Home » » Kampung Shalawat (Bag. 1)

Kampung Shalawat (Bag. 1)

Seperti biasanya siang ini warung Yu Romlah terlihat ramai. Biasa, kalau waktunya nglaut atau rolasan warung kecil yang cuma satu-satunya di pinggiran hamparan sawah itu pasti ramai dikunjungi banyak pelanggan untuk makan siang. Ada tukang air dorongan, tukang becak, tukang tagih kredit, buruh bangunan, sampai pegawai rendahan kantor kelurahan.
Sebenarnya kalau hanya melihat menu masakannya warung itu tak ada yang istimewa. Setiap hari menunya tak pindah  dari tempe goreng telanjang, klubanan cipir dan bunga tronggong, ikan asin, sayur asem, dan sambel tauge. Menu yang disebut paling akhir itulah menu yang paling diminati para pelanggan warung Yu Romlah.
Satu lagi yang menjadi alasan banyak orang kecil suka makan di situ. Tempatnya yang di pinggiran hamparan sawah, dengan menempatkan beberapa meja di bawah rindangnya pohon beringin tua, menjadikan mereka betah berlama-lama menikmati makan siang.
Seperti siang ini, di meja paling dekat pohon asem itu berkumpul Mas Warno yang staf kelurahan, Lek Rokim tukang air dorongan, Pakde No yang pekerja serabutan, dan Kang Dayat penjual batagor yang biasa mangkal di depan SD inpres satu-satunya di desa itu. Mereka selalu berkumpul satu meja saat makan siang di warung Yu Romlah. Makan bersama sambil memperbincangkan apa saja.
“Kang Dayat,” Lek Rokim memulai perbincangan, “Sampeyan semalam ikut jam’iyahan to?”
“Iya, memang kenapa, Lek?” Kang Dayat balik bertanya sambil memasukkan suapan nasi pertamanya. Sementara dua orang lainnya juga baru memulai menikmati makan siangnya.
“Begini, Kang. Semalam aku kok tidak begitu paham dengan apa yang di sampaikan oleh Kang Sodrun.”
“Soal gagasannya tentang Kampung Shalawat itu ya, Lek?” Kang Dayat menebak.
“Iya. Itu maksudnya apa to?” Kang Dayat menyahut sambil mengelap keringat di hidungnya yang meleleh akibat sambel tauge yang cukup pedas.
“Kampung Shalawat?!” Mas Warno menyela, menghentikan pembicaraan kedua temannya, juga menghentikan sejenak kunyahan nasi di mulutnya. “Apa itu Kampung Shalawat?” tanyanya kemudian.
“Begini. Aku juga baru tahu soal itu semalam dari Kang Sodrun waktu jam’iyahan. Kayaknya Pakde No lebih paham soal itu. Yang kutahu, sebelum Kang Sodrun menyampaikan gagasan itu di jam’iyahan, ia sudah sering membicarakannya dengan Pakde No. Benar kan, Pakde?”
Pakde No tak menjawab. Ia asik menyeruput kuah sayur asemnya sendok demi sendok. Lalu sedikit berteriak memanggil pemilik warung.
“Yu Romlah, tempe wudane minta lagi!”
Enggeh, Pakde!” sahut Yu Romlah.
Setelah meminum es teh tawarnya Pakde No baru berbicara pada teman-temannya.
“Yang aku tahu soal Kampung Shalawat itu begini. Kang Sodrun pengin kampung kita ini dikenal oleh banyak orang dengan sebutan Kampung Shalawat. Dalam bayangannya, pada saatnya nanti, kalau seseorang dari terminal umpamanya mau naik becak menuju kampung ini, orang itu tidak lagi menyebutkan Pak becak, ke Desa Keturen ya? Tapi orang itu akan mengatakan Pak becak, ke Kampung Shalawat ya? Begitu.”
Mendengar sepenggal permulaan cerita Pakde No ini semestinya ketiga temannya ingin mengatakan sesuatu, namun mereka tetap berdiam menunggu kelanjutan ucapan Pakde No.
“Lah, bagaimana Kampung Shalawat itu bisa diwujudkan? Ya dengan menggalakkan pembacaan shalawat di kampung kita. Caranya begini. Melalui jam’iyahan bapak-bapak, jam’iyahan ibu-ibu, dan juga melalui kumpulan RT, Kang Sodrun akan menganjurkan agar setiap warga kampung ini mau membaca shalawat minimal seratus kali setiap habis shalat magrib. Atau bagi yang tidak shalat maghrib tetap membacanya setiap datang waktu maghrib. Itu minimal. Selebihnya kalau orangnya mau bisa memperbanyak lagi berapapun, kapanpun, di manapaun, sambil melakukan aktifitas apapun. Ini untuk kegiatan hariannya.
Untuk kegiatan mingguannya di mushalla nantinya akan diadakan pembacaan shalawat Diba’ atau Barzanji setiap seminggu sekali. Kegiatan ini bisa dilakukan di mushalla atau berpindah dari satu rumah warga ke rumah yang lain.
Nah, kalau sebagian besar warga sudah merutinkan bacaan shalawat tiap maghrib, dan bacaan Diba’ atau Barzanji sudah rutin tiap minggu, nantinya di perempatan jalan masuk kampung kita akan dipasang semacam gerbang masuk desa dengan tulisan besar “Memasuki Kampung Shalawat; Jalan Perlahan dan Bacalah Shalawat”.
Lalu, di sisi kanan dan kiri jalan kampung setiap lima puluh meter akan dipasangi sebuah papan ukuran cukup yang ditulisi bacaan shalawat.”
Sampai di sini Pakde No berhenti bicara. Ia kembali meminum es teh tawarnya, lalu menuangkan lagi air teh ke dalam gelasnya dari teko yang sudah disediakan pemilik warung di setiap meja. Sementara Lek Rokim kembali memasukkan suapan ke mulutnya, Mas Warno mencolek sambel tauge dengan tempe goring telanjang, dan Kang Dayat kembali mengelap keringat yang bercucuran di mukanya.
Dan sebelum yang lain memulai lagi perbincangan ini Mas Warno yang staf kelurahan lebih cepat mengawalinya, “Wah, itu kalau sampe pasang tulisan besar di gerbang masuk desa ya mesti ijin sama pemerintah setempat.”
Mendengar ucapan Mas Warno ini Lek Rokim yang sedang mengunyah makanannya mendadak mendongakkan kepala. Matanya ia tujukan ke arah Mas Warno. Ia percepat kunyahannya. Mimiknya agak serius.
“Kamu ito lho, kadiran pegawai kelurahan ngomongnya sedikit-sedikit ijin pemerintah. Memangnya ini haknya pemerintah? Justru semestinya kamu usulkan sama atasanmu, kalau rakyatnya mau ada hajat besar, dibantu begitu. Pemerintah yang melayani masyarakat. Kok malah ijan-ijin?!”
Lek Rokim ketus. Mas Warno yang dibilang begitu cuma cengar-cengir. Yang menanggapi justru Kang Dayat, “Ya maklum to, Lek. Wong Mas Warno ini orang pemerintahan kok, ya bicaranya soal administrasi.”
Tak ada yang menyahuti ucapan Kang Dayat. Semuanya terlihat asik menikmati sisa makanannya. Lek Rokim yang makanannya habis lebih dulu kembali bicara pada Pakde No.
“Pakde, kok Kang Sodrun penginnya menggalakkan shalawat ya? Mengapa bukan membaca Al-Qur’an saja? Mengapa bukan mengajak orang kampung shalat berjamaah saja? Semua kan tahu kalau orang di sini masih pada aras-arasen shalat. Trus, mengapa kok membacanya ditentukan habis maghrib? Kenapa, Pakde?”
Semua kepala tertuju pada Pakde No, menunggu kalimat yang akan disampaikan atas pertanyaan beruntunnya Lek Rokim. Tapi belum juga Pakde No berbicara mereka dikagetkan oleh suara keras Yu Romlah yang ditujukan pada Kang Jalisan, “Walah, Kang Jalisan, Kang Jalisan! Sampeyan itu kalo makan di sini mesti utang. Mau bayarnya kapan, Kang? Makanya sih, kertja dapat uang jangan buat judi terus!”
Kang Jalisan yang berdiri di depan Yu Romlah menjawab enteng, “Makanya to, Yu. Sampeyan kalo malam habis shalat tahajud mbok ya aku sering-sering didoakan. Biar aku selalu menang judi, jadi bisa cepet-cepet bayar utang sama Sampeyan.”
“Waalllah!” Yu Romlah menyahut keras, mencibirkan bibirnya.

Pakde No. Lek Rokim, Kang Dayat, dan Mas Warno yang melihat itu tertawa.

                                                                                        Tegal, 2 Mei 2014

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu