di malam yang sangat dingin, misalnya, akan mengurungkan niatnya bangun di malam hari bila ia tak memiliki sarana duniawi untuk menghangatkan tubuhnya, sehingga ia dapat bertahajud dengan khusyuk. Atau, seseorang yang hendak melakukan salat fardu, tak bisa melakukannya dengan sempurna bila ia tak memiliki pakaian—sebagai sarana duniawi—untuk menutup aurat sebagai syarat sahnya salat. Dan ia tak mungkin memiliki pakaian untuk menutup aurat bila tak memiliki uang untuk membelinya.
Bila agama mengajarkan kepada umatnya untuk mencari ilmu sejauh, sebanyak dan setinggi apapun, maka ajaran thalabul ilmi ini tak akan terlaksana bila umat tak memiliki bekal untuk biaya pendidikan.
Dalam kehidupan riil, dalam kehidupan struktural yang terorganisir sedemikian rupa, di mana di dalamnya ada atasan dan bawahan, dan ada peraturan yang mesti ditaati oleh semua pihak terkait, pemenuhan kebutuhan duniawi sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan dan cita-cita organisasi atau lembaga.
Dalam nasehatnya jelas Kiai Salman “mengingatkan” sang tamu yang tak mengusahakan pemenuhan kebutuhan para bawahannya secara layak, sehingga mengakibatkan mereka mencari pemenuhan di luar lembaga. Ini mengakibatkan program dan aktivitas lembaga di mana para bawahan itu mengabdi menjadi terganggu, dan kemungkinan tercapainya target lembaga juga semakin menjauh.
Banyak orang mengatakan, bahwa banyaknya pegawai pemerintahan Indonesia yang korupsi, banyaknya oknum polisi yang menjadi beking kejahatan, banyaknya pungutan-pungutan tak resmi di banyak instansi pemerintahan, diakibatkan oleh rendahnya pemenuhan kebutuhan hidup mereka yang terus menerus meningkat.
Dalam hal ini jelas, Rasulullah menuturkan “Kefakiran menjadikan seseorang dekat dengan kekufuran”. Ajaran Rasul ini diterjemahkan oleh orang Jawa dengan mengatakan “Weteng ngeleh pikiran ngaleh”. Bisa saja, karena ketiadaan pemenuhan kebutuhan duniawi, maka terbengkelailah pemenuhan kewajiban ukhrawi. Karena pemenuhan kebutuhan duniawi lemah, maka beralihlah tujuan seseorang dari yang semestinya.
Karena rendahnya gaji polisi di Indonesia, padahal kebutuhan keluarganya cukup banyak dan mendesak, maka tak jarang kita temui para polisi berpikiran ngaleh; yang semestinya menilang untuk menertibkan lalu lintas, namun digunakan untuk mendapatkan tambahan penghasilan secara tidak sah demi menutup kebutuhan perut keluarganya yang ngeleh.
Karena dua kebutuhan ini memang tidak bisa dipisahkan, maka Allah sendiri mengajarkan kepada kita dua hal yang saling melengkapi:
Pertama, Allah memerintahkan kita beribadah secara ikhlas, tak mengharap apapun selain ridlo Allah saja (mukhlishîn lahuddîn QS. Al-Bayyinah: 5). Inilah makna ikhlas yang sesungguhnya. Ibadah yang dilakukan karena selain Allah dianggap sebagai syirik kecil. Bahkan, seseorang yang beribadah karena ingin masuk surga pun pada dasarnya dianggap tidak ikhlas.
Kedua, Allah menjamin rizki setiap makhluknya (wa mâ min dâbbatin fil ardhi illa ‘alallahi rizquhâ QS. Hud: 6). Dimanapun makhluk Allah berada, ia telah dijamin setiap kebutuhan hidupnya.
Inilah manajemen Allah dalam meningkatkan etos kerja para hamba-Nya. Di satu sisi Allah memerintahkan para hamba hidup di dunia hanya untuk beribadah saja, mengabdi pada-Nya saja dengan penuh keikhlasan, bukan untuk mengharap selain-Nya.
Namun di sisi lain, Allah sangat memahami kebutuhan duniawi mereka. Mereka tak akan bisa hidup bila setiap hari hanya beribadah saja. Pun ibadahnya tak akan dapat sempurna mana kala sarana untuk mencapainya tak terpenuhi. Karenanya, Allah menjamin pemenuhan kebutuhan setiap hamba-Nya. Dengan manajemen seperti ini seorang hamba akan kuat “etos kerja ukhrawi”-nya mengingat kebutuhannya telah dijamin sepenuhnya oleh Tuhan sebagai “Atasannya”.
Masih dalam rangka Allah membangun “etos kerja ukhrawi” hamba-Nya, dalam banyak ayat dan hadis nabi sering kita temui ajaran yang memberikan motivasi duniawi sebagai imbalan setimpal atas pelaksanaan kewajiban ukhrawi. Shalat dhuha dan bersilaturahmi menjanjikan keluasan dan kecukupan rizki, bertakwa menjanjikan datangnya rizki yang tak diduga-duga. Bahkan Allah juga mengajarkan prinsip “bisnis ekonomis” dalam beribadah; satu kebaikan mendapat sepuluh kali lipat keuntungan, dua rakaat fajar memberikan keuntungan lebih besar dari dunia seisinya, bahkan dalam satu riwayat disebutkan: 99 asmaul husna memberikan surga bagi penghafalnya. Hanya dengan menghafal asmaul husna! Sebuah imbalan yang menggiurkan bukan?!
Inilah manajemen Tuhan. Demi terlaksana setiap perintah-Nya dengan baik, Ia sebarkan banyak imbalan “ekonomis” bagi para kawula-Nya.
Manajemen Tuhan ini bisa saja diterapkan dalam kehidupan structural kita, baik di lembaga social, pendidikan, instansi pemerintahan, swasta dan lain sebagainya. Tercapainya target dan tujuan lembaga, terlaksananya setiap tugas dan kewajiban para bawahan, staf dan karyawan, semuanya akan terwujud manakala seorang pimpinan berusaha dengan baik memenuhi kebutuhan bawahannya, memberikan ketenteraman dan ketenangan dalam setiap kebijakannya, serta menciptakan lingkugan kerja yang sehat bagi setiap orang yang dipimpinnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu