Home » » Sirup Merah

Sirup Merah

Seringkali Kang Sodrun tak habis pikir dengan fenomena yang terjadi tiap kali bulan Ramadhan menjelang datang; meningkatnya harga sembako. Bagi dirinya yang tak paham soal ekonomi adalah aneh bila harga makanan menjadi mahal justru karena bulan Ramadhan.
Ia teringat pelajaran ekonomi yang pernah ia pelajari dulu. Seingatnya pernah ia mempelajari hukum pasar yang mengatakan bahwa naik dan turunnya harga sebuah barang sebanding dengan naik turunnya permintaan barang itu. Bila minat masyarakat untuk membeli suatu barang tinggi maka harga barang itu akan naik. Bila minatnya rendah maka harga barang itu akan turun.
Dalam benaknya ia berpikir simpel; datangnya bulan Ramadhan menjadikan masyarakat mengurangi porsi makannya, setidaknya dari tiga kali sehari menjadi dua kali, saat sahur dan buka puasa. Ini artinya tingkat konsumsinya menurun, permintaan pasar menurun. Bila merujuk pada teori ekonomi di atas mestinya harga bahan makanan juga ikut turun. Lah ini menjelang Ramadhan kok malah naik? Apanya yang salah. Teori ekonominya atau puasanya? Kang Sodrun tak habis pikir.
Sore ini, dua hari menjelang Ramadhan, ia dan istrinya berniat belanja di sebuah supermarket langganannya. Bukan dalam rangka menyambut Ramadhan, membeli bahan makanan yang enak-enak untuk distok di kulkas sebagai persiapan. Bukan. Bagi Kang Sodrun dan istrinya Ramadhan atau bukan Ramadhan tak ada yang berbeda soal makanan. Keluarganya makan sesukanya saja. Kalau di luar Ramadhan lauknya sayur asem, tempe telanjang dan sambel bawang, makanan semacam itu juga yang mereka santap saat Ramadhan. Bila di luar Ramadhan sesekali mereka ingin makan enak, begitu pun saat Ramadhan mereka makan enaknya bila lagi pengin saja, bukan karena Ramadhannya.
Maka belanja kali ini bukan karena dua hari lagi mau Ramadhan, tapi karena ini awal bulan dan sudah menjadi kebiasaan bila awal bulan suami istri itu selalu belanja kebutuhan keluarga untuk satu bulan ke depan. Diambilnya beberapa barang kebutuhan; sabun mandi, sabun cuci, odol, pembersih lantai, minyak sayur, kecap, mie instan dan sebagainya.
Tak lupa Kang Sodrun membungkus cabe rawit. “Buat sambel korek,” katanya pada Yu Siti sambil tersenyum. Istrinya cuma nyengir. Ia tahu persis makanan kesukaan suaminya. Sambel korek dicolek tempe goreng telanjang atau ada yang bilang tempe porno. Ya, Kang Sodrun paling suka dengan sambel korek. Sambel yang dibuat hanya dengan bahan cabe rawit dan bawang putih ini menjadi sambel kesukaannya sejak di pesantren dulu. Bila ada sambel ini, hanya dengan dicolek tempe saja ia bisa habis dua piring nasi, seringnya lebih.
Semua barang yang dibutuhkan telah masuk dalam keranjang troly belanja. Kini saatnya menuju kasir untuk membayar. Antriannya luar biasa panjang. Maklum, awal bulan dan menjelang puasa.
Hingga saat antrian tinggal satu langkah lagi Kang Sodrun melihat kejadian yang menarik perhatiannya. Di depannya seorang nenek dengan cucu perempuannya hendak membayar barang belanjaan yang tak seberapa. Di tangan nenek itu tergenggam sebuah botol kecap kosong.
Kepada pelayan kasir nenek itu berkata, “Mbak, saya mau beli kecap. Ini saya bawa botol kosongnya biar dapat potongan harga.”
Kang Sodrun terperangah. Ia melihat ke pelayan, menunggu tanggapannya.
“Mbah, maaf ya. Kalau beli kecap di sini tidak bisa tukar botol. Kalau mau tukar botol belinya di warung saja.” Sang pelayan ramah menjelaskan.
“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut sang nenek. Ia tak berucap apa-apa. Air mukanya terlihat berubah. Yang dilakukan adalah membuka dompet kecilnya, mengeluarkan isinya yang berupa uang kertas recehan yang menggumpal tak rapi ditata.
Kang Sodrun terus mengamati. Dan belum lagi nenek itu memberikan uangnya pada pelayan cucunya berkata, “Mbah, beli sirup yang warnanya merah seperti itu.” Sang cucu menunjuk botol sirup yang ada di keranjang belanjaan Kang Sodrun.
“Ssst. Jangan rewel. Ngga usah. Uangnya kurang,” timpal sang nenek lirih.
Sang cucu terdiam. Tapi matanya terus memandang pada botol sirup di keranjang Kang Sodrun. Melihat itu Kang Sodrun tak kuasa menguasai hatinya. Ia ambil botol sirupnya, mendekati anak kecil itu dan menyodorkannya.
“Dek, pengin sirup ini?” tanyanya.
Anak itu diam. Matanya bergantian memandang pada botol sirup, Kang Sodrun, dan neneknya.
“Mau? Ambil saja.” Kang Sodrun meyakinkan.
“Jangan, Mas. Jangan.” Nenek itu mencegah.
Kang Sodrun tak menghiraukan. Ia sodorkan sirup itu pada pelayan.
“Bungkus, Mbak,” pintanya.
“Maksud, Mas?” pelayanan itu bertanya, tak mengerti.
“Masukkan sirup ini dalam kantong plastik nenek ini. Saya yang bayar.”
“Bener, Pak?”
Pelayan itu seperti tak percaya. Kang Sodrun tak menjawab, hanya menganggukkan kepala. Sorot matanya meyakinkan pelayan itu.
“Terima kasih, Mas. Maaf, cucu saya merepotkan.”
Sang nenek merasa sungkan. Sudut matanya terlihat membasah. Dan melihatnya Kang Sodrun hanya menarik nafas panjang, mencoba menguasai perasaan.
Saat makan malam di rumah isterinya mengajak bicara. “Mengapa sore tadi Sampeyan terlihat begitu memperhatikan anak kecil itu, Kang?”
Kang Sodrun tak segera menjawab. Ia minum air putih di gelas yang masih penuh. Diam sejenak, lalu berkata, “Melihat anak perempuan kecil itu aku teringat anak-anak kita.”
“Anak kita?” Yu Siti tak mengerti.
“Ya, anak kita. Kau pasti tahu kita tak selamanya hidup dalam kecukupan. Pada saatnya nanti bisa jadi Allah menguji kita dengan kekurangan. Dan dalam keadaan demikian aku ingin anak-anak kita selalu diperhatikan oleh Allah. Saat kita tak bisa memberi pada anak-anak kita, saat kita sebagai orang tua tak mampu memenuhi kebutuhan anak-anak kita, aku ingin Allah tetap memenuhi kebutuhan mereka.
Itu sebabnya aku berikan sirup itu pada anak perempuan itu. Agar terpenuhi keinginannya. Agar tercukupi kebutuhannya. Agar tak kecewa dengan kekurangan orang tuanya. Mungkin aku hanya memberikan sesuatu yang kecil, yang remeh. Tapi aku harap anak itu bahagia merasa mendapat sesuatu yang besar, yang berharga.

Rasa bahagianya kuharapkan menjadi doa yang baik bagi anak-anak kita. Sebagai wasilah agar Allah mengabulkannya dalam bentuk simpanan yang akan dikeluarkan saat anak-anak kita membutuhkan. Aku harapkan semua itu, meski dengan pemberian yang kecil; sirup merah.”

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu