Home » » Mbah Ngis

Mbah Ngis

Pesantren Mangkuyudan, Solo, tahun 1989, suatu malam.

Semua lampu masjid di tengah-tengah komplek pesantren itu, baik di bagian dalam, tengah serambi, maupun beberapa buah di sisi kanan dan kirinya, telah dimatikan. Juga ruang kelas yang berbaris memanjang di sisi utara dan selatan masjid itu telah digelapkan. Bila demikian siapapun tahu kalau malam sudah pukul sepuluh. Siapapun tahu bila jam belajar telah usai.
 Seperti sudah menjadi peraturan tak tertulis, bila pukul sepuluh malam tiba maka semua lampu di masjid dan ruangan kelas, juga sebagian kamar santri, harus dimatikan. Ini adalah saat mereka mengakhiri aktifitas dan rutinitas harian di pesantren Mangkuyudan yang semenjak subuh hingga malam hari hanya belajar belajar dan belajar. Ini adalah saat istirahat panjang mereka sampai menjelang subuh nanti pengasuh dan pengurus pesantren membangunkan.
Namun tak demikian dengan Kang Sodrun dan beberapa temannya. Setelah merampungkan belajar malamnya ia dan beberapa temannya tak langsung menuju kamar untuk menaruh buku. Yang mereka tuju justru ruang kelas yang satu-satunya berada di samping utara masjid. Di sebelah utara ruang kelas itu ada gang sempit yang memisahkannya dengan dapur santri perempuan. Untuk menuju ke dapur itu ada satu pintu keluar di sisi utara ruang kelas tersebut. Sebagaimana kelas-kelas yang lain, ruang kelas itu juga telah dimatikan lampunya.
Belum lama Kang Sodrun ada dalam ruangan itu. Beberapa santri lain menyusul masuk. Kini tak kurang dari sepuluh santri bersama Kang Sodrun dalam ruangan yang setiap pagi hingga sore dipakai untuk kegiatan belajar mengajar siswa tsanawiyah itu.
Pada awalnya mereka mengobrol biasa saja. Namun lama kelamaan mereka seperti menahan kesabaran. Jelas ada yang ditunggu-tunggu. Seorang santri asal Sumatera bangkit dari duduknya, mendekati pintu sisi utara dan membukanya. Lalu dengan sedikit keras ia bersuara, “Lapar... lapar...”. Usai bicara begitu ia langsung berlari menuju teman-temannya. Santri-santri yang lain cekikikan melihat apa yang dilakukan santri Sumatera ini.
Tak lebih dari lima menit kemudian dari pintu sisi utara muncul seorang perempuan yang lebih pantas dipanggil Mbah. Di tangannya tergenggam tas plastik hitam ukuran sedang. Melihat bagian bawah plastik yang menggantung kencang jelas bisa ditebak bila isinya cukup banyak.
Perempuan tua itu memasuki ruang kelas mendekati kumpulan Kang Sodrun dan teman-temannya. Lalu kepada para santri itu tas plastik di tangannya diberikan. “Ini Kang, dibagi ya?” katanya, lalu kembali ke arah pintu sisi utara dan keluar. Oleh Kang Sodrun tas plastik itu dibuka dan dikeluarkan isinya. Masing-masing mereka segera mengambil satu atau dua buah, tak berebutan. Di kelas itu pula mereka memakan apa yang didapatkan malam itu.
Apa yang mereka lakukan malam itu bukanlah yang pertama kali terjadi, juga bukan sekali itu saja. Setiap pukul sepuluh malam, setelah semua lampu dimatikan, ada saja sekelompok santri putra di pesantren itu yang masuk ruang kelas tersebut. Siapapun yang melihatnya pasti tahu bahwa mereka sedang menunggu seorang perempuan tua membagikan sisa gorengan jualannya; tempe, tahu, bakwan, dan juga gembus goreng, lengkap dengan cabe rawitnya.
Tak banyak—atau bahkan tak satupun—dari santri putra yang tahu nama lengkap perempuan tua itu. Mereka hanya tahu nama panggilannya saja; Mbah Ngis. Ia adalah adik kandung Kyai Umar, sang pendiri pesantren. Tinggal bersama suami dan beberapa putra putrinya di sebuah rumah kecil di sudut komplek pesantren. Setiap malam Mbah Ngis melayani santri putri dengan berjualan di dapur asrama putri yang terletak berdampingan sebelah utara ruang kelas itu. Dagangannya makanan-makanan kecil seperti gorengan, mie bungkus, dan lainnya.
Bila jam belajar telah usai dan malam telah larut sedangkan dagangannya masih belum habis terjual Mbah Ngis tidak membawa pulang sisa dagangannya. Ia lebih suka membungkus dan memberikannya kepada para santri. Awalnya yang menerima makanan gratis itu adalah mereka yang belajar malam di ruang kelas tersebut hingga melebihi pukul sepuluh. Lambat laun karena hal ini hampir setiap malam selalu dilakukan oleh Mbah Ngis maka banyak santri yang dengan sengaja memasuki ruang kelas itu demi mendapatkan makanan gratis untuk mengganjal perut yang lapar setelah seharian berkutat dengan buku pelajaran dan kitab-kitab tak berharakat. Bila telah menunggu lama namun Mbah Ngis tak juga memasuki ruang kelas mereka akan sedikit berteriak, “Lapar, Mbah.... lapar...” Dan tak lama kemudian bisa dipastikan Mbah Ngis akan segera memasuki ruang kelas dengan tas plastik hitam di tangannya.
Kang Sodrun adalah salah satu santri yang tak jarang bergabung dengan mereka yang mengharap makanan gratis itu. Sama seperti teman santri lainnya, hal ini ia lakukan bila uang saku sudah sangat menipis atau bahkan habis sama sekali. Usai belajar malam seringkali perut terasa lapar. Bila uang ada di tangan ia akan keluar komplek untuk membeli makanan. Namun bila tak ada uang di tangan maka ia akan segera bergabung dengan yang lain di ruang kelas itu.
***

Rumah Kang Sodrun, Tegal, tahun 2011, suatu malam.

Jam di hand phone Kang Sodrun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia masih belum beranjak tidur. Baginya jam segini masih terlalu sore untuk beristirahat panjang, meski istri dan kedua anaknya telah terlelap sejak satu jam yang lalu.
Ia duduk di ruang kerjanya, sebuah ruangan kecil yang menjadi satu dengan ruang tamu sekaligus tempat membaca anak-anak kampung yang berkegiatan di rumahnya. Di tangannya terpegang sebuah buku putih tebal berbahasa Arab berjudul Raudlah al-Muttaqin Syarh Riyadl al-Shalihin. Sebuah buku karya Syekh Abdul Qadir Irfan bin Salim al-‘Asysyahassunah al-Dimasyqi yang menjelaskan hadis-hadis Rasulullah yang dimuat dalam buku Riyadl al-Shalihin karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi.
Acak tangan Kang Sodrun membolak-balik halaman demi halaman buku jilid 1 itu. beberapa hadis sempat ia baca dengan penjelasannya. Hingga tangan dan matanya terhenti pada sebuah hadis yang menuturkan sebuah kisah. “Pada zaman Rasulullah ada dua orang bersaudara. Seorang di antara keduanya selalu menghadiri majelis Rasulullah untuk belajar dan seorang lagi selalu bekerja mencari penghasilan untuk membiayai hidupnya dan saudaranya. Seorang yang selalu bekerja mengadu pada Rasulullah perihal saudaranya yang tak bekerja dan selalu datang belajar di majelis Rasul. Atas aduan ini Rasulullah bersabda, “bisa jadi engkau diberi rejeki karena (menafkahi) saudaramu (yang sedang belajar) itu.”
Mata Kang Sodrun terus membaca ke bagian penjelasan hadis itu. hingga dibacanya sebuah hadis lagi yang menyatakan la’allakum turzaquuna—aw tunsharuuna—bi dlu’afaaikum, bisa jadi kalian diberi rejeki—atau diberi pertolongan—karena (keberkahan) menolong orang-orang lemah di antar kalian.
Kang Sodrun tertegun. Matanya mengulang untuk kedua dan ketiga kali membaca hadis-hadis itu, juga dengan penjelasannya. Cukup lama ia terdiam. Seperti ada yang hendak ia cari oleh pikirannya. Lalu terlihat ia tersenyum kecil, juga kepalanya mengangguk-angguk ringan.
Ia teringat apa yang sering ia lakukan dua puluh tahun lalu. Ia teringat kelas samping utara masjid itu. Dan yang pasti ia begitu hafal wajah sepuh perempuan tua yang tangan kanannya dengan ringan menyodorkan tas plastik hitam berisi makanan gratis. Kang Sodrun teringat Mbah Ngis.
Beberapa hari lalu ia sempat berkomunikasi dengan anak sulungnya yang kini menjadi dosen. Dalam bincangnya sang anak sempat bercerita, “dulu aku pernah bertanya kepada ibuku, mengapa ia selalu membagikan makanan yang tak terjual pada santri-santri putra? Bukankah makanan-makanan itu hanya titipan orang yang kalau tidak laku bisa dikembalikan? Atas pertanyaan itu ibuku menjawab, “biar saja, Nak. Kalau malam banyak santri yang lapar setelah belajar seharian. Kasihan mereka. Maka kuberikan saja sisa dagangan itu pada mereka, agar mereka betah belajar di pesantren.”
Kepada Kang Sodrun anak sulung Mbah Ngis itu juga bertutur, “ibuku juga pernah mengatakan kepadaku, bahwa seringkali ia belum berniat menutup warungnya. Namun mendengar teriakan para santri yang kelaparan menunggu dibaginya makanan sisa dagangan, maka ibuku segera menutup warung agar bisa segera memberikan makanan itu pada mereka, agar perut mereka dapat segera terkenyangkan.”
Malam ini, mengingat semua itu Kang Sodrun terdiam. Kedua tangannya masih memegang buku tebal itu, namun matanya tak lagi membaca. Memorinya kembali ke masa lampau, dua puluh tahun silam. Ke masa dimana seorang perempuan tua hidup dan hadir dalam hidupnya. Ke masa dimana sesungguhnya perempuan tua itu telah bukan saja memberikan makanan sisa dagangan, bukan saja menyodorkan tas plastik hitam penuh gorengan, namun juga pendidikan luhur yang kini mulai sulit ditemukan.
Dua puluh tahun lalu mungkin Kang Sodun hanya merasakan betapa tahu, tempe, dan bakwan itu mengenyangkan. Dua puluh tahun lalu mungkin ia hanya merasakan lapar perutnya terhilangkan. Namun kini ia memahami pemberian lain perempuan tua itu. Makanan sisa dagangan itu tak hanya membawa kenyang menghilang lapar, namun juga membawa pendidikan akan keluhuran perilaku pada sesama yang membutuhkan, pendidikan untuk saling berbagi dengan apa yang dimiliki, pendidikan untuk saling berbagi tanpa harus menunggu harta berlimpah ada di tangan.
Dua puluh tahun lalu perempuan tua itu memang bukan guru di pesantren. Mungkin ia bukan salah satu orang yang diperhitungkan. Ia hanya seorang pedagang kecil yang menjual makanan kecil di komplek pesantren. Namun kini, bagi Kang Sodrun, ia adalah guru yang mendidikkan keluhuran. Pendidikannya tidak ia sampaikan lewat pelajaran. Namun ia cerminkan dalam keteladanan.
Dan sebagaimana hadis yang malam ini dibaca Kang Sodrun, apa yang dilakukannya adalah pengamalan atas tuntunan Rasulullah. Kang Sodrun menyaksikan, betapa perempuan tua itu telah diberi rejeki dan keberkahan bukan semata karena ia berjualan, namun karena ia telah berbagi dengan para santri yang sedang belajar pengetahuan. Kang Sodrun kini menyaksikan, penghasilan perempuan tua itu yang cukup kecil sekecil warung dan dagangannya adalah penghasilan yang benar-benar penuh keberkahan. Perilaku sederhana yang dilakukannya telah mampu mengantar putra putrinya pada pendidikan tinggi yang membentuk mereka menjadi para hamba berkualitas, yang diberkahi dan memberkahi, yang memberikan manfaat bagi sesama umat.
Malam ini Kang Sodrun termenung. Mengenang masa lalu yang indah. Bersama seorang perempuan tua yang hingga kini tak pernah ia kenal nama lengkapnya, selain panggilan singkat; Mbah Ngis!

                                                                                     Tegal, 8 Oktober 2011

4 komentar:

  1. www.santaraconsulting.blogspot.com30 Oktober 2013 22.15

    wajib di baca untuk semua umur....
    pendidikan karakter yang nyata dan terlihat sederhana, namun perlu perjuangan untuk ikhlas mencontohnya....

    BalasHapus
  2. Kalo ndak salah nama lengkapnya Ismatun, lidah jawa lebih mudahnya mbah Ngis. Yen santri putri orak kumanan hihihi mbengi2 orak bakal wani klayapan

    BalasHapus
    Balasan
    1. klayapan piye to... beliau kan jualannya di dapurnya santri putri

      Hapus

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu