Home » » Syubhat

Syubhat

Kyai Hasanudin, Songgom Brebes, aku mengenalnya sebagai seorang wali Allah. Kewaliannya bukan karena keilmuannya tapi karena akhlak perilakunya yang luar biasa baik kepada sesama, terlebih kepada para cucu Rasulullah.
Satu ketika aku sowan ke rumah beliau. Memasuki ruang tamunya aku tertegun melihat keramik lantai ruangan tamu. “Rasanya keramik ini sama dengan keramik yang ada di madrasah Kyai Hasanudin,” begitu aku membatin. Aku jadi menyangka kalau keramik di ruang tamu ini memang keramik madrasah. Namun segera kutampik pikiran itu. Aku yakin betul Kyai Hasanudin bisa memilah-milih yang yang menjadi haknya dan mana yang bukan haknya.
Tak lama berselang Kyai Hasanudin masuk ke ruang tamu menemui para tamu yang ada di sana. Beliau duduk di tempatnya di lantai beralaskan kain tebal. Tak lama beliau duduk para tamu dikagetkan dengan sebuah kejadian. Lantai yang diduduki Kyai Hasanudin bergerak-gerak hingga tubuh Kyai Hasanudin terangkat. Lalu terdengar suara gemeretak di sana-sini. Apa yang terjadi? Satu per satu keramik di ruang tamu itu terlepas dengan sendirinya hingga tak satu pun yang tersisa.
Kami yang ada di ruangan itu hanya bisa menggelengkan kepala, tertegun tak mengerti.
Tak lama setelah Kyai Hasanudin meninggal aku bertemu dengan keluarga beliau. Di tengah pembicaraan kami sempat menyinggung soal keramik yang pada lepas dengan sendirinya itu. Keluarga beliau mengatakan, “Keramik-keramik itu memang keramik madrasah. Saat pemasangannya bapak tidak sedang ada di rumah. Beliau sangat menyesal saat pulang ke rumah keramik itu sudah terpasang tanpa sepengetahuan dan seijinnya. Namun bapak tidak ingin membuat repot dan mengecewakan orang lain, maka dibiarkannya keramik itu tetap terpasang.”
Aku baru paham dan yakin Kyai Hasanudin memang wali Allah. Sikapnya yang berhati-hati dengan barang yang bukan haknya menjadikan beliau dijaga oleh Allah dengan lepasnya keramik-keramik yang bukan haknya itu seketika.
(KH. Subhan Makmun, Brebes, 7 Desember 2014)


0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu