Home » » Ajrun Ghairu Mamnun

Ajrun Ghairu Mamnun

Puluhan orang terperangah, lalu berlarian menuju arah suara yang meledak.
“Kecelakaan, kecelakaan!” teriak mereka, member tahu satu sama lain.
Sebuah bis eksekutif menabrak pohon asem tua di pinggir jalan raya itu. Kiranya bis itu melaju kencang. Bisa jadi sang supir mengantuk, atau karena sebab lain yang belum jelas. Bagian tengah kepala bis itu tepat mengenai pohon asem yang masuk menyobek badan bis hingga nyaris terbelah menjadi dua.
Darah bercecer di mana-mana. Bau anyirnya menusuk hidung. Puluhan badan bergelimpangan. Sebagian terlihat tak bergerak. Entah sekarat, atau bahkan telah meregang nyawa. Di beberapa sudut terdengar erangan tanda masih ada kehidupan.
Orang-orang saling membahu mengevakuasi, membawa dan mengumpulkan tubuh para penumpang di satu tempat aman. Yang lain mencoba melepaskan yang terjepit di sela kursi atau badan bis yang ringsek terlipat. Sementara hujan yang tak besar belum juga mereda, mengalirkan darah ke mana-mana.
Beberapa polisi datang. Lalu beberapa ambulan beserta paramedis. Masing-masing  cekatan bertindak sesuai tugas dan kewenangannya. Tak lama kemudian suasana menjadi hingar. Suara ambulan bergantian meraung, datang dan pergi silih berganti membawa tubuh-tubuh nahas itu ke rumah sakit.
***
Ruang ICU rumah sakit itu mendadak penuh. Ada belasan tubuh korban kecelakaan semalam yang tergolek di ruang besar itu. Pada semua tubuh itu terpasang kabel-kabel yang menghubung pada sebuah monitor pendeteksi detak jantung yang berada di sebelah kanan bed.
Melihat tubuh-tubuh penuh bercak darah itu membuat bulu kuduk berdiri. Lebih terasa menyeramkan dengan suara tat-tit-tut yang saling berkejaran dari tiap-tiap monitor. Sesekali terdengar erangan dari salah satu korban.
Di antara belasan korban yang tertampung di ICU rumah sakit itu, sebuah papan nama yang tergantung di bagian bawah bed menyebutkan sebuah nama: Irfan. Ia terbaring di tengah-tengah di antara deretan bed. Badannya penuh percak darah. Kaki kanan dan tangan kirinya dibalut kencang, bisa jadi tulangnya retak, patah, atau bahkan remuk. Di mukanya ada tiga jahitan tak begitu panjang, juga di beberapa bagian badannya.
Irfan tersadar. Di benaknya ia tertegun mendapati dirinya sedemikian rupa terbaring di sebuah ruangan yang ia rasa adalah rumah sakit. Ia tak mampu menggerakkan kepalanya untuk menengok melihat ke kanan dan kirinya. Namun telinganya jelas mendengarkan bebunyian mesin pendeteksi denyut jantung.
Ia mencoba mengumpulkan ingatan. Sekuatnya mencari-cari memori tentang apa yang telah terjadi sebelumnya hingga kini ia terbaring tak berdaya. Dalam kelemahannya ia terdiam. Saat semuanya telah menjadi jelas mulutnya tak sanggup berkata-kata. Hanya sudut matanya yang membasah, mengalirkan butiran-butiran hangat.
Ia yang duduk di belakang sopir tahu persis kejadian maut itu. Dalam gelap malam di tengah hujan yang tak begitu besar, saat bis melaju dalam kecepatan tiba-tiba sebuah becak menyeberang. Sang sopir terkejut, membanting setir, tak mampu menguasai bisnya, lalu mengarah ke pohon asem besar di pinggir jalan. Setelah ia tak tahu apa-apa.
Irfan tak mampu membendung aliran air matanya. Ia teringat kedua orang tuanya. Kemarin sore keduanya menelepon minta dikunjungi. Kangen katanya. Dan bagi Irfan tak ada kata nanti untuk membahagiakan orang tuanya. Namun kini ia tak berdaya di rumah sakit. Pasti orang tuaku menunggu, batinnya.
Ia terus menangis tanpa suara. Hingga dikejutkan suara erangan keras dari orang yang ada di sebelah kanannya. Terdengar langkah-langkah menuju ke arah suara itu. Mungkin para suster yang sedang berjaga. Tak lama kemudian terdengar suara “tut” panjang dari mesin pendeteksi denyut jantung.
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Para suster itu mengucapkannya berbarengan.
Tubuh Ifran tergetar. Ada yang ingin sekali ia perbuat tapi tubuhnya begitu lemah. Hanya air matanya yang kian menderah. Akankah aku berikutnya? Akankah aku giliran berikutnya sebelum aku memenuhi panggilan orang tuaku mengobati rasa kangennya? Akankah aku berikutnya sebelum aku sempat berpamitan pada istri dan anak-anakku? Sebelum aku meminta maaf pada orang-orang yang mengenalku? Sebelum… sebelum… sebelum…
Air matanya makin membanjir. Dadanya berdegup kencang. Pikirannya kacau. Ingin sekali ia berteriak menumpahkan semuanya. Tapi ia tak bisa. Hingga semuanya kembali menjadi gelap.
***
“Kawan, apa yang kau pikirkan?” seorang lelaki tampan bicara kepada Irfan. Wajahnya bersih berseri, ucapannya lembut.
Irfan tak dapat bicara menjawabnya. Ia hanya menitikkan air mata. Namun lelaki tampan itu seakan tahu isi hatinya. Ia mengulas senyum.
“Kau menolak takdir Tuhanmu ini?”
Air mata Irfan makin deras. Tapi bahkan menggelengkan kepala pun tak mampu ia lakukan. Lelaki itu kembali tersenyum.
“Lalu apa yang kau resahkan, Kawan? Istri dan anak-anakmu?”
Bisu.
“Orang tuamu?”
“Saudara-saudaramu?
“Pekerjaanmu? Hartamu yang tak seberapa?”
Sunyi. Irfan ingin sekali untuk setidaknya menggelengkan kepala, menegaskan bukan itu semua yang ia pikir dan resahkan.
Senyum lelaki itu kembali terulas, sangat mempesona. Ia duduk di tepian bed tempat Irfan terbaring. Memegang lembut telapan tangan Irfan.
“Oh, aku tahu,” katanya kemudian, “kau ingin melengkapi bekalmu? Kau merasa belum cukup bekal untuk secepat ini menghadap Tuhanmu? Atau kau ingin setidaknya sekali lagi melakukan amalan-amalanmu yang selama ini kau istiqamahkan untuk Tuhanmu?”
Genggaman lelaki tampan itu menguat. Dan entah kenapa Irfan mampu sedikit menggerakkan kepalanya mengarahkan pandangannya pada lelaki tampan itu. Matanya penuh harap memandang mata teduh lelaki itu.
“Tak perlu risau, Kawan. Sudah menjadi ketetapan Tuhanmu bahwa rahmat-Nya melampaui dan meliputi segalanya. Dengan tulus kau telah melakukan semuanya. Shalat jamaahmu, dluha dan tahajudmu, shalawat bukti dan harapan cintamu pada Sang Nabi setiap menjelang tidurmu, tanggung jawabmu atas pekerjaanmu sebagai pegawai rendahan, keikhlasanmu dan tanggung jawabmu sebagai marbot mushalla, itu semua telah menjadi bagianmu. Hingga saat kini kau terbaring tak berdaya, telah dan akan selalu dicatat untukmu pahala seperti engkau melakukannya. Temanku yang mendampingi di sebelah kananmu telah melakukan tugas itu.
Mendengar kalimat lelaki tampan itu mimik muka Irfan menunjukkan sebuah perubahan.
“Kau tak percaya?” lelaki tampan itu tersenyum.
“Kau masih ingat kalimat Tuhanmu ajrun ghairu mamnun? Kau pasti ingat. Tuhanmu telah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna, dengan kekuatan dan akal. Lalu mereka dikembalikan pada keadaan yang paling rendah karena tuanya usia. Tak lagi kuat, tak lagi berakal sehat.
Mereka yang saat sempat dan sehat tak menggunakan kesempurnaannya di jalan Tuhannya sungguh merugi saat sempit dan lemahnya. Tapi tak begitu denganmu, Kawan. Sehat dan sempatmu kau langgengkan dengan amalan-amalan perintah dan anjuran Tuhanmu. Maka saat kini kau tak lagi sehat tak lagi sempat, Tuhanmu tetap dan akan selalu menulis untukmu pahala atas kebiasaanmu itu. Itulah ajrun ghairu mamnun. Kebaikan yang dibiasakan pahalanya tak akan pernah terputus, akan tetap dicatat meski tak lagi di amalkan. Kau mendapatkan itu.”
Irfan masih terdiam. Lelaki tampan itu kembali tersenyum. Tangannya makin erat menggenggam telapak tangan Irfan.
“Ya, kau mendapatkan itu.”
Kalimat ini begitu tegas menembus hati Irfan. Kebahagiaan begitu kuat merasukinya. Air matanya mengering. Bibirnya yang sedari tadi kaku kini lembut mengembangkan senyum. Otot-ototnya mengendur. Jemari tangan dan kakinya bergerak pelan. Hingga ia membuka mata. Memandang orang-orang yang mengelilinginya; orang tua, istri, anak-anak, dan kerabatnya.
“Alhamdulillah!”
Terdengar ucapan tahmid dari mulut mereka. Tak terkira bahagia mereka melihat perubahan baik pada diri Irfan. Mereka bersuka cita. Masa kritis itu sepertinya telah terlewati. Tak hentinya mereka bertahmid silih berganti.
Hingga akhirnya mereka panik. Suara mereka mengeras mengagetkan para suster yang sedang jaga. Mereka menjerit beristighfar, saat melihat monitor mesin pendeteksi detak jantung itu menampakkan garis lurus disertai bunyi panjang Tuuuuuuut………….

                                                                                                Tegal, 2 Mei 2014


Ide Cerita       :
QS. At-Tiin

Referensi        :
Tafsir Al-Munir, Dr. Wahbah Zuhaili

Mir’atul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, Abdullah al-Mubarakfury             

2 komentar:

  1. This piece of writing is genuinely a fastidious one it assists new net viewers, who are wishing for blogging. citicards costco login

    BalasHapus
  2. I really like what you guys tend to be up too. This kind of clever work and coverage! Keep up the very good works guys I've included you guys to my blogroll. netflix login member

    BalasHapus

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu