Home » » Bibir Tipis Itu (Bag. 2)

Bibir Tipis Itu (Bag. 2)

Kang Sodrun tergagap dari angan masa depan anak-anaknya yang diinginkan menjadi generasi berkwalitas berpondasi Al-Qur’an. Ia masih belum beranjak. Ia masih tegak berdiri di samping barisan murid-murid kecil Taman Pendidikan Al-Qur’an yang sedang bersama-sama melantunkan kalimat-kalimat thayyibah.
Kini kedua matanya tak lagi memandang bibir tipis milik guru perempuan muda yang berdiri di samping kanan barisan tepat di depan arah ia berdiri. Pandangannya kini beralih bergantian ke para guru yang sedang menemani para murid berbaris. Satu persatu ia pandangi, ia amati. Bibir-bibir mereka sama melafalkan kalimat demi kalimat dengan sangat fasih. Mimik mereka sama bersemangat mengajari anak-anak didiknya. Dan satu lagi yang membuat Kang Sodrun tak bosan memandangi, roman mereka terlihat cerah ceria, bersih berwibawa, teduh menenangkan jiwa.
Kang Sodrun makin hanyut. Kedua bibirnya masih saja bergerak-gerak kecil reflek mengikuti bacaan-bacaan yang dilantunkan. Hingga tiba-tiba ia terdiam. Bibirnya mengatup. Hatinya seperti bergejolak. Jiwanya tergetar. Saat pendengarannya mendengar aba-aba dari guru yang berdiri di depan barisan dengan suara lantang, “Do’a untuk ustadz ustadzah!”
Kang Sodrun terdiam. Ia berpikir keras, yang berbunyi bagaimanakah do’a untuk ustadz ustadzah? Dalam waktu sepersekian detik dicarinya do’a itu dalam ribuan berkas pada memori otaknya. Tak ketemu. Ia tak sempat mencari lagi. Suara murid-murid kecil itu telah mendahuluinya, melantunkan sebuah do’a yang ternyata tak pernah Kang Sodrun pelajari.
Begitu lantang mereka melantunkan, “Allahumma ighfir lil mu’allimin, wa baarik lahum fii kasbihim wa ma’aasyihim, wa adhillahum tahta dhillik, liannahum yu’allimuuna kitaabaka al-munzal.
Telinga Kang Sodrun menyimak do’a itu. Sementara otaknya dengan cepat menterjemahkan sekaligus menghujamkannya ke dalam hati, “Ya Allah, ampunilah dosa para guru, berkahilah usaha dan penghidupan mereka, naungilah mereka di bawah naungan-Mu, karena mereka mengajarkan kitab suci-Mu yang diturunkan.”
Kang Sodrun limbung. Tubuhnya mendadak merinding. Jiwanya tergetar. Matanya nanar. Ia tak lagi mengikuti bacaan berikutnya yang dilantunkan. Bibirnya tak lagi bergerak-gerak pelan. Ia telah berhenti. Otak dan hatinya telah berhenti pada do’a yang baru saja ia dengar dan langsung dihafal. Berulang kali otaknya memutar ulang makna do’a itu. Lalu angannya membayang.
Oh, begitu mulianya mereka yang mengajar. Betapa bahagianya hidup dan kehidupan mereka. Setiap hari puluhan bahkan ratusan anak-anak yang tak berdosa dengan penuh kegembiraan dan ketulusan hati memintakan ampunan bagi dosa-dosa mereka. Kiranya tak akan tersisa noda hitam dalam diri para guru itu. Bibir-bibir mungil nan suci itu telah menghapusnya bersama-sama, setiap hari, saat mereka berbaris mau masuk kelas, dan bahkan saat mereka di rumah rengeng-rengeng membaca sendiri sambil bermain di pelataran rumah seperti sering didengar Kang Sodrun dari anak perempuannya.
Ah, betapa tenangnya jiwa para guru itu. Betapa damainya hati mereka. Betapa bersihnya hati mereka dari keserakahan duniawi. Setiap hari berpuluh bahkan beratus anak-anak kecil tak berdosa memintakan keberkahan pada Sang Pencipta untuk mereka; wa baarik lahum fii kasbihim wa ma’aasyihim. Berkahi usaha dan penghidupan mereka. Sungguh, sebuah permintaan yang tak ada bandingnya. Sebuah permintaan yang bila dikabulkan maka siapapun akan lebih kaya dari siapapun yang paling kaya.
Keberkahan. Ya, keberkahan. Sebuah kata singkat yang dalam bahasa Arab berakar dari kata baraka yabruku buruukan, yang berarti “mendekam”. Orang Jawa mengatakannyasedheku. Seekor singa yang yang telah cukup makan akan diam menikmati kekenyangannya. Ia akan merasa cukup dengan apa yang telah dimakannya. Ia tak perlu lagi berburu. Meski di depannya lewat seekor rusa muda yang segar dan manis dagingnya, ia akan tetap bersedheku, diam di tempat dan tak akan menerkam anak rusa itu. Maka sungguh nikmat para guru yang dimintakan keberkahan usaha dan penghidupan bagi mereka itu. Bagi mereka apa yang mereka terima adalah sebuah kekayaan, sebuah kecukupan. Hati mereka tak tergiur pada apa yang bukan atau belum menjadi miliknya.
Hati mereka merasa cukup kaya dengan rejeki dan kenikmatan yang ada di tangan. Banyak dan sedikitnya hasil usaha bagi mereka bukanlah masalah. Karena setiap usaha yang penuh keberkahan hasilnya akan mampu menutup setiap kebutuhan. Karena setiap kebutuhan akan selalu dapat dipenuhi oleh hasil usaha yang penuh keberkahan. Tak perlulah merasa iri dengan apa yang dimiliki tetangga. Tak perlulah saling bersaing untuk mendapatkan kedudukan duniawi yang tak semestinya diperebutkan. Tak perlulah melakukan segala cara untuk mendapatkan kemuliaan yang sesungguhnya memang bukan barang dagangan. Karena dengan keberkahan semua itu akan datang dengan penuh kemudahan tanpa harus saling merugikan.
Keberkahan. Ya, keberkahan. Sebuah kata singkat yang dalam bahasa Arab juga berakar dari kata baraka yabriku birkatan yang berarti “kamar mandi”. Dan siapapun tahu kamar mandi selalu identik dengan sifat dingin, ketenangan, keteduhan, dan kenyamanan. Maka alangkah nikmatnya mereka, para guru yang setiap hari oleh para muridnya didoakan dengan keberkahan pada usaha dan penghidupan mereka. Betapa tenang dan tenteramnya hati mereka dengan apa yang mereka peroleh dan miliki. Berapapun jumlah harta yang mereka punya adalah sebuah kekayaan yang mencukupi. Maka tak perlu ada yang dirisaukan, tak perlu ada yang digalaukan.
Kang Sodrun masih mematung. Kedua matanya memang masih tertuju pada sekumpulan barisan para murid dan guru itu. Namun jelas pandangannya kosong. Pikirannya tak lagi membayang angan yang beberapa menit lalu menghias rupa benaknya. Hingga ia tersadar oleh suara bel yang memekak tanda barisan para murid itu mesti bubar dan mereka harus segera masuk kelas masing.
Satu persatu murid-murid kecil itu melangkah, mencium hormat punggung tangan para guru, lalu menuju kelas masing-masing. Kang Sodrun masih belum beranjak. Ia ingin melihat anak perempuannya melangkah dan mencium punggung tangan para gurunya hingga akhirnya masuk kelas di lantai dua. Bahkan Kang Sodrun ingin beranjak nanti setelah semua murid kecil itu benar-benar tak tersisa lagi di depannya, baru kemudian ia berangkat kembali ke kantor tempatnya bekerja.
Di perjalanan menuju tempat kerjanya pikiran Kang Sodrun masih belum bisa benar-benar melepas gambaran yang baru saja ia saksikan dan nikmati. Terlebih pada do’a keberkahan itu, ia sangat sulit membiarkannya lepas dari ingatan. Di atas sepeda motornya kembali angannya membayang.
Keberkahan itu, alangkah semangatnya para murid kecil itu memintakan. Keberkahan yang juga berarti “bertambahnya nilai” itu begitu mantab dimintakan mereka kepada Sang Rahman bagi para gurunya. Dengan keberkahan boleh saja para guru Al-Qur’an itu di bayar hanya dengan bilangan dua tiga ratus ribu rupiah. Namun bisa jadi nominal yang tak banyak itu memiliki nilai lebih dalam mencukupi kebutuhan yang ada. Ada kemanfaatan yang membekas dalam pentasarufannya. Ada bekas yang menahun dalam penggunaannya. Sebaliknya tanpa keberkahan, bisa jadi penghasilan yang melimpah malah tak cukup mampu memenuhi kebutuhan pemiliknya. Harta itu habis begitu saja tanpa manfaat yang membekas, tanpa bekas yang menahun.
Di atas sepeda motornya Kang Sodrun terus membayang tentang keberkahan itu. Memorinya bekerja dan menemukan sebuah ajaran dari seorang gurunya yang menyitir kalam Tuhannya; berapa banyak pasukan yang sedikit jumlahnya mampu mengalahkan pasukan yang banyak jumlahnya, dengan ijin (keberkahan) dari Allah. Ingatannya juga merujuk pada tulisan Tajuddin Nauval dalam hadiqatul Auliya’nya; karena keberkahan yang berat menjadi ringan, yang jauh menjadi dekat, yang sempit menjadi longgar. Orang yang diberi keberkahan dalam hal waktu akan dapat melakukan banyak pekerjaan dalam satu hari, yang semestinya dilakukan orang lain dalam beberapa hari tanpa keberkahan.
Kang Sodrun menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dengan kuat menghalaunya. Lampu merah di perempatan paling padat di kotanya menyala. Ia hentikan sepeda motornya untuk satu menit ke depan. Cukup lama memang. Karena yang mendapat giliran jalan adalah arus jalan pantura yang dilewati banyak kendaraan berat antar kota antar provinsi.
Berhenti di perempatan ini pikiran Kang Sodrun kembali pada penggalan do’a keberkahan itu. otaknya begitu jelas membayang bibir-bibir mungil para murid itu melafalkan; wa adhillahum tahta dhillik. Tuhan, Naungi para pengajar itu di bawah naungan-Mu. Ah... begitu nikmatnya para guru itu. Mereka tak perlu repot mencari dan bahkan berebut keteduhan di masa yang tak ada keteduhan kecuali keteduhan Sang Kuasa. Setiap hari para murid telah dengan suka cita dan penuh keikhlasan memintakan keteduhan itu. bukan saja di akherat kelak keteduhan itu dimintakan, tapi juga keteduhan di dunia yang makin tua ini.
Kang Sodrun membayangkan. Pantas saja roman muka para guru itu begitu cerah ceria, nampak tenang dan tenteram. Berlama-lama memandangnya seperti tak ditemukan kecemasan, kekhawatiran, kesedihan dan kegundahan terlihat di sana. Bagaimana tidak? Dari dalam hati mereka telah begitu tenang dengan keberkahan yang tercurahkan. Dari luar Allah telah menanungi mereka dengan naungan-Nya. Maka begitu teduhnya hidup dan kehidupan mereka.
Pada akhirnya Kang Sodrun sampai pada ujung do’a itu yang dilafalkan lebih kencang dari kalimat sebelumnya; liannahum yu’allimuuna kitaabaka al-munzal. Karena mereka selalu mengajarkan kitab suci-Mu yang diturunkan. Sekali lagi Kang Sodrun merinding. Jiwanya bergetar. Matanya nanar. Wajah-wajah bersih para murid itu membayang. Mereka seakan meminta kepada Allah dengan desakan. Mereka berdoa untuk para gurunya dengan “mengharuskan” untuk dikabulkan. Kepada Allah mereka seakan berargumen beralasan; Rabb, para guru kami itu orang-orang yang dengan penuh keikhlasan dan kesabaran mengajarkan kitab suci-Mu. Setiap hari mereka tinggalkan anak-anak mereka untuk ini semua. Mereka rela berlama-lama di sini meski dibayar sekedarnya. Untuk kitab suci-Mu, Rabb. Agar kitab-Mu langgeng. Agar ayat-ayatnya fasih dibaca, kalimat-kalimatnya melekat dihafal. Agar ajaran-ajarannya tak ditinggalkan, kewajibannya selalu dilakukan, larangannya jauh ditinggalkan. Untuk itu semua mereka ikhlas melakukan. Untuk kitab-Mu yang suci, yang dengannya Rasul terkasih-Mu meraih kemenangan atas umat pembangkangnya.
Maka atas itu semua, akankah Kau abaikan permohonan kami, Kau acuhkan permintaan kami, Kau anggap sepi do’a-do’a kami? Akankah Kau biarkan dosa-dosa guru kami mengotori hati mereka, Kau biarkan hidup dan kehidupan mereka gersang tanpa keberkahan, dan Kau biarkan mereka kepanasan tanpa keteduhan? Lihatlah kami yang medoakan, bukankah masih suci hati dan bibir kami? Lihatlah guru-guru kami yang didoakan, bukankah cukup berjasa menjaga kitab suci-Mu ini? Tidak, Rabb, Tak layak bagi-Mu yang bergelar Mustajib ad-da’awaat menolak permohonan kami. Tak ada alasan bagi-Mu untuk tak mengampuni mereka, memberkati mereka, dan menaungi mereka.
Kang Sodrun tak kuat lagi membendung nanar matanya. Cairan bening itu lalu meleleh.
Kini ia kembali pada dirinya. Bagaimana dengan kamu, Drun. Tak inginkah kau didoakan oleh hamba-hamba kecil yang suci, seperti para guru itu didoakan? Atau, saat hati dan bibirmu masih suci, pernahkah sekali saja kau lantunkan  do’a keberkahan itu bagi para guru pengajarmu? Ah... maafkan aku, para guru. Kuakui sekali pun bibir ini tak pernah memintakan keberkahan bagimu. Kini setelah aku mengenal do’a itu, ingin rasanya aku melantunkan bagimu. Meski aku ragu. Karena hati dan kedua bibir ini tak lagi suci. Karena hati dan kedua bibir ini telah begitu kotor berlumur syubhat dan kemunafikan.
Tit... tiiittt....!!!
Ia tergagap. Suara klakson kendaraan di belakangnya bersautan. Lampu merah telah berganti hijau. Ia harus segera menjalankan sepeda motornya, menuju kantor tempat kerjanya. Hingga saat ia memasuki ruangannya beberapa rekan kerja mengamati tingkahnya. Seperti ada yang beda pada Kang Sodrun. Matanya yang nanar dan bibirnya yang menahan senyuman, membuat mereka bertanya; mengapa?
Dan mereka lebih terheran lagi saat jawaban lirih nan singkat terlontar dari mulut Kang Sodrun, “Hehe... bibir tipis itu.”

                                                                                                                  Tegal, Mei 2011

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu