Home » » Terlambat

Terlambat

Jam dinding di rumah Kang Sodrun menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Melihatnya Kang Sodrun terbelalak. Itu artinya lima belas menit lagi jam masuk kelas sekolah anak pertamanya dimulai. Maka spontan ia memanggil-manggil anak pertamanya itu. Dan ia begitu kaget ketika sang anak baru mau memakai baju sekolahnya.
“Oalah, dari tadi ngapain saja, jam segini baru mau pake seragam!” Kang Sodrun mengomel. “Sudah ayo cepetan, terlambat kamu, nak!”
Biasanya jam segini Kang Sodrun memang sudah berangkat bersama anak pertamanya itu. Menuju ke sekolah si anak, lalu meneruskan perjalanan ke tempat kerjanya. Sedangkan istrinya, Yu Siti, bertugas mengantar anak keduanya ke sekolah sebelum ia sendiri berangkat ke sekolah tempatnya mengajar.
Hari ini Yu Siti berangkat lebih awal, jam setengah tujuh, karena sedang musim ujian semester dan ia mendapat tugas sebagai panitia bagian penyiapan naskah soal. Sedangkan Kang Sodrun sendiri sejak pukul enam lebih tadi kedatangan tamu dan baru saja pamit undur diri. Maka jadilah anak pertamanya itu tak ada yang nggedag-gedak agar segera melakukan persiapan berangkat sekolah.
“Ayo cepetan, nak!” omelnya lagi, kali ini tak begitu keras.
Usai memakai seragam si anak minta untuk tidak sarapan, takut terlambat.
“Ya terlambat lah, lha wong kamu lele menthe gitu kok. Nggak bisa, pokoknya harus makan meski dua atau tiga sendok. Aku nggak mau kamu sakit terus nanti siang nggak berangkat ngaji al-Qur’an. Lebih baik kamu terlambat dari pada nggak makan terus bolos ngaji qur’an.” Tegas Kang Sodrun berkata.
Maka, dengan kesusu, si anakpun makan dua tiga suap sekedar untuk isi-isi perut. Lalu keduanya berangkat. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit.
Kang Sodrun mengendarai sepeda motornya lebih cepat dari biasanya. Untung jalanan lengang. Jelas, ini karena mereka yang bertugas ke kantor dan yang ke sekolah sudah memenuhi jalanan beberapa menit yang lalu. Artinya, lengangnya jalanan ini karena semua pengguna jalan sudah sampai di tempat masing-masing.
Perjalanan ke sekolah si anak yang biasanya ditempuh sepuluh menit hari ini ditempuh dalam waktu lima menit. Kang Sodrun melihat jam di Hpnya. Terlambat sepuluh menit. Bila biasanya ia berhenti dan menurunkan anaknya di depan pintu gerbang sekolah kini ia membawa sepeda motornya masuk ke komplek dan menurunkan anaknya di halaman tepat di depan pintu masuk kelas.
Kang Sodrun tak langsung meninggalkan anaknya. Ia menunggu memastikan anaknya benar-benar masuk kelas dan diterima oleh sang guru. Di dalam kelas itu ia melihat seorang guru perempuan muda berjilbab berdiri membimbing para murid melantunkan doa-doa sebelum pelajaran dimulai. Dilihat dari seragam yang dipakainya sepertinya guru muda itu seorang mahasiswa yang sedang menjalani tugas PKL.
Memastikan anaknya telah masuk dan diterima sang guru Kang Sodrun kembali menyalakan mesin sepeda motornya. Ia hendak melanjutkan perjalanan ke tempatnya bekerja. Namun belum sempat ia menjalankan sepeda motornya ia tertegun mendengar dan melihat sang guru muda itu bersama-sama para murid memekikkan kalimat takbir seraya mengangkat dan menggerak-gerakkan tangan ke atas dengan telapak terkepal. Allahu akbar! Allahu Akbar! Allahu akbar!
Sejenak ia terdiam. Tiba-tiba hatinya miris mendengar takbir itu. Bulu kuduknya berdiri, merinding. Di dalam sana hatinya berbisik, semoga anakku belum sempat duduk di kursinya dan tidak ikut bersama guru dan temannya memekikkan kalimat takbir itu. Dan bila memang demikian harapannya, maka diam-diam hatinya bersyukur bahwa pada hari ini Allah telah membuat skenario sedemikian rupa hingga anaknya datang terlambat di sekolah dan tak sempat mengikuti pekikan takbir itu.
Untung kau terlambat, nak. Begitu ia membatin. Melihat kehidupan beragama di negeri ini akhir-akhir ini, di usiamu yang masih dini aku tak ingin melihatmu memekikkan asma Tuhanmu dalam kalimat takbir sambil kau kepalkan tanganmu ke atas. Tidak, nak. Aku tak ingin kau lakukan itu. Tidak untuk sekarang.
Nanti. Pada saatnya kelak akan aku ajarkan kepadamu mengucapkan kalimat takbir Allahu akbar. Tapi bukan dengan mengepalkan tangan ke atas. Bukan dengan memekikkannya dengan suara lantang nan keras hingga urat-urat di lehermu terlihat membesar menimbulkan rasa takut yang melihatnya.
Yang kuinginkan adalah kau ucapkan kalimat takbir itu dengan hati yang khusyuk dan khudlu’, yang dengannya engkau akui kebesaran Tuhanmu, bahwa Tuhanmu benar-benar Maha Besar dan tak ada yang melebihi kebesaran-Nya. Kalimat takbir yang dengannya engkau tundukkan kepalamu, engkau turunkan dada dan egomu. Engkau merasa kecil di hadapan-Nya, juga di hadapan para makhluk-Nya.
Yang demikian itu menjadikanmu merasa tak layak dan tak mampu untuk berbuat semena-mena pada sesama. Karena di depan kebesaran Tuhanmu kau bukanlah siapa-siapa, bukan pula apa-apa.
Ucapkanlah asma Tuhanmu dalam kalimat takbir, yang menjadikanmu merasa perlu menghormati setiap makhluk ciptaan-Nya, hingga seekor semut sekalipun merasa aman di bawah telapak kakimu.
Yang kuinginkan, Nak, dengan takbirmu itu engkau memahami dengan sepenuh dan sebaik pemahaman bahwa hanya Tuhanmu yang layak berbuat apapun sekehendak-Nya. Bahwa hanya di tangan kekuasaan-Nya seseorang layak diadili atau dirahmati. Karena Dial ah yang Maha Besar, dan tak ada yang lebih besar dari-Nya.
Pada saatnya nanti aku ingin kau ucapkan dan agungkan asma Tuhanmu dalam kalimat takbir itu. Untuk mengakui kebesaran-Nya. Untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Nak, pada saatnya nanti aku tak ingin mendengar bibirmu memekikkan takbir yang dengannya orang-orang di sekitarmu merasa takut melihat urat nadi di lehermu menjadi besar, dengan tangan mengepal kau tunjuk-tunjukkan ke atas, terlebih dengan membawa berbagai benda yang kau maksudkan untuk menyakiti sesama hamba.
Bukan kalimat takbir Allahu akbar yang dengannya kau umbar kata sesat bagi siapapun yang tak sepaham denganmu, kau kafirkan yang menurutmu tak sesuai ajaran agama seperti yang kau pahami, bahkan kau singkirkan mereka yang tak mengakui Tuhan sembahanmu.
Aku sungguh tak ingin kalimat mulia itu terucap olehmu demi dirimu terlihat maha besar dengan mengecilkan sesamamu. Demi dirimu terlihat hebat dengan menganggap orang lain sesat, seakan untuk itu kepadamu Tuhanmu memberi mandat.
Nak, kini teruslah kau belajar lebih dahulu. Jangan pernah berhenti mempelajari ilmu Tuhanmu. Dengan ilmumu itu kau akan mengenal siapa Tuhanmu dan siapa dirimu. Dengan ilmumu kau akan tahu bagaimana semestinya berperilaku. Akan kau lihat di sana, betapa banyak mereka yang menginginkan kebenaran namun perilakunya jauh dari kebenaran. Betapa mereka begitu semangat membela agama ini dengan cara-cara yang tak disukai oleh agamanya. Karena terbatasnya ilmu.
Teruslah belajar, nak. Aku ingin mendengar kau membaca takbir Allahu akbar dengan kesempurnaan ilmumu, bukan dengan keserakahan nafsumu.
Kang Sodrun masih terpaku, di halaman tepat di depan kelas anaknya. Sekali lagi hatinya berbisik mengucap syukur atas skenario hidup yang baru saja ia jalani, yang menjadikannya melakukan sesuatu yang selama ini ia berusaha hindari; Terlambat.



                                                                        Tegal, 22 November 2014.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu