Home » » Harga Pasaran

Harga Pasaran

Saat saya menjabat sebagai Auditor saya pernah mengalami sebuah kasus yang membuat saya tak habis mengerti.

Satu saat salah seorang keluarga saya hendak menikahkan anaknya. Karena tahu saya bekerja di Kementerian Agama maka keluarga saya itu menitipkan urusan pendaftaran pernikahan itu kepada saya agar diurus ke Kantor Urusan Agama.

Saya pun membawa berkas-berkas yang diperlukan ke KUA setempat. Mestinya saya ingin bertemu langsung dengan kepala KUA-nya. Namun karena sedang tak ada di tempat maka saya menemui seorang ibu yang menjadi staf di sana. Kepadanya saya tunjukkan berkas-berkas itu. ibu itu mengatakan bila berkas itu sudah cukup memenuhi persyaratan pernikahan. Lalau ia menanyaiku, “Bapak seorang PNS? Tugasnya di mana?” Apa adanya aku menjawab, “Saya Auditor di Kementerian Agama.”

Selesai berbincang dengan ibu itu seorang pegawai laki-laki memasuki ruangan. Ia adalah seorang PPN atau Pegawai Pencatat Nikah atau Penghulu. Maka aku pun menghadapnya. Kuberikan berkasku kepadanya. Diperiksa, dan dikatakan sudah lengkap semuanya.

“Maaf, Pak. Untuk biaya nikahnya berapa ya?” tanyaku kemudian.

“Begini, Pak,” katanya, “coba Bapak tanya saja ke masyarakat sekitar di mana pernikahan ini mau dilaksanakan. Tanya berapa harga pasaran yang biasa mereka bayar ketika menikahkan anak-anak mereka. Nah, seberapa jawab mereka ya itulah biaya yang harus Bapak bayar.”

“Maksud Bapak?” tanyaku ingin lebih jelas.

“Ya maksudnya Bapak bayarnya disamakan dengan kebiasaan masyarakat di daerah itu membayar,” katanya lagi menegaskan. “Kalau mereka bilang lima ratus ribu yang Bapak bayar segitu, kalau kata mereka sejuta ya Bapak bayar sejuta.”

“Oh, begitu ya, Pak?” tanyaku terheran. Lebih lanjut aku bertanya, “Lah itu di depan kantor ada tulisan BIAYA NIKAH Rp. 30.000, Pak?”

“Ah, itu kan cuma tulisan,” jawabnya enteng.

Aku pun berpamit pulang. Sempat kulihat ibu yang tadi berbincang denganku mukanya memerah. Matanya terus melirik pada teman sekantornya itu. Sampai di luar kantor aku menyempatkan berhenti di balik jendela. Aku yakin akan ada perbincangan menarik antara dua pegawai itu.

Dugaanku tak salah. Dari balik jendela itu aku mendengar pembicaraan.

“Tamat riwayat kita, Pak!”

“Tamat bagaimana, Bu?”

“Kamu itu lho. Kalau ngomong jangan sembarangan!”

“Sembarangan bagaimana?”

“Orang ditanya biaya nikah kok malah suruh cari harga pasaran. Malah bilang tulisan di depan itu cuma tulisan saja. Kamu tahu ngga, siapa orang yang barusan datang tadi?”

“Memangnya siapa?”

“Dia itu Auditor Kementerian Agama!”

“Hah! Auditor?? Waduh, tamat deh aku!”

Dari balik jendela aku menahan tawa, menggeleng-gelengkan kepala.


(Syihabudin Latief, Kepala Biro Keuangan dan BMN Kemenag RI, dalam Orientasi Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak – Nikah Rujuk, di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, 15 – 16 September 2013)

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu