Home » » Bibir Tipis Itu (Bag. 1)

Bibir Tipis Itu (Bag. 1)

Saat Kang Sodrun mengantar anak pertamanya di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) waktu masih menunjukkan pukul satu siang kurang lima menit. Berarti masih lima menit lagi jam masuk kelas. Ia tak segera beranjak meninggalkan anaknya menunggu jam belajar. Kali ini ia ingin melepas anaknya hingga benar-benar masuk kelas.
Kala waktunya tepat tiba seorang staf tata usaha membunyikan bel listrik yang bunyinya memekakkan telinga. Anak perempuan Kang Sodrun dan puluhan anak lainnya seperti tersihir. Dengan sendirinya mereka membentuk barisan lima berbanjar yang memanjang.  Mereka yang datang terlambat menyambung di belakang, membuat barisannya makin panjang. Di antara puluhan murid-murid yang rata-rata berumur di bawah enam tahun itu berdiri beberapa guru laki-laki dan perempuan. Ada yang di depan barisan, di belakang, di samping kanan dan kiri, juga di tengah-tengah barisan anak-anak didik mereka.
Tak berapa lama guru yang berdiri di depan barisan memberi komando kepada murid-muridnya untuk membaca hafalan do’a-do’a harian; do’a mau makan, habis makan, mau tidur, bangun tidur, naik kendaraan, bercermin, dan lain sebagainya. Setelah itu sang guru mengomando untuk bersama-sama melantunkan asmaul husna; Ya Allahu, Ya Rahmanu, Ya Rahimu, Ya Maliku, Ya Quddusu.....
Apapun bacaan yang dikomando oleh sang guru untuk dibaca bersama secara serentak murid-murid kecil itu melafalkannya di luar kepala. Sedangkan para guru yang berdiri di sekitar mereka ikut melafalkan terutama ditujukan untuk membantu mereka yang belum hafal atau masih baru belajar di sana.
Diam-diam Kang Sodrun sangat menikmati pemandangan ini. Tanpa terasa, meski dengan suara yang sangat lirih, kedua bibirnya terlihat bergerak-gerak kecil mengikuti bacaan yang sedang dilafalkan. Pandangannya memutar, memandang silih berganti wajah anak-anak dan para guru. Hingga akhirnya pandangannya berhenti pada seraut wajah seorang guru perempuan muda yang berdiri di sebelah kanan barisan tepat di arah depan ia berdiri.
Ia pandangi dan amati terus wajah guru perempuan muda itu. Dan sesungguhnya pandangan Kang Sodrun tidak terfokus pada wajah sang guru, tapi pada bibir tipisnya. Jangan berpikir salah dulu. Bibir tipis guru itu tidaklah membuat Kang Sodrun kesengsempada pemiliknya yang dalam penilaiannya sesungguhnya berwajah biasa-biasa saja. Juga bukan karena bibir tipis itu mengingatkan Kang Sodrun pada seorang perempuan cantik yang sempat menyinggahi hatinya belasan tahun lalu, yang juga berbibir tipis. Bukan, bukan karena itu. Kang Sodrun memandangi bibir tipis itu karena gerakan-gerakannya yang begitu lincah mengucapkan huruf demi huruf dari kalimat-kalimat thoyyibah yang ia baca bersama para murid.
Bibir itu begitu lemes dan kewes membentuk gerakan terbuka lebar, meringis, dan majumencucu menyesuaikan cara-cara pengucapan masing-masing huruf hijaiyah. Tipisnya huruf sin, tebalnya huruf syin dan ro saat dibaca fathah, penuhnya rongga mulut saat membaca huruf dhod, meringisnya bibir saat mengucap huruf ya mati yang jatuh setelah harakat fathah, dan mencucunya huruf wawu mati yang ada di delakang harakat fathah, semuanya begitu lancar dilafalkan oleh bibir tipis itu. Sebuah tanda betapa Al-Qur’an diajarkan dengan benar dan baik pada anak-anak didik di tempat ini.
Gerakan-gerakan bibir tipis itu justru mengingatkan Kang Sodrun pada masa belasan tahun lalu saat ia mengaji pada para gurunya di pesantren. Saat kedua pahanya menjadi sasaran penjalin sang guru bila ia salah mengucapkan kalimat yang dibaca, meski kesalahan pada satu huruf saja. Saat seorang temannya harus mengulang bacaan basmallah hingga sebulan lebih karena tak juga kunjung fasih. Saat semuanya diakhiri dengan seremonial wisuda yang dihadiri ribuan pengunjung dari seluruh nusantara, yang mengukir kenangan paling indah dalam hidupnya.
Pandangannya pada bibir tipis yang bergerak-gerak lincah menunjukkan kefasihan membaca Al-Qur’an itu membuat Kang Sodrun menjadi sangat berharap. Berharap anaknya yang dititipkan di tempat itu kelak benar-benar bisa membaca Al-Qur’an dengan benar, baik, lancar, dan fasih. Berharap kelak anaknya menjadi generasi qur’ani yang dijanjikan menjadi keluarga Allah dan keistimewaan-Nya.
Kang Sodrun memang punya keinginan pada anak-anaknya. Ia dan istrinya sangat ingin anak-anaknya menjadi generasi yang tidak saja mampu membaca, tapi juga memahami dan mengamalkan isi kitab suci yang menjadi mukjizat terbesar Sang Nabi itu. Baginya mengajari anak-anak perihal Al-Qur’an adalah hal pertama yang mesti dilakukan orang tua sebelum mengajarkan hal-hal lainnya.
“Aku ingin, sebelum anak-anakku mempelajari ilmu-ilmu lainnya, mereka terlebih dahulu telah mempelajari Al-Qur’an, minimal fasih membacanya, dan menjadi kebiasaan hariannya,” begitu ia mengatakan saat berbincang dengan teman-temannya.
Ada banyak alasan mengapa Kang Sodrun ngotot ingin mewujudkan cita-cita itu. Satu saat ia sempat mengikuti sebuah kegiatan yang disebut sima’an Al-Qur’an. Sebuah kegiatan dimana seorang yang hafal Al-Qur’an (hafidh Al-Qur’an) melafalkan ayat-ayat Qur’an tiga puluh juz tanpa membaca, sementara orang-orang di sekitarnya membaca Al-Qur’an mengikuti bacaan sang hafidh. Bila ada kesalahan mereka akan membetulkannya. Saat mengikuti kegiatan ini Kang Sodrun membayangkan, alangkah mulianya orang yang hafal Qur’an. Betapa nikmatnya bila keturunannya kelak diberi kemampuan untuk menyandang predikat hafidh Al-Qur’an. Ah, tentu orang tuanya ikut menjadi mulia! Itu salah satu alasan Kang Sodrun untuk cita-citanya.
Ia juga teringat cerita para gurnya yang mengkisahkan tentang tokoh-tokoh muslim yang mendunia. Al Ghazali yang tokoh tasawuf dan juga mahir di bidang musik, Ahmad bin Hambal yang ahli fiqih tapi juga piawai di bidang arsitektur, As-Syafi’i yang ilmu fiqihnya dipegangi sebagian besar muslim di dunia, Ibn Qayim Al-Jauzy yang kondang dengan psikologinya, Ibn Hajar Al-Asqalany yang master di bidang hadits, dan lain sebagainya, mereka adalah tokoh-tokoh besar Islam yang menguasai banyak ilmu pengetahuan. Mungkin mereka berbeda di bidangnya. Namun satu hal yang sama di antara semuanya; mereka telah belajar, mahir dan hafal Al-Qur’an di masa kecil mereka. Mereka dimahirkan orang tuanya tentang Al-Qur’an di masa anak-anak sebelum mereka dimahirkan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Bagi mereka Al-Qur’an adalah pondasi pertama dan utama yang mesti dibangun dengan kuat sebelum di atasnya dibangun berjuta bangunan pengetahuan yang sangat luas.
Pengalaman Kang Sodrun yang melihat sang hafidh menghafal Al-Qur’an dengan lancar, benar, dan fasih, dan pengetahuan yang ia terima dari para gurunya tentang tokoh-tokoh besar Islam itu, sangat menginspirasi dan memotivasinya untuk mencetak anak-anaknya menjadi hamba-hamba Allah yang berkwalitas dengan berpondasi Al-Qur’an.
Satu lagi. Kang Sodrun sangat berkeinginan mendahulukan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anaknya karena ia pernah mempelajari satu sabda Rasulullah SAW yang—menurut pemahamannya—mengancam para orang tua yang tak memperhatikan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anaknya. Bila anak-anak itu tumbuh menjadi dewasa dan bodoh dalam hal Al-Qur’an maka Rasulullah menyatakan lepas tangan dari urusan para orang tua seperti itu.
Kang Sodrun merinding bila mengingat ajaran itu. Ia membayangkan bagaimana jadinya bila dirinya yang tak bermodal dan tak memiliki andalan apa-apa hidup dan kehidupannya tak diurusi dan tak dipedulikan oleh Rasulullah. Bagaimana jadinya bila Sang Rasul acuh tak acuh dengan keadaannya karena ia tak menganggap penting pendidikan AL-Qur’an bagi anaknya. Bila Sang Rasul tak lagi menghiraukan diriku? Ah, na’udzu billah! Demikian pikirnya.
Entah telah berapa lama Kang Sodrun berdiri mematung di pinggir barisan murid-murid kecil itu. Dan entah telah berapa lama pandangan matanya hanya tertuju pada guru perempuan itu. Ia tergagap saat diketahuinya ternyata beberapa kali sang guru memperhatikannya yang sedang memandangi dirinya.  Ia tergagap dari lamunan dan khayalan akan masa depan anaknya yang saat ini ia titipkan di tempat ini. Ia tergagap setelah sekian lama angannya membayang oleh sepasang organ yang bergerak-gerak begitu lemes dan kewes, bibir tipis itu.
Bottom of Form


0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu