Home » » Yang di Belakang Sabar Dulu

Yang di Belakang Sabar Dulu

Minggu terakhir Januari 2006.
Meski begitu lelah tapi sebisa mungkin Kang Sodrun menikmati perjalanan panjang ini. Kemarin pagi selepas subuh semestinya ia telah meluncur ke Asrama Haji Donohudan Solo. Setelah segala sesuatunya selesai ia bergegas pulang hingga sampai di rumah semalam pukul 23.30 WIB. Namun apa yang ia dapatkan siang tadi di Donohudan mengharuskan esok paginya ia kembali meluncur ke Solo.
Kemarin siang, saat di Donohudan, Kang Sodrun mendapati jadwal kepulangan jemaah haji Kota Tegal yang tertempel di papan pengumuman adalah jadwal lama yang menyebutkan jemaah akan landing pukul 13.00 WIB. Padahal yang ia tahu saat pemberangkatan sebulan yang lalu jadwal itu telah diralat menjadi pukul 01.00 dinihari. Maka segera ia lakukan konfirmasi ke panitia dan pihak Garuda. Hasilnya, kacau! Panitia yang terdiri dari orang-orang Departemen Agama memegang jadwal hasil ralat sama seperti jadwal yang dipegang Kang Sodrun. Sedangkan pihak Garuda memegang jadwal yang lama sebelum ralat. Masing-masing ngotot dengan jadwal yang dipegang. Maka saat hal ini ia sampaikan ke atasan di kantor keesokan harinya, diputuskan ia harus kembali berangkat ke Solo untuk memantau langsung perkembangan kepastian jadwal pemulangan jemaah haji Kota Tegal. Maka, meski baru sepuluh jam yang lalu Kang Sodrun pulang dari Solo kini ia harus kembali ke kota bengawan itu untuk tugas lima hari ke depan.
Dua pertiga perjalanan sudah dilalui. Baru saja melewati Kota Salatiga. Bus patas yang ditumpangi masuk ke area pom bensin setelah terminal Tingkir. Seperti lazimnya di banyak pom bensin, tiap kali ada bus yang masuk selalu saja menjadi kesempatan bagi para pedagang asongan menjajakan dagangannya. Tak kecuali dengan bus patas yang ditumpangi Kang Sodrun. Begitu masuk ke area pom bensin dan berjalan pelan beberapa pedagang asongan berebut lebih dulu masuk ke dalam bus.
Di antara pedagang asongan itu ada satu pedagang yang sangat akrab wajah dan suaranya bagi Kang Sodrun. Keakraban itu segera menggodanya ketika sebuah suara lantang berbicara, “Bakpao… bakpao… rasa keju, ayam, kajang ijo…sewunan-sewunangedi-gedi… uanget-anget… nembe metu seko open… mangan siji dijamin langsung warek…”
Suara dan orang yang melantangkannya spontan membuat bibir Kang Sodrun mengembangkan senyum, teringat peristiwa bertahun-tahun lalu saat ia masih nyantri di Mangkuyudan, Solo.
Setiap kali Kang Sodrun pulang kampung ke Tegal dan bus yang ditumpangi singgah di pom bensin ini selalu saja pedagang asongan yang satu ini menjadi perhatiannya, atau bahkan mungkin perhatian sebagian besar penumpang yang lain. Cara ia menawarkan dagangannya cukup khas dan unik, berbeda dengan pedagang lainnya. Tiap kali ia selesai mengucapkan kalimat penawarannya dia selalu memandang ke bagian belakang. Lalu dengan mimik muka yang sangat meyakinkan dia akan berkata, “Oh nggeh… Bapak, Ibu yang di belakang sabar dulu. Ada lima orang yang ngacung, sabar dulu… pasti saya sampai ke belakang…”
Lalu ia menawari para penumpang dari kursi ke kursi. Hingga sampai di tengah bus ia kembali memandang ke belakang sambil berkata, “Iya, Bu… sabar ya, Bu. Barangnya masih banyak… pasti kebagian… tenang saja…” Sungguh, begitu meyakinkan roman mukanya.
Bertahun-tahun Kang Sodrun menyaksikan hal ini, bahkan lebih dari sepuluh tahun. Dan setiap kali menyaksikannya selalu saja ia tersenyum dan kagum; selalu banyak pembelinya, begitu batinnya. Namun hingga satu saat Kang Sodrun pulang ke Tegal dan duduk di bagian paling belakang, semuanya terkuak. Saat pedagang ini masuk dan seperti biasa menjajakan dagangannya dengan caranya yang khas, mendadak Kang Sodrun tersenyum lebar, atau lebih tepatnya menahan tawa yang tak ketulungan.
Sambil memandang ke belakang dengan entengnya pedagang itu mengatakan, “Oh ya, yang pada ngacung di belakang sabar dulu ya… pasti kebagian. Sabar ya Bapak dan Ibu..’
Hampir saja Kang Sodrun meledakkan tawanya. Bagaimana tidak, kenyataannya tak ada satu orang pun di bagian belakang yang mengacungkan tangan mau membeli dagangannya. Bisa-bisanya dengan mimik muka yang meyakinkan ia katakan “yang pada ngacung di belakang”. Ia baru ngeh, rupanya bertahun-tahun ia terkecoh oleh pedagang yang satu ini. Apa yang ia lihat selama ini hanyalah trik dia menjajakan dagangannya agar penumpang di bagian depan tertarik karena setahu mereka banyak penumpang di bagian belakang yang berebut mau membeli. Begitu cantik dan cerdik.
Hari ini, saat perjalanan panjang untuk mengurus penjemputan jemaah haji Kota Tegal dilakoni, Kang Sodrun kembali dipertemukan dengan pedagang asongan ini. Ia tersenyum begitu melihat pedagang itu masuk dalam bus. Lalu apa yang selama ini terjadi kembali ia saksikan. Pedagang itu melewati kursi Kang Sodrun di bagian tengah, terus ke belakang hingga dari kaca samping terlihat kembali berada di luar bus.
Dari dalam Kang Sodrun terus mengamatinya selama bus mengisi bahan bakar. Dilihatnya ada yang berubah pada pedagang itu. Dulu dia tampak cekatan, enerjik dan sumringah. Kini dia terlihat sedikit lamban. Guratan usia tuanya nampak jelas di kulit wajahnya. Dan bila dulu dia tetap terlihat ceria saat turun keluar dari bus, kini terlihat kesedihan membungkus mukanya. Pandangannya kosong. Tak ada keceriaan di wajahnya. Setidaknya itu nampak karena dagangannya masih banyak memenuhi tempatnya. Mungkin bus ini yang kesekian puluh kali ia masuki. Dan kesekian puluh kali pula penawarannya belum membuahkan keberuntungan. Mungkin sampai dengan menjelang sore ini baru satu dua buah bakpao yang terjual. Dan karenanya ia bersedih mengingat beban hidup yang makin memberat.
Sekian tahun lamanya pedagang asongan itu berjuang untuk hidup dan menghidupi keluarganya. Pencahariannya tak pernah berubah, sejak belasan tahun lalu hingga kini usianya menginjak senja masih saja sebagai pedagang asongan di tempat yang sama dengan dagangan berkisar antara bakpia, bakpao, dan ampyang gula kacang. Rasanya siapapun tahu seberapa besar keuntungan dari menjual makanan-makanan itu.
Maka tak heran bila kini diperhatikan pandangannya sangat kosong. Bahkan saat ia kembali masuk ke bus lain dan keluar dari pintu belakang, terlihat roman mukanya semakin berat. Pastilah ia kembali belum beruntung menjajakan dagangannya, yang juga berarti belum bisa membawa pulang keberuntungan bagi istri dan anak-anaknya.
Kang Sodrun terus memperhatikan. Sabar, kawan. Ia membatin. Aku bisa merasakan betapa kecewanya dirimu dengan daganganmu yang masih penuh, seperti dulu aku pernah kecewa saat kutahu kerupuk kulit ikan yang aku titipkan di banyak warung lesehan di Solo belum habis terjual meski sudah satu minggu. Aku bisa merasakan betapa berat bebanmu memenuhi kebutuhan anak dan istrimu, seperti dulu kurasakan beratnya mengumpulkan rupiah meski hanya untuk memikul beban hidup diriku sendiri.
Sabar, Kawan. Mungkin kau menyesali keadaanmu ini. Tapi tahukah kau, bahwa sesungguhnya dirimu telah menjadi guru bagi diriku, atau bahkan bagi para penumpang lainnya. Seperti katamu, “yang di belakang sabar dulu, masih banyak barangnya, pasti kebagian”, adalah pendidikan luar biasa yang selalu kau ajarkan setiap kali aku melewati wilayah daganganmu.
Mungkin kau masih harus bersabar menunggu giliranmu. Tak perlu sangat dirisaukan. Karena stok nikmat Tuhanmu masih cukup banyak dan akan selalu banyak, pasti satu saat nanti kau akan kebagian. Biarlah Tuhan memberi lebih dulu nikmat-Nya bagi mereka yang duduk di depan dekat dengan-Nya, sebagaimana kau tawarkan lebih dulu daganganmu bagi penumpang yang duduk di depan dekat denganmu. Hanya saja satu hal yang mesti kau tahu, Tuhan tidak memainkan sebuah trik dagangan seperti yang kau lakukan. Apa yang Ia janjikan adalah sebuah kepastian dan kenyataan.
Jadi, yang (masih) di belakang sabar dulu, pasti kebagian.


Tegal, akhir Januari 2006

1 komentar:

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu