Home » » Cerita Guruku: Tak Disuruh Pintar

Cerita Guruku: Tak Disuruh Pintar

Dahulu di kampungku ada seorang warga bernama Turkan. Sejak masih mudanya hingga berusia tua ia sangat rajin mengaji; mengikuti kajian-kajian kitab kuning.
Atas kebiasaannya itu seseorang, yang juga pamanku, seringkali meledeknya dengan mengatakan, “Turkan, Turkan…..kamu ini setiap hari kerjanya ngaji terus. Kapan pinternya? Kapan mengajarnya?”
Dikata demikian Turkan membalas dengan datar, “Dulu aku ini disuruh oleh Kyai Makmun untuk mengaji, bukan untuk menjadi pintar. Jadi biar saja aku terus mengaji, kalau aku tak juga memahami apa yang aku kaji, semoga kelak anak-anakku yang akan memiliki ilmunya.”
Kini, setelah sekian tahun lamanya dan ia telah meninggal, anak-anak Turkan menjadi anak-anak sukses berpendidikan. Salah satunya bernama Abdul Halim yang nyantri di Pesantren Babakan, Tegal. Ia sangat menguasai kitab Alfiyah Ibnu Malik. Dan karena kealimannya ia diambil menantu oleh keluarga pesantren itu.


(KH. Subhan Makmun, dalam kajian kitab Tafsir Munir, Islamic Center Brebes, Ahad, 13 Maret 2016)

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Blog Archive

Popular Posts

Buku Tamu