Home » » Buat Kanjeng Nabi Jangan Eman-Eman

Buat Kanjeng Nabi Jangan Eman-Eman



“Katakanlah: karena anugerah dan kasih sayang Allah, maka dengan itu semua berbahagialah…”
Demikian Allah mengajarkan para hamba-Nya mensyukuri kenikmatan yang Ia curahkan tanpa batas.
Malam itu, Sabtu malam Ahad, 12 Rabi'ul Awal 1425 Hijriah, Imam Fakhruri berpakaian sangat rapi, jauh lebih rapi dari hari-hari biasanya; kopiah hitam yang masih kelihatan baru, baju koko putih bersih, sarung samarinda warna cerah. Penjual warung lesehan di pinggiran jalan raya Adiwerna Tegal ini bersama beberapa tetangganya berjalan menuju masjid. Tak hanya itu, masing-masing mereka juga terlihat membawa barang bawaan yang lumayan banyak.
Sesampai di masjid telah banyak warga yang berkumpul, juga dengan dandanan yang sangat rapi. Tak lama kemudian speaker di menara mengumandangkan lantunan salawat. Dari liriknya siapapun tahu bila itu syair dari kitab Al-Barzanji: Ya Nabi salam 'alaik, Ya Rasul salam 'alaik, Ya Habib salam 'alaik, Shalawatullah 'alaik.
Dua jam kemudian acara pengungkapan puja-puji bagi Nabi Besar Muhammad saw. itu usai. Dan layaknya acara kenduren di desa-desa, hidangan pun dikeluarkan. Namun kali ini hidangan yang disediakan sangat jauh berbeda. Bahwa hidangan itu berupa makanan dalam bentuk berkatan, memang ya. Namun tempat makanan itu bermacam-macam. Ada yang ditempatkan di cepon, kardus, bungkusan daun pisang, bungkusan kertas minyak, bungkusan kertas koran, dan yang paling menyolok mata banyak berkatan yang ditempatkan dengan menggunakan ember besar.
Lalu berkatan itu mulai dibagikan secara acak, siapapun bisa mendapatkannya, tentu dengan makanan dan tempat yang berbeda. Namun mereka tak saling iri. Yang mendapat berkatan dengan tempat sebuah ember besar memang terlihat senyum-senyum, tapi yang kebetulan hanya mendapat berkatan dengan bungkus daun pisang pun tak kecewa.
Bagi mereka semuanya telah menjadi tradisi yang lestari turun temurun dari generasi ke generasi, setiap hari kelahiran Sang Nabi tiba. Tradisi perayaan maulid ini dimulai sejak tanggal 1 Maulud, puncaknya pada malam tanggal 12 Maulud atau Rabi'ul Akhir.
Menjelang malam puncak ini biasanya pengurus masjid akan mendatangi setiap rumah muslim untuk meminta berkatan. Jumlah berkatan tiap rumah tak ditentukan, terserah pada yang membuat. Bahkan bagi yang tak mampu tak diwajibkan membuat berkatan. Isi berkat pun terserah. Tempat yang digunakan juga tak diseragamkan. Maka terjadilah pemandangan yang sangat menarik ketika berkatan itu dikeluarkan ke tengah-tengah lingkaran jamaah yang telah usai melantunkan salawat.
Sepintas mungkin terlihat terjadi “persaingan” dalam membuat berkatan. Namun sejak awal warga setempat telah meniatinya bukan untuk saling bersaing. Dengan kemampuan yang ada mereka ingin mengungkapkan rasa syukur atas karunia Allah; diutusnya Sang Rasul sebagai rahmat bagi semesta, rahmatan lil 'alamin.
Dari perbedaan kemampuan dan keinginan untuk mengungkapkan rasa suka cita ini, tak jarang memang sebagian warga membuat berkatan yang sangat mewah. Sering dijumpai dalam sebuah ember yang besar tidak hanya berisi makanan, namun juga sarung kelas mahal Samarinda. Seperti berkatan yang dibawa Fakhruri malam itu.
Ketika Penulis menanyakan mengapa ia membuat berkatan yang begitu mewah, apakah untuk menunjukkan bahwa dia orang kaya, Fakhruri membantah. “Sama sekali tak ada niatan untuk itu. Saya, dan kami semua, melakukan ini semua hanya untuk satu tujuan, mensyukuri nikmat Allah, diutusnya Kanjeng Nabi. Beliau telah berjasa besar pada umatnya. Seberapapun yang kita keluarkan tak ada nilainya dibanding dengan jasa beliau. Makanya, buat Kanjeng Nabi tak usah eman-eman.” Tandas Fakhruri yang mengaku hidupnya jauh dari kemewahan.
Meski demikian, tak dipungkiri memang, berkatan yang hanya menggunakan bungkusan daun atau kertas terkadang tidak banyak dilirik jamaah. Ini menjadikan pembuatnya cukup kecewa. Namun bagi seorang tokoh masyarakat seperti H. Rofi'i ada cara lain untuk memberikan pendidikan bagi masyarakatnya.
Beberapa tahun yang lalu, keluarga H. Rofi'I pernah membuat berkatan dengan bungkus daun pisang. Seperti telah diduga sebelumnya, berkatan buatannya yang hanya berjumlah sepuluh bungkus tak banyak dilirik orang. Pada akhirnya berkatan berbungkus daun pisang itu diberikan kepada anak-anak kecil.
Namun, alangkah kagetnya mereka ketika dalam bungkusan itu terdapat sebuah kertas bertuliskan: “Yang mendapatkan berkat ini dimohon datang ke rumah H. Rofi'I besok pagi jam 8.”
Lebih kaget lagi ketika mereka datang ke rumah H. Rofi'i. Setiap penerima bungkusan buatannya diberi seekor kambing jawa yang cukup besar.
Ya, semua itu hanya untuk satu tujuan: hubb al-rasul, mencintai Rasulullah.
Selamat maulid nabi.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu