Home » » Cemen

Cemen

Kafa, anak yang usianya baru lima tahun beberapa bulan, selain di pagi hari sekolah di Taman Kanak-Kanak di sore harinya ia juga belajar al-Qur’an di TPQ. Sudah setahun ia belajar membaca kitab suci itu. Kini ia telah duduk di kelas Jilid 4. Beberapa kalimat potongan ayat sudah bisa ia baca dengan lancar.
Di sekolah paginya rupanya tidak semua guru bisa membaca al-Qur’an. Ada yang sudah lacar dan terbiasa membaca al-Qur’an, ada yang sudah bisa membacanya tapi masih belum lancar, juga ada yang baru bisa mengeja kata demi kata atau bahkan masih belajar alif-alif-an.
Bu Rina—sebut saja begitu—termasuk guru yang masih beljar alif-alif-an. Namun ia sangat bersemangat untuk bisa membaca al-Qur’an. Maka setiap kali ada waktu luang ia meminta kepada temannya untuk mengajari membaca a-Qur’an dengan menggunakan buku jilid yag biasa diguakan di TPQ-TPQ. Kini ia telah belajar sampai di Jilid 2.
Hari itu, usai jam makan siang, seperti biasa Kafa dan teman-teannya bermain di luar kelas, berjalan dan berlari kian kemari. Saat melewati ruang guru ia melihat bu Rina sedang belajar al-Qur’an. Si Kafa masuk ke ruang guru. Mendekati bu Rina dan sejenak melihat gurunya belajar.
Tiba-tiba ia tertawa dan dengan entengnya berceloteh, “Haha... bu guru cemen, aku aja sudah jilid 4 masak bu guru baru jilid 2.”
Mendengar celotehan muridnya itu Bu Rina terlihat merah padam, girap-girap, segera menutup bukunya, lalu mengejar dan mencubit gemas muridnya yang bandel menggemaskan itu.


Ini anakku, apa kabar anakmu?

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu