Home » » Rumah Baru Orang Baru

Rumah Baru Orang Baru

Rumah itu baru saja selesai dibangun. Sebuah rumah sederhana namun terlihat asri yang nampak beda bila disbanding dengan rumah-rumah umumnya di kampung itu. Meski kecil namun terlihat begitu lega. Meski sederhana namun memasukinya terasa begitu nyaman.
Di pelataran rumah itu berkumpul sekelompok orang. Ada yang berdiri, ada yang duduk. Sambil bercakap-cakap mereka seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
“Pakdhe, memangnya siapa orang baru yang mau pindahan ke kampung kita?” Tanya salah satu dari mereka kepada yang duduk di sebelahnya.
“Itu lho, orang yang suka datang ke sini sambil membawa hadiah untuk orang sekampung,” jawab yang ditanya.
“Yang mana, Pakdhe?”
“Halah, kamu mesti ingat tho, setiap habis shalat jum’at pasti ada seseorang yang datang ke tengah-tengah kampung ini, membagikan hadiah, lalu orang seisi kampung pada berebut mengambil hadianya itu?”
“Oh itu. Ya aku ingat, Pakdhe. Tapi aku tak tahu orangnya. Aku kan nggak pernah ikut rebutan hadiahnya.”
“Kamu beruntung, Kirman. Anak-anakmu hampir setiap hari mengirimimu hadiah aneka rupa. Kamu tak perlu berebut hadiah seperti mereka yang tak pernah menerima kiriman dari keluarganya.”
“Alhamdulillah, Pakdhe. Susah payahku semasa hidup untuk mendidik anak-anakku menjadi anak yang saleh kini kurasakan hasilnya.”
Laki-laki bernama Kirman itu lalu terdiam, menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya kuat-kuat.
Bukan cuma dia yang terdiam. Namun semua orang yang ada di pelataran rumah baru itu tiba-tiba membungkam, menghentikan bincangannya. Terdengar suara gemuruh seperti sekelompok besar orang sedang menuju ke arah mereka. Semakin lama semakin jelas.
Sekelompok besar orang berbondong menuju rumah baru itu. Di bagian paling depan nampak seorang lelaki dengan dandanan berbeda. Berbaju putih bersih seperti baru, berbau mewangi, air muka berseri-seri. Di belakangnya ratusan bahkan mungkin ribuan orang berdesak rapi berjalan seperti mengantarnya. Bibir mereka tak henti bergerak seperti merapal kalimat-kalimat mulia.
Penduduk kampung itu terperangah, terdiam. Baru kali ini mereka menyaksikan ada orang baru yang pindah ke kampung mereka diantar oleh begitu banyak pengantar. Baru kali ini ada orang baru datang dengan muka sedemikian bersih berseri, menebar bau mewangi.
Penduduk kampung itu terdiam, menyaksikan sang lelaki itu memasuki rumah baru. Lalu bergantian para pengantarnya keluar masuk membawa hantaran aneka rupa. Hingga ketika semua pengantar itu undur diri, giliran penduduk kampung menemui lelaki itu.
“Selamat datang,” ucap mereka sambil menyalami lelaki itu, penuh keakraban.
“Terima kasih, terima kasih,” sahutnya penuh haru.
“Inilah kampung kami. Kampung yang setiap shalat jum’at usai Anda selalu mengunjunginya lalu membagikan hadiah fatihah bagi segenap penduduknya,” kata seorang di antara mereka.
“Oh ya? Jadi benar hadiah bacaan Al-Fatihah yang selalu aku tujukan pada kalian setiap usai shalat Jum’at benar-benar sampai pada kalian?” orang baru itu ingin memastikan, air mukanya menyiratkan kegembiraan.
“Benar!” mereka menjawab serempak.
“Kalian juga tahu kehadiranku?”
“Iya,” orang yang lain menjawab cepat, “setiap kali engkau memasuki perkampungan ini, kami melihatmu. Setiap kali engkau mengucapkan salam, kami mendengar dan menjawab salammu. Itu adalah ucapan yang membahagiakan kami. Sebuah doa untuk keselamatan dan kesejahteraan orang seisi kampung ini.”
“Kalau Jum’at penduduk di sini pada keluar rumah,“ Kirman menyela, “semenjak kami tahu Anda selalu datang ke sini usai shalat Jum’at, kami selalu keluar rumah di hari Jum’at menunggu kehadiran Anda mengirim hadiah pada kami. Semua begitu semangat menunggu. Dan ketika kirimanmu datang penduduk kampung ini berebut menerimanya penuh bahagia.”
“Termasuk Anda ikut berebut?” Tanya orang baru itu, senyumnya terus menghias.
“Tidak,” yang menjawab orang lain di sebelah Kirman, “Dia tidak pernah ikut berebut. Dia hanya suka melihat kami berebut.”
“Loh, mengapa?” orang baru itu mencari tahu.
“Kirman ini orang yang beruntung. Saat di dunia ia hidup prihatin untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan berilmu. Saat ia meninggal hingga kini anak-anaknya selalu mengirim hadiah dengan bacaan Fatihah dan kalimat-kalimat thayibah lainnya. Maka ia tak perlu berdesakan berebut hadiah bersama penduduk kampung ini. Hadiah yang ia terima dalah kiriman khusus dari anak-anaknya. Sedangkan hadian yang kami perebutkan adalah kiriman dari orang-orang yang berdoa untuk seluruh muslim dan mukmin.”
“Begitu rupanya.”
Orang baru itu mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan orang di sebelah Kirman. Sekejap suasana terdiam. Tiba-tiba dari arah belakang kerumunan terdengar suara keras memanggil.
“Kang Hamid, Kang Hamid!”
Orang baru itu tersentak mendengar namanya dipanggil. Ia tujukan pandangannya ke arah asal suara. Dilihatnya seorang laki-laki berlari kecil menuju ke arahnya.
“Pakdhe To?”
Tertegun orang baru itu menyebut sebuah nama saat laki-laki itu sampai di hadapannya. Ia menyalami erat sambil menepuk pundak.
“Kalian saling kenal?” tanya salah seorang penduduk kampung.
“Ya, kami saling kenal,” Pakdhe To menjawab, “dia ini Kang Hamid. Orang yang disegani dan dituakan di kampung kami dulu.”
“Pakdhe To tinggal di sini juga?” Tanya Kang Hamid.
“Tidak, Kang. Aku tinggal di kampung sebelah. Aku mendengar kabar katanya Sampeyan pindahan ke kampung ini.”
“Benar, Pakdhe. Belum lama juga aku datang.”
“Kang Hamid,” tiba-tiba air muka Pakdhe To sedikit serius, suaranya sedikit memberat, “aku tiga kali menemuimu dalam mimpi, menitip pesan untuk anakku si Ramli, bagaimana?”
Kang Hamid terdiam. Ia memahami kemana arah pembicaraan dan pertanyaan Pakdhe To. Namun belum juga ia bicara seseorang menyela, “Loh, kalian berdua pernah bertemu?”
“Iya,” Kang Hamid menjawab, “Pakdhe To ini tiga kali menemui saya dalam mimpi dan menitipkan pesan untuk anaknya.”
“Memang bisa, kami yang sudah tinggal di sini menemui mereka yang masih hidup?” sela yang lain.
Kang Hamid menghela nafas panjang sebelum kemudian berkata, “saat seseorang tertidur ruhnya akan lepas, meski masih ada hubungan antara ruh dan jasadnya. Ia bisa bertemu dan berkomunikasi dengan ruh siapapun, termasuk ruhnya kita yang telah berpindah di kampung ini. Hingga pada saatnya ruh orang yang tidur itu akan dilepas oleh Allah untuk kembali ke jasadnya, sedangkan ruh kita tetap dipegang-Nya.”
“Ketika aku belum berpindah ke kampung ini Pakdhe To menemuiku dalam tidur. Dia berkeluh kesah. Sekian tahun lamanya ia berpindah hidup di kampung barzakh, ia merasa senang karena anak semata wayangnya selalu mengirimi hadiah setiap pagi dan petang. Namun akhir-akhir ini ia selalu gelisah. Anaknya tak pernah lagi mengirimi hadiah. Pakdhe To menemuiku. Menitip pesan untuk mengingatkan anaknya, Ramli, untuk kembali mengirim hadiah.”
“Sudah Sampeyan sampaikan pesanku itu, Kang?” Pakdhe To menyela, ingin segera tahu.
Kang Hamid terdiam. Ia merendahkan tubuhnya untuk duduk, diikuti semua orang yang ada di sekelilingnya.
“Sudah, Pakdhe. Sudah saya sampaikan.” Suara Kang Hamid lirih. Matanya menerawang. Ada yang disimpan di balik mimic mukanya.
“Terus?” Pakdhe To mengejar.
“Anakmu menolak.”
Pakdhe To tersentak, tak berkata. Dimukanya tergambar kecewa yang berat.
“Entah bermula dari apa. Si Ramli anakmu sering pergi ke kota, meninggalkan pengajian di mushalla kita, berkumpul dengan orang-orang lain yang kami tak pernah tahu mereka siapa dan dari mana. Katanya pengajian di mushalla kita tak bermakna, tradisi kita tak berdasar, hadiah fatihah kita sia-sia. Pesan Pakdhe To sudah aku sampaikan. Namun ia menganggapnya takhayyul belaka.”
Kang Hamid berhenti berkata. Dadanya menaik mengambil nafas kuat-kuat, lalu membuangnya. Sementara Pakdhe To makin terdiam. Kedua matanya berkaca.

 Ide Cerita       :
QS. Az-Zumar: 42

Referensi        :
Tafsir At-Thabary (Jami’ul Bayan), Ibnu Jarir At-Thabary

Ar-Ruh, Ibnu Qayim Al-Jauzy                   

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu