Home » » Bukan Kyai Bukan Wali

Bukan Kyai Bukan Wali

Acara haul hari itu digelar secara besar. Panitia menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat teliti dan rapi. Pengunjung yang hendak ngalap berkah sekaligus ngangsu kaweruh juga sudah memenuhi area gelaran acara. Sang penceramah yang seorang habib juga sudah dating, siap memberikan ilmu danm taushiyahnya.
Melihat begitu besarnya gelaran acara tahunan memperingati hari kematian seseorang ini, dengan pengunjung yang begitu banyak, sang habib bertanya kepada panitia, “Apakah shahibul haul (yang meninggal) seorang wali?”
Panitia menjawab, “Bukan, Bib.”
“Apa seorang kyai besar yang disegani?” tanya sang habib lagi.
“Juga bukan, Bib.”
“Lah, terus siapa?” sang habib penasaran, tak mengerti.
Shahibul haul hanyalah seorang tukang becak, Bib,” jawab panitia enteng.
Sang habib terperanjat, ia semakin penasaran.
“Ya, yang kami hauli hanyalah orang biasa yang bekerja sebagai tukang becak. Namun bagi kami ia adalah orang yang sangat baik. Setiap hari, setiap sore, tiap kali ia pulang dari mbecaknya, ia selalu membagi penghasilannya menjadi tiga bagian. Sebagian ia simpan, sebagian ia berikan pada keluarganya, dan sebagian lagi ia berikan pada anak-anak yatim dan para tetangga yang miskin. Ia orang yang sangat baik bagi kami.”
Sang habib tertegun.


(KH. Subhan Ma'mun, Brebes)

2 komentar:

  1. ceritane kang kaji gawe atiku pan nangis.
    muga-mugaha aq bisa mencontoh perbuatan sang tukang becak tadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamin... aku melu didongakna ya kang helmi

      Hapus

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu