Home » » Jaket Hitam

Jaket Hitam

Kang Sodrun berdiri terdiam. Matanya memandang pada jaket hitam di tangannya yang baru saja ia ambil dari lemari gantung. Dalam beberapa waktu ia terpaku. Kepalanya bergeleng kecil. Mulutnya bersuara lirih, “Masya Allah, Mur... Mur...!” menyebut nama seorang perempuan yang setiap hari minggu bekerja membantu bersih-bersih di rumahnya.
Hampir empat tahun ini keluarga Kang Sodrun tak lagi mempekerjakan pembantu secara tetap di rumahnya. Entah sudah berapa kali ia berganti pembantu dengan berbagai permasalahannya. Si Ning, pembantu pertamanya, baru sebulan bekerja sudah dijemput suaminya. Katanya hanya untuk beberapa hari karena ada keluarga yang meninggal. Ternyata sesampai di rumah Ning mengirin SMS kalau ia berhenti bekerja, tak betah katanya.
Lalu berganti Bi Miah, tetangga beberapa puluh meter dari rumahnya. Kang Sodrun menerimanya sebagai pembantu dengan pertimbangan karena tetangga sendiri, mungkin lebih memperhatikan anak bayinya yang saat itu baru berumur beberapa bulan. Tapi tak sampai sebulan Bi Miah berhenti dengan sendirinya. Pasalnya ia meninggalkan bayi Kang Sodrun sendirian di rumah tertidur dalam ayunan selendang. Bi Miah-nya sendiri pulang ke rumah. Ibu-ibu tetangga yang melihatnya keluar dan pergi tanpa membawa bayi Kang Sodrun jadi curiga. Untung pintu rumah tak dikunci. Para ibu itu masuk rumah Kang Sodrun. Mereka tersentak melihat sang bayi bergerak-gerak menangis dalam ayunan. Berita inipun tersebar. Bi Miah jadi bahan pembicaraan dan celaan orang sekampung. Tanpa dimarahi dan diberhentikan dengan sendirinya Bi Miah tak lagi datang bekerja. Kata orang ia merasa malu, juga takut.
Lalu beberapa pembantu datang silih berganti. Hingga Narti datang melalui perantaraan seorang teman. Namun usia kerjanya hanya beberapa bulan saja. Suatu pagi anak kecil Kang Sodrun terkena air panas saat dimandikan Narti hingga semua pantatnya melepuh. Mestinya Kang Sodrun tak begitu mempermasalahkan. Baginya adalah wajar seseorang sesekali salah dalam bekerja. Tak ada orang yang bisa bekerja sempurna. Namun banyaknya laporan tetangga tentang perlakuan Narti yang tak baik pada bayi Kang Sodrun, dan perilakunya yang tak disenangi para tetangga menjadikan Kang Sodrun dan istrinya memberhentikan dengan hormat pembantu yang satu ini.
Sejak saat itu Kang Sodrun tak lagi ngopeni pembantu. Semua pekerjaan rumah dikerjakan berdua. Dari mencuci piring, ngepel lantai, masak, sampai menggosok pakaian semuanya dikerjakan Kang Sodrun dan istrinya. Sementara kedua anaknya disekolahkan di TK dan PAUD.
Lambat laun pasangan suami istri ini tak lagi punya waktu untuk mengerjakan semuanya, terutama untuk menggosok pakaian. Maka dicarilah orang yang bisa membantu menggosok pakaian. Yu Siti, istri Kang Sodrun, menemukan Mur, tetangga belakang rumah. Ia biasa kerja di perumahan dan libur setiap hari Minggu. Suaminya bekerja di sebuah pabrik di Jakarta. Namun belakangan tak lagi bekerja karena penyakit kronisnya yang tak kunjung sembuh. Kini nyaris semua kebutuhan keluarganya menjadi beban Mur seorang diri. Ia mesti mencukupi kebutuhan harian keluarga dan membiayai sekolah ketiga anaknya.
Kini sudah lebih dari setahun Mur bekerja di rumah Kang Sodrun. Tidak setiap hari. Tapi setiap hari Minggu saja dengan pekerjaan utama menggosok baju. Sesekali Yu Siti juga memintanya membersihkan rumah; mengepel lantai dan mencuci piring.
Selama Mur bekerja sesungguhnya keluarga Kang Sodrun tidak sreg dengan hasil kerjanya. Bagaimana tidak? Hasil gosokan bajunya seringkali membuat Kang Sodrun dan istrinya menggelengkan kepala, kecewa. Garis-garis baju dan celana yang semestinya dibuat mlipit lurus tajam di tangan Mur garius itu menjadi hilang atau berganti dengan garis lain yang tak nyambung dari atas ke bawah. Model celana yang semestinya pipih bergaris licin di bagian depan setelah digosok oleh Mur bisa menjadi bisa bunder kluwer tanpa bentuk. Itu masih bisa diterima.
Satu ketika Kang Sodrun dan istrinya terperanjat. Melihat beberapa pakaian mereka di beberapa bagiannya menjadi kinclong karena terkena setrika yang terlalu panas. Kalau itu pakaian harian mungkin tak mengapa. Lah ini pakaian kerja, je! Beberapa kali Istri Kang Sodrun mengingatkan dan mengajari cara menggosok yang baik dan benar. Mur terlihat mengerti dengan ajaran itu. Tapi hasilnya masih sama saja.
Soal bersih-bersih rumah lain lagi. Setiap kali Mur mengepel lantai rumah hasilnya bisa ditebak; lantai itu seperti tak pernah dipel, hanya terlihat dibasahi saja. Kotoran yang nempel masih saja ada di lantai meski sebenarnya sangat mudah dihilangkan. Untuk masalah ini sampai-sampai anak balita Kang Sodrun yang masih sekolah di TK mengajari Mur, “Mbak Mur, kalau ngepel itu kainnya ditekan yang kuat biar kotoran yang nempel terangkat.” Mur cuma cengar-cengir saja.
Juga soal mencuci piring dan alat makan lainnya. Yu Siti lebih suka perangkat makannya dicuci oleh anak perempuannya yang baru kelas tiga SD dari pada di cuci oleh Mur. Pasalnya tiap kali perangkat makan itu dicucui Mur selalu saja ada sisa makan yang masih melekat di priring atau sendok.
Atas hasil kerja pembantunya itu pernah satu ketika Kang Sodrun dan Yu Siti berembug untuk menghentikannya saja. Namun keinginan itu mereka urungkan.
“Seperti katamu, Mur itu menanggung semua biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya. Kalau dia diberhentikan kerja di rumah kita pasti dia kesusahan memenuhi kebutuhannya. Kasihan juga anak-anaknya. Mereka itu bersemangat sekolah dan perilakunya baik,” Kang Sodrun beralasan.
“Terus enaknya bagaimana, Kang?” tanya Yu Siti.
“Ya Sudah, biar saja dia tetap kerja di sini.”
“Meski hasilnya seperti itu?”
“Ya. Kurasa sedikit membantu menyelamatkan keluarganya lebih penting dari sekedar adanya sisa makanan yang masih saja menempel di alat makan kita. Menyelamatkan anak-anak Mur tetap bersekolah lebih penting dari sekedar pakaian kita yang masih saja tak rapi meski sudah digosok. Sedikit memberinya penghasilan untuk meringankan bebannya kurasa lebih penting dari sekedar noda yang tak hilang saat dipel.”
Maka tetaplah Mur seminggu sekali bekerja di rumah Kang Sodrun. Hasilnya, ya begitulah!
Tapi pagi ini Kang Sodrun seperti kehilangan kesabaran. Saat ia mengambil jaket hitamnya untuk sebuah acara resmi yang hendak ia hadiri. Ia dapati hampir semua bagian jaket itu menjadi berwarna kinclong terkena seterika yang kepanasan. Kainnya yang semua halus menjadi begitu kasar. Kacau!
Kalau pakaian yang hendak ia pakai itu jaket biasa mungkin ia masih bisa menahan kesabarannya. Tapi ini beda. Jaket hitam itu adalah jaket resmi organisasi yang ia terlibat di dalamnya. Apalagi jaket itu baru sebulan dimiliki dan baru sekali dipakainya. Ia tak bisa menahan diri. Ia marah.
Isterinya ia panggil-panggil. Tak ada jawaban. Maka ia bergegas keluar kamar mencarinya. Ia bertekad meminta isterinya untuk tidak lagi mempekerjakan Mur. Ia ingin menghentikan Mur. Tapi isterinya tak ia temukan. Mungkin sedang keluar.
Kang Sodrun terdiam. Ia pandangi jaket hitam yang masih digenggam. Beberapa kali mengambil dan membuang nafas berat. Bibirnya berkata lirih, “Masya Allah, Mur... Mur...!”
Dalam diamnya, saat marahnya mereda, ia berbicara dengan dirinya, “Yakin dengan keputusanmu? Yakin ingin menghentikan tetanggamu itu? Tak perlukah untuk berpikir dan menimbang lebih jauh lagi? Alasan-alasan yang pernah kau bicarakan dengan isterimu dulu, sudahkah tak diperlukan lagi?
Itu hakmu untuk menghentikan Mur dari bekerja di rumahmu. Tapi bisakah kau temukan kesempatan lain untuk membantu tetanggamu yang benar-benar membutuhkan? Kau bisa membantu siapapun sesukamu, tapi membantu meringankan beban orang yang sering mengecewakanmu, adakah bisa kau dapatkan lagi kesempatan baik dan bagus yang sama dengan ini?
Mungkin hanya Mur yang kau hentikan bekerja, tapi tahukah kau bahwa di belakang Mur banyak orang yang ikut menanggung kesedihan dan kesusahannya? Soal jaketmu yang rusak itu, kau bisa saja menggantinya dengan membeli yang baru. Banyak yang menjualnya di luar sana. Tapi anak-anak Mur yang kehilangan pendidikan dan masa depannya, bisakah kau memberi penggantinya? Dengan menghentikan Mur kau masih bisa dengan mudah mencuci dan menggosokkan pakaianmu pada orang lain atau laundry, tapi tak semudah itu Mur menemukan pengganti atas pekerjaan dan penghasilannya.
Lebih jauh, Drun. Kau merasa lebih tinggi posisinya dari pada tetanggamu itu. Kau mungkin merasa punya kuasa memperlakukan pembantumu sesuka hatimu. Seperti yang kau pelajari dulu, itu bagian dari penyakit hati, Drun. Noda di lantai yang tak hilang setelah dipel, sisa makanan yang masih melekat meski sudah dicuci, masih terlalu mudah untuk dibersihkan. Tapi penyakit hatimu, bisakah dengan mudah kau mencucinya, membersihkannya hingga kembali bersih?

Kang Sodrun terdiam. Amarahnya mereda. Nafasnya tak lagi memburu. Ia pandangi pakaian di genggamannya yang tak lagi bagus. Ia menimbang; tetap akan meminta isterinya memberhentikan Mur, atau demi kebaikan yang lebih baik mengikhlaskan pakaian resmi organisasinya yang baru sekali ia pakai; Jaket Hitam.



                                                                                  Hotel Muria Semarang,
                                                                                 23 Nopember 2013

1 komentar:

  1. Niat mulia yang sayangnya tidak mendidik ybs utk menjadi lebih bertanggungjawab.
    Inilah potret masyarakat kita... Makin miskin seseorang makin dimaklumi kalau berbuat salah :)

    BalasHapus

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu