Home » » Anfa'

Anfa'

 “Allahumma shalli ‘alaih!”
Shalawat itu dibaca dengan suara keras serempak oleh para anggota jam’iyahan setelah sebelumnya sang pembawa acara memberi aba-aba dengan suara keras pula, “Shallu ‘alan Nabi Muhammad!” Lalu para anggota jam’iyahan malam Jum’at itu bangun dari duduknya untuk kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Ya, bacaan shalawat seperti itu selalu diucapkan setiap kali rangkaian sebuah acara keagamaan seperti jam’iyahan sudah selesai. Sebagai penutup yang paling akhir maka para hadir pun segera bangkit untuk kemudian pergi meninggalkan majelis. Karena—seakan—berfungsi untuk membubarkan jama’ah maka oleh masyarakat di kampung ini shalawat tersebut serngkali dinamai “shalawat bubar” atau “shalawat ngusir”.
Dan malam itu, setelah “shalawat ngusir” itu diucapkan para jama’ah satu persatu meninggalkan rumah Lek Mul yang malam Jum’at itu sebagai “shahibul ketiban”. Seperti biasa tersisa beberapa orang yang masih duduk-duduk belum beranjak pulang. Mereka adalah para pengurus jam’iyah dan satu dua anggota. Pakde Wiryo sang ketua, Mas Mukidin bendahara, Kang Sodrun pembina, serta Lek Pras dan Mas Dar yang selalu didapuk untuk ng-emce-ni acara jam’iyahan.
Mereka ini yang selalu pulang belakangan. Perlunya untuk menghitung jumlah anggota yang hadir, menghitung uang kas, dana sosial, dan dana modal usaha yang masuk malam itu. Setelah semuanya beres baru lah mereka pamit meninggalkan tempat. Namun malam ini mereka tak segera berpamitan setelah semuanya selesai. Mas Mukidin sang bendahara membuka pembicaraan.
“Kang Sodrun, sampeyan tidak keburu-buru pulang, to? Kita ngobrol-ngobrol sebentar ya, Kang?” katanya pada Kang Sodrun.
“Boleh, kok kayaknya ada yang perlu dibicarakan? Lah yang lainnya apa tidak pada mau langsung pulang?” Kang Sodrun menjawab sembari bertanya.
“Tidak, Kang,” yang menimpali Pakde Wiryo sambil mengisikan teh panas ke gelas-gelas kosong yang ada di depan orang-orang yang ada. “Kita sepakat mau ngobrol sama sampeyan malam ini.”
“Weh lah, sepertinya kok penting ini. Memangnya ada apa?” Kang Sodrun penasaran.
“Ini soal politik, Kang.” Mas Mukidin cepat menyela.
“Loh?!” Kang Sodrun sedikit terperangah.
“Begini, Kang,” Mas Mukidin memulai. “Sebetulnya kita mau bicarakan hal ini sudah sejak lama, sejak sebelum pemilu kemarin itu. Di desa ini kan, dan juga desa-desa sekitar, banyak jam’iyahan seperti jam’iyahan kita ini. Dulu waktu musim kampanye menjelang pilpres banyak jam’iyahan yang menjadi obyek kampanye. Bahkan ada juga yang pembinanya secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mengajak jama’ahnya untuk memilih capres tertentu. Terus terang saat itu kita anggota jam’iyahan ini rerasanan kalau sampeyan yang membina jam’iyahan ini mendukungnya siapa? Terus jam’iyahan ini apa ya mau dibawa-bawa sampeyan ke capres tertentu? Wong lain-lainnya pada ramai bicara politik kok sampeyan adem ayem saja. Begitu lho, Kang.”
“Wualaaah...!” ucap Kang Sodrun sedikit tinggi mendengar penjelasan Mas Mukidin. “Terus apa pentingnya? Lah wong sudah kelewat kok. Presidennya juga sudah kepilih. Sudah kerja malah. Kok malah mau bahas-bahas barang yang sudah basi. Sudah, nggak penting blas. Ayo pulang.”
“Ya nggak begitu, Kang.” Pakde Wiryo cepat menimpali, mencegah agar Kang Sodrun tak benar-benar bangkit dari duduknya.
“Kami hanya sekedar pengin tahu saja sikap sampeyan dalam hal memilih pemimpin,” lanjut Pakde Wiryo.
“Lah iya, apa penting? Kan ya tidak, to?” kilah Kang Sodrun.
“Kang kita ini sudah hafal sikapnya sampeyan,” kini yang berbicara Lek Mul si pemilik rumah. “Kalau sampeyan diam atas urusan yang banyak dibicarakan warga, biasanya ada sesuatu yang sampeyan pikir. Biasanya diamnya sampeyan itu punya pertimbangan lain yang mbedani dari kebanyakan orang. Lah, ya sekarang kita ingin tahu, kalau saja ada yang bisa kita ambil pelajaran.”
Agak lama Kang Sodrun terdiam. Diraihnya gelas yang ada di depannya. Beberapa kali ia meminum airnya sedikit demi sedikit, masih cukup panas. Sementara yang ada di situ terdiam, menunggu apa yang akan disampaikan Kang Sodrun. Usai menarik dan membuang nafas kuat-kuat Kang Sodrun mulai bicara.
“Soal pemilihan presiden itu, menurutku, kita sebagai warga negara cuma punya kewajiban memilih, nyoblos. Itu saja. Soal kampanye, mempengaruhi orang untuk mendukung ini dan itu bukan kewajiban kita. Sudah itu saja jawaban saya.”
Sejenak semuanya terdiam.
“Masak ya cuma itu, Kang?” Mas Dar tak puas.
“Lah, mau apa lagi?”
“Masak iya sih, Kang, semua orang membicarakan soal capres tapi sampeyan diam saja tanpa alasan?” Mas Dar memancing, sambil tangannya meraih pisang godok yang tinggal satu-satunya di piring.
“Karena kurasa tak ada manfaatnya, malah banyak madharatnya,” timpal Kang Sodrun cepat. Sepertinya pancingan Mas Dar mengena.
“Kok begitu, Kang?” Lek Pras mengejar.
Kang Sodrun tak segera menjawab. Ia kembali meminum tehnya. Beberapa biji kacang kulit ia ambil dan makan sebelum kemudian kembali bicara.
“Coba sampeyan semua ingat kembali segala hal yang terjadi semenjak sebelum pemilu kemarin. Tak usah yang jauh-jauh. Lihat saja di masyarakat sekitar kita, di kampung ini. Tak sedikit di antara warga yang saling ejek, adu mulut dengan kata-kata yang tak pantas hanya karena saling membela calon yang didukung dan dipilihnya.
Itu di kampung kita. Di tingkat nasional yang terjadi bukan sekedar saling ejek tapi juga saling fitnah pada calon yang tak didukung. Satu pihak mengatakan bahwa calon ini adalah penghianat bangsa, pelanggar HAM, ingin jadi presiden demi meraup keuntungan materi karena perusahannya lagi kolap, dan lain sebagainya. Sementara pihak yang lain tak kalah pedas mengatakan kalau calon itu antek asing, antek komunis, tidak amanah, pengingkar janji, sampai menyebutkan bukan penganut agama Islam.
Saya pikir, mereka itu menuduhkan dan membicarakan semua itu apa benar-benar berdasar bukti? Apa mereka benar-benar tahu persis permasalahannya? Kalau ternyata hanya dibuat-buat saja tanpa bukti nyata untuk menjatuhkan lawan, apa itu bukan fitnah?”
Sejenak Kang Sodrun menghentikan kalimatnya.
“Ada orang yang mengatakan calon ini tak layak jadi presiden karena tak punya isteri. Haha, apa undang-undangnya mengatur kalau syarat jadi presiden harus punya istri? Katanya juga pelanggar HAM yang semestinya perlu diadili. Lah kalau belum diadili kan ya belum bisa disebut salah to?
Lebih-lebih, saya tak habis pikir dengan mereka yang membawa-bawa soal agama untuk menyerang lawannya. Katanya calon yang itu bukan seorang muslim, maka jangan dipilih. Sebab bangsa ini sebagian besar penduduknya muslim maka harus dipimpin orang muslim. Lah bagaimana bisa mereka katakan kalau calon itu bukan muslim? Apa mereka tahu betul agama aslinya calon itu, sampai-sampai dibuatkan berita kematiannya dengan mencantumkan nama bukan muslim? Ini kan kebablasan to? Kalau yang menuduhkan ini orang Islam apa dia tidak sadar kalau tuduhannya itu bisa membalik pada dirinya sendiri?”
Suara Kang Sodrun sedikit meninggi. Namun belum juga ia melanjutkan kalimatnya dengan cepat Mas Dar menyela, “Wah, kayaknya sampeyan pendukung salah satu calon nih, Kang. Hehehe...”
“Loh sampeyan keliru kalau memahami ucapanku seperti itu. Ini bukan soal siapa mendukung siapa. Ini soal perilaku dalam mendukung dan tidak mendukung. Bagiku siapa mendukung siapa itu hak masing-masing warga negara. Tapi perilaku dalam menyampaikan dukungan dan penolakan pada calon tertentu itu harus diperhatikan.
Coba jawab dengan jujur. Kita membela mati-matian seorang capres, dan juga membenci mati-matian capres yang lain, sebenarnya berdasarkan pengetahuan nyata yang kita miliki atau hanya karena kebetulan partai yang kita dukung memilih capres itu?”
Ditanya seperti itu semua yang ada tak ada yang menjawab. Mereka hanya cengar-cengir saja. Kang Sodrun pun bisa menebak, sesungguhnya mereka tak punya pengetahuan yang cukup dan benar dengan para capres itu. Lah wong pernah ketemu saja tidak kok.
“Sekali lagi soal membawa-bawa agama itu,” lanjut Kang Sodrun. “Coba sampeyan perhatikan. Orang-orang yang menolak calon tertentu dengan alasan agama aku kira bisa dipahami kalau mereka itu orang-orang agamis yang penginnya pemimpin negara ini juga agamis sehingga mengelola negara ini sesuai dengan aturan-aturan agama.
Tapi coba lihat bagaimana perilaku mereka dalam mewujudkan keinginannya itu. Mengatakan seseorang itu bukan muslim padahal jelas dia adalah seorang muslim apa itu perilaku agamis? Islami? Jelas Kanjeng Nabi saja sudah mengingatkan kalau ada orang menuduh seorang muslim sebagai kafir maka kekafiran itu berbalik pada dirinya sendiri?
Lalu menuduh seseorang dengan bermacam tuduhan yang belum pasti benarnya apa itu dibenarkan oleh agama? Apa itu Islami? Membuat dan menyebarkan berita yang tak jelas sumbernya dan tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, apa itu perilaku agamis? Apa itu Islami?
Kurasa tidak semestinya kita berusaha mengalahkan calon yang tak kita dukung dengan cara-cara yang demikian. Meski kita tak mendukungnya jangan sampai kita berlaku tidak baik kepadanya. Bukankah agama kita yang mengajarkan, bahwa jangan sampai kebencianmu kepada suatu kaum menjadikanmu tidak mau berbuat adil kepada kaum itu?[1] Artinya, jangan sampai hanya karena kita tak medukung calon tertentu lalu kita melakukan tindakan buruk kepadanya.
Lha, kalau kita pengin negara ini menjadi negara yang Islami, lalu cara-cara yang dilakukan justru cara-cara yang tidak dibenarkan oleh agama Islam, lalu negara Islami yang model apa yang kita inginkan? Apa dibenarkan, untuk menuju sebuah kebenaran dan kebaikan maka cara yang salahpun boleh dilakukan? Kan ya tidak, to?”
Semua terdiam. Mas Mukidin mengubah letak duduknya. Mas Dar mengambil sepotong semangka yang tak lagi dingin. Sementara Kang Sodrun mengelilingkan pandangannya ke wajah semua yang ada di ruang itu.
“Jadi sudahlah,” Kang Sodrun memulai kembali, kali ini suaranya mendatar. “Sekarang presiden sudah ada. Sebagai warga negara, lebih-lebih yang beragama Islam, kita punya kewajiban untuk mentaati pemerintah kita, siapapun itu. Bahkan Kanjeng Nabi dengan tegas memerintahkan kita untuk taat pada pemimpin meski ia seorang budak sahaya sekalipun.[2]
Yang terpenting lagi, kita berharap semoga para pemimpin kita dijadikan Allah sebagai pemimpin yang amanah, yang adil. Demikian juga dengan kita. Sebagai warga masyarakat, warga negara, kita mesti bisa amanah, adil pada siapapun termasuk pada orang yang tidak kita sukai. Sikap seperti ini penting untuk keberlangsungan kehidupan negara dan bangsa kita.
Ingat! Al-Qur’an menyebutkan bahwa umat-umat terdahulu tidak dibinasakan oleh Allah karena kekufuran dan kemusyrikan mereka, tapi karena jeleknya perilaku mereka dalam berhubungan antar sesama.[3] Maka, selama satu sama lain saling menghormati haknya masing-masing, masyarakat mentaati pemerintah dan undang-undang yang berlaku, pemerintahnya juga berlaku adil dan amanah atas kepercayaan yang diembannya, insya Allah bangsa ini akan dilanggengkan oleh Gusti Allah.”
Sekali lagi semuanya terdiam, beberapa saat.
“Itulah sebabnya aku tak mau banyak bicara soal pemilu, soal capres.” Sambung Kang Sodrun. Tak ada manfaatnya menurutku. Lah wong aku ini rakyat biasa kayak sampeyan semua. Membela capres yang didukung tak bakalan ngaruh. Mencibir dan memfitnah capres yang tak didukung juga sama saja tak ngaruh. Tak manfaat malah madharat. Saat itu, mendingan kita bicara soal apa yang ada di sekitar kita. Soal bagaimana warga yang belum mau ikut jam’iyahan bisa mau ikut. Soal bagaimana hari raya kurban kemarin di mushalla kita bisa mengadakan kurban seperti tahun sebelumnya. Soal bagaimana bulan maulid nanti kita rayakan lebih ramai lagi dari tahun sebelumnya. Membicarakan itu semua hasilnya lebih jelas to? Lebih jelas manfaatnya, lebih anfa’. Manfaatnya nyata. Dan ini juga bagian dari ikut serta membangun bangsa, meski pada wilayah yang paling kecil, tingkat RT.
Dan ini lebih Islami. Kanjeng Nabi sendiri kan yang mengajarkan, bahwa sebagian tanda baiknya islam seseorang itu bila mau meninggalkan yang tak bermanfaat. Beliau juga mengajarkan, kalau kita mengimani Allah dan hari kiamat, maka semestinya kita berkata yang baik, atau kalau tidak bisa ya diam saja.[4] Begitu to?”
Kang Sodrun mengambil gelasnya. Air teh yang telah dingin segera ia habiskan. Menyadari waktu makin larut malam ia tak berniat meneruskan ucapannya. Dengan suara agak keras ia ucapkan komando shalawat ngusir, “Shallu ‘alan Nabi Muhammad!”
Serempak yang ada di sana menjawab, “Allahumma shalli ‘alaih!”
Dalam perjalanan pulangnya Kang Sodrun berharap apa yang disampaikannya tadi memberi manfaat bagi masyarakatnya; Anfa’.

Tegal, 26 November 2014




[1] QS. Al-Maidah: 8
[2] Al-Arba’in al-Nawawy, Imam Yahya bin Syaraf al-Nawawi
[3] QS. Huud: 117. Lihat tafsir di antaranya al-Qurtubi, jil. 9, hal. 114 dan al-Baidlowi, jil. 3, hal. 153.
[4] Al-Arba’in al-Nawawy, Imam Yahya bin Syaraf al-Nawawi

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu