Home » » Terima Kasih, Ibu...

Terima Kasih, Ibu...

Anak muda yang kini genap berusia 26 tahun itu tetap saja menolak kehendak ibunya meski ia tahu sebagai seorang anak seharusnya ia patuh terhadapnya. Ahmad, demikian ia biasa dipanggil, memang sudah bertekad menikahi Ikun, seorang gadis dari kelas sosial berbeda. Ibunya tak merestui dan menentang keras. Ahmad terpaksa melawan karena ada kegelisahan mendalam dalam dirinya. Jika perkawinan hanya memperluas jalur kemiskinan, lalu bagaimana akan terbentuk sebuah generasi yang kuat lahir dan batin?
"Maaf bu, saya tidak bisa memutuskan hubungan saya dengan Ikun," jawab Ahmad, putra tunggal seorang janda kaya raya.
"Pokoknya saya tidak mau punya menantu seperti dia!" bentak Ibu H. Basuki.
Ahmad semakin gelisah. Kepalanya terus menunduk di hadapan ibunya. Meski ia seorang dokter, sebenarnya ia banyak mendapat pendidikan dari pesantren. Pendidikan non-agamanya ia tempuh di sekolah-sekolah umum negeri di pagi hari. Sore hari ia belajar di pesantren dekat rumahnya. Pelajaran tafsir, hadits dan ilmu tasawuf merupakan bidang-bidang yang sangat ia minati. Di waktu senggang, ia suka membaca novel dan mengamati masalah-masalah sosial terutama masalah kemiskinan. Sosok pribadinya merupakan cermin idaman ayahnya yang meninggal ketika ia masih duduk di semester satu fakultas kedokteran di Solo, kota tempat tinggalnya sekarang.
Dalam kegelisahannya, sebenarnya ia ingin berontak. Ia merasa dihadapkan pada kesulitan yang cukup berat. Di satu sisi, sebagai seorang anak ia harus patuh terhadap orang tuanya. Di sisi lain, ia ingin mewujudkan apa yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran. Di dalam hati, ia sering mengatakan, benar manusia hidup membutuhkan harta, tapi harta bukanlah tujuan dari hidup ini.
"Pokoknya Mad, Ibu tidak setuju kalau kamu menikah dengan Ikun yang kere itu. Kau tahu kan, Ikun adiknya banyak sedangkan orang tuanya miskin. Kau sadar tidak, kalau kau menikah dengannya, kau harus ikut memikirkan biaya sekolah adik-adiknya?
"Begitu mendengar ibunya mencaci Ikun, sebenarnya ia ingin lari. Ia merasa malu kenapa ibunya yang sudah naik haji itu masih juga mengeluarkan kata-kata hujatan. Tapi ia sadar, sebagai anaknya ia justru harus mengingatkannya.
"Benar bu, Ikun memang miskin dan punya adik enam orang. Malah ibunya akhir-akhir ini sering sakit-sakitan. Tepatnya sejak ayah Ikun meninggal tiga bulan lalu."
"Nah, kau sendiri tahu ibunya Ikun sering sakit-sakitan. Itu artinya kalau kau jadi menantunya, kau harus ikut membiayai pengobatannya. Lain kalau kau menikah dengan Anita, putri satu-satunya pak Sekwilda yang calon insinyur itu. Coba kau pikir, kalau kau menikah dengan Anita, gengsi keluarga kita akan naik. Kau sendiri bisa semakin kaya. Mad, Ibu sangat khawatir kalau kau menikah dengan Ikun, harta warisan ayahmu dan uang gajimu sendiri akan habis untuk membiayai keluarganya. Kau bisa jatuh miskin."
Ahmad hanya terdiam. Hatinya berkecamuk. Ia kurang mengerti kenapa manusia lebih suka mengembangkan semangat to have dan mengecilkan atau malah mematikan semangat to be - nya. Betul manusia harus memiliki. Tetapi manusia akan sama saja nilainya dengan apa yang ia miliki, atau bahkan lebih rendah itu, jika yang dimilikinya tidak bisa membuatnya semakin takwa dan dekat kepada Allah.
“Bu, untuk apa sih sebenarnya harta dan uang yang kita miliki? Menurut saya bu, harta memang merupakan sarana agar manusia bisa hidup. Tetapi sebenarnya, fungsi harta tidak sesederhana itu. Harta diberikan Allah kepada seluruh hamba-Nya agar dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai sarana beribadah; dan ibadah itu sangat luas agar manusia bisa layak di hadapan-Nya. Jika kita enggan membagi harta yang kita miliki, padahal Allah memerintahkan agar manusia bersedekah, baik di waktu lapang maupun diwaktu sulit, maka layakkah kita di mata Allah?"
"Betul Mad, kita harus bersedekah. Tapi, apa hubungannya antara sedekah dengan kebandelanmu mau menikahi Ikun? Coba Mad, sebagai santri yang banyak mengerti hadits, mestinya kamu pernah dengar hadits Nabi kalau mau cari isteri, pilihlah yang berharta dan bernasab. Coba jawab, apa kriteria semacam itu ada pada diri Ikun?" tanya Ibu H. Basuki dengan mata agak melotot.
Ahmad terdiam agak lama. Ia diam bukannya mencari-cari jawaban. Tetapi ia sangat ragu apakah ibunya bisa menerima jalan pikiran yang hendak ia kemukakan.
"Ayo jawab!" bentak ibunya yang mulai yakin Ahmad tidak mampu lagi menjawab.
"Benar bu, memang saya pernah dengar hadits seperti itu. Tapi…."
"Tapi apa! Tidak sahih maksudmu?!"
"Bukan begitu bu, saya masih ragu apa sebenarnya maksud hadits tersebut. Apakah hadits itu memang benar menjadi dasar dianjurkannya mengawini wanita berharta, ataukah Rasulullah sebenarnya melakukan kritik sosial dalam hal ini. Banyak orang sudah kaya masih memilih pasangannya yang sama-sama kaya. Ini konglomerasi, namanya. Namun, kalau tokh benar Rasulullah menganjurkan supaya memilih yang demikian, maka menurut saya bu, hadits ini lebih ditujukan kepada orang-orang miskin daripada kepada orang-orang kaya. Ini karena menyangkut masalah pemerataan dan kesejahteraan bersama. Rasulullah meberikan contoh untuk ini. Ketika beliau berusia 25 tahun, saat mana beliau masih papa dan tak punya apa-apa kecuali akhlak dan semangat kerja yang tinggi, beliau memutuskan menerima Khadijah yang kaya, bernasab dan memenuhi syarat-syarat lainnya itu sebagai istrinya."
"Jadi, hadits ini tidak berlaku bagi orang yang kaya?"
"Bukan begitu bu, hadits ini tetap berlaku bagi orang kaya. Cuma kalau kita ingat firman Allah dalam Al Quran, "Harta itu jangan sampai hanya beredar diantara orang-orang kaya saja di antara kamu", maka menurut saya bu, untuk orang kaya kata-kata "berharta" akan lebih bermanfaat jika dipahami sebagai "semangat dan kemampuan kerja yang tinggi" sehingga mampu mendatangkan harta. Sedang kata-kata "bernasab tinggi" akan lebih baik jika dipahami sebagai "citra yang baik di mata masyarakat" karena keluhuran budi pekertinya. Memiliki citra baik tidak harus bernasab dan berpangkat tinggi; tidak harus berdarah biru; tidak harus anak pejabat; tidak harus anak kiai."
Tiba-tiba Ahmad terdiam. Ia ragu meneruskan kata-katanya. Ia khawatir ibunya akan tersinggung. Sebenarnya ia ingin mengatakan banyak orang terpandang atau berpangkat, tetapi tidak memiliki citra yang baik di mata masyarakat.
"Mad", seru Ibu H. Basuki setelah terdiam agak lama. "Sekarang kau pilih mana. Memilih Ibu atau Ikun?"
"Saya pilih Ibu dan Ikun," jawab dokter muda yang sering mengaku sebagai santri Kiai Umar.
Baginya, Ibu dan isteri merupakan satu kesatuan yang tak perlu dipertentangkan. Keduanya sama pentingnya dalam hidup ini. Prinsip ini ia pegang teguh sebab ia merasa prihatin setiap kali menyaksikan pasangan suami-istri yang tidak bisa rukun dengan mertua atau orang tua sendiri.
"Tidak bisa! Pilih Ibu atau tinggalkan Ibuuu...!!!"
"Buuu….. jangan begituuu….." rengek Ahmad dengan nada agak meninggi.
"Mad, kau sebagai anak yang Ibu asuh dan sayangi sejak lahir, seharusnya bisa dan mau memahami perasaan Ibu. Tapi seperti itukah balasanmu? Coba kau pikir, apakah pantas, apakah Ibu tidak malu kalau Ibu berbesanan dengan ibunya Ikun yang sakit-sakitan dan gembel itu? Coba renungkan, apakah hal seperti itu tidak akan menurunkan martabat, harga diri dan wibawa kita di mata masyarakat?”
Ahmad menghela napas panjang. Ia bangkit dan mencoba berdiri tetapi segera duduk kembali. Sebenarnya ia ingin berontak. Tapi keburu sadar seperti apapun buruknya orang tua, yang namanya anak harus tetap hormat kepadanya. Lalu dengan tetap sopan, ia mencoba berbicara lagi.
"Bu, kalau kita ingat di dalam Al-Quran dikatakan martabat seseorang ditentukan oleh tingkat ketakwaannya kepada Allah, maka pastilah tidak bisa dibenarkan jika orang miskin dianggap orang hina. Sedang yang kaya dianggap orang bermartabat. Stratifikasi sosial yang didasarkan pada seberapa banyak seseorang memiliki harta itu materialistis. Kita sebagai orang Islam harus tetap berpijak pada Al-Quran. Ketakwaanlah yang menjadi tolok ukur derajat seseorang. Tetapi oleh karena tingkat ketakwaan seseorang hanya Allah yang paling tahu, maka tak seorang pun di muka bumi ini dibenarkan merasa lebih tinggi dari yang lain.”
Ahmad berhenti sejenak. Lalu sambil membenahi posisi duduknya, ia ingin meneruskan pembicaraannya. Ia ingin ibunya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesetaraan antar sesama manusia. Manusia harus dipandang setara agar tidak ada penindasan oleh yang satu atas yang lain. Manusia harus saling menghormati. Kali ini ia ingin mengatakan pada hakekatnya tidak ada bedanya antara keluarganya dengan keluarga Ikun meskipun mereka berbeda dalam status sosial.
“Bu, status sosial yang ada pada kita itu bersifat duniawi dan tidak hakiki. Kita jangan sampai tertipu oleh hal-hal semacam itu."
Ibu H. Basuki tertunduk dan tidak lagi melototi putranya. Kepalanya terasa pusing mengikuti pembicaraan Ahmad. Baru sekali ini janda kaya raya ini terlibat dalam pembicaraan serius dengan putranya.
"Sudahlah Mad, pusing aku mendengarkan kata-katamu. Tak usah kau berlagak seperti seorang sufi yang berkhutbah didepanku. Katakan saja apa sebenarnya yang mendorongmu bertekad mau menikahi Ikun."
"Baik bu, Ikun dan keluarganya itu kan miskin. Ia anak sulung padahal adiknya banyak. Mereka nantinya membutuhkan biaya sekolah yang besar. Darimana biaya sebesar itu akan didapat jika Ikun tetap berprofesi sebagai pelayan toko? Bukankah sekarang tak ada sekolah murah? Bu, Ibu kan tahu kalau Ibunya Ikun sering sakit-sakitan karena shocked dan tekanan ekonomi sepeninggal ayahnya.”
Ahmad sekali lagi menghela nafas panjang. Kepalanya tertunduk. Lalu mencoba tegak lagi. Ia ingin meneruskan pembicaraannya, tapi mulutnya terasa sulit digerakkan. Kedua matanya mulai memerah. Dengan suara tertahan-tahan ia mencoba berbicara lagi.
"Bu, saya tidak tahu apakah Ibu cukup beruntung atau justru sial punya anak seperti saya, anak tunggal tapi tidak bisa membahagiakan hati Ibu. Saya memang tidak sama dengan anak-anak orang kaya kebanyakan. Maafkan saya, bu."
Tak terasa air matanya mulai menitik setetes demi setetes. Tapi ia terus berbicara meski dengan suara lirih.
"Sebagai santri yang mau memahami masalah-masalah sosial keagamaan, saya memandang kemiskinan itu bisa mengancam keimanan seseorang. Ini sesuai dengan hadits: Kaada al faqru an yakuuna kufran. Berbekal dengan hadits ini, profesi saya sebagai dokter, saya anggap sebagai kesempatan untuk meringankan beban orang miskin. Profesi ini tidak akan saya anggap sebagai kesempatan untuk mengeruk uang pasien sebanyak-banyaknya. Apalagi sekarang harga obat kian mencekik leher orang-orang miskin. Maka, pasien miskin akan saya layani dengan tarif khusus. Ini untuk meringankan beban mereka sekaligus mencegahnya dari keputus asaan dan kekufuran.
“Teruskan nak, pembicaraanmu," seru Ibu H. Basuki.
Ahmad meneguk teh yang disodorkan pembantunya sejak tadi. Lalu kembali berbicara, "Baik bu, saya ingin menjelaskan kenapa saya bertekad akan menikahi Ikun. Begini bu, seperti tadi telah saya katakan Ibunya Ikun sering sakit-sakitan, padahal anaknya banyak dan Ikun sendiri bekerja hanya sebagai buruh. Ibu tentu bisa membayangkan betapa beratnya beban Ikun dan keluarganya, sebab bukankah Ibunya Ikun hanya janda pensiunan guru SD? Bu, kalau tiba-tiba Ibu-nya Ikun meninggal karena sakit jantung yang dideritanya, maka apakah kira-kira yang akan terjadi dalam keluarga Ikun? Ikun yang cantik itu bisa-bisa nekad berbuat yang tidak benar karena desakan ekonomi. Sebab bukankah saudara-saudara Ikun, baik yang dari ayah maupun ibunya juga miskin?"
"Bu, iii..jin..kan sa..ya…menikahi Ikun.” Bagai air bah yang ditumpahkan dari langit, Ahmad tak kuasa lagi membendung air matanya. Ia bersimpuh di kaki ibunya. Lalu memeluknya erat-erat.
“Ibu, sejak kecil saya selalu patuh kepada Ibu. Hampir tak ada larangan Ibu yang saya langgar. Tapi untuk yang satu ini saya terpaksa tidak bisa, bu. Maafkan saya, bu. Saya mencintai Ikun. Sungguh saya mencintainya karena saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Suasana malam itu berubah menjadi histeris. Ketiga pembantunya linglung menyaksikan majikan dan putranya saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu.
"Su…su.. dah… lah, nak," kata Ibu H. Basuki tersendat-sendat sambil perlahan-lahan mendorong Ahmad kembali ke tempat duduk semula. "Ibu sekarang bisa memahami jalan pikiranmu dan juga tekadmu. Kapan rencanamu menikahinya?"
"Yah, nanti kita bicarakan bersama, bu," jawab Ahmad yang kini tampak mulai tegar kembali. Ahmad memohon diri hendak berwudlu. Ia hendak bersujud syukur. Di tempat wudlu, ia berucap dalam hati, "Alhamdulillah, atas ijin-Nya aku menang tanpa harus menyakiti Ibuku. Mudah-mudahan jejakku ada yang mengikutinya. Oh Kunti Nurbaiti, namamu begitu indah. Indah sekali. Sebentar lagi kita menikah. Ini tekad kita bukan? Tekad dua sejoli yang mau tahu bagaimana hidup ini sebaiknya dan bagaimana pula memperlakukan harta kekayaan seperti yang diajarkan oleh Al-Quran dan Hadits.
Tiga bulan berikutnya tersebarlah berita Ahmad Roychan yang juga ganteng itu, akan segera menikah dengan Kunti Nurbaiti yang dikenal luas di kampungnya sebagai gadis yang memiliki etos kerja dan akhlak yang baik. Ramailah orang membicarakan sesuatu yang oleh masyarakat dianggap tak wajar itu. Diantara mereka ada yang bernama Arif. Baginya, pernikahan Ahmad dan Ikun mendorongnya merenung dalam-dalam. Ia merenung kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah karena Ahmad merasa kasihan terhadap keluarga Ikun semata, ataukah lebih dari itu. Lama sekali ia merenung sampai akhirnya ia teringat apa yang pernah dilontarkan Ahmad ketika sama-sama masih kuliah dulu, "Orang miskin tidak seharusnya dikawinkan dengan sesama orang miskin hanya karena persoalan sekufu."

Sebuah Cerpen yang ditulis pada Juli 1989 oleh seorang santri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, bernama Muhammad Ishom. Pernah dimuat di WARTA NU Jakarta, No. 24/Th.IV/Pebruari 1990 dan dijadikan bahan penelitian oleh seorang mahasiswa Fak. Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Penulis kini menjabat sebagai Pembantu Rektor II Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta dan aktif sebagai pemerhati dan pegiat sosial.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu