Home » » Kotoran Itu Rabuk

Kotoran Itu Rabuk

Santri itu kini menjadi pengasuh pesantren di kampungnya. Ia masih belia, baru 21 tahun. Orang-orang memanggilnya Mas Kiai. Sepulang dari belajar agama di berbagai pesantren, ia ditugaskan untuk memimpin pesantren yang didirikan bapaknya di Solo.
Pesantren yang ia pimpin ini masih kecil. Hanya terdiri dari sebuah musholla dengan beberapa bilik santri yang masih sangat sederhana. Pendidikan yang dikelola saat itu baru sekedar pengajian Al-Qur'an dan tasawuf.
Meski pesantrennya masih kecil, namun kala itu bukanlah hal mudah mengasuh pesantren. Di samping perang dengan tentara Jepang masih berlangsung, kiai muda itu juga menghadapi masyarakat sekitarnya yang sebagian besar berpaham komunis.
Kondisi ini tidak menyurutkan langkah sang kiai dalam berdakwah menebarkan ajaran Islam. Ia tetap bersemangat meskipun ia kerap mendapat hambatan dari masyarakatnya sendiri. Untuk menghadapi itu semua kiai muda itu melakukan dakwahnya dengan pendekatan akhlak, pergaulan yang baik dengan masyarakat sekitar. Dengan pendekatan ini kelak kiai muda yang bernama Ahmad Umar ini dikenal banyak orang sebagai tokoh yang sangat santun, yang nge-wong-ke wong, memanusiakan manusia. Dengan pendekatan ini pula yang kelak membawa pesantren yang dipimpinnya menjadi pesantren besar di tengah keramaian Kota Bengawan.
Salah satu bentuk tantangan yang dihadapi kala itu adalah sikap masyarakat yang menolak adanya pesantren di kampung mereka. Kala itu setiap subuh tiba para santri mendapati kotoran manusia berserakan di tembok dan depan pintu rumah sang kiai. Pada awalnya para santri bisa menahan diri untuk bersabar. Namun karena kejadian ini terjadi berkali-kali para santri mulai gerah. Mereka tidak bisa menerima bila kiai mereka mendapatkan perlakuan buruk seperti itu.
Diam-diam mereka mencari tahu siapa yang selalu membuang kotoran di depan pintu rumah sang kiai. Saat diketahui pelakunya mereka meminta ijin pada kiai untuk memberi "pelajaran" pada pelaku itu. Melihat semangat santrinya untuk membela kehormatan kiainya, kiai muda itu tak larut terbawa emosi. Dengan bijak ia mengingatkan santri-santrinya untuk bersabar.
"Saya sudah menghadap dan mengadukan pada guru saya tentang hal ini," kata kiai muda itu. "Beliau meminta kita untuk bersabar. Beliau mengatakan bahwa kotoran yang dibuang di pesantren kita itu pertanda baik. Kotoran itu adalah rabuk yang baik. Dengan rabuk ini satu saat nanti pesantren ini akan menjadi pesantren besar yang dituju banyak orang untuk menimba ilmu agama."
Para santri terdiam. Mereka megurungkan niatnya untuk memberi "pelajaran" pada orang kampung. Mereka patuh pada apa yang dinasehatkan kiai. Maka mereka jalani saja kehidupan dan proses belajar mengajar di pesantren, apapun hambatan dan rintangannya. Mereka menimba sebanyak-banyak ilmu agama dari kiai muda itu. Hingga mereka menjadi alumni-alumni awal dari pesantren kecil yang dipimpin oleh kiai kecil.

Setengah abad lebih telah berlalu. Santri-santri itu, yang dulu meminta ijin kiai untuk memberi "pelajaran" bagi orang yang telah menzalimi pesantren, kini telah menjadi "orang" di daerah masing-masing. Saat datang kembali ke pesantren mereka melihat kebenaran ucapan sang guru kala itu. Bahwa kotoran itu adalah rabuk yang baik. Pesantren itu kini telah menjadi besar, dibangun dengan kesabaran para kiai, ustadz, dan santrinya yang dengan penuh keikhlasan mengabdi bertafaqquh fiddin.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu