Home » » Kang Sodrun: Sarapan Pagi

Kang Sodrun: Sarapan Pagi



Jam di dinding rumah Kang Sodrun menunjuk pukul sebelas malam. Kang Sodrun dan Yu Siti, dibantu Bude Parmi tetangga sebelah, baru saja menyelesaikan segala persiapan untuk menyambut rombongan tamu yang jadwalnya akan sampai di rumah Kang Sodrun besok subuh. Di ruang tamu sudah digelar karpet hijau dengan beberapa bantal yang ditumpuk di sudut ruangan, untuk leyeh-leyeh. Sedangkan di sisi yang lain di atas meja kerja telah tertata rapi puluhan gelas, dua buah termos air yang siap diisi teh dan kopi panas, beberapa baki untuk tempat makanan kecil pisang goreng hangat dan roti irisan. Sementara di ruang keluarga sebuah meja prasmanan telah siap untuk sarapan pagi nanti. Di atasnya telah ditempatkan beberapa wadah dari bahan stenles untuk tempat beberapa lauk, tempat kerupuk, buah yang telah tertata rapi, juga tumpukan air putih kemasan gelas yang ditata apik.
“Bude Parmi, jangan lupa besok subuh langsung masak, biar tamunya sampai di sini tak menunggu lama langsung sarapan.” Pesan Yu Siti pada Bude Parmi saat hendak pamitan pulang.
Yang diberi pesan menyahut cepat, “Siap, Yu. Jangan khawatir. Dijamin puas tamu-tamunya.”
“Kang, jangan lupa juga, kalau nanti bangun langsung buat air panas terus airnya di tuang ke termos. Teh sama kopinya sudah aku masukkan, tinggal diguyur air panas saja,” kini Yu Siti berpesan pada suaminya, Kang Sodrun.
“Siap, bos!” singkat Kang Sodrun menyahut sambil berjalan ke kamar mandi untuk berwudlu sebelum tidur.
Ya, seminggu yang lalu Kang Sodrun mendapat telepon dari seseorang. Ia adalah seorang guru yang dulu pernah mengajarnya di pesantren. Dalam pembicaraan itu sang guru menyampaikan maksudnya yang akan berwisata bersama teman-teman kerjanya ke sebuah tempat wisata di kawasan gunung Slamet Tegal, 50 kilo dari tempat tinggal Kang Sodrun.
“Maksudku begini, Drun,” kata Sang Guru di telepon, “karena berangkatnya dari sini malam hari diperkirakan sampai di Tegal menjelang atau pas subuh. Kalau kamu tak keberatan aku pengin mengajak teman-temanku istirahat dulu di rumahmu. Sekedar buat shalat subuh. Bagaimana, Drun?”
“Lah semuanya berapa orang, Pak?” tanya Kang Sodrun sebelum menjawab pertanyaan sang guru.
“Nggak banyak, Drun. Cuma tiga puluhan orang?”
Mendengar jumlah itu Kang Sodrun terperanjat.
“Tiga puluh, Pak?” katanya kemudian. “Semestinya tak masalah bagi saya, Pak. Tapi apa nanti tidak mengecewakan teman-teman, Bapak? Lha wong rumah saya kecil je, Pak. Mau tak taruh dimana teman-teman Jenengan?” katanya memberikan pertimbangan.
“Nggak masalah, Drun. Yang penting kamu sediakan saja air minum hangat, kalau ada ya sekalian sarapan seadanya. Soal tempat biar saja mereka klekaran di tempat seadanya, di teras, pinggir jalan, nggak masalah.” Sang guru meyakinkan.
Sejenak Kang Sodrun terdiam, menimbang. Lalu dengan mantap ia berikan jawaban pada sang guru, “Baik, Pak. Kalau soal tempat tak menjadi masalah, ya silakan, monggo. Semampunya saya siapkan.”
Keduanya menutup pembicaraan jarak jauh itu. Kang Sodrun terdiam. Pandangannya kosong ke depan. Sesekali terlihat bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Ia benar-benar tak bisa membayangkan, tiga puluhan orang datang ke rumahnya dalam keadaan capek, lalu ia tak dapat menempatkan mereka secara layak karena keterbatasan tempat, rumahnya kecil.
Baginya kedatangan tamu dari jauh bukanlah hal yang baru. Entah sudah berapa kali tamu luar kota yang berkenan singgah di rumahnya, meski hanya sekedar istirahat sejenak. Para guru saat di pesantren, teman-teman seangkatan saat mondok, dan juga lainnya silih berganti telah datang ke rumahnya. Ada yang memang sengaja datang, ada yang sekedar mampir saat melakukan perjalanan jauh dan kebetulan melewati kota tempat tinggal Kang Sodrun, pun yang sekedar istrihat sejenak sambil bersih-bersih badan untuk kemudian melanjutkan perjalanan.
Kedatangan mereka ini membuat Kang Sodrun dan istrinya merasa senang. Rumahnya yang biasa-biasa saja sering dijadikan tempat ampiran bagi banyak orang. Baginya ini adalah keberkahan yang diberikan Allah bagi keluarganya. Seperti kata gurunya dulu saat di pesantren, “tamu itu membawa berkah.”
Ia tak pernah risau bagaimana menjamu para tamunya yang datang dari jauh secara layak. Semampunya ia berikan apa yang ia mampu berikan. Tak harus banyak, tak harus mahal, tak harus berlebih. Ia yakin betul bahwa bila yang sederhana ia berikan dengan penuh keikhlasan maka akan diterima sang tamu dengan penuh kerelaan.
Dalam hal ini ia belajar dari seorang gurunya, Nyai Umi Kulsum, Honggowongso Solo. Yang ia pelajari darinya adalah semangat menjamu tamu dengan apa yang ada di rumah, tidak diada-adakan, tidak ada kesan mewah, apalagi kesan pencitraan. Setiap kali bertandang ke rumahnya Kang Sodrun selalu mendapati meja makan Nyai Umi Kulsum ada makanan di atasnya. Dan setiap kali ada tamu yang datang, berapapun jumlahnya, mereka selalu “dipaksa” makan dengan hidangan yang ada di atas meja itu. Bahkan, pernah satu ketika Kang Sodrun dengan beberapa temannya saat bertandang disuruh makan meski di atas meja hanya ada nasi putih dengan lauk tahu bacem dan sambal terasi saja. Namun baginya lauk yang sederhana itu justru dirasa sangat nikmat, bukan saja karena masakannya yang enak, tapi keikhlasan pemberinya menjadikan sesuatu yang tak “mewah” menjadi “wah”.
Tapi rencana kedatangan tamu kali ini membuat Kang Sodrun bersikap lain. Ia merasa senang dengan datangnya tamu di rumahnya. Tapi jumlahnya yang begitu banyak membuatnya sempat kebingungan. Bukan soal berapa uang yang mesti ia keluarkan untuk membeli ini itu sebagai jamuan. Namun soal tempat yang tak memadai untuk mereka bisa beristirahat dengan nyaman. Pun dengan Yu Siti. Saat suaminya menyampaikan kabar rencana kedatangan tamu ini kepadanya yang ia risaukan adalah tempat; mau ditaruh dimana?
Maka malam ini semuanya sudah siap. Esok subuh saat rombongan tamu itu datang minuman hangat dan makanan ringan sudah siap dihidangkan. Sambil mereka bebersih diri hidangan untuk sarapan pagi dimasak untuk bisa disajikan tepat waktu. Tak akan lama, karena segala sesuatunya—bumbu dan bahan—telah disiapkan semalaman. Esok subuh tinggal dimasak saja, sebentar pasti matang.
Mengingat pesan Yu Siti semalam, setengah jam sebelum adzan subuh Kang Sodrun memasak air untuk dituang ke dua buah termos tempat air teh dan kopi. Saat adzan berkumandang ia bergegas menuju mushalla. Ia tak lebih dulu membangunkan istrinya seperti biasanya karena sedang tak shalat.
Namun belum juga ia melangkahkan kakinya menuju mushalla suara hand phone-nya berdering, tanda ada pesan singkat masuk. Dibukanya pesan singkat itu. Nama sang guru yang hendak datang bersama rombongannya tertulis sebagai pengirimnya. Dan membaca pesan singkat itu Kang Sodrun tertegun.
“Drun, aku minta maaf, ya. Aku bersama rombongan tak jadi mampir ke rumahmu. Sopir bisnya tak mau mampir-mampir, mintanya langsung ke tempat tujuan. Sekali lagi minta maaf ya, Drun.”
Sejenak Kang Sodrun tertegun. Kedua matanya masih mengarah ke pesan singkat itu meski ia tak lagi membacanya.
Usai jamaah shalat subuh di mushalla ia segera pulang ke rumah. Ia tergagap saat melihat istrinya dan Bude Parmi sudah mulai memasak.
“Sedang apa kalian?” ia bergegas bertanya.
“Lha, ya masak to, Kang.” Yang menjawab Bude Parmi. “Ini masakan buat sarapan sudah mulai tak masak. Tenang, Kang. Kira-kira satu jam-an lagi sebuanya sudah beres.”
Kang Sodrun tak segera menyahut. Ia terdiam memandang kedua perempuan yang ada di hadapannya. Melihat suaminya seperti itu Yu Siti giliran bertanya.
“Memang kenapa?”
“Tamunya tak jadi datang,” pelan Kang Sodrun mengatakannya.
“Hah?!” berbarengan Yu Siti dan Bude Parmi terhenyak, lalu berpandangan.
“Serius, Kang?” Yu Siti tak percaya.
“Saat adzan subuh tadi guruku mengirim sms pembatalannya. Sopirnya tak mau mampir-mampir. Maunya langsung ke tempat tujuan.” Kang Sodrun menjelaskan.
Sejenak semuanya terdiam.
“Terus bagaimana ini? Sudah terlanjur di masak semua loh, Kang.” Bude Parmi berbicara.
“Sudah bude, lanjutkan masaknya!” Yu Siti cepat menimpali.
“Lha, masakan segini banyaknya mau buat siapa, Yu?” Bude Parmi tak mengerti.
“Di masak semua saja, lalu kita bagikan ke para tetangga buat sarapan.” Yu Siti memberi instruksi.
Bude Parmi menurut melakukan apa kata tuan rumah. Roman mukanya jelas masih tersirat kekecewaan. Gerakan tubuhnya tak segesit seperti biasanya. Entah apa yang ada di pikirannya. Sambil tangannya membolak-balik masakan yang ada di penggorengan ia berkata pada Kang Sodrun.
“Kang, mbok ya Sampeyan telpon lagi ke tamunya. Suruh mereka jadi mampir ke sini. Wong sudah diasiapkan sebegini banyaknya kok gampang sekali membatalkan.” Nadanya sedikit menggerutu.
Mbok ya biar saja, Bude,” timpal Kang Sodrun, “anggap saja ini cara Gusti Allah menyuruh aku dan keluargaku memberi sedekah sarapan pagi kepada para tetangga.”
“Kalau mikirnya begitu Sampeyan bangkrut, Kang.” Suara Bude Parmi masih terdengar menggerutu.
“Lha, mau bagaimana lagi? Wong jelas-jelas guruku bilang sopirnya sama sekali tak mau ke sini, apa ya mau dipaksa-paksa? Ya sudah kita husnu dhon saja. Katanya semua itu terjadi karena Gusti Allah. Ya termasuk peristiwa ini juga sudah dikehendaki-Nya. Seperti kataku tadi, mungkin ini cara Gusti Allah menyuruhku sedekah. Mungkin selama ini aku disuruh sedekah dengan cara yang halus tak kunjung menjalani, tak segera bersedekah. Maka dibuatlan cara seperti ini, cara yang terasa memaksa.

Coba kalau tak ada rencana tamu itu datang ke sini, mungkin sampai bulan depan aku masih saja tak kunjung berbagi dengan para tetangga di kampung ini. Aku masih saja pelit, eman-eman dengan rejeki yang ada di tangan. Aku masih saja menikmati penghasilanku untuk kebutuhan dan keininan keluargaku saja. Tak mau tahu dengan tetangga kanan kiri yang sesungguhnya sangat dan lebih membutuhkan. Maka ya jadinya begini. Aku “dipaksa” untuk memberikan sesuatu yang manfaat yang pasti dinikmati oleh masyarakat di waktu pagi; Sarapan Pagi.”

Mendegar ucapan Kang Sodrun ini Yu Siti hanya mesam-mesem. Sementara Bude Parmi terdiam. Pukulan uleg-ulegnya di atas layah terdengar cukup keras, kuat dihentakkan.

                                                                                    Tegal, 28 Februari 2015

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu