Home » » Maulid Nabi, Rahmat Bagi Semesta

Maulid Nabi, Rahmat Bagi Semesta



Beberapa lelaki berjalan menuju satu arah, masjid. Mereka mengenakan pakaian sangat rapi; baju koko, sarung kain samarinda, dan berkopyah hitam. Di tangan mereka tertenteng beberapa berkatan. Berkat-berkat itu ada yang menggunakan cepon sebagai wadah, tapi ada juga yang menggunakan ember dengan ukuran sedang. Bila kita mau melihat isinya, bukan saja nasi dengan lauk pauknya sebagaimana umumnya berkat, tapi di sana juga ada sarung, baju koko, atau juga amplop berisi uang.
Pemandangan seperti ini bisa kita lihat—setidaknya—di Kota Tegal dan kabupaten sekitarnya setiap malam tanggal 12 Rabiul Awal atau saat malam mauludan. Berkat-berkat yang dibawa itu dikumpulkan di masjid yang nantinya akan dibagikan pada masyarakat setelah acara pembacan kitab Al-Barzanji selesai. Isi berkat itu pun beragam. Ini dilakukan oleh masyarakat sebagai rasa syukur atas kenikmatan yang diberikan Allah berupa lahirnya Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperingati hari kelahiran beliau. Tradisi berkatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara mauludan yang dimulai sejak malam pertama bulan Maulud dengan pembacan Kitab Al-Barzanji.
Tradisi ini adalah salah satu bentuk dari sekian banyak cara umat Islam memperingati hari kelahiran Sang Nabi Agung. Di daerah lain kita akan mendapati cara yang berbeda dalam memperingatinya. Di Solo dan Yogyakarta, misalnya, peringatan mauludan dilakukan dengan digelarnya sekaten di alun-alun.
Lepas dari bagaimana cara kaum muslimin memperingatinya, peringatan maulid nabi semestinya mampu mengantarkan kita pada makna dan nilai-nilai yang dibawa dan lahir bersamaan dengan kelahiran Rasulullah itu sendiri. Allah SWT dalam kitab suci-Nya menegaskan, bahwa tujuan utama diutusnya Rasulullah di muka bumi ini adalah untuk menebarkan kasih sayang bagi segenap makhluk di alam semesta (wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘aalamiin, QS. Al-Anbiya: 107).
Melihat dari bagaimana Allah mengungkapkan ayat ini, di mana sebuah kalam manfy (inkar) dikuti dengan istitsna’ (pengecualian), maka bisa dipahami betapa misi penebaran rahmat (kasih sayang) bagi segenap makhluk di alam semesta yang ditugaskan Allah kepada Rasul-Nya menjadi  sebuah ajaran yang sangat penting dan dipentingkan oleh Islam. Misi rahmatan lil ‘alamin ini menjadi puncak dari setiap ajaran yang disyari’atkan oleh Allah.
Karenanya para ulama tasawuf mengajarkan kita agar setiap ritual keagamaan yang kita lakukan semestiya selalu membuahkan rahmat bagi masyarakat dan lingkungan kita. Semestinya pula kesungguhan kita beribadah secara mahdlah kepada Allah memberikan bias maslahat dalam setiap pergaulan sosial sebagai bagian dari wujud penebaran rahmat di atas. Pun tidak semestinya kita hanya bergairah melakukan ibadah secara vertical tanpa dibarengi dengan kegairahan kita beribadah secara horizontal.
Ajaran seperti ini, bila kita mau cermati, pada dasarnya telah diajarkan secara implisit oleh Rasulullah. Kisah naiknya (mi’raj) Rasulullah ke Sidratul Muntaha untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Allah memberikan pesan nyata akan hal ini. Setelah Rasulullah bertemu dengan Sang Maha Pengasih beliau tidak menjadikan pertemuan ini sebagai kesempatan untuk memuaskan diri berdekat-ddekat dengan Tuhannya, apalagi untuk selamanya. Dengan rela hati beliau kembali turun ke bumi untuk menyebarkan rahmat Allah pada kaumnya.
Ibadah shalat, yang disebut sebagai mi’rajnya orang mukmin, pun mengajarkan demikian. Ketika takbiratul ihram diucapkan seorang mukmin mulai mi’raj menghadap Sang Maha Besar. Namun Allah tak menghendakinya untuk terus bermi’raj dengan shalatnya. Orang yang shalat harus mengakhiri shalatnya dengan salaam untuk kemudian kembali hidup bersama masyarakat, menebarkan buah kebaikan sebagai hasil dari shalatnya.
Ibadah puasa di bulan Ramadhan yang dilakukan hanya untuk Allah pun tak akan membuahkan pahala bila pada akhirnya tak ditutup dengan sebuah ibadah yang memberikan kemaslahatan bagi sesama, zakat fitrah.
Juga dalam hal ibadah haji. Mereka yang melaksanakan rukun Islam kelima ini dijanjikan mendapat surga sebagai imbalan paling pantas bagi kemabrurannya. Dan kemabruran haji ditandai dengan kemauan untuk memberikan makan bagi orang yang membutuhkan (ith’aam at-tha’aam) dan menebarkan kedamaian (ifsyaa’ as-salaam). Demikian diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad.
Masih banyak hal yang bisa kita pelajari dan kita ambil pelajaran bahwa ajaran-ajaran kerasulan Baginda Muhammad selalu dan mesti memberi bias kemaslahatan bagi makhluk Allah.
Dari sini dapat diambil satu pendidikan luhur betapa Islam mengajarkan keseimbangan berperilaku kepada Sang Pencipta dan kepada sesama hamba. Bukanlah hamba yang sempurna yang memiliki semangat tinggi untuk mengabdi kepada Tuhannya, namun tak bersemangat memberikan kemaslahatan bagi sesama. Pun bukan hamba yang baik yang sangat aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial, namun pengabdiannya pada Sang Pencipta dinomorduakan.
Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW.
Marhaban ya Nural ‘ain, marhaban jaddal husain
Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam ‘alaika
Ya Habib salam ‘alaika, shalawatullah ‘alaika

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu