Home » » Pelajaran Pertama

Pelajaran Pertama

Masih kurang tiga puluh menit menuju pukul sembilan pagi, jadwal dimana acara penyambutan santri dan wali santri baru akan dimulai. Namun para undangan sudah memenuhi ruangan aula tempat acara itu digelar.
Memasuki aula pesantren ini pandangan mataku tertuju dan terpaku pada tulisan kaligrafi yang menghias sepanjang dinding. Luar biasa indahnya. Tulisan-tulisan indah itu langsung ditulis di dinding, bukan kertas atau media lain yang ditempel. Warna-warnanya begitu serasi berpadu padan. Kurasa bukan aku saja yang terpesona. Siapapun yang memasuki ruang pertemuan ini pastilah terpana, berdecak kagum akan keindahan tulisan-tulisan berseni itu. Tentu keindahan itu dihasilkan oleh tangan-tangan terampil berselera seni tinggi. Dan kelak di kemudian hari aku tahu, bahwa penulis kaligrafi indah itu adalah para santri pesantren ini.
Sementara di dinding bagian depan telah terpasang dekorasi yang menawan. Bukan sekedar berupa tulisan bertema acara, namun sebuah lukisan ornamen masjid bergaya timur tengah yang dibuat sedemikian rupa hingga terlihat hidup seakan itu adalah bangunan tiga dimensi.
Yang juga menarik perhatianku adalah gambar foto seseorang yang ditempatkan dengan apik pada lukisan itu. Sebuah foto yang dari penampilannya siapapun akan menebak bahwa itu adalah seorang kyai, seorang ulama. Dan membaca nama yang tertulis di bagian bawahnya aku bisa mengenali bahwa sosok dalam foto itu adalah Kyai Umar, sang pendiri pesantren yang kemarin malam diceritakan oleh Mbah Yai.
Agak lama aku memandang foto itu. Wajahnya sejuk berwibawa. Senyumannya menyapa semua yang hadir, seakan ia hidup dan menyambut kehadiran kami.
Aku dan bapakku kebagian duduk di barisan tengah. Semua kursi yang ada terlihat sudah begitu tua, namun masih kokoh. Terbuat dari kayu jati dengan model panjang seperti kursi sekolah jaman aku belajar di SD Inpres dulu.
Tepat pukul sembilan acara dimulai. Tak ada kesan bertele-tele. Beberapa seremonial dilalui sekedarnya, secukupnya. Hingga saatnya tiba acara inti taushiyah dari pengasuh pesantren, Mbah Kyai Ridwan.
“Belajar di pesantren tidak usah punya niatan untuk menjadi ustadz, menjadi kyai. Niatilah untuk mempelajari ilmu-ilmu Allah agar dalam menjalani hidup ini tidak salah jalan, sesuai dengan aturan-aturan yang telah digariskan Allah dan diajarkan Rasulullah. Soal nanti mau jadi apa itu biar Allah yang mengatur. Karena belajar ilmu itu wajib hukumnya bagi seorang hamba, sedangkan setelah itu mau jadi apa itu kewenangan Sang Pencipta,” begitu ujar beliau. Suaranya terdengar tenang namun berwibawa.
“Sudah terlalu banyak ustadz yang hidup di tengah-tengah masyarakat,” sambungnya. “Sudah cukuplah jumlah mereka. Yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah orang-orang yang bisa memberi contoh mempraktekkan ajarannya para ustadz.”
Kiai Ridwan berdiam. Hingga akhir kalimat itu kulihat beberapa orang tua tersenyum-senyum.
“Lha iya, toh. Sekarang banyak ustadz yang mengajarkan masyarakat untuk bersedekah. Masyarakatnya bingung, sedekah itu yang bagaimana? Lha wong tidak ada yang nyontoni. Termasuk ustadznya juga jarang bersedekah. Ia lebih suka menerima sedekah dari pada memberi sedekah.”
Mendengar kalimat lanjutan ini para hadirin meledak tawanya, baru ngeh apa yang dimaksud Mbah Yai. Sementara Kiai Ridwan sedikit terkekeh.
“Maka lulusan pesantren itu tidak dipatok harus jadi ustadz, harus jadi kiai. Tidak. Jadi apapun kalian nanti biar Allah yang mengatur. Kita hanya meminta semoga apapun kelak profesi kita semoga penuh keberkahan dan memberi manfaat bagi siapa saja. Mengajilah yang benar. Pelajari ilmu agama sebaik-baiknya. Pada saatnya nanti jadikan ilmu itu sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan, apapun itu profesimu. Agar dalam menjalani profesimu itu tidak menyimpang dari aturan Allah.”
Inilah kalimat-kalimat pertama yang aku dapatkan di hari pertama nyantri di pesantren ini. Sebagai pelajaran pertama yang disampaikan Kiai Ridwan, pengasuh Pesantren Darul Hikmah yang konon dikenal ramah dengan siapa saja.
Bila wejangan tersebut lebih ditujukan bagi para santri baru yang hendak menggali ilmu, maka berikutnya Kiai Ridwan menambah wejangan itu bagi para orang tua wali santri.
“Biar anak-anak bapak-ibu ini berhasil mendapatkan ilmu yang manfaat, bukan cuma anaknya saja yang harus belajar dengan rajin, tapi kedua orang tuanya juga harus mendukung lahir batin, dhahiran wa bathinan. Secara lahir hidup dan pendidikan anak-anak ini harus dibiayai dari pekerjaan dan penghasilan yang halal, yang baik dan berkah. Jangan sampai uang syubhat dipakai membiayai hidupnya anak, apalagi uang haram. Tak akan berkah. Secara batin proses pendidikan anak-anak ini harus dibantu dengan doa, dengan taqarrubnya orang tua kepada Allah SWT.”
Sampai di sini kulihat para orang tua tekun mendengarkan wejangan Mbah Yai Ridwan. Beberapa di antaranya mengangguk-anggukkan kepala, seperti mengerti. Kulirik bapakku. Pandangan mata dan roman mukanya terlihat serius memperhatikan apa yang disampaikan pengasuh pesantren itu. Aku menjadi berharap, untuk keberhasilanku orang tuaku berkenan melakukan wejangan itu.
“Coba kita lihat sejarah Nabi Ibrahim ‘alahissalam,” lanjut Mbah Yai, masih dengan kalimat yang tenang. Dari beliau kita sebagai orang tua bisa mengambil teladan untuk kesuksesan anak-anak kita, sukses dunia dan sukses akherat. Sejarah mencatat bahwa semua rasul yang diutus oleh Allah setelah Nabi Ibrahim sampai dengan Nabi Muhammad SAW adalah anak-anak keturunan Nabi Ibrahim.”
“Artinya apa? Artinya bahwa anak keturunan Nabi Ibrahim adalah anak-anak yang sukses, anak-anak yang berkwalitas. Mereka dipilih oleh Allah untuk memimpin umat manusia.”
Sejenak Mbah Yai menghentikan kalimatnya, memberikan sedikit waktu untuk meresapnya kalimat-kalimat beliau di hati semua yang hadir di ruang itu.
“Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana Nabi Ibrahim bisa mendapatkan keturunan berkwalitas, sukses dunia dan akherat?”
Sekali lagi Mbah Yai berhenti, seakan menunggu ada di antara yang hadir menjawab pertanyaan tersebut. Namun semua terdiam, hening.
“Di dalam al-Qur’an Allah menuturkan, ”dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, maka ia melaksanakan perintah itu dengan sempurna. Allah berfirman kepadanya, “Sungguh Aku jadikan engkau sebagai pemimpin bagi umat Manusia.” Nabi Ibrahim berkata, “Jadikan pula anak keturunanku sebagai pemimpin.” Allah menjawab, “Ya, Aku jadikan anak keturunanmu sebagai pemimpin umat manusia, namun janji-Ku ini tak berlaku bagi orang-orang yang berbuat dhalim.”[1]
“Inilah kunci utama mengapa Nabi Ibrahin diberi keturunan yang berkwalitas. Sebelum mendapatkan keturunan beliau terlebih dahulu menjadi orang tua yang saleh, yang melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, secara sempurna. Atas prestasinya inilah maka Allah menjadikan dirinya dan keturunannya sebagai pemimpin umat manusia. Dalam sejarah kita tahu bahwa sebagian keturunan Nabi Ibrahim diberi oleh Allah kekuasaan kerajaan, sebagaian lagi diberi kerasulan, dan sebagian lagi diberi kerajaan dan kerasulan.”
“Oleh karenanya, Bapak dan Ibu sekalian, jangan cuma anaknya saja yang diperintah untuk rajin beribadah di pesantren, tapi orang tuanya yang di rumah pun harus lebih mendekatkan diri kepada Allah agar anak-anaknya menjadi hamba-hamba yang berkwalitas, mendapatkan kesuksesan dunia dan akherat. Kalau anak-anak di sini disuruh shalat tahajud, bapak dan ibunya ya ikut tahajud, jangan tidur terus.”
Kalimat terakhir ini membuat seisi ruangan tertawa. Kurasa sebagian orang tua yang hadir tertawa karena tersindir oleh kalimat itu. Merasa tidak pernah melakukan shalat tahajud, termasuk juga bapakku. Maka kucolek lengannya, dan ia hanya terkekeh kecil memahami makna colekanku.
Seremonial acara penyambutan santri dan wali santri baru pun usai. Rangkaian acara yang digelar sejak pukul sembilan pagi itu cukup membuatku makin mantap untuk berpisah sementara jauh dari keluargaku demi nyantri di pesantren ini.
Sekali lagi aku melihat bapakku. Kulihat roman mukanya menaruh harapan, tentunya kepadaku anak laki-laki pertamanya. Dan aku, dalam hatiku yang paling dalam, kubisikkan sebuah jawaban, insya Allah semampuku akan kuwujudkan harapan itu. Akan kuputus mata rantai keluargaku yang kelam. Meski aku biji dari buah yang tak bisa disebut baik, akan aku bangun pohon yang baik, agar kelak secara berantai memberikan buah yang baik.
Seperti tadi disampaikan oleh Mbah Yai, “Al-Qur’an membahasakan anak dengan bahasa tumbuhan. Bila pohon itu baik, akan menghasilkan buah yang baik. Bila buahnya baik, akan menumbuhkan pohon yang baik.”





[1] QS. Al-Baqarah: 124

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu