Home » » Dibalik Asas Tunggal Pancasila

Dibalik Asas Tunggal Pancasila


Di awal era 80-an Soeharto—presiden negeri ini saat itu—menghendaki Pancasila sebagai asas tunggal bagi semua organisasi yang hidup di negara Indonesia. Kebijakan ini langsung mendapat sambutan yang cukup panas dari masyarakat khususnya umat Islam. Mereka yang melandaskan kegiatan organisasinya pada “asas Islam” terang-terangan menentang kebijakan sang penguasa ini. Pegitu panasnya gejolak yang terjadi hingga hampir saja terjadi konflik horisontal di antara masyarakat Indonesia.

Melihat kenyataan  KH. Ahmad Shidiq sebagai Rais ‘Am PBNU  merasa prihatin dan harus sesegera mungkin mengambil sikap. Maka diadakanlah Konferensi Besar Ulama NU di Asembagus, Situbundo, Jawa Timur. Ratusan ulama se-Indonesia diundang pada acara tersebut. Tak sedikit dari mereka yang menolak asas tunggal Pancasila dan berancang-ancang untuk membuat kesepakatan penolakan pada acara tersebut. Bahkan beberapa ulama dari Madura diketahui menyelipkan celurit di balik pakaian mereka. Dengan entengnya mereka berkata, “Bila sampai Kyai Sidiq menerima asas tunggal Pancasila akan aku penggal kepalanya.”

Suasana memang begitu mencekam. Tak sembarang orang diijinkan masuk ke arena. Para wartawan tak diperbolehkan meliput. Aku sendiri semestinya tak menjadi bagian dari mereka yang akan membahas masalah besar bangsa ini. Namun aku beruntung, aku diperintah oleh Kyai Ali Maksum, Krapyak, Yogya untuk membawakan tas beliau. Artinya itu tiket bagiku untuk ikut masuk ruangan acara penting itu.

Ketika semua telah masuk dalam ruangan Kyai Sidiq memulai pidatonya. Sebelumnya beliau menyampaikan pembukaan dengan meminta kepada semua hadirin, agar jangan ada satu orang pun yang menyela ucapannya sampai benar-benar selesai. “Biarkan saya menyampaikan semuanya sampai benar-benar selesai. Setelah itu silahkan bila mau berdebat tentang Pancasila,” katanya. Para hadirin menyepakati permintaan Kyai Sidik.

Maka mulailah beliau menyampaikan pengetahuan dan pandangannya. Beliau sampaikan mulai dari sejarah bagimana Pancasila dibuat sebagai dasar negara, beserta intrik politik yang terjadi, perundingan yang cukup alot dan panas khususnya pada sila pertama, hingga betapa begitu kerasnya para kyai pada saat itu mencurahkan segenap tenaga dan pemikirannya agar dapat mencapai hasil final yang dapat diterima secara legawa oleh semua lapisan dan kalangan demi keutuhan dan bersatunya bangsa ini.

Beliau jelaskan juga makna dan filosofi yang terkandung dalam setiap sila Pancasila, hubungannya dengan ajaran Islam, lengkap dengan ayat-ayat yang berkenaan dengan itu. Digambarkan juga bagaimana sejarah Rasulullah membentuk sebuah negeri madani dari sebuah bangsa yang jauh dari peradaban. Tentang bagaimana Piagam Madinah dihasilkan setelah sebelumnya terjadi tarik ulur kepentingan.

LUAR BIASA! Semua itu disampaikan oleh Kyai Sidiq dengan begitu runtut, gamblang, sangat jelas dan sangat mudah dipahami. Semua yang hadir terpukau dengan penyampaian dan penjelasan beliau. Di hadapan mereka Kyai Sidik bukan saja memberikan penjelasan. Lebih dari itu beliau telah menghadirkan sejarah yang telah berlalu kembali terulang di ruangan tersebut. Beliau seakan membawa semua yang hadir ke masa di mana sejarah itu terjadi.

Semua terdiam. Seisi ruangan hening. Begitu hening. Bahkan, kalau saja sebuah jarum terjatuh di lantai ruangan itu pastilah terdengar suaranya.

Setelah Kyai Sidik menyampaikan semuanya beliau mempersilakan kepada hadirin untuk menyampaikan pendapatnya. Masih hening. Tak satupun yang mengangkat tangan untuk bicara. Semua terdiam. Yang terjadi kemudian adalah semua ualama di dalam ruangan itu berdiri, bertakbir. Gemuruh takbir membahana mengisi seluruh ruangan. Sementara para ulama dari Madura yang sebelum acara mengancam akan memenggal kepala Kyai Sidik segera berhamburan ke atas panggung, menyalami dan memeluk Kyai Sidik, menyampaikan maaf dan terima kasih.

Di ruangan itu telah terjadi kesepakatan besar untuk persatuan dan keutuhan bangsa besar ini. NU menyatakan diri menerima Pancasila sebagai asas tunggal, dan sebagai organisasi pertama yang bisa menerimanya dengan dasar pengetahuan luas tentang keagamaan dan kebangsaan. Menerimanya demi kemaslahatan bangsa besar yang hampir saja terpecah. Menerimanya sebagai bentuk bagian dari anak bangsa yang bertanggungjawab atas kemaslahatan tanah airnya. Dan semua itu dilakukan menharap ridlo Allah, tanpa harus diketahui penguasa dan masyarakat. Tanpa harus digembor-gemborkan di media massa. Tanpa harus membusungkan dan menepuk dada.

Diceritakan oleh KH. Abdul Rozaq Shofawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan Solo,--sebagai saksi mata—kepada penulis saat sowan ke rumahnya, 25 Juni 2012.


0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu