Home » » Sayur Asem

Sayur Asem

Saat itu aku begitu lapar. Semestinya aku ingin meminta istriku menyiapkan makanan. Namun melihat istriku sedang mendaras qur'an untuk mempertahankan hafalannya. aku tak berani memerintahnya. Tidak dibenarkan seorang suami menghalangi istrinya untuk memenuhi haknya sendiri. Para istri juga punya hak yang sama dengan para suami. Dan istriku sedang memenuhi haknya untuk mempertahankan hafalan qur'annya.
Maka segera aku menuju dapur, membuat sayur asem. Setelah jadi ada seorang santri yang melewati ruang dapurku, Rohidin namanya.
"Kang Rohidin, sampeyan sudah makan belum? Kalau mau ni aku buat sayur asem, ambil saja." aku berkata kepadanya.
"Oh nggeh, Kyai." Jawab santriku itu.
Lalu aku meninggalkan dapur, menuju ruangan yang lain menunggu istriku selesai mendaras untuk kuajak makan bersama.
Selesai mendaras...
"Umi, aku dah masak sayur asem di dapur. Tolong diambil terus kita makan," kataku.
Istriku langsung menuju dapur. Namun tak lama kemudian terdengar suaranya dari arah sana, "Abah, mana sayur asemnya? Ngga ada tuh!"
"Ya di dapur, Mi. Barusan aku yang masak sendiri."
"Ngga ada, Abah!"
Merasa penasaran aku segera menuju dapur. Benar memang. Sayur asem itu tidak ada. Sejenak aku berpikir.
"Oalah.... jangan-jangan Kang Rohidin ini."
"Ada dengan Kang Rohidin, Bah? istriku penasaran.
"Tadi selesai memasak aku nawari dia sayur asem. Jangan-jangan semuanya diambil dia sama pancinya juga. Ya sudah biar saja. Besok kita tanyai si Rohidin."
Keesokan paginya aku dan istri bertemu Kang Rohidin di dapur.
"Kang, kemaren panci sayur asemnya mana?" tanyaku kepadanya.
"Oh nggeh, Kyai, itu masih ada di kamar. Sebentar saya ambil." Jawab sang santri sambil berlalu.
Mendengar jawaban itu aku dan istriku tertawa kecil sambil menahan agar tidak meledak.
"Bener to, Mi?"

(KH. Subhan Makmun, Brebes)


0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu