Home » » Cerita Guruku: Slilit

Cerita Guruku: Slilit

Seorang kyai dari Malang hadir di sebuah acara dzikir di pesantrennya Kyai Dahlan. Kyai dari Malang itu mengenyam pendidikan agamanya di Mesir dan cukup dikenal keluasan ilmunya oleh masyarakat saat itu.
Acara dzikir yang digelar oleh Kyai Dahlan diikuti bukan saja oleh para santri, namun juga dihadiri banyak masyarakat umum. Saat dzikir bersama sang kyai mendengar alunan penyebutan asma Allah yang tidak semestinya oleh masyarakat awam yang hadir di sana. Asma Allah yang semestinya dibaca yaa Haayu yaa Qayyumu dibaca “ya kayuku ya kayumu”.
Saat acara selesai sang kyai menemui Kyai Dahlan dan memprotes atas apa yang ia terdengar. Menurutnya hal itu adalah bid’ah yang sesat, khurafat, dan haram dilakukan. Menanggapi hal ini Kyai Dahlan berkata, “Tak mengapa, Kyai. Mereka itu orang-orang awam yang belum tahu betul tentang agama. Jadi biarlah dahulu mereka berdzikir seperti itu.”
Namun sang kyai dari Malang itu tetap tak menerima alasan Kyai Dahlan itu.
Lumrahnya acara dzikir bersama Kyai Dahlan memberikan hidangan makan untuk semua jamaah yang hadir. Sang kyai dari Malang itu pun ikut menikmati hidangan yang diberikan Kyai Dahlah.
Usai makan rupanya ada sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi sang kyai, slilitan. Maka ia keluar rumah dan mengambil sebagian kecil bamboo yang menjadi pagar rumah Kyai Dahlan. Dnegan bamboo itu sang kyai menghilangkan slilit dari mulutnya. Dari dalam rumah Kyai Dahlan melihat apa yang dilakukan tamunya di luar sana.
Tak berapa lama sang kyai berpamitan pulang. Namun Kyai Dahlan mencegah karena sudah sangat malam. “Lebih baik tidur di sini dulu, Kyai. Hari sudah sangat malam. Lagi pula tukang gethek di sungai brantas sudah tidur,” ucapa beliau.
Namun tamu yang kyai itu bersikeras untuk pulang. Maka apa boleh buat Kyai Dahlan mengantarnya hingga ke tepian sungai brantas. Tidak ingin mengganggu tidurnya si tukang gethek Kyai Dahlan menawarkan pada tamunya, “Kyai, kalau Kyai mau silakan pegang tangan saya. Akan saya antar menyeberangi sungai ini hingga di seberang sana.”
Mendengar ucapan Kyai Dahlan ini sang kyai menolaknya dengan keras dan mengatakan bahwa apa yang hendak dilakukan Kyai Dahlan itu sebagai tindakan khurafat yang haram dilakukan. Maka dengan berat hati Kyai Dahlan membangunkan tukang gethek dan memintanya untuk menyeberangkan tamunya itu dengan gethek.
Tak lama setelah malam itu terdengar kabar bahwa kyai dari Malang itu meninggal dunia. Namun yang menjadi keheranan masyarakat adalah bahwa saat jenazah sang kyai hendak dimakamkan liang kuburnya selalu longsor hingga harus digali lagi. Namun kejadian yang sama terus terjadi berulang kali setiap kali jenazah itu mau diletakkan di liang.
Seseorang melaporkan peristiwa ini kepada Kyai Dahlan. Mendengar laporannya Kyai Dahlan berbicara, “Kyai yang meninggal itu orang yang alim lisannya, tapi bodoh hatinya. Ia telah mengambil bambu pagar rumahku untuk melepas slilit di giginya tanpa meminta ijin kepadaku. Bumi tak mau menerima jenazah orang yang melakukan tindakan seperti itu!”
(KH. Subhan Makmun, Brebes, 7 Desember 2014)


0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu