Home » » Jimat

Jimat

Akhirnya aku berangkat juga ke Jakarta. Bersamaku kubawa segudang harapan. Bekerja dengan penghasilan yang cukup banyak, menutup semua kebutuhan keluargaku di kampung, menabung untuk masa depan, dan yang jelas hidup layak sebagaimana teman-temanku sedesa yang lebih dulu telah mengenyam itu semua.
Sekarang gilirinkan. Ya, sekarang giliranku untuk mendapat itu semua. Aku sudah cukup bersabar dan jenuh hidup dalam kemiskinan. Silakan saja orang-orang tua berbicara tentang kesabaran, keprihatinan, ketabahan dan seabrek nasehat lainnya. Kata mereka di balik kemiskinan banyak hikmah yang didapatkan. Bah! Hanya satu keinginanku. Aku ingin kaya!
Bukankah dengan kekayaan kita bisa hidup mandiri, mencukupi setiap kebutuhan tanpa harus mengemis pada orang lain, merepotkan saudara dan tetangga? Saat sakit orang lain tak perlu repot-repot mencarikan bantuan orang se-RT untuk mengobati kita. Anak-anak kita tak perlu dibentak-bentak gurunya karena SPP yang berbulan-bulan tak kunjung dibayarkan. Kita bisa tidur nyenyak tanpa diganggu ketukan keras pintu rumah oleh para penagih hutang. Ah, enaknya jadi orang kaya.
Bukankah dengan jadi kaya kita bisa berbuat baik pada sesama? Kita bisa memberi makan mereka yang kelaparan, membiayai pengobatan mereka yang sakit, menyekolahkan anak-anak mereka yang tak punya uang, memberi modal untuk bekerja sehingga mereka hidup mandiri tak menggantungkan pada orang. Ah, betapa banyak pahala orang kaya.
Maka ketika emak bersikeras melarangku bekerja di Jakarta mengikuti jejak para tetangga yang telah sukses, aku bersikeras untuk tetap berangkat.
“Aku ingin memperbaiki kehidupan keluarga, Mak?”
“Kehidupan yang kayak apa yang kamu inginkan, Dul?”
“’Hidup yang layak, Mak. Seperti para tetangga kita.”
“Apa kamu merasa hidup kita sekarang ini tidak layak? Setiap hari emak, kamu, dan  dua adikmu makan sehari tiga kali meski apa adanya. Kurang apa lagi, Dul?”
“Mak, hidup layak itu tidak hanya sekedar bisa makan sehari tiga kali. Dul ingin kita seperti mereka. Punya rumah yang kuat, sepeda motor, bisa bayar SPP sekolah adik-adik tepat waktu, kalau sakit bisa segera berobat. Pokoknya Dul ingin kaya seperti mereka, Mak. Setelah bapak meninggal, sebagai anak laki-laki pertama Dul kan yang mesti cari uang. Dul ingin kehidupan kita berubah.”
Emak menghela napas, lalu diam. Beberapa saat kami tak berbicara.
“Jadi kamu tetep mau buka Warteg di Jakarta seperti mereka?”
“Iya, Mak. Dul yakin mau berangkat ke Jakarta. Dul sudah bilang ke Mas Karto. Dia mau membantu mengajari Dul jualan nasi. Kebetulan dia punya satu warung di Jatinegara yang sudah ngga dipakai lagi.”
“Ya sudah, terserah kamu lah.” Akhirnya emak mengijinkan aku pergi, meski aku tahu pemberian ijinnya dengan berat hati. Mungkin ia sudah kehabisan kata untuk melarangku.  “Hati-hati di sana, Dul. Nanti biar emak sama adik-adikmu yang meneruskan jualan gorengan di pasar.”
***
Seminggu pertama daganganku selalu habis sebelum maghrib. Aku sangat bahagia, aku merasa cita-citaku akan segera terwujud.  Meski untuk itu aku merasa sangat kepayahan.
Kerja di Jakarta ternyata harus ekstra keras. Setiap malam aku harus memulai pekerjaanku memasak makanan yang akan kujual  esok hari. Pagi hari tepat setelah adzan subuh warung sudah harus dibuka.  Lalu aku mulai melayani pembeli sampai sore. Yang paling repot adalah saat waktu makan tiba. Inilah saat-saat melelahkan. Banyak pelanggan yang datang untuk mengisi perut, terkadang sampai mereka harus sabar antri di depan warung menunggu ada tempat duduk kosong.
Aku merasa bahagia, sangat bahagia. Baru buka saja warungku langsung  diserbu pembeli. Aku merasa cita-citaku akan dengan mudah segera kuraih. Sebuah cita-cita yang tak mungkin kuraih hanya dengan jualan gorengan di pasar setiap malam habis isya. Meskipun dengan jujur kuakui, di balik kebahagiaanku itu ada perasaan tidak  enak di hatiku. Saat warungku sedang penuh-penuhnya, terutama saat makan siang, seringkali aku kehilangan waktu shalatku. Dulu waktu di rumah, setiap malam aku selalu bangun untuk shalat tahajud. Tapi sekarang aku bangun malam untuk memasak. Tak ada lagi tahajud, tak ada lagi dzikir di bibirku.
Tapi pada hari-hari berikutnya suasana mulai berubah. Pengunjung warungku yang biasanya terus mengalir setiap waktu, kini mulai datang satu dua orang dalam selang waktu yang agak lama. Di saat jam makan tak ada lagi pembeli yang harus antri di depan. Warungku yang biasa sudah tutup jam lima sore, kini harus terus kutunggui hingga jam sepuluh malam. Itupun masakan belum tentu habis.
Tapi aku tetap semangat. Aku sadar. Aku bukan pegawai negeri yang rajin atau malas tetap mendapat bayaran bulanan yang sama besarnya. Pun aku bukan pegawai swasta kantoran yang setiap saat bisa menghitung berapa gaji yang kelak akan diterima di akhir bulan. Aku hanyalah seorang wiraswasta yang harus siap mengalami pasang surut usaha. Maka aku menganggap waiar dengan kondisi warungku akhir-akhir ini.
Tapi ketika satu dua bulan berlalu dan warungku bahkan semakin sepi, aku mulai jenuh. Aku bertanya-tanya mengapa bisa terjadi. Warungku hanya ramai di hari-hari awal saja, selanjutnya berubah sangat drastis. Masakan hari ini bisa habis besok lusa atau besoknya lagi.
Maka kuadukan masalah ini pada Mas Karto.  Ia tersenyum.
“Dul, ada satu syarat yang belum kamu punya.” Begitu Mas Karto mengatakan. Aku tak mengerti dengan ucapannya.
“Syarat, Mas?”
Mas Karto tak menjawab. Ia malah pergi menuju dapur rumahnya. Lalu kembali lagi dengan membawa sebuah benda.
“Ini  syaratnya, Dul. Kamu harus punya ini biar warungmu selalu ramai.”
Ia menyodorkan benda itu kepadaku. Aku terperanjat melihatnya. Pikirku benda itu mirip—atau malah memang—sebuah centong nasi. Namun tidak layaknya centong, ini berukuran kecil dan terbuat dari emas.
“Centong, Mas Karto?”
“Ya. Kau harus punya centong emas ini.”
Aku semakin tak mengerti.
“Dul. Benda ini yang membuat warung-warung warga kampung Padasugih selalu kebanjiran pembeli. Benda ini yang menjadikan mereka kaya. Benda ini yang menjadikan desa kita menjadi desa paling kaya dibanding desa-desa lainnya di kota kita. Kamu tahu kan, desa kita dipuji-puji Walikota karena memberikan sumbangan yang paling banyak bagi kas daerah. Benda ini telah membuat desa Padasugih berbeda dengan desa lainnya. Tanahnya tidak ditumbuhi padi, tapi rumah-rumah gedong yang mewah. Jalannya halus beraspal hotmik, bukan tanah becek berlumpur. Yang melintasi jalanannya bukan kerbau-kerbau kotor, tapi sepeda motor keluaran terbaru.”
“Jimat, Mas? Warga kita memakai jimat ini untuk berjualan?” Aku terperangah.
“Jaman sekarang susah cari uang banyak, Dul. Tidak semua sih memakainya. Ada beberapa yang tak mau pakai, Kang Ramlan salah satunya. Tapi ingat, kesuksesannya bukan tiba-tiba seperti mereka yang pakai. Warung Kang Ramlan bisa tetap laris karena sudah puluhan tahun dirintis orang tuanya. Kang Ramlan hanya meneruskan saja.”
“Bukannya ini dilarang agama, Mas?”
Mas Karto tersenyum. Lalu menghela nafasnya kuat-kuat.
“Sulit, Dul memegang agama kuat-kuat di jaman sekarang. Lagi pula, bukannya masjid megah di desa kita berdiri dari hasil patungan para penjual nasi di Jakarta, dan kebanyakan mereka memakai jimat ini? Jadi impaslah. Memakai jimat centong emas ini haram, tapi hasilnya untuk kepentingan agama juga. Impas kan?”
Aku tak lagi bicara. Hanya hati dan pikiranku  saja yang kebingungan. Akankah aku mengikuti jejak mereka? Cita-citaku harus kuraih, tapi dengan cara seperti itu? Aku berada di persimpangan. Ajaran suci yang ditanam orang tuaku sejak kecil menemui ujian.
***
Besok malam selepas isya aku mulai lagi berjualan gorengan di pasar. Kurasa inilah jalan yang terbaik bagiku untuk menghidupi keluarga, setidaknya untuk sementara waktu.
“Dul, besok kau bawa ini.”
Emak menyodorkan sebuah benda kecil padaku. Aku menerimanya. Benda persegi empat seukuran kotak korek api terbuat dari kain putih. Aku merabanya. Di dalamnya seperti ada sesuatu yang dibungkus kain putih itu dan dijahit tangan di sisi-sisinya. Beberapa saat aku terdiam sambil memperhatikan benda itu. Sepintas aku teringat Mas Karto saat memperlihatkan jimat centong emasnya.
“Jangan khawatir, Dul. Emak jamin itu bukan sesuatu yang dilarang agama. Taruh itu di dompetmu. Tak usah kau buka isinya.” Emak berkata begitu sambil tersenyum. Sepertinya ia tahu keraguan dan kecurigaanku pada benda itu.
“Baik lah, Mak.” Aku menurut saja. Meski kuakui hatiku masih bertanya-tanya.
Maka esok malamnya aku jalani kembali usahaku itu. Alhamdulillah, malam pertama semua habis. Hari-hari berikutnya tak jauh berbeda, daganganku selalu ludes. Bahkan seringkali ada pembeli yang tak kebagian, padahal baru jam sembilan malam. Tak jarang pula aku menerima pesanan  dalam jumlah besar.
Aku bersyukur, meski keuntungan yang kudapat tak begitu besar, apalagi dibanding keuntungan para penjual nasi di Jakarta, tapi daganganku selalu habis setiap malam. Bahkan pernah kucoba menambahi  lebih banyak, habis juga. Sampai pada suatu malam, saat hujan turun lebat, aku hampir berputus asa. Sudah jam sebelas malam daganganku masih separo lebih  belum terjual. Tapi Allah Maha Kaya dan Memperkaya. Menjelang jam dua belas malam, sesaat setelah hujan reda, tiga orang bergantian memborong habis daganganku.
Aku menyangka sekaligus berharap, mungkin inilah saatnya Allah membuka lebar pintu rejeki-Nya bagiku, juga keluargaku.  Tiba-tiba aku teringat benda kecil pemberian emak dulu. Kuambil dari dalam dompet. Aku pegang dan mengamatinya. Apa sebenarnya isi di balik kain putih ini? Bila ini yang menyebabkan daganganku laris, bukankah berarti ini juga jimat sebagaimana yang dipakai Mas Karto? Bila bukan karena benda ini, lalu untuk apa sebenarnya emak memberiku?
Aku sangat penasaran. Ingin aku membuka jahitan kain putihnya lalu melihat isinya. Tapi aku teringat pesan emak untuk tak membukanya. Maka kuamat-amati saja benda itu. Semakin lama penasaranku semakin besar. Maaf, Mak. Dul sangat ingin tahu isi benda ini.
Kuambil sebuah gunting kecil, lalu kulepas jahitan tangan di kain putih itu. Ternyata sesuai ukurannya kain itu memang membungkus sebuah kotak korek api. Aku buka kotak itu. Kulihat sebuah kertas berlipat ada di dalamnya. Kukeluarkan, kubuka lipatannya, lalu kulihat isi sesungguhnya benda kecil itu.
Tanganku sedikit bergetar. Mataku berlinang. Pipiku membasah. Dadaku berguncang. Kugigit bibir bawahku untuk menahan perasan yang tiba-tiba datang menyeruak di hatiku. Mataku tak lepas dari kertas itu.
Astaghfirrullah, subhanallah. Bibirku berucap lirih, terus beristighfar dan bertasbih. Aku merasa selama ini telah mengabaikan nasehat emak. Kusadari, kegagalanku mencari rejeki di ibu kota bukan karena tak ada jimat centong emas itu. Kegagalanku kala itu adalah karena emak tak memberikan jimat yang kini ada di tanganku. Sebuah jimat yang setiap orang tak perlu repot mengeluarkan banyak uang untuk memilikinya. Jimat yang siapapun tak perlu bersusah payah jauh-jauh mendatangi seorang dukun untuk mendapatkannya.
Sebuah jimat sederhana yang dibuat seorang emak dengan ketulusan hatinya. Kesekian kalinya mataku membaca deretan kalimat di kertas itu:
Ya Allah, Engkau jadikan surga-Mu di bawah telapak kaki ibu
Kini, kutitipkan anakku kepada-Mu
Untuk Kau rahmati, untuk Kau berkahi

                                                                                                                 Tegal, Rabi’ul Awal 1426 H

(Ide cerita ini penulis dapatkan dari sebuah buku terbitan CV. Aneka Ilmu, Solo, bila tidak keliru berjudul "Kastubi", yang juga berupa cerita pendek. Cerpen ini ditulis dalam rangka latihan menulis dengan konsep semi copy the master)

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu