Home » » Surat-Surat Menjelang Lebaran

Surat-Surat Menjelang Lebaran

Pak Waluya masih saja menatapi pagar besi tinggi yang mengitari halaman rumah besarnya. Meski dari celah-celah pagar besi ia dapat melihat segala aktifitas di seberang sana, namun tatapannya kosong. Pikirannya pun terbang entah ke mana. Di kursi santainya ia hanya ditemani sebuah koran harian sore yang belum sempat dibaca dan beberapa pucuk surat yang semua amplopnya telah tersobek tanda telah dibuka, kecuali sepucuk surat yang kelihatan masih rapi.
Sore itu wajah tua yang mulai keriputan itu seperti kelam. Sekelam langit yang semenjak siang tadi diselimuti mega mendung namun tak juga kunjung hujan. Dari tatapan kosong matanya siapapun bisa menebak bila hati Pak Waluya tergores permasalahan.
“Hhhh……” Helaan napas panjang itu seakan dipaksakan untuk keluar dari sarangnya. Lalu dengan sedikit malas tangan kanannya mengambil sepucuk surat yang ada di hadapannya. Dengan tetap memandang ke arah pagar ia buka amplopnya dan mengeluarkan isinya.
“……Maaf, Ayah, lebaran tahun ini Ferdi tidak bisa pulang, mungkin juga sampai tiga bulan mendatang. Dua bulan terakhir ini kesibukan di kantor semakin meningkat, hingga …………”
Ia tutup surat dari anak sulungnya itu, lalu dengan seenaknya ia lemparkan kembali ke atas meja bundarnya. Lagi-lagi ia paksakan napasnya berhamburan dari batang hidungnya yang mancung.
Kemudian ia ayunkan lagi tangannya merengkuh surat lainnya. Surat yang datang seminggu yang lalu itu entah sudah berapa kali ia baca. Meski isinya sudah ia pahami, namun wajah manis pengirim surat itu selalu saja bergelanyutan di matanya membuat ia selalu ingin membacanya berkali-kali. Stempel pada prangko surat itu bertuliskan kata New York.
“Salam sayang dari Ayu. Lebaran kali ini Ayu tidak bisa pulang menemani ayah di Solo. Bagian akademik mengharuskan semua mahasiswa mengikuti studi banding selama setengah bulan di LA. Mungkin Ayu baru bisa pulang dua minggu setelah lebaran. Ayu doakan semoga ayah sehat-sehat saja. Oh ya…bila nanti ayah ke pusara ibu, sampaikan salam hormat Ayu pada beliau, semoga beliau mendengarnya ………”
Ia pejamkan matanya, seakan ingin melihat bayangan putri satu-satunya lebih jelas lagi, atau bahkan karena merasakan keperihan tak terkira.
Ia pandangi surat yang ketiga. Dibolak-baliknya surat itu. Dengan sayu ia amati nama anak bungsungnya tertera di bagian belakang amplop, Andi.
“Paling juga isinya sama …” batinnya putus asa.
Dengan malas ia sobek bagian pinggir amplop lalu ia keluarkan isinya. Entah apa isinya. Yang jelas sesaat setelah membuka lipatan rapi kertas itu ia menghela napas panjang sambil melipat kembali kertas di tangannya. “Sama saja,” gumamnya, lirih.
Bagi Pak Waluya lebaran tahun ini memang tak akan seindah tahun-tahun sebelumnya. Semua anggota keluarga berkumpul sebulan penuh, tak ada satu pun yang absen. Pada malam lebaran selepas magrib, mereka bersama-sama membaca takbir di musala yang terlihat asri di sudut rumah. Usai salat isya Pak Waluya dengan kedua anak lelakinya pergi ke masjid ikut bersama warga kampung mengumandangkan kebesaran nama Sang Pemilik alam raya. Sementara istri dan putri satu-satunya menyiapkan segala kebutuhan esok hari yang penuh kemenangan. Dan, satu hal yang tak akan pernah terlupakan oleh keluarga Pak Waluya, menyiapkan lembaran uang lima ribuan baru untuk dibagikan pada anak-anak tetangga yang selalu berombongan mendatangi rumah-rumah penduduk sekampung.
Betapa lebaran kali ini akan jauh berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Ketika usai salat ied, ia duduk di atas sofa, lalu istrinya bersimpuh dengan menjabat dan mencium tangannya, penuh kehormatan dan ketulusan. Kemudian ia peluk istrinya, ia cium kening dan kedua pipinya, penuh kasih sayang. Lalu ia dudukkan wanita belahan jiwanya itu tepat di sebelahnya. Kemudian satu persatu anaknya bersimpuh di hadapaan kedua orang tua mereka, dengan tetesan air mata kebahagiaan dan kemenangan yang tak terkirakan.
Dan tetesan itu, kristal-kristal bening itu, kini telah mengalir dari sudut mata yang dilingkari lekukan-lekukan kulit senjanya. Butiran itu telah meluap sebelum waktunya. Di saat kegelapan malam perlahan-lahan mulai merengkuh sinar bola kehidupan.
Bayangan akan keindahan itu terus saja bergelanyutan di benak Pak Waluya. Dalam tiga tahun yang lalu, ketika anak-anaknya mulai meninggalkan rumah untuk urusannya masing-masing di negeri orang, keindahan itu masih bisa sedikit ia rasakan meski hanya berdua dengan Bu Waluya, istrinya. Ferdi, anak pertamanya, untuk lima tahun ke depan telah menetap di Cina. Ia memang dipercaya perusahaannya untuk memimpin mega proyek di negeri tirai bambu itu. Setengah tahun kemudian, Ayu, putrinya yang brilian menyusul hengkang ke negeri Paman Sam setelah mendapat surat panggilan untuk belajar di sana atas jalur beasiswa. Tak lama berselang anak bungsunya, Andi, menerima tawaran untuk program pertukaran pelajar di Malaysia. Semuanya telah pergi ke negeri orang, mengikuti jejak ayahnya yang hampir dua puluh tahun tinggal berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Kesempatan ke luar negeri itu mereka dapatkan dengan mudah lewat relasi-relasi ayahnya. Maklumlah, Pak Waluya memang mantan pegawai kedutaan di berbagai negara.
Namun sejak setahun yang lalu keindahan yang tersisa telah sirna sama sekali. Kematian istrinya tercinta adalah awal dari semuanya. Lebaran tahun ini keindahan kehidupan keluarga itu telah layu, atau bahkan mati. Canda tawa anak-anaknya tak pernah lagi menghias di depan mata. Senyuman manis Bu Waluya telah pergi bersama sang empunya ke alam yang tak mungkin tertembus oleh siapapun.
Kehidupan sehari-hari tanpa mereka semua tidaklah mengapa. Tapi lebaran tanpa orang-orang yang menyejukkan mata, ah…. hampa.
Sesekali mata Pak Waluya masih terlihat berkaca-kaca. Ia pandangi lagi surat-surat itu di atas meja bundarnya. Ia tengadahkan kepalanya, seakan hendak memohon kepada-Nya. Ia pejamkan kedua matanya, menahan luka. “Akankah surat-surat semacam itu pula yang menemaniku saat ajalku tiba?”


                                                                                       Solo. Nopember 2001

(Cerpen ini ditulis sebagai latihan menulis dengan konsep Semi Copy The Master, dengan mengambil cerpen master berjudul "Lebaran di Karet" karya DR. Umar Kayam yang pernah dimuat di Harian Kompas)

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu