Home » » Melihat Hilal

Melihat Hilal

Jam dinding di rumah Kang Basyir menunjukkan pukul sebelas malam. Di dalam rumah ia seorang diri yang belum beranjak tidur. Matanya memang masih jauh dari rasa ngantuk. Istrinya sudah dua jam yang lalu tertidur saat menemani kedua anaknya yang merengek minta ditemani tidur.
Tak tahu apa yang harus dilakukan di dalam rumah, dan juga karena udara yang begitu gerah, Kang Basyir keluar rumah kalau-kalau ada beberapa tetangga yang sedang jagongan di pos bambu pinggir kali depan rumahnya. Dan ia beruntung, di sana ada tiga orang tetangga yang sedang asik mengobrol; Pakde Harto, Lek Kapali, dan Mas Dayat.
“Wah, Kang Basyir,” Lek Kapali menyambut saat Kang Basyir menemui mereka. “Kok njanur gunung Kang sampeyan malam-malam begini ke pos.”
“Belum nagntuk, Lek. Udaranya juga panas. Bingung mau ngapain di rumah. Ya sudah, keluar saja ketemu sampeyan-sampeyan di sini,” ujar Kang Basyir.
“Sini, Kang. Duduk sebelah sini.” Mas Dayat menggeser duduknya lebih masuk ke dalam, mempersilakan Kang Basyir duduk di tempatnya semula.
Pos bambu itu tak begitu luas, hanya selebar dua kali dua meter persegi. Dibangun di pinggir sungai sejak masa pemilu tahun lalu. Seorang calon dari sebuah partai membuatnya untuk menjadi pos kegiatan pendukungnya di desa itu. Kini setelah tetek bengek pemilu sudah usai pos itu sering digunakan oleh warga untuk jagongan membicarakan apapun. Di tengah malam pos itu sering juga digunakan untuk transit oleh mereka yang mau menuju ke sawah guna menjalani kegiatan malam mereka di sana; judi remi.
Malam ini Kang Basyir beruntung. Yang pada duduk di pos itu bukan mereka yang sedang transit, tapi beberapa tetangga satu RT yang juga anggota jam’iyahan. Maka kini ia bergabung dengan mereka.
“Lagi membicarakan apa ini?” tanya Kang Basyir.
“Lagi rasan-rasan hari raya besok, Kang.” Yang menjawab Pakde Harto.
“Memangnya kenapa dengan hari raya besok?” kembali Kang Basyir bertanya.
“Lha iya to, Kang.” Kini Lek Kapali yang bicara. “Ramadhan dan Idul Fitri kemarin kan kita semua sudah senang bisa sama-sama semua, nggak ada perbedaan hari dan tanggal. Lha sekarang Idul Adha kok beda lagi. Jane karepe bagaimana orang-orang yang di atas sana?” berkata begitu raut muka Lek Kapali sedikit melukiskan rasa tak senangnya.
“Walah, itu masalahnya?” Kang Basyir menimpali. “Sudahlah, orang kecil kayak kita nggak usah nggagas yang seperti itu. Bukan maqamnya kita. Itu urusannya mereka yang pada punya ilmu agama. Kita cukup mengikuti apa yag mereka fatwakan saja.”
“Ya tapi kalau terus-terusan begini kita ya bingung terus, Kang.” Mas Dayat berbicara sambil mengangkat gelas kopinya untuk diminum.
“Ya jangan dibuat bingung lah.” Kang Basyir singkat menyahut, lalu menyambung dengan tawa kecilnya.
Sejenak semuanya terdiam hingga Pakde Harto berbicara pada Kang Basyir, kalem tapi terlihat serius. “Kang Basyir, coba sampeyan jelaskan kepada kami sebetulnya menentukan Ramadhan dan hara raya itu mestinya bagaimana? Mengapa kok selalu saja ada perbedaan? Dan kalau aku baca-baca kayaknya ini terjadi di Indonesia apa yah?”
Kang Basyir tak segera menjawab. Ia menarik nafas kuat-kuat lalu pelan membuangnya. Yang lainnya juga diam. Pakde Harto dan Lek Kapali menghisap rokoknya. Sedangkan Mas Dayat terus memandangi Kang Basyir, menunggu kalimat yang akan diucapkannya.
“Bagaimana, Kang?” Pakde Harto mendesak.
“Serius?” Kang Basyir ganti bertanya.
“Ya iyalah. Pasti sampeyan tahu kan imu soal itu?”
Sekali lagi Kang Basyir terdiam sebelum akhirnya berkata, “Ya sudah kalau sampeyan semua mau tahu. Aku sampaikan sekedar apa yang aku tahu dan semampuku.”
Mendengar kalimat itu ketiga orang yang duduk di sekitar Kang Basyir mengubah posisi duduknya, seakan bersiap menerima sesuatu yang ditunggu-tunggu.
“Yang pertama ingin aku sampaikan adalah bahwa apa yang akan aku bicarakan ini adalah murni ilmu yang aku pelajari, bukan karena membela kelompok manapun.”
Sejenak Kang basyir terdiam, lalu melanjutkan.
“Kurasa semua itu bermula dari sebuah ucapan Rasulullah yang mengatakan shuumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatihi. Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (berhari raya) karena melihat hilal. Satu hal yang mesti kita ingat, bahwa qur’an dan hadis itu berbahasa Arab. Karenanya dalam memahaminya kita harus kembali dan tidak bisa lepas dari kaidah-kaidah bahasa Arab. Tidak bisa kita memaknai ayat dan hadis hanya dari terjemahan.”
Sampai di sini Mas Dayat memotong dan menyeletuk, “Kalau cuma membaca terjemahan Si Romlah saja bisa ya, Kang?”
Mendengar celetukan itu semuanya tertawa. Mas Dayat memang suka mengucapkan kalimat itu. Si Romlah adalah salah satu pelayan tokonya yang kemampuan otaknya di bawah rata-rata. Saking kendonya sampai njujuli  orang yang beli saja ia tak mampu. Nah, kalimat kalau cuma….si Romlah saja bisa sering disebut Mas Dayat untuk menunjukkan remehnya suatu perkara.
Kang Basyir kembali bicara,”Sekarang mari kita pahami dawuh Kanjeng Nabi itu melalui analisa bahasa. Yang kita pelajari di sini adalah kata li dan ru’yatihi. Dan yang akan kita biacarakan lebih dulu adalah kata ru’yatihi khususnya kata ru’yah.”
Terlihat Kang Basyir berbicara setenang mungkin dengan pilihan kata yang sekiranya dapat dipahami oleh para pendengarnya.
“Kata ru’yah itu berasal dari kata ro’aayaroo. Ro’aa itu kata kerja lampau atau fi’il madly, sedangkan yaroo itu kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang dan atau akan datang atau disebut fi’il mudlori’. Kata kerja ro’aa – yaroo ini dalam bentuk masdarnya menjadi dua kata yaitu ru’yatan atau ru’yah dan ro’yan atau ro’yun.
Bila dalam bentuk kata kerja kata ro’aa – yaroo berarti melihat, maka dalam bentuk masdar masing-masing memiliki arti “melihat” dengan klasifikasi tertentu. Ru’yah itu melihat dengan mata kepala. Sedangkan Ro’yun melihat dengan ilmu, dengan pikiran[1]. Maka orang Arab kalau ingin bertanya “apa pendapat anda?” ia akan berkata “maa ro’yuka?” bukan “maa ru’yatuka?”. Karena yang namanya pendapat itu adalah melihat dengan ilmu atau pemikiran, bukan dengan mata kepala, maka digunakan “ro’yu” bukan “ru’yah”.”
Sampai di sini semuanya terlihat menganggukkan kepala, seakan memahami apa yang disampaikan Kang Basyir. Mas Dayat meminum kopinya yang tinggal sedikit. Pakde Harto mengambil kacang kulit di piring yang ada di tengah lantai pos. sedangkan Lek Kapali asik dengan hisapan rokoknya.
“Sebagai contoh,” lanjut Kang Basyir, “seumpama Lek Kapali pada tanggal satu awal bulan beli beras tiga puluh kilo. Setiap harinya istri Lek Kapali memasak satu kilo. Sekarang tanggal dua puluh Lek Kapali ingin tahu sisa berasnya tinggal berapa kilo. Apa terus sampeyan mesti pulang ke rumah untuk melihat dan menimbang  beras yang masih ada?” sambil megucapkan ini Kang Basyir memandang wajah Lek Kapali.
“Ya tidak perlu Kang?” Lek Kapali tanggap menjawab.
“Terus bagaimana sampeyan bisa tahu sisa berasnya, Lek?” tanya Kag Basyir.
“Cukup saya hitung saja dari awal membeli dikurangi yang sudah dimasak selama dua puluh hari. Selesai.”
“Nah, itu namanya sampeyan melihat sisa berasnya dengan ro’yun, dengan ilmu, dengan pikiran. Tapi kalau sampeyan mesti pulang ke rumah dulu untuk melihat dan menimbang berasnya itu artnya melihat dengan ru’yatun atau ru’yah, dengan mata kepala.
Lah, dalam hadis itu Kanjeng Nabi dawuhnya dengan ru’yah, maknanya berpuasalah kalian karena melihat hilal dengan mata kepala. Bukan dengan ro’yun, dengan ilmu, dengan pikiran, dengan hitung-hitungan. Bukan! Kalau Kanjeng Nabi dawuhnya shuumuu li ro’yihi, baru bisa dimaknai melihat hilal cukup dengan ilmu, tak harus dengan melihat menggunakan mata kepala.”
“Jadi kata ru’yah dalam hadis itu sudah menunjuk makna yang spesifik ya, Kang?” Mas Dayat memotong bertanya.
“Betul!” tegas Kang Basyir menjawab.
“Tak bisa diartikan lain?” Pakde Harto menimpali.
“Tidak.”
“Lain lagi kalau Kanjeng Nabi dawuhnya itu pakai bentuk fi’il madly. Umpama beliau mengatakan shuumuu idzaa ro’aa-itumuuhu, berpuasalah kalian bila kalian telah melihat hilal. Nah, kalau menggunakan kata kerja ini maka akan ada ihtimaal, kemungkinan, dalam memaknainya. Bisa jadi melihatnya dengan mata kepala, bisa jadi dengan ilmu atau pikiran, atau bisa jadi perpaduan keduanya. Ihtimaal ini bisa terjadi karena kata kerja ro’aa memiliki dua kemungkinan makna dalam bentuk masdarnya.”
Ketiga teman ngobrol yang mendengarkan ini makin menganggukkan kepala, tanda makin memahami.
“Sekarang satu lagi kata li yang menempel di kata li-ru’yatihi. Dalam bahasa Arab kata li itu memiliki dua puluh dua makna; ada istihqaaq, ikhtishaash, tamliik, ta’liil, ba’da, dan sebagainya. Nah, menurut Ibnu Hisyam al-Anshari dalam kitab Mughnil Labiib, sebuah kitab bahasa, bukan kitab hukum fikih, kata li dalam hadis yang sedang kita bahas ini memiliki makna ba’da yang berarti “setelah”[2]. Bila demikian, maka dawuhnya Kanjeng Nabi yang mengatakan shuumuu li ru’yatihii itu bisa dimaknai “berpuasalah kalian setelah melihat hilal dengan menggunakan mata kepala”.”
“Ooh…” seperti dikomando ketiga orang yang ada di depan Kang Basyir bersuara, kompak berbarengan.
“Jelas, Kang, jelas.” Lek Kapali berucap.
“Ya, aku juga cukup memahami,” timpal Mas Dayat.
Sementara Pakde Harto masih diam sebelum akhirnya ikut bicara, “Terus, mereka yang berpendapat tidak harus melihat hilal dengan mata kepala, cukup dengan hitungan saja, menganalisa hadisnya bagaimana, Kang?”
“Wah, kalau itu saya tak tahu, Pakde. Tanyalah pada mereka sendiri. Kalau saya mencoba jawab nanti malah salah.”
“Hubungannya dengan Idul Adha, Kang?” Lek Kapali bertanya.
Kang Basyir belum sempat menjawab ketika dengan segera Mas Dayat menimpali pertanyaan Lek Kapali.
“Lha Idul Adha itu kang tanggal sepuluh tho, Lek. Untuk bisa menentukan kapan tanggal sepuluhnya kan harus tahu tanggal satu. Untuk tahu tanggal satunya itu ya dengan ru’yatul hilal yang mesti dengan mata kepala tadi.”
“Oh, ya ya ya.” Lek Kapali lebih memahami.
Keempat orang bertetangga itu masih belum mau beranjak dari tempat jagongan. Beberapa hal sempat mereka bahas malam itu. Sampai akhirnya Mba Rohani, istri Mas Dayat, terlihat keluar rumah dan memanggil suaminya dari kejauhan,”Mas Dayat, ini lho anaknya ngga bisa tidur, nglilir terus!”
Dipanggil begitu Mas Dayat segera bangkit undur diri. Baru selangkah ia berjalan Pakde Harto menggodanya,”Halah, itu padune Mba Rohani yang nggak bisa tidur, pengin ditemani.”
Kang Basyir dan Lek Kapali tertawa, sementara Mas Dayat hanya mesam-mesem saja.

Tegal, 21 September 2015



[1] Kamus Lisaanul ‘Arab, Ibnu Mandhur, jil. 3, hal. 1537
[2] Mughnil Labiib, Ibnu Hisyam al-Anshari, hal. 206.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu