Home » » Kang Sodrun: Gelang Emas

Kang Sodrun: Gelang Emas

Kang Sodrun terdiam. Ia pandangi telapak tangan kanannya. Bibirnya mengulas sebuah senyum kecil. Baru saja ia menerima sebuah gelang emas dari tangan pelayan toko setelah sebelumnya ia bertransaksi dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai pembayaran.
Apa yang selama ini diinginkan Kang Sodrun sore ini akhirnya terwujud. Sebuah keinginan untuk bisa membelikan perhiasan bagi Yu Siti, istrinya, meski dalam bentuk yang paling sederhana. Semestinya keinginan untuk memberi hadiah perhiasan bagi istrinya itu sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Namun karena ketiadaan dana Kang Sodrun tak bisa segera mewujudkannya. Keinginannya yang kuat itu memotivasinya untuk menabung. Hingga akhirnya pada sore ini sebuah gelang emas yang—menurutnya—cukup bagus dapat ia bayar.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Kang Sodrun pada pelayan toko sebelumnya akhirnya ia meninggalkan toko emas yang ramai pembeli itu.
***
Masakan untuk makan siang sudah disiapkan Yu Siti di lantai ruang keluarga yang biasa digunakan Kang Sodrun bersama anak dan istrinya makan bersama. Maklum, di rumahnya tak ada meja makan. Maka acara makan bersama selalu mereka lakukan di lantai, lesehan.
Siang ini Yu Siti menyajikan menu sayur asem, tempe goreng telanjang, tahu bacem, dan sambel ikan pari. Menu masakan yang selalu membuat Kang Sodrun tak kuasa untuk tidak menambah porsi makannya.
Di tengah makan Kang Sodrun merasa seperti ada yang beda dengan istrinya. Biasanya setiap kali makan bersama Yu Siti selalu punya bahan untuk diceritakan pada suaminya. Mulai dari soal perilaku anak-anak seharian sampai soal kabar teman-temannya di tempat kerja. Tapi kali ini Yu Siti terlihat diam. Tak ada kalimat apalagi cerita yang ia sampaikan pada suaminya.
Melihat hal ini Kang Sodrun tak segera bertanya ada apa. Ia terus berdiam sambil menikmati makan siangnya, hingga akhirnya Yu Siti membuka pembicaraan.
“Kang, aku mau bicara,” pelan Yu Siti mengatakan.
“Hehe.. tumben kau mau bicara pakai ngabari dulu. Biasanya langsung bla bla bla...” acuh Kang Sodrun menimpali ucapan istrinya.
“Tapi, Sampeyan jangan marah ya, Kang?” ucapan Yu Siti masih pelan.
Mendengar kalimat ini Kang Sodrun tak jadi menyuapkan nasi ke mulutnya. Sejenak pikirannya bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan istrinya. Namun tak lama sikapnya kembali seperti semula, santai tak ada beban.
“Ya sudah ngomong saja.”
Yu Siti tak segera menyampaikan kalimatnya. Ia pandangi wajah Kang Sodrun, memastikan bahwa suaminya benar-benar tak akan marah kepadanya.
“Kang, gelang pemberian Sampeyan hilang.” Yu Siti mengucapkannya dengan hati-hati, lalu menunduk.
Kang Sodrun yang mendengar kalimat ini menghentikan aktifitasnya, sedikit tertegun, memandangi istrinya. Namun tak lama ia kembali seperti semula. Di ambilnya gelas besar berisi air putih di depannya. Ia minum beberapa teguk.
“Kapan hilangnya, di mana?” tanyanya kemudian, tenang.
“Ya tak tahu persis, Kang,” jawab Yu Siti pelan. “Kalau aku runut-runut kemungkinan hilangnya pagi tadi atau tadi malam. Wong perasaan waktu mau tidur semalam aku rasa masih memakainya. Baru ngeh kalau gelangnya hilang pagi tadi saat mandi kok ternyata sudah tidak ada di tangan.”
“Sudah kau cari?” tanya Kang Sodrun sambil mengambil tempe goreng.
“Sudah, Kang. Tak cari di kamar, dapur, ruang tamu, almari, semuanya sudah tak cari tapi tetep tak ketemu.”
Kang Sodrun mengambil nafas kuat-kuat, lalu menghembuskannya.
“Ya sudah,” enteng Kang Sodrun mengatakan.
“Ya sudah bagaimana, Kang?” Yu Siti penasaran.
“Lha sudah hilang to? Sudah dicari tapi tak ketemu to? Ya sudah, mau bagaimana lagi?”
“Diikhlaskan saja begitu, Kang?” Yu Siti seperti tak percaya. Namun belum lagi Kang Sodrun bicara ia sudah kembali berkata, “Sampeyan tidak marah, Kang?”
Kang Sodrun terkekeh.
“Apa kalau aku marah terus gelangnya ketemu, kembali lagi? Kalau iya, ya sekarang aku tak marah biar gelangnya cepat kembali.” Sekali lagi Kang Sodrun terkekeh.
Mendengar kalimat suaminya dan melihat mimik wajah suaminya yang tak memperlihatkan kemarahan Yu Siti merasa lega. Ada yang ingin ia sampaikan, namun ia tahan hingga Kang Sodrun yang kemudian berbicara.
“Yu, anggap saja masa pinjam gelang itu sudah habis. Sudah diambil oleh pemiliknya dan mungkin sekarang diinjamkan lagi kepada yang lain.”
“Maksudnya, Kang?” Yu Siti tak mengerti.
“Lha iya to. Apa yang ada di jagat ini kan semuanya milik Allah, termasuk diri kita ini. Dan kepemilikan Allah itu mutlak, tak bisa diganggu gugat. Kita sering mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilai raaji’uun. Sesungguhnya kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya kita akan kembali. Lho kamu lihat, diri kita saja bukan milik kita, tapi milik Allah. Apalagi harta, benda, semua barang yang ada pada kita ya jelas bukan milik kita. Wong kita saja tidak memiliki diri kita kok, apalagi memiliki harta-harta itu. Itu semua milik Allah yang dititipkan pada kita. pada saatnya itu semua akan diambil oleh pemiliknya, termasuk diri kita.
Soal gelang itu, meski secara lahir kita memilikinya dengan membeli tapi hakekatnya itu dipinjamkan Allah kepada kita. Kalau sekarang gelang itu hilang dan sudah dicari tetap tak ketemu, anggap saja masa pinjam kita sudah habis. Allah mau meminjamkannya lagi pada orang lain. Atau mungkin gelang itu tak begitu manfaat di tangan kita dan lebih manfaat di tangan orang lain.
Tak perlu dirisaukan, tak perlu dipikir berat. Biar saja, ikhlaskan. Mungkin saja Allah akan meminjamkan kita gelang yang lebih bagus. Atau, kalau masih rejekinya kita gelang itu tak akan kemana. Yang hilang cuma sekedar gelang saja kok. Yang tidak hilang  masih jauh lebih banyak. Masak iya kita mau begitu susah dan sedih dengan hilangnya satu benda, padahal benda yang lain yang masih di tangan kita jauh lebih banyak?
Anggap saja, dengan hilangnya gelang itu Allah sedang mendidik kita tentang sabar dan ikhlas. Selama ini kita hanya mempelajari dua sikap itu secara teori. Dan kini kita dituntut untuk mempraktekannya. Kita sedang dididik untuk bersabar atas musibah yang menimpa. Untuk ikhlas menerima setiap takdir yang diputuskan Tuhan atas diri kita.”
Wajah Yu Siti terlihat lebih ringan,  sumringah. Ia bisa menerima apa yang disampaikan suaminya. Ia juga tak perlu mengkhawatirkan kemarahan suaminya. Hari-hari berikutnya dijalani pasangan suami istri itu dengan enteng. Seperti tak pernah ada musibah sebelumnya. Seperti tak pernah ada yang hilang sebelumnya. Yang masih ada di tangan jauh lebih banyak. Begitu prinsipnya.
***
“Yu Siti.... Yu!”
Dari bagian belakang rumah suara si Imah memenuhi seisi ruangan rumah Kang Sodrun. Ia adalah tetangga desa yang setiap hari minggu datang ke rumah Kang Sodrun untuk bekerja membersihkan rumah dan menggosok pakaian yang telah dicuci.
Mendengar namanya dipanggil dengan lantang Yu Siti segera menuju ke dapur. Di hadapan si Imah ia tertegun melihat si Imah menunjukkan sebuah benda sambil berkata, “Yu, ini gelangnya siapa, kok nggletak di sini?”
Yu Siti tak segera menimpali ucapan Imah. Sejenak ia terdiam memandangi sebuah gelang emas yang tergeletak di lantai di bawah jemuran aluminium kecil yang biasa digunakan menjemur handuk. Raut wajahnya menggambarkan banyak perasaan. Sedikit senyum yang tertahan jelas terlihat ia merasa senang. Gelang emas yang dibelikan suaminya tiga bulan lalu dan seminggu kemarin hilang kini telah ditemukan. Namun sisi lain wajahnya tak percaya bahwa gelang emas itu ditemukan ditempat yang setiap hari ia lalu berpuluh kali.
“Ini gelangku yang hilang seminggu yang lalu, Mah.” Katanya kepada si Imah. “Kok bisa ada di sini ya?” lanjutnya penuh keheranan.
“Aku juga heran, Yu.” Imah menimpali. “Wong dari pagi tadi aku bolak balik di sini mencuci, mengambil jemuran ya tidak ada apa-apa. Malah barusan aku nyapu dan ngepel di sini ya ngga ada gelang. Lha ini kok tiba-tiba muncul ya?”
“Lha iya to, Mah.” Yu Siti menyambung. “Seminggu ini kan ya aku sekeluarga bolak-balik jalan di sini. Kang Sodrun juga sempat ngepel lantai ini. Bahkan jemuran kecil ini juga beberapa kali aku pindah ke tempat yang lebih panas untuk menjemur, ya tidak ada apa-apa. Tidak ada gelang. Lha ini kok tiba-tiba muncul di sini?”
Kedua perempuan itu masih tetap berdiri, memandangi gelang emas yang kini berada di tangan Yu Siti. Rasa heran keduanya masih menghiasi wajahnya.
Saat Kang Sodrun datang dan mendengar cerita penemuan gelang emas yang hilang itu ia tertawa kecil seraya berkomentar enteng, “Alhamdulillah....masih rejekinya kita. malah kita diberi bonus banyak sama Gusti Allah.”
“Bonus bagaimana, Kang?” Yu Siti tak paham.
“Lha ya bonus to. Kita kehilangan gelang. Lalu kita sabar, tak marah, tak sedih, tak kecewa, tak menyalahkan orang lain. Kita juga ikhlas menerima takdir yang dirasa tak baik ini. Itu semua kan sikap baik yang menjadikan Allah ridlo dan memberi pahala bagi kita. Sudah begitu gelangnya dikembalikan lagi kepada kita. Ini kan namanya bonus to? Keuntungan ganda. Gelangnya tak jadi hilang, pahalanya insya Allah luar biasa.
Sudah, Yu. Sekarang kita buat bonusnya lebih banyak dan sempurna. Kau mesti terima kasih sama si Imah atas kejujurannya. Kau kasih si Imah uang secukupnya, biar seneng.”
Yu Siti tak menunggu lama. Segera ia masuk ke kamarnya mengambil uang untuk dikasihkan kepada si Imah. Entah berapa. Namun menerima dan melihat uang pemberian itu wajah si Imah seketika berubah sangat sumringah.
Sedangkan Yu Siti masih saja berkali-kali menujukan matanya pada benda di genggamannya. Sebuah benda yang sejak bertahun lalu sangat diinginkan oleh suaminya untuk bisa dibeli sebagai hadiah bagi dirinya. Sebuah benda yang untuk membelinya Kang Sodrun mesti menabung bertahun-tahun menyisihkan sebagian penghasilannya. Sebuah benda yang seminggu yang lalu hilang entah kapan dan di mana lalu kembali secara tiba-tiba dan tak disangka. Sebuah benda yang karenanya Allah memberikan bonus pahala berlipat ganda; Gelang Emas.



                                                                                                Tegal, 19 Februari 2015

3 komentar:

  1. Luar Biasa Kang.....
    Kapan kita bisa kerjasama ini untuk bedah buku kang sodrun

    BalasHapus
  2. http://emperan-masjid.blogspot.com/

    beberapa artikel sya nunut kang sodrun

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiip Gus Noval.... sayangnya buku Kang Sodrun sudah habis stok

      Hapus

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu